Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pembunuhan
Setan Tangan Besi menjerit keras dan panjang. Dia segera melesat menjauh sambil memeluk kepala Wanita Mawar Hitam.
Anggota termuda dari Empat Pembunuh Iblis Langit berlari menjauh dan segera menghilang. Sepertinya dia terguncang melihat kematian yang tragis dari Wanita Mawar Hitam. Itu juga menunjukkan adanya hubungan khusus antara Wanita Mawar Hitam dengan Setan Tangan Besi.
Iblis Maut Picak dan Iblis Duka menjadi sangat marah. Kematian Wanita Mawar Hitam membuat mereka terhina. Nama Empat Pembunuh Iblis Langit sebagai pembunuh bayaran yang telah pernah gagal tercoreng sudah.
Ditambah dengan cacatnya Setan Tangan Besi. Jika dunia tahu... Lalu bagaimana mengangkat muka di hadapan orang orang rimba hijau dunia persilatan Java Dwipa ?
Hanya ceceran darah Pandeka Pedang Suling Kumala alias Pendekar Suling Perak yang bisa membasuhnya. Serta dengan nyawa Pandeka Pedang Suling Kumala, Empat Pembunuh Iblis Langit bisa mengangkat dagu di hadapan semua orang.
Iblis Maut Picak dan Iblis Duka saling bertukar pandang. Iblis Duka tiba-tiba meraung. Tangisannya terdengar seperti jeritan hantu.
Iblis Maut Picak dan Iblis Duka bergeser dan melakukan serangan maut kepada Bagaga. Iblis Maut Picak melakukan serangkaian serangan menyasar kearah pinggang sampai kepala. Golok panjang menderu tak putus putus. Kilau mata golok yang tajam melintas lintas membelah udara. Semua serangan itu menuju beberapa titik yang sangat rawan dan mematikan.
Pada saat yang sama. Iblis Duka melolong panjang. Tombak nya mendesis berdesing membuat seribu tusukan mata tombak. Serangan tombak datang seperti hujan lebat yang deras. Jerit tangis yang dikeluarkan Iblis Duka seperti punya daya dorong kuat dan meningkatkan daya serang tombak yang fokus sasaran nya adalah dada sampai ke kaki.
Serangan yang dilakukan pada saat yang nyaris bersamaan oleh Iblis Maut Picak dan Iblis Duka. Benar benar menutup ruang gerak Bagaga.
Jurus dua belas langkah ajaib benar benar diuji. Menggunakan langkah langkah yang luar biasa dari dua langkah ajaib. Pusaka Pedang Langitan bergerak dengan jurus pedang awan bararak.
Traang...! Traang...! Traackh...! Traang...! Triiiiiiing...!
Dentang denting suara benturan pedang dan tombak terdengar berulang ulang. Pandeka Pedang Suling Kumala berkelit, meliuk menghindar dan menangkis serangan dari Iblis Maut Picak dan Iblis Duka.
Pertarungan terus berlanjut. Makin lama semakin cepat. Sehingga mereka bertiga terlihat seperti bayangan yang berpindah pindah dan berbenturan.
Danang Wesi dan Ni Kirana sampai takijau melihat pertarungan itu. Mata sepasang saudara itu sampai perih melihat pertarungan yang sangat cepat.
Tiba-tiba terdengar suara Bagaga Alam berseru dengan lantang.
"Iblis Maut Picak dan Iblis Duka. Sudah cukup dan bersiaplah untuk mati."
Pusaka Pedang Langitan tiba-tiba berubah menjadi lebih kelam. Seperti ada halimun hitam tipis. Pedang itu mendengung.
Bagaga Alam tiba-tiba menghilang. Suara dengungan tajam Pusaka Pedang Langitan terdengar dimana mana.
Tiba-tiba terdengar suara daging robek diikuti dengan suara jeritan dan lolong tangis.
Craasssh...! Aaaaaaahhh...! Uuuu huuuu huuuuuuu.....
Iblis Duka terpelanting dan terhempas. Ada cekungan dan siring panjang di tanah yang berakhir pada tubuh Iblis Duka.
Iblis Duka berusaha bangkit dengan bertopang pada tombaknya.
Saat itu Iblis Maut Picak menebas punggung Bagaga dengan kuat. Ni Kirana menjerit sambil menutup mulutnya dengan dua tangan. Danang Wesi mengepal tangannya dengan kuat.
Kurang dari satu inci golok panjang Iblis Maut Picak menyentuh Bagaga. Pria muda tampan itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tiba-tiba Bagaga muncul di belakang Iblis Maut Picak. Pusaka Pedang Langitan berkelebat sangat cepat.
Craaaaaazzzss....!!
Sebuah kepala terbang dan jatuh menggelinding. Tubuh Iblis Maut Picak tanpa kepala berdiri. Darah menyembur bagai pancuran beberapa waktu. Beberapa waktu kemudian tubuh Iblis Maut Picak yang sudah tidak memiliki kepala itu jatuh tersungkur.
Uuuu huu huuuuu wua aaaaaa huu huu huuuuu....
