Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di sisi lain, Miranti Adhitama dan kedua putrinya, Kiara dan Savina, hanya bisa menggigit bibir mereka. Niat mereka untuk melihat Darius dipermalukan malam ini gagal total.
Justru sebaliknya, Darius malah tampil mendominasi ruang perjamuan tanpa perlu menaikkan nada suaranya sedikit pun.
Surya Adhitama menghela napas, sedangkan Tuan Besar Hardiman menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepuasan terselubung.
"Makan malam telah usai," ujar Tuan Besar Gandhi seraya bangkit dari kursinya. "Keputusan sudah dibuat. Pernikahan akan dilaksanakan empat hari lagi."
Tuan Besar Hardiman kemudian mengangguk dengan tegas seraya ikut berdiri. "Terima kasih atas jamuannya, Gandhi.
Kedua kepala keluarga itu saling berjabat tangan dengan kaku, menutup makan malam yang dipenuhi intrik dan tekanan antar keluarga tersebut.
Satu per satu anggota Keluarga Atmadja dan Keluarga Adhitama meninggalkan ruang perjamuan.
Ketika berjalan menyusuri koridor lantai atas menuju area lift, Adelina sengaja memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan Darius.
"Jangan pernah berpikir, aku akan tunduk dan menjadi istri yang patuh padamu," bisik Adelina dengan dingin, suaranya halus namun tajam.
Darius tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Sorot matanya tetap tertuju lurus ke depan, langkah kakinya berirama konstan.
"Aku sama sekali tidak peduli, Nona Adelina," sahut Darius dengan nada datar, suaranya hanya bisa didengar oleh wanita di sampingnya.
Adelina tertegun sejenak. Sebelum ia sempat membalas ucapan itu, pintu lift sudah terbuka. Darius melangkah masuk terlebih dahulu tanpa sedikit pun menoleh kembali padanya.
Pintu lift tertutup perlahan, memisahkan pandangan Adelina dari sosok Darius yang berdiri dengan tegak. Di dalam lift, anggota Keluarga Adhitama dipenuhi berbagai emosi yang berkecamuk.
Miranti Adhitama melipat tangannya dengan napas memburu, tak sanggup lagi menahan kekesalan yang tertahan sepanjang jamuan.
"Kau sungguh beruntung malam ini, Darius," sindirnya dengan nada dingin saat lift meluncur turun. "Tuan Besar Gandhi terpukau oleh sikapmu itu."
Kiara dan Savina mengangguk setuju di belakang ibunya, meski tatapan mereka tidak bisa menyembunyikan kekaguman tersembunyi atas sikap Darius yang mampu menghadapi Keluarga Atmadja.
Darius sama sekali tidak membalas sindiran Miranti Adhitama. Ia hanya menatap pantulan dirinya di dinding lift dingin, tak tersentuh, dan berjarak.
Begitu tiba di area lobby The Imperial Hotel, Tuan Besar Hardiman menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, menatap Darius dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Ingatlah, Darius! Empat hari lagi adalah hari pernikahanmu," ucap Tuan Besar Hardiman suara tegas. "Jangan pernah melakukan tindakan yang bisa merusak nama baik Keluarga Adhitama."
"Saya mengerti," sahut Darius dengan pendek tanpa mengubah raut wajahnya yang datar.
Surya Adhitama kemudian melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Darius pelan. "Mari, kita pulang."
"Aku punya urusan lain," potong Darius tenang. Suaranya meluncur tanpa ragu, diiringi tatapan mata yang dingin. "Kalian bisa pulang terlebih dahulu."
Tanpa menunggu tanggapan dari mereka, Darius segera berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Petugas valet parking dengan sigap menyerahkan kunci Mercedes-Maybach hitam milik Darius.
Pria itu lalu masuk ke dalam, menyalakan mesin, lalu membawa mobil mewah tersebut membelah kegelapan malam Ibukota.
Sementara itu, di sudut paling eksklusif dan terisolasi di Ibukota, berdiri dengan megah kediaman utama Keluarga Mahadinata.
Suasana begitu hening di dalam ruang kerja utama mansion yang didominasi panel kayu jati tua dan pencahayaan hangat. Hanya ada suara denting es batu yang beradu dengan gelas kristal.
Bianca Mahadinata berdiri membelakangi meja kerjanya. Gaun malam berbahan sutra hitam yang ia kenakan membalut tubuh jenjangnya dengan sempurna.
