NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Menjelang subuh.

Kesadaran seorang wanita perlahan kembali terasa berdenyut nyeri, membawa rasa sakit yang hebat---terasa di belakang kepalanya.

Asri mengerang lirih, perlahan kelopak matanya terbuka----terasa begitu berat.

"Aduh kepalaku sakit banget...dimana aku," ucapnya dengan lirih.

Hal pertama saat penglihatannya terbuka adalah langit-langit kamar yang nampak asing, ruangan yang di selimuti cahaya temaram lampu dari nakas.

Aroma sisa alkohol masih terasa di indra penciumannya dengan kelembaban AC yang dingin, seketika saat sadar tubuhnya mencoba menggeser.

Tubuhnya saat di gerakan langsung terasa nyeri dan perih yang luar biasanya menjalar dari area bagian bawah tubuhnya.

"Arghhh...," rintihnya dengan lirih.

"Sak-sakit banget," lanjutnya dengan merintih.

Asri tersentak saat berusaha duduk, tubuhnya tanpa sehelai benang yang melekat.

"Loh kemana bajuku?" tanya Asri dengan panik, menutup tubuhnya yang tanpa busana.

Lalu di antara cahaya yang temaram, Asri bisa melihat jika baju-baju dan tasnya tergeletak sembarangan di lantai.

Tertatih langkahnya meraih semua helai-helaian baju-bajunya, untuk di pakai kembali---sesekali merintih kesakitan.

Setelah di pakai, hanya celananya saja yang tak terlihat---tertatih dirinya duduk kembali di atas ranjang, sesekali tangannya mencengkram seprai putih yang sudah berantakan dengan jemari gemetar.

Asri terduduk membungkuk di tepi ranjang dengan raut wajah penuh dengan tangis, kemeja putih yang di kenakannya sudah sangat berantakan.

Beberapa kancing atasnya terlepas, karena mungkin Angga saat melepasnya dengan tergesa-gesa.

Asri hanya mengenakan celana pendek hitam garis ungu di bagian sisinya, bukan celana formal yang di kenakannya---celana formalnya masih di cari.

Namun, karena bagian bawahnya sangat sakit----wanita ini hanya memutuskan duduk sebentar untuk mengurangi rasa nyerinya.

Asri menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, tak henti air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.

"Aduh sakit banget kepalaku," ujarnya.

Lalu karena rasa sakit itu, samar-samar ingatannya mulai menyusun kepingan kejadian semalam---taman hotel yang gelap dengan lampu minim.

Pria asing yang mencengkram pergelangan tangannya, hingga kepalanya terbentur bangku taman---juga rintihan minta tolong yang diabaikan karena kondisi taman yang sepi.

"Pria asing? Siapa dia?" lanjut Asri dengan hati mencelos.

Asri memberanikan diri menoleh ke belakang, perlahan-lahan dengan kaget dirinya mendapati pria di atas ranjang.

Di sebelahnya seorang pria asing tak dirinya kenali tengah tertidur lelap, Angga Pratama.

Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan selimut putih tebal yang menutup sampai pinggang.

Napasnya terdengar teratur, seolah-olah tak melakukan dosa besar yang baru saja di lakukannya di atas ranjang-----ranjang yang menjadi saksi atas dosa yang di lakukan mereka.

Asri langsung merasakan jijik, takut, sekaligus trauma yang menghantamnya seperti palu gada.

Wanita ini langsung memeluk tubuhnya dengan erat, lalu menyembunyikan wajahnya di balik telapak------di sertai tangisnya di antara keheningan malam yang menjelang fajar ini.

"Ya Allah... apa yang sudah hamba lakukan... hiks...hamba tidak bisa menjaga kesucian hamba," isak tangis Asri pecah.

Asri terisak pelan berusaha tak membangunkan pria di belakangnya ini, karena kejadian semalam saat berontak dan sadar---wajahnya malah di pukul oleh pria asing yang tertidur di belakangnya ini.

Hidupnya yang di bangun selama ini dengan impian dan kerja kerasnya, kini sudah hancur lebur---karena ulah pria asing yang tak di kenalinya.

Kuliahnya yang cemerlang dan harapan besar orang-orang di sekitarnya sudah hancur---dengan kesuciannya yang di renggut.

Tubuhnya kini sudah ternoda, tak ada pria lagi yang mau menikahinya karena kesuciannya sudah hilang oleh malam yang mengerikan ini.

Asri tahu tidak boleh terus berada di ruangan terkutuk ini, rasa trauma yang sudah menyergapnya kini memaksanya pergi dari pria yang masih terlelap itu.

Keputusannya adalah pergi dari kamar ini, dengan sisa-sisa tenaga yang di milikinya---Asri turun dari ranjang.

Kakinya gemetar hebat, untuk melangkah saja sudah tak sanggup menopang berat tubuhnya---seolah sentuhan pria asing ini masih terasa.

Di tambah bagian bawah tubuhnya terasa perih yang teramat sakit.

Tanpa sudi untuk duduk di kamar ini lagi, dengan tertatih Asri berjalan ke lantai meraih celana hitam formalnya dengan gerakan lambat dan menyakitkan.

Kemeja yang sudah kusut dan berantakan di biarkan tanpa di masukan ke dalam celananya, tas hitamnya tersampir di bahu.

Kakinya melangkah tertatih keluar kamar hotel itu, tepat pukul lima pagi.

Asri melangkah keluar dari samping lobi hotel, dengan air mata.

Dunia di luar sana masih sangat gelap, di selimuti oleh badai yang seolah turut merasakan kepedihan yang di alami Asri.

Hujan deras mengguyur kota dengan sangat kejam, menciptakan tirai yang membatasi pandangan mata.

Asri terus berjalan menyusuri trotoar yang sepi, jalanan kota yang pagi ini belum ada orang yang keluar.

Kemeja putihnya yang basah kuyup kini menempel ketat pada tubuhnya, menampakkan siluet pakaian dalamnya yang basah.

Rambutnya hitam legam panjangnya juga basah, menjuntai tak beraturan membingkai wajahnya yang pucat.

Matanya yang sembab kini di penuhi air mata, yang menyatu dengan air hujan.

"Ya allah setelah engkau panggil orangtua hamba...hiks...kenapa engkau biarkan pria itu mengambil mahkota hamba...apa salah hamba sampai engkau memberikan hamba cobaan seperti ini."

Asri mengelus dalam hatinya, langkah kakinya melambat berjalan tertatih, karena merasakan sakit yang mendalam pada bagian sensitifnya.

Rasa sakit fisik di area sensitifnya itu saat bergesekan dengan celana formal yang di kenakan nya, sesekali berhenti memegang perut bagian bawahnya dengan tangan kanan.

Dada Asri terus naik dan turun menahan isak tangis, yang tak bisa di bendung lagi.

Lampu-lampu jalan di trotoar, dengan cahaya kuning dari mobil yang melintas di kejauhan memantul di atas aspal yang basah.

Udara yang begitu dingin, Asri berjalan tanpa arah  membiarkan tubuhnya kedinginan---seolah dengan guyuran air hujan sentuhan pria itu bisa terlepas.

Namun, seolah sudah melekat---air hujan tak mampu melepaskan setiap sentuhan dari Angga.

Hujan yang menusuk kulitnya seolah tak sebanding dengan trauma yang di rasakannya.

Malam yang penuh rasa menjijikan, membuat dirinya teringat jika tubuhnya sudah kotor.

Di bawah air hujan Asri menangis sejadi-jadinya atas takdir dengan kejam merenggut kehormatannya dengan paksa.

*

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!