Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 26
Pintu Land Cruiser tertutup dengan dentuman halus, seketika memutus suara bising air hujan dan erangan sisa-sisa preman di luar.
Di dalam kabin baris kedua yang kedap suara, hawa dingin dari pendingin ruangan beradu dengan hawa panas yang menguar dari tubuh Farrel yang basah kuyup.
Amelia Putri masih menyandarkan punggungnya di sudut kursi, kedua tangannya bergetar hebat di depan dada.
Matanya yang bulat jernih digenangi air mata yang siap tumpah.
Ia baru saja menyaksikan sebuah pembantaian yang tidak masuk akal seorang pria tunggal menghancurkan seratus orang dalam hitungan menit seperti membalikkan telapak tangan.
Farrel tidak langsung berbicara. Ia merosotkan tubuhnya di kursi kulit, menyandarkan kepalanya, lalu mengembuskan napas panjang.
Kemeja taktis hitamnya yang basah menempel ketat, menonjolkan otot dada dan perutnya yang naik-turun dengan ritme teratur.
Air hujan bercampur setitik darah musuh mengalir perlahan dari rahang kokohnya, turun melewati leher jenjangnya yang seksi.
"Gua tahu apa yang ada di otak lu, Amelia," suara Farrel memecah keheningan, terdengar begitu berat dan pekat oleh getaran karisma tingkat monster.
"Lu mikir gua ini monster, pembunuh, atau iblis yang keluar dari kegelapan."
Amelia menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Air matanya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang seputih porselen.
"K-Kamu... kamu membunuh mereka semua tanpa berkedip. Bagaimana bisa seseorang memiliki kekuatan mengerikan seperti itu?"
Farrel menolehkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Amelia menggunakan Mata Sang Penguasa yang dilembutkan.
"Di kota yang kotor ini, Mel... kalau gua gak punya kekuatan ini, malam ini klinik lu udah dibakar, dan lu udah jadi mainan bajingan-bajingan itu. Kadang, lu butuh iblis yang lebih kejam untuk menghancurkan iblis lainnya."
Mendengar kalimat itu, jantung Amelia seolah berhenti berdetak sesaat. Logika kedokterannya yang selalu mengutamakan kemanusiaan berbenturan keras dengan realitas kejam yang baru saja ia alami.
Farrel benar. Pria di hadapannya ini melakukan pembantaian, tetapi semua itu dilakukan untuk melindunginya.
Farrel menggeser tubuhnya mendekat.
Gerakannya yang lambat namun penuh tekanan intimidasi membuat Amelia tidak bisa berkutik.
Tangan kanan Farrel yang hangat dan kokoh terangkat, jemarinya dengan lembut menghapus air mata di pipi mulus Amelia.
【 Ting! Target Ketiga Amelia Putri mengalami guncangan emosional yang hebat, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan moralnya! 】
【 Tingkat Kesukaan Amelia Putri melonjak tajam: 55% -> 72% (Ketergantungan Psikologis & Cinta yang Dalam)! 】
【 Sistem Mendeteksi: Target telah menerima sisi gelap Pengguna demi rasa aman yang absolut! 】
"F-Farrel..."
bisik Amelia lirih, tubuhnya bergetar halus saat merasakan sentuhan tangan Farrel di wajahnya.
Rasa hangat yang menjalar dari kulit pria itu seolah mengikis seluruh rasa dingin dan ketakutan yang mencekam jiwanya sedari tadi.
"Lu anak mantan walikota, mahasiswi kedokteran yang suci,"
Farrel memajukan wajah tampannya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya yang hangat beraroma tembakau menerpa bibir ranum Amelia yang sedikit terbuka.
"Tapi malam ini, lu udah liat siapa gua yang sebenarnya. Dan gua gak akan biarkan lu pergi dari hidup gua."
Amelia memejamkan matanya, pasrah. Seluruh ego sebagai putri pejabat dan wanita akademis runtuh sepenuhnya di bawah pesona sang predator urban.
Insting wanitanya menjerit bahwa berada di pelukan pria berbahaya ini adalah tempat paling aman di seluruh dunia.
"Jangan tinggalkan aku..." bisik Amelia akhirnya, menyerah pada takdir yang disiapkan oleh sistem.
Kedua tangan lentiknya perlahan bergerak, mencengkeram kemeja taktis hitam Farrel yang basah, menyandarkan kepalanya yang pening di dada bidang pria itu.
Farrel menyeringai puas, merangkul pinggang ramping Amelia dengan posesif, mengunci gadis suci itu dalam dekapannya yang mutlak.
Dua jam kemudian, Land Cruiser hitam itu memasuki area parkir bawah tanah apartemen mewah Farrel di Bogor Tengah.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Tiger membuka pintu mobil, tubuh raksasanya membungkuk hormat saat Farrel keluar sambil membimbing Amelia yang kini tampak lebih tenang, meski wajah cantiknya masih menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Jas putih dokternya kini tersampir di bahu