NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kruyuk.

Suara perut Bayu yang berbunyi sangat nyaring tiba-tiba memotong suasana tegang di ruangan rawat inap tersebut.

Anya menghela napas pasrah dan mulai membuka ikatan kantong plastik yang dibawanya tadi.

"Sudahlah, perdebatan ini tidak akan pernah ada habisnya kalau perutmu masih kosong berbunyi begitu," ucap Anya sambil mengeluarkan sebuah kotak bubur ayam hangat.

"Makan ini dulu, aku membelinya di warung depan puskesmas tadi pagi khusus untukmu."

Bayu menerima kotak makanan itu dengan mata berbinar-binar penuh rasa syukur dan kelaparan.

"Kamu memang yang terbaik, Anya," puji Bayu sambil mulai menyuapkan bubur ke mulutnya dengan cepat.

Anya hanya diam bersandar di kursinya memperhatikan Bayu makan dengan lahap seperti orang yang belum makan seminggu.

"Oh ya, saat membereskan rumahmu semalam, aku menemukan beberapa dokumen berceceran di lantai ruang tamu," kata Anya memecah keheningan.

Gerakan sendok di tangan Bayu mendadak terhenti di udara mendengar ucapan gadis itu.

"Dokumen apa maksudmu?" tanya Bayu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Anya mengeluarkan sebuah kertas usang dari dalam tas selempangnya dan menyodorkannya ke pangkuan Bayu.

"Ini surat perjanjian hutang almarhum ayahmu dengan sebuah perusahaan bernama PT Kobra Mandiri," jelas Anya menunjuk kop surat tersebut.

Bayu meletakkan kotak buburnya di meja dan menerima surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"PT Kobra Mandiri? Bukankah kobra itu nama geng preman yang semalam menyerangku dengan pistol?" batin Bayu menyadari sebuah kejanggalan besar.

Ia membaca deretan angka dan syarat perjanjian di atas kertas yang bermeterai itu dengan saksama.

"Tunggu dulu, bunga pinjamannya tiga ratus persen per bulan? Ini gila namanya," pekik Bayu tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

"Ayahku bukan orang bodoh, beliau tidak mungkin mau menandatangani kontrak bunuh diri ekonomi seperti ini."

Anya mengangguk setuju dengan pernyataan emosional dari Bayu.

"Aku juga berpikiran hal yang sama sejak awal membacanya," ucap Anya sambil menunjuk bagian bawah surat perjanjian itu.

"Coba kamu perhatikan baik-baik bentuk tanda tangannya, tarikan garis tintanya terlihat kaku dan tidak natural." Bayu menatap tanda tangan ayahnya lebih dekat dan matanya langsung membelalak kaget.

"Ini bukan tanda tangan asli ayahku, ini jelas hasil paksaan atau malah dipalsukan oleh mereka," simpul Bayu dengan rahang yang mengeras menahan amarah.

Kemarahan mulai mendidih di dalam dada Bayu, perlahan menggantikan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.

"Jadi hutang lima ratus juta itu cuma akal-akalan licik mereka saja sejak awal," geram Bayu sambil meremas ujung kertas itu hingga lecek.

"Mereka pasti sengaja menjebak keluargaku dengan hutang palsu untuk bisa mengambil alih rumah dan tanah kakekku."

Anya menatap Bayu dengan tatapan khawatir namun sekaligus memiliki rasa penasaran yang mendalam.

"Siapa sebenarnya orang-orang ini, Bayu? Kenapa preman berkedok perusahaan besar menargetkan keluarga biasa sepertimu?" tanya Anya bingung.

Bayu menatap lurus ke arah dinding putih di depannya dengan pandangan mata kosong yang penuh dengan rasa dendam.

"Mereka bukan sekadar preman kampung biasa yang suka malak, Anya," jawab Bayu dengan nada dingin yang menakutkan.

"Mereka adalah sindikat kriminal terorganisir yang akan menghalalkan segala cara kotor untuk mendapatkan apa yang mereka mau."

Bayu sadar bahwa kematian kedua orang tuanya di jalan tol beberapa hari lalu mungkin bukanlah kecelakaan lalu lintas murni.

"Jika surat hutang ini terbukti palsu, maka tabrakan beruntun itu pasti juga bagian dari rencana pembunuhan mereka," batin Bayu menganalisis lebih jauh.

Layar biru sistem kembali berkedip di pandangannya memberikan sebuah notifikasi baru yang cukup mengejutkan.

[Pemulihan energi mencapai 2/10.]

[Saran Sistem: Pengguna diharap segera menyelidiki keberadaan relik lain yang beresonansi di sekitar wilayah kekuasaan musuh.]

"Relik lain? Jadi geng Cobra juga punya benda pusaka aneh seperti Batu Waktu ini?" batin Bayu sangat terkejut membaca saran sistem tersebut.

Informasi baru ini membuat situasi yang dihadapinya menjadi jauh lebih berbahaya dan rumit dari sekadar urusan hutang piutang.

"Bayu, kamu melamun lagi menatap udara kosong," tegur Anya sambil menjentikkan jarinya tepat di depan wajah pemuda itu.

Bayu tersentak kaget dan kembali memfokuskan pandangannya pada wajah cantik Anya.

"Mulai sekarang, kamu harus berhati-hati saat bepergian, Anya," peringat Bayu menatap lekat mata gadis itu penuh keseriusan.

"Karena kamu sudah menolongku hari ini, mereka mungkin akan mengincarmu juga untuk dijadikan kelemahanku."

Anya mendengus pelan lalu membusungkan dadanya dengan gaya yang penuh percaya diri.

"Aku sama sekali tidak takut pada ancaman preman bodoh, aku hanya peduli pada pencarian kebenaran sains dan logika," tantang Anya berani.

"Aku akan terus menempel padamu setiap hari sampai aku tahu rahasia gila apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan."

Bayu memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa pening lagi menghadapi sifat keras kepala dari mahasiswi ini.

"Terserah kamu sajalah, tapi jangan menangis meminta tolong kalau kepalamu nanti pusing memikirkan hal yang tidak masuk akal," pasrah Bayu akhirnya.

Seorang suster puskesmas tiba-tiba melangkah masuk ke dalam ruangan membawa sebuah papan catatan medis pasien.

"Mas Bayu kondisinya sudah membaik drastis, infusnya sebentar lagi bisa dilepas dan sudah diizinkan pulang siang ini," ucap suster itu dengan ramah.

"Terima kasih banyak infonya, Sus," jawab Bayu merasa lega karena ia bisa segera keluar dari tempat berbau obat ini.

Ia harus segera pulang menyusun rencana baru untuk membongkar konspirasi kotor milik PT Kobra Mandiri.

Pembalasan dendam berdarah yang sebenarnya, baru saja akan dimulai siang hari ini.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!