Tangan kanannya memegang segelas minuman, sementara pandangan matanya yang tajam dan jernih, menatap hamparan lampu-lampu kota yang tampak seperti hamparan permata dari kejauhan.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruang kerja itu diketuk pelan tiga kali sebelum akhirnya terbuka, memecah kesunyian yang sejak tadi menyelimuti di dalam ruangan.
Seorang wanita dengan setelan kemeja formal dan celana kain hitam melangkah masuk secara teratur. Dia adalah Lidya, asisten pribadi Bianca yang mengurus segala urusannya.
"Nona Bianca," sapa Lidya seraya menundukkan kepala dengan sikap penuh hormat.
Bianca tidak langsung berbalik. Ia perlahan memutar gelas di tangannya, membiarkan es batu di dalamnya berdenting halus sebelum menyesapnya secara perlahan.
"Bagaimana, Lidya?" tanya Bianca dengan suara tenang dan penuh wibawa. "Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang pria berkemeja abu-abu di Savoire House tadi siang?"
"Sudah, Nona," jawab Lidya dengan sigap. "Tim kita telah menggali seluruh jaringan informasi di Ibukota untuk mengetahui identitasnya."
Lidya melangkah dua tindak mendekati meja kerja, lalu membuka map kulit hitam di tangannya dan meletakkannya di atas meja.
Bianca perlahan membalikkan badannya dengan anggun. Ia melangkah mendekati meja kerja, meletakkan gelasnya, lalu mengulurkan jemarinya untuk membuka lembaran dokumen di hadapannya.
Mata jernih Bianca menyapu foto dan barisan teks yang tertera pada lembaran pertama. Di sana, terpampang foto Darius mengenakan kemeja abu-abu dengan raut wajah yang datar.
"Darius Adhitama..." gumam Bianca pelan, menyebut nama itu dengan intonasi yang memikirkan sesuatu.
"Benar, Nona," terang Lidya secara rinci. "Pria itu bernama Darius Adhitama. Dia adalah putra sulung dari Surya Adhitama, hasil dari pernikahan pertamanya."
"Namun, menurut catatan sipil dan data internal Keluarga Adhitama, Darius telah dibuang dan dibesarkan di luar Ibukota sejak ia masih kecil." lanjut Lidya dengan nada penuh hormat.
Mendengar penjelasan asisten pribadinya, satu alis tipis Bianca seketika terangkat halus. "Anak terbuang dari Keluarga Adhitama?"
"Ya, Nona," jawab Laura dengan nada tenang. "Keluarga Adhitama baru saja memanggilnya kembali ke Ibukota dua hari yang lalu."
Bianca mengamati foto Darius dengan tatapan yang semakin dalam dan penuh minat. Cahaya lampu kristal di atasnya membiaskan sinar keemasan pada gaun sutra hitam yang dikenakannya.
"Seorang anak terbuang yang baru kembali dua hari lalu..." bisik Bianca dengan pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja tersebut. "Menarik. Sangat menarik."
"Ada hal lain yang perlu Anda ketahui, Nona Bianca," sambung Lidya, suaranya tetap rendah. "Keluarga Adhitama telah menjodohkannya dengan Adelina Atmadja, putri Keluarga Atmadja."
Bianca lalu duduk di kursi kerjanya yang berbahan kulit premium. Jemari tangannya yang halus mengusap dagunya yang tirus. Senyum tipis yang sarat akan makna teka-teki perlahan terukir di bibirnya.
"Perjodohan antara Keluarga Adhitama dan Keluarga Atmadja..." gumam Bianca dengan suara merdu namun begitu dingin.
Lidya, asisten pribadinya yang berdiri di hadapan meja, mengangguk pelan. "Benar, Nona. Berdasarkan laporan terbaru yang saya terima, perjamuan kedua keluarga tersebut baru saja selesai."
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bianca seraya menatap Lidya, kedua matanya yang jernih memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
"Empat hari lagi... Darius Adhitama akan menikah dengan Adelina Atmadja," ucap Lidya meerangkan secara rinci.
"Empat hari lagi..." ulang Bianca pelan. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Jemarinya kini mengusap tepian gelas kristal yang dingin.
Bianca kemudian bangkit berdiri dari kursi kerjanya. Gaun sutra hitamnya berdesir halus, jatuh membalut tubuhnya dengan keanggunan yang dingin dan memikat.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya