NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Di tengah denting senjata yang saling beradu dan napas yang mulai terengah di arena latihan, Ryujin, Haru, dan Yua tetap bergerak tanpa henti, tubuh mereka dibasahi keringat dan debu yang menempel di setiap helaan napas.

Namun suasana itu mendadak berubah ketika langkah kaki perlahan terdengar mendekat dari ujung lapangan.

Fumiro muncul di antara bayangan pohon, berjalan tenang ke arah mereka tanpa sepatah kata pun, seolah kehadirannya saja sudah cukup untuk menghentikan waktu di tempat pelatihan itu.

Dengan raut wajah cemas dia berkata "Aku ingin menyampaikan sesuatu."

Haru mempersilahkannya untuk berbicara.

"Beberapa hari terakhir, beredar rumor tentang Makhluk Kutukan di desaku. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya karena hanya sebatas rumor. Namun, tadi pagi seorang pria muda ditemukan tewas secara mengenaskan di dekat sungai. Tubuhnya bersimbah darah, sementara rambut dan matanya berubah menjadi putih."

Mendengar penjelasan itu, Haru langsung bertanya, "Apakah ada keanehan lain? bagaimana kondisi di sekitar lokasi kejadian? adakah tanda-tanda keberadaan Makhluk Kutukan?"

Fumiro terdiam sejenak.

"Sejak tadi pagi, tidak ada seorang pun yang berani mendekati sungai."

Haru menatap kedua rekannya sebelum menjawab, "Kami akan membicarakan hal ini dengan Master terlebih dahulu."

"Baik.. tapi aku mohon secepatnya. Aku khawatir akan ada korban berikutnya."

"Jangan khawatir," ujar Yua menenangkan.

"Kalau boleh tahu, di mana desa asalmu?"

"Aku tinggal di Desa Nagamari," jawab Fumiro.

Setelah pelatihan selesai, mereka segera menemui Master Seijun untuk melaporkan informasi tersebut. Sesampainya di sana, Haru langsung menjelaskan seluruh cerita yang disampaikan oleh Fumiro tanpa membuang waktu.

Master Seijun terdiam sejenak sambil berpikir.

"Apa mungkin itu hanya kasus perampokan?" tanyanya.

Ryujin segera menanggapi, "Jika itu hanya perampokan, mengapa rambut dan matanya berubah menjadi putih? Korbannya juga masih muda."

Master Seijun kembali berpikir beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Kalau begitu, besok aku dan Haru akan pergi ke Desa Nagamari untuk mencari bukti dan mengumpulkan kesaksian warga. Fumiro juga ikut bersama kami."

Dia lalu menoleh kepada Ryujin dan Yua.

"Untuk sementara, kalian tetap di sini. Kita belum memiliki bukti bahwa ini benar-benar ulah Makhluk Kutukan. Aku tidak ingin keberadaan banyak para pemburu menimbulkan kecurigaan atau kepanikan di desa."

Ryujin dan Yua saling berpandangan sebelum mengangguk.

"Baik, Master," jawab mereka serempak.

Hari mulai meredup, langit berubah menjadi kelabu gelap saat matahari benar-benar tenggelam di balik garis cakrawala. Satu per satu suara di asrama para pemburu menghilang, digantikan kesunyian yang hanya dipecah oleh desiran angin malam yang menyusup di sela-sela bangunan kayu.

Api kecil dari obor dan tungku batu yang dinyalakan di beberapa sudut, memantulkan cahaya temaram yang menari di dinding-dinding asrama, menciptakan bayangan panjang yang bergoyang pelan.

Di tengah kesunyian itu, seorang pria melangkah keluar dari asrama. Langkahnya tidak terburu-buru, namun juga tidak ragu, seolah arah tujuannya sudah tertanam sejak awal. Cahaya api sesekali menyentuh wajahnya, memperjelas garis tegas di ekspresinya.

Dia berjalan menembus malam menuju kediaman Tuan Yamato.