Iblis Duka menjerit, melolong keras. Dia segera berbalik dan melesat pergi. Namun...
Baaaaammm...! Buuuuggh...!!
Tubuh Iblis Duka tersentak dan terlempar kebelakang. Iblis Duka masih jatuh dengan posisi berdiri. Namun kuda kuda tempur nya buncah berantakan.
"Apakah setelah kematian mu ditetapkan, kau berfikir masih bisa lari dari maut ?" Suara kaku, dingin tanpa nada Bagaga Alam terasa menusuk jantung Iblis Duka.
Iblis Duka menatap tajam pada Pandeka Pedang Suling Kumala. Dia menguatkan genggam pada tangkai tombak nya. Mulutnya bergerak gerak. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Iblis Duka kembali menata ulang kuda-kuda tempurnya. Tombaknya mengacung lurus. Menunjuk ke jantung Bagaga Alam. Saking besar energi mendalam yang dialirkan. Ujung tombak terlihat bergetar dan bercahaya kemerahan.
"Huuu uuuuu... Aku akan mengadu nyawa dengan mu....!"
Tiba-tiba Iblis Duka melesat dengan sangat cepat menuju Bagaga. Mata tombak berpendar menusuk kearah delapan titik mematikan. Itu dilakukan berulang ulang kali.
Melihat serangan yang sangat kuat, namun terasa ada sedikit putus asa disana. Bagaga Alam hanya tersenyum ringan.
Bagaga Alam kembali menghilang. Pusaka Pedang Langitan berkelebat dan menorehkan luka baru di punggung Iblis Duka.
Slaaaaaassshh... Uuughh....!!
Iblis Duka tersungkur. Namun dia dengan cepat bergulingan dan segera bangkit.
Darah semakin banyak merembes dari luka di punggungnya. Namun dia kembali bangkit.
Tanpa banyak bicara, Iblis Duka kembali menyerang. Lebih kuat, lebih cepat. Suara tangisannya juga terdengar lebih tajam melengking menggetarkan jiwa.
Namun sayang.. serangan kuat yang mampu membunuh pendekar langit puncak itu ditujukan pada Bagaga Alam. Seorang pendekar super sakti yang tingkatan nya sudah berada jauh di atas Iblis Duka.
Pusaka Pedang Langitan kembali berkelebat melintas. Cepat, teramat sangat cepat. Seperti ada kilat kegelapan yang muncul.
Tas... Craaaaaazzzss... Aaakkhhh....!!
Tombak yang menerjang dengan cepat kearah Bagaga putus dibabat Pusaka Pedang Langitan. Namun tidak berhenti di situ saja. Pusaka Pedang Langitan terus bergerak menebas dada Iblis Duka.
Iblis Duka terhempas. Dadanya belah dan sebagian besar tulang dadanya putus. Bahkan jantung Iblis Maut kelihatan berdetak.
Iblis Duka berusaha bangkit. Namun Bagaga Alam terlihat mengacungkan jari telunjuknya.
Pukulan tangan ujud....
Bagaga Alam mendesis. Tidak ada gelombang energi mendalam yang terdeteksi. Tiba-tiba terdengar ledakan.
Blaaaaarrr...!!
Jantung Iblis Duka meledak. Mata Iblis membulat besar seperti hendak keluar dari rongga matanya.
Sesaat kemudian dia jatuh begitu saja. Mati.
Bagaga Alam menghela nafas berat. Lalu bergerak sangat cepat mengumpulkan tiga mayat. Dia menumpuk ke tiga mayat dari Empat Pembunuh Iblis Langit. Bagaga melepas pukulan inti api. Tiga mayat itu langsung terbakar dan hangus menjadi abu.
"Kang mas Bagaga, engkau tidak apa-apa ?" Ni Kirana mendekati Bagaga Alam.
Tadinya Ni Kirana bersama Danang Wesi hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Bagaga Alam. Danang Wesi merasa dia hanyalah seekor semut dihadapan Pendekar Suling Perak. Tidak lebih. Dia sungguh merasa malu, mengingat dia pernah memandang rendah kepada Bagaga Alam bersama Ni Kirana.
Berbeda dengan Danang Wesi. Ni Kirana malah menjadi amat sangat kagum kepada Bagaga Alam. Meski dia tahu Bagaga Alam telah memiliki istri. Ni Kirana tidak mampu menghalangi perasaan khusus yang tumbuh dalam hatinya terhadap Bagaga Alam.
Bagaga Alam melihat kepada Ni Kirana yang berdiri di dekatnya. Gadis cantik itu tersenyum tersipu.
"Terimakasih kasih Ni Kirana. Aku tidak apa-apa.
Ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
Bagaga Alam melangkah menuju kudanya.
Bagaga menunggu Ni Kirana naik keatas kuda tunggangannya yang ada di sebelah kuda milik Bagaga. Setelah itu Bagaga juga segera menaiki kuda tunggangannya.
"Ayo Danang. Kita lanjutkan perjalanan menuju kota Jayagiri."
\=\=\=\=\=***\=©