Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Aku menelan suapan terakhir nasi gorengku, lalu memberanikan diri bertanya. Pertanyaan itu sudah lama mengganjal di benakku, tapi baru sekarang aku merasa ada celah untuk mengucapkannya.
"Bu," panggilku pelan, sambil memainkan ujung serbet di pangkuan. "Tiga istri Bapak yang lain... di mana ya? Kok El nggak pernah melihat mereka sama sekali?"
Ibu tersentak sedikit, sendoknya beradu dengan piring menghasilkan suara ting yang nyaring. Wajahnya mendadak kaku. Dia meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatapku dengan pandangan waspada.
"Hush, Nduk," bisiknya cepat, matanya melirik ke arah pintu depan seolah takut Samudra masih berada di sana. "Jangan sembarangan tanya soal itu."
"Aku cuma penasaran, Bu. Selama kita tinggal di sini, rumah ini terasa sangat sepi. Nggak ada tanda-tanda mereka pernah ada di sini," desakku pelan.
Ibu menghela napas panjang, lalu menurunkan suaranya hingga hampir tak terdengar. Dia mencondongkan tubuh ke arahku.
"Bibi Wijaya bilang, mereka ada keperluan penting di luar negeri, Nduk," jawab Ibu datar. Matanya menghindari tatapanku, fokus pada cangkir kopinya yang sudah dingin. "Mereka mengurus bisnis keluarga di cabang Eropa dan Amerika. Jadi jarang pulang."
Bisnis keluarga?
Hatiku mencelos. Bibi Wijaya lagi-lagi menjadi sumber informasi. Tapi entah kenapa, jawaban itu terdengar terlalu rapi. Terlalu sempurna. Tiga wanita dewasa, istri-istri dari pria kaya raya seperti Samudra, pergi ke luar negeri secara bersamaan dan tidak pernah kembali? Atau setidaknya tidak pernah muncul dalam foto-foto keluarga atau acara sosial?
"Berapa lama mereka di sana, Bu?" tanyaku lagi, mencoba menggali lebih dalam.
Ibu menggeleng, wajahnya terlihat tegang. "Ibu tidak tahu detailnya, Nduk. Yang jelas, Bapak bilang mereka sibuk. Dan kita... kita punya kehidupan kita sendiri di sini. Jangan cari-cari masalah dengan menanyakan hal-hal yang bukan urusanmu."
Nada peringatan dalam suara Ibu membuatku menutup mulut. Aku tahu dia takut. Takut jika aku terlalu banyak tahu, atau takut jika Samudra mendengar percakapan ini.
"Maaf, Bu," kataku akhirnya, menunduk.
Ibu tampak lega. Dia berdiri dan merapikan dasternya. "Ya sudah, cepat bersiap-siap. Ibu mau ke salon jam sepuluh nanti. Kamu ikut, ya? Biar ibu bisa sambil potong rambut sekalian. Lagian, kamu juga butuh perawatan, Nduk. Wajahmu kelihatan pucat sekali."
Aku mengangguk pelan. Setidaknya, keluar rumah bersama Ibu ke salon mewah itu lebih aman daripada sendirian di sini. Dan mungkin, di tengah keramaian salon, aku bisa sedikit bernapas lega dari tekanan rumah ini.
"Tapi ingat," tambah Ibu sambil menatapku tajam, jari telunjuknya menunjuk dadaku, "Jangan banyak bicara sama orang luar tentang urusan rumah kita. Mama nggak mau ada gosip yang sampai ke telinga Bapak. Apalagi soal istri-istri lainnya. Itu topik terlarang."
"Aku mengerti, Bu," jawabku patuh.
Sarapan berakhir. Aku mencuci muka sekali lagi di kamar mandi sebelum mengganti pakaian dengan gaun kasual yang lebih nyaman untuk keluar. Saat aku turun kembali, Ibu sudah menunggu di dekat pintu dengan tas tangan bermerek mahal di lengannya.
Mobil pribadi keluarga, sebuah SUV hitam besar dengan sopir bernama Pak Hendra, sudah menunggu di halaman.
Sepanjang perjalanan ke salon eksklusif di pusat kota, aku memandang keluar jendela. Gedung-gedung tinggi berlalu lalang, orang-orang berjalan dengan sibuk. Dunia di luar sana terlihat begitu normal, begitu bebas. Sementara aku, terjebak dalam jaring laba-laba rahasia keluarga Samudra.
Siapa sebenarnya ketiga wanita itu?
Dan mengapa Bibi Wijaya selalu menjadi perantara setiap ada pertanyaan yang sulit dijawab?
Sesampainya di salon, aroma lavender dan minyak esensial menyambut kami. Pelayan-pelayan cantik menyapa Ibu dengan hormat. Kami dibawa ke ruang VIP yang privat, jauh dari mata pelanggan lain.
Saat penata rambut mulai mengerjakan rambut Ibu, aku duduk di sofa empuk sambil membolak-balik majalah fashion. Tapi pikiranku tidak pada model baju di sana. Pikiranku tertuju pada pesan misterius tadi malam, dan janji menyeramkan Samudra untuk sore ini.
Tiba-tiba, ponsel Ibu berdering. Nama Samudra terpampang di layar.
Wajah Ibu langsung berubah pucat. Dia mengangkat telepon dengan tangan gemetar.
"I-iya, Pak... Ya, kami di salon... Iya, Angel ada di sini... Baik, Pak. Hati-hati juga..."
Setelah menelepon, Ibu menatapku dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya.
"Nduk," suaranya bergetar. "Bapak bilang... dia pulang lebih awal. Dia minta kita segera pulang setelah ini. Dia ingin bicara denganmu sekarang, bukan nanti sore."
Darahku membeku.