Gerbang besar kediaman itu terbuka perlahan saat dia tiba, dijaga oleh cahaya obor yang tertanam di pilar-pilar kayu. Tanpa banyak suara, pria itu masuk dan melintasi koridor yang hanya diterangi nyala api kecil di sepanjang dinding, hingga akhirnya tiba di ruang utama.

Di sana, Tuan Yamato duduk dalam temaram cahaya api yang berkelip pelan, membuat suasana ruangan terasa hangat sekaligus berat.

Pria itu berhenti beberapa langkah di depan, lalu menundukkan kepala.

“Aku sudah menyelesaikan tugasku, Tuan,” ucapnya pelan namun jelas.

Tuan Yamato menatapnya beberapa saat, sebelum memberikan anggukan singkat. Ia menyerahkan imbalan tanpa banyak kata, gerakannya tenang seperti biasa.

Namun setelah itu, sorot matanya mengeras.

“Tugas berikutnya mungkin akan jauh lebih berat dan berbahaya,” ucapnya dengan suara rendah, tenggelam di antara suara api yang berderak pelan.

“Karena itu, kau harus berhati-hati. Jangan sampai ada celah sedikit pun untuk kesalahan.”

Fumiro menunduk lebih dalam.

“Baik, Tuanku,” jawabnya singkat, mantap, tanpa sedikit pun keraguan.

Ryujin baru saja meninggalkan asrama, langkahnya pelan menyusuri jalur tanah yang mulai diselimuti dingin malam. Dia berniat mengecek para junior yang masih berjaga di pos latihan, memastikan semuanya tetap dalam kondisi baik sebelum benar-benar beristirahat.

Namun saat melewati sisi jalan yang sedikit lebih gelap, pandangannya menangkap sebuah sosok dari kejauhan.

Seorang pria baru saja keluar dari arah yang tidak biasa bukan dari jalur asrama, bukan pula dari arah latihan. Sosok itu bergerak tenang, seolah tidak ingin menarik perhatian.

Ryujin menyipitkan mata.

“Dari mana dia?” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan angin malam.

Sosok itu semakin jelas saat cahaya obor menyentuhnya sesaat.

Fumiro.

Ryujin berhenti sejenak, menatap punggung Fumiro yang perlahan menjauh. Ada sesuatu yang janggal, tapi tidak cukup kuat untuk dijadikan kecurigaan yang pasti.

Dia menghela napas kecil, lalu mengalihkan pandangannya.

"Mungkin dia punya urusan lain" pikirnya mencoba menenangkan diri.

Tanpa banyak pertanyaan lebih lanjut, Ryujin melanjutkan langkahnya kembali ke arah pos junior.

Keesokan harinya, pagi datang dengan langit yang bersih dan cahaya matahari yang hangat menyapu tanah. Namun ketenangan itu segera dipecah oleh langkah kaki Haru yang mendatangi Fumiro dengan wajah serius.

“Fumiro, kau diutus Master untuk ikut dengan kami ke Desa Nagamari,” ucap Haru tanpa basa-basi.

Fumiro menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. “Dengan senang hati.”

Tanpa menunda waktu, mereka bertiga segera berangkat meninggalkan markas. Perjalanan menuju Desa Nagamari membawa mereka memasuki hutan lebat yang menjulang tinggi, di mana pepohonan rapat menutupi langit hingga cahaya matahari hanya tersisa sebagai garis-garis tipis yang jatuh di tanah berlumut.

Di antara keheningan hutan itu, terdengar suara burung gagak bersahutan dari kejauhan, semakin lama semakin ramai, seolah ada sesuatu yang mengganggu ketenangan alam.

Haru mengernyit. “Mengapa ada banyak suara burung gagak?”

“Entahlah..” jawab Master Seijun pelan, tatapannya mengamati sekitar dengan waspada. “Aku merasakan firasat buruk.”

Haru dan Fumiro sempat saling melirik, namun belum sempat berkata apa-apa, tiba-tiba kawanan gagak di atas mereka mengepakkan sayap secara bersamaan. Suara kepakan itu menggema di antara pepohonan, lalu mereka terbang tinggi ke langit, menghilang di balik cahaya.

Keheningan kembali turun, namun terasa lebih berat dari sebelumnya.

Tanpa disadari, perjalanan mereka telah membawa mereka tiba di Desa Nagamari.

Berbeda dari yang mereka bayangkan, desa itu tampak hidup dan normal. Warga beraktivitas seperti biasa, anak-anak berlari kecil di antara jalanan, dan suara pasar kecil terdengar ramai. Di tengah keramaian itu, sebuah pementasan seni tari sedang berlangsung.

Tanpa banyak diskusi, mereka bertiga berhenti sejenak untuk melihat.

“Ternyata tidak seperti yang dibayangkan,” ucap Master Seijun akhirnya. “Lebih baik seperti ini.”

Di atas panggung sederhana, seorang gadis penari utama muncul. Begitu musik dimulai, dia bergerak dengan anggun, setiap gerakannya halus, namun penuh kekuatan yang memikat mata siapa pun yang melihat.

Haru tanpa sadar terpaku.

“Gadis itu sangat berbakat,” ucapnya pelan, hampir tak berkedip.

Fumiro yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil. “Benar.. hmm, sepertinya kau tertarik kepadanya.”

Haru langsung menoleh cepat pada Fumiro. “Mana mungkin. Aku hanya kagum akan bakatnya.”

Pementasan pun berakhir dengan gerakan terakhir yang memukau. Di momen itu, tanpa disengaja, sang penari utama dan Haru sempat saling bertatapan dari kejauhan. Singkat, namun cukup untuk meninggalkan kesan yang tak biasa.

Master Seijun menghela napas. “Baiklah.. pementasannya sudah selesai. Kita lanjutkan tugas kita.”

Fumiro melangkah lebih dulu, suaranya tenang namun tegas.

“Kalau begitu, kita langsung ke lokasi penemuan jasadnya saja.”

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga segera bergerak menuju lokasi kejadian. Jalan setapak di sekitar TKP masih dipenuhi sisa jejak aktivitas kemarin. Tanah yang sedikit mengeras, ranting patah, dan tanda-tanda tergesa yang belum sepenuhnya hilang.

Setibanya di sana, mereka berhenti dan mengamati sekeliling dengan saksama. Udara di tempat itu terasa berbeda, lebih dingin dan sunyi, seolah alam pun masih menyimpan sisa kejadian yang pernah terjadi di sana.

Fumiro melangkah lebih dulu, menunjuk titik tertentu di tanah yang sedikit lebih gelap dari sekitarnya.

“Di sini.. pria itu ditemukan tewas,” ucapnya singkat.

Haru berjongkok, matanya menangkap sesuatu yang terselip di antara rumput liar. Dia mengangkatnya perlahan.

Sehelai rambut putih.

“Ini..” gumam Haru pelan. “Kemungkinan milik korban.”

Master Seijun mengambil rambut itu dengan hati-hati, mengamati dengan saksama.

Haru berdiri kembali dan menatap sekitar. “Apa jasad pria itu sudah dimakamkan?”

“Menurut informasi, jasadnya sudah langsung dimakamkan setelah ditemukan." jawab Fumiro.

“Begitu..” Haru menghela napas singkat

Master Seijun menatap keduanya dengan serius. “Sekarang, mundur sedikit. Aku akan melihat apa yang terjadi di tempat ini sebelumnya.”

Mereka perlahan mundur beberapa langkah tanpa mengganggu konsentrasi sang master.

Master Seijun memejamkan mata. Energi halus mulai mengalir dari tubuhnya, membuat udara di sekitarnya terasa bergetar pelan. Dunia di sekelilingnya seolah memudar, digantikan oleh bayangan masa lalu.

Dalam penglihatannya..

Seorang pria terlihat berlari dari arah hutan, wajahnya pucat penuh ketakutan, napasnya terputus-putus saat ia berteriak meminta tolong. Di belakangnya, sesosok makhluk mengejarnya tanpa ampun.

Seekor harimau putih.

Namun bukan harimau biasa.

Makhluk itu bergerak dengan kecerdasan yang tidak wajar, matanya menyala dingin, setiap lompatannya dipenuhi niat membunuh. Dalam satu gerakan brutal, harimau itu menerkam pria tersebut dan mencabiknya tanpa belas kasihan.

Darah mengalir, jeritan pecah, lalu hening.

Namun kejadian tidak berhenti di sana.

Sebelum benar-benar menghilang, harimau putih itu menyerap sesuatu dari tubuh korban. Energi kehidupan yang membuat bulunya semakin terang. Perlahan, wujudnya berubah.

Tubuhnya mengecil, tulangnya memanjang, dan dalam hitungan detik, makhluk itu berubah menjadi manusia.

Seorang lelaki berambut putih dengan mata seperti binatang buas, kuku tajam yang masih berlumuran sisa energi kutukan. Dia berdiri sejenak, lalu menghilang tanpa jejak, meninggalkan tubuh korban yang sudah tak bernyawa.

Penglihatan itu menghilang seketika.

Master Seijun membuka mata dengan ekspresi tajam.

“Tidak salah lagi" ucapnya pelan namun tegas. “Ini adalah ulah Makhluk Kutukan.”

Dia kemudian menceritakan seluruh penglihatannya kepada Haru dan Fumiro.

Wajah Haru mengeras. “Kalau ini dibiarkan, akan ada korban lagi, Master.”

“Kenapa bisa ada Makhluk Kutukan lagi?” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Master Seijun menatap mereka berdua. “Bawa aku menemui orang pertama yang menemukan jasad itu.”

Fumiro mengangguk. “Baik. Kebetulan dia seorang nenek pencari kayu bakar di hutan ini.”

Mereka bertiga segera melangkah menuju rumah yang disebutkan oleh Fumiro. Jalan kecil di desa itu terasa tenang, dengan suara kehidupan warga yang samar-samar terdengar dari kejauhan.

Setibanya di depan rumah sederhana itu, mereka berhenti. Bangunan kayu tua itu tampak sunyi, pintunya tertutup rapat tanpa tanda kehidupan di dalamnya. Beberapa kali Haru mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban sama sekali, hanya gema ketukan yang kembali dari dalam keheningan.

“Mungkin dia sedang keluar,” ucap Fumiro akhirnya. “Kita tunggu saja sebentar.”

Mereka pun memilih menepi di depan rumah itu, berdiri dalam diam sambil mengamati sekitar desa yang tampak damai, seolah tidak terjadi apa-apa di balik kasus yang mereka selidiki.

Beberapa menit berlalu dalam sunyi, hingga langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah jalan.

Seorang gadis muda muncul, membawa keranjang kecil di tangannya. Dia berhenti tepat di depan rumah itu dan menatap ketiga orang asing tersebut dengan bingung.

“Kalian siapa? mengapa kalian berada di rumahku?” tanyanya.

Haru tersentak. Matanya langsung membelalak ketika mengenali wajah itu.

"Gadis ini kan adalah penari utama di pementasan tadi." batin Haru.

Master Seijun tetap tenang. Dia melangkah sedikit ke depan dan menundukkan kepala dengan sopan.

“Sebelumnya, mohon maaf. Kami adalah para pemburu dari Istana yang sedang menyelidiki kasus penemuan jasad seorang pria di pinggir sungai beberapa waktu lalu.”

Mendengar itu, ekspresi gadis tersebut langsung berubah. Dia terkejut, lalu buru-buru membungkuk memberi hormat dengan panik.

“Ma..maafkan saya.. saya tidak tahu kalian dari istana.”

Fumiro menatapnya tajam namun tenang. “Di mana nenek yang menemukan jasad pria itu pertama kali?”

Gadis itu mengangkat wajahnya, masih sedikit gugup. “Oh.. kalian mencari nenekku?”

“Dia sedang pergi ke pasar membeli sesuatu. Sebentar lagi pasti kembali, dia sudah pergi cukup lama dari tadi.”

Dia kemudian membuka pintu rumahnya lebih lebar, lalu menoleh ke arah mereka.

“Silakan masuk dan menunggu di dalam.”

Tanpa banyak pilihan, mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam rumah itu, menunggu dengan perasaan yang perlahan mulai bercampur antara penasaran dan kewaspadaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!