Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAKUKAN PERINTAHKU
DUG
Chloe berdiri di tengah panggung. Gaun hitamnya berkilau di bawah sorot lampu. Erivo menggandeng tangannya erat, tidak melepas.
Eleanor menyerahkan mikrofon ke tangan Chloe. "Silakan, Sayang."
Chloe menerimanya. Ia menatap seluruh ballroom. Ratusan pasang mata tertuju padanya. Wartawan, tamu undangan, dan seluruh keluarga besar Reinhard.
"Selamat malam," suara Chloe tenang dan menggema.
"Saya Chloe Weiss Reinhard, istri Tuan Erivo Reinhard. Menantu pertama di keluarga Reinhard," ucapnya.
DUG
Bisik-bisik langsung terdengar rendah.
Chloe tersenyum tipis. Ia melirik Victor, lalu melirik Levin yang duduk santai di pojok ballroom.
Dan tiba-tiba, suara tembakan terdengar.
DOR!
Semua tamu dan wartawan langsung berlarian mencari perlindungan. Piring pecah. Kursi terbalik. Jeritan pecah di mana-mana.
"Awas!" teriak seseorang.
DOR! DOR!
Lampu ballroom padam. Hanya lampu darurat yang menyala merah.
Nicholas langsung berlari naik ke atas panggung dan melindungi istrinya, Nyonya Eleanor.
Sedangkan Erivo, ia langsung menarik Chloe dan menubruknya ke lantai. Menutupinya dengan tubuhnya.
"Chloe!" rahang Erivo mengeras. "Tutup kepalamu!"
DUG
Chloe terbaring di bawah tubuh Erivo. Napasnya kacau. Tapi tangannya masih menggenggam mikrofon.
Dari lantai, ia melihat kaki-kaki berlarian ke sana ke mari.
"Penjaga! Cari di mana sumber tembakannya!" teriak Nicholas.
Eleanor menjerit. "Suamiku... apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Nicholas. Tubuhnya masih melindungi istrinya.
Levin berdiri di pojok. Ia tersenyum. Di tangannya ada pistol. Asap masih mengepul dari larasnya.
"Pertunjukan dimulai," gumam Levin. "Kalau aku tidak bisa memimpin Weiss Group, maka yang lain juga tidak bisa."
DUG
Victor panik. Ia menatap tajam ke arah Levin yang berdiri dengan santai. Pria paruh baya itu segera menghampiri Levin.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Levin menatap ke arah panggung, ke arah Chloe yang masih dilindungi Erivo. "Aku hanya melakukan pertunjukan pembuka, Paman."
DOR!
Tembakan ketiga. Mengarah ke panggung.
Erivo bergerak cepat. Ia berguling membawa Chloe. BRAK!
Peluru menghantam tempat di mana Chloe dan Erivo berada tadi.
"Kurang ajar," gumam Chloe.
Tangannya menekan earpiece yang ada di telinganya. "Lakukan sekarang."
"Baik, Ratu," suara Elsa terdengar dari sana.
Erivo terus menatap wanita itu. "Chloe, lihat aku," suaranya rendah. "Apa kau terluka?"
Chloe menggeleng. "Aku baik-baik saja."
Chloe sedikit mendorong tubuh Erivo yang menindihnya. Lalu ia berdiri. Tatapannya mengarah ke Levin dan juga Victor.
Semua tamu dan wartawan sudah pergi. Kini hanya tinggal keluarga besar Reinhard yang berada di dalam ballroom.
Kedua tangan Chloe terkepal kuat. Hingga Livia berdiri dan menghampiri mereka.
Wanita paruh baya itu tersenyum. "Ternyata Erivo sangat cinta kepadamu ya, Menantu," ucap wanita itu.
Chloe menatap Livia. Senyuman Queen Daisy kembali muncul. Dingin. "Tentu saja, Bibi. Karena aku istrinya."
Erivo berdiri di belakang Chloe. Tubuhnya masih tegang. Matanya terus mengawasi Livia yang berdiri di hadapan mereka.
Eleanor dan Nicholas menghampiri mereka. "Pergilah. Jangan menganggu putra dan menantuku," ucap Eleanor menatap adik iparnya itu dengan tajam.
Livia tersenyum tipis. "Putra dan menantu ya, Kakak Ipar... Kita lihat sebentar lagi apa putra dan menantumu ini masih bisa saling mencintai jika melihat apa yang sudah dilakukan putramu kepada perusahaan menantumu."
DUG
Hening.
Victor yang berdiri di sudut ballroom tersenyum tipis. Pria paruh baya itu bergumam, "Bagus, adikku... kemenangan tinggal selangkah lagi."
Ia melangkah ke panggung dan berdiri di samping Livia.
Victor mengerutkan kening, berpura-pura terkejut. "Apa maksudmu, Livia?"
Erivo melangkah maju. Melindungi Chloe. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah, kedua tangannya masih terkepal kuat. "Apa yang kalian bicarakan?"
Livia mengeluarkan ponsel dari dalam tas mahalnya. Ia memencet layar, lalu mengarahkannya ke layar besar yang masih menyala.
Semua mata tertuju kepada layar besar itu. Dokumen jual beli saham Weiss Group terlihat. Pihak pertama yang terlibat adalah Erivo Reinhard.
DUG
"APA?!" Nicholas menatap tajam putranya. "Erivo, apa yang kau lakukan?"
Mata Eleanor berkaca-kaca. "Tidak... putraku pasti difitnah..., kau tidak percaya, kan? Kau tahu seperti apa Erivo, kan?" Eleanor memegang lengan Chloe. Air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
Chloe tidak bergerak. Tapi rahangnya mengeras.
Livia tertawa. "Lihat? Ini dia suami yang kau banggakan, Nyonya Muda. Diam-diam dia menjual perusahaan milik almarhum ibumu dari belakang. Karena tidak ingin dikalahkan."
Victor langsung menoleh ke Erivo. "Jadi benar... kau yang menjatuhkan Weiss Group diam-diam?"
Erivo diam. Tangannya mengepal.
Levin juga ikut maju, dengan sebatang rokok yang asapnya menggumpal di udara.
"Kau lihat, kan, adik tiri. Belum ada satu bulan kau mengelola perusahaan Weiss Group, dan masalah sebesar ini sudah muncul. Suamimu diam-diam menjual saham perusahaanmu karena tidak ingin kalah saing."
"ERIVO! BICARALAH! APA SEMUA INI BENAR ATAU TIDAK!" teriak Nicholas.
Erivo menghela napas dengan kasar. Belum sempat ia menjawab, Daniel sudah berdiri di hadapan Chloe dengan menyodorkan pistol kepada wanita itu.
"Ambil ini, Kakak Ipar. Dan bunuh suamimu sekarang," ucap Daniel dengan santai. Senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.
DUG
Semua orang menahan napas.
Eleanor menjerit. "JANGAN!"
Erivo maju selangkah. "Jangan sentuh dia."
Chloe menatap pistol itu. Hitam. Dingin. Lalu ia menatap Daniel. Lalu menatap Erivo.
Matanya tidak berkedip.
Perlahan... Chloe mengambil pistol itu.
DUG
"Bagus," gumam Levin.
Victor menyilangkan tangan. "Ayo. Tembak dia."
Nicholas melangkah ke arah adik laki-lakinya itu dan...
BUG!
Ia meninju rahang Victor dengan keras hingga membuat pria itu menoleh ke samping.
"DIAM KAU!" raung Nicholas. "KAU BERANI MENYURUH MENANTUKU MEMBUNUH PUTRAKU DI HADAPAN KALIAN!"
Victor terhuyung. Darah keluar dari sudut bibirnya. "Kak..."
"JANGAN PANGGIL AKU KAK!" Nicholas mendorong Victor. "Sejak kapan kau serendah ini?!"
DUG
Livia mundur selangkah. "Kak Nicholas..."
Chloe belum menurunkan pistol. Tangannya stabil. Matanya lurus menatap Erivo.
Erivo tidak mundur. Ia berdiri di tempatnya. Dada bidangnya naik turun. "Chloe..."
Chloe tidak berkata apa pun. Ia menarik pelatuk pistol itu dengan gaya khas Queen Daisy. Mengarahkannya.
Bukan ke Erivo. Tapi ke layar besar.
DOR!
Layar pecah. Percikan kaca beterbangan.
Eleanor menutup kedua telinganya dan berteriak. "AAAHHH...."
Wajah Livia dan Victor berubah menjadi tegang.
DUG
Hening tiga detik. Hanya suara pecahan kaca yang jatuh ke lantai marmer.
Chloe menurunkan pistol. Tangannya tidak gemetar sama sekali.
Lalu ia mengeluarkan peluru pistol itu dan melemparkannya ke arah Daniel. PLAK!
"Jangan pernah menyodorkan senjata ke arahku lagi," bisik Chloe. "Terutama untuk menyuruhku membunuh suamiku."
DUG
Erivo dan Nicholas terdiam. Tatapan itu. Ekspresi itu. Sama persis seperti Queen Daisy, putri klan mafia Black Kobra yang sangat ditakuti di dunia bawah.
Lalu setelahnya ia tersenyum lebar. Menatap Victor, Levin, dan Livia secara bergantian.
"Selamat," ucap Chloe. Suaranya tenang tapi menggema di ballroom. "Pertunjukan kalian berhasil membuat layar itu mati."
Victor menyeka darah di sudut bibirnya. "Kau... kau gila?"
Chloe melangkah maju. Melewati Daniel yang berdiri kaku dan gemetar. Melewati Levin yang rokoknya jatuh.
"LAKUKAN PERINTAHKU," Chloe berteriak sambil memencet earpiece di telinganya.
TING!
Pesan masuk di ponsel Victor dan Levin secara bersamaan. Kedua pria itu segera mengambil ponsel di dalam saku celananya dan membaca email anonim yang masuk.
Chloe duduk santai di kursi. Menopang dagunya dengan kedua tangan.
DUG
Tangan Victor terkepal kuat saat membaca email anonim itu. Isinya: Levin bertemu Livia di hotel dan menyerahkan sebuah map berwarna cokelat.
Sedangkan Levin, rahangnya mengeras membaca email itu. Isinya: Victor dan Livia bekerja sama untuk menjebak dan membunuhnya setelah Weiss Group berhasil bangkrut.
Keduanya mengangkat kepala dan saling tatap. Mata mereka memerah.
"KURANG AJAR! KAU MENGKHIANATIKU!" teriak Victor. Napasnya naik turun.
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 😊 supaya Author lebih semangat lagi up-nya 🤗🤗🥰
dtggu kelanjutan ny kak ,,
😊😊😊🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
dtggu kelanjutan ny yx kak
pensiun dr petinjuu jdi mafia dy skraaang ,,
🤭🤭🤭🤭😆😆
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 gembul amat kak ,, kasihan kak jgn di kasih nasi nnti ngantuk mereka ,, 😆😆😆😆
gpp kak ,,
dtggu kelanjutan ny ,,
penasaran sypa sebenarny MR. T ini ,,
Mr Tukiman?
Mr Tukul???
atau
Mr Tuyul???
krn dy kn gx pernah muncul Dan di sebut bayangan ,,
fix ni bukan org ,,
tp tuyul ,,
makany di panggil Mr.T ,,
🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
Kali ni km bakal mati kalajengking tuaa ,,
semangat queen ,, mlm ini km pasti menang ,,
🤭🤭😂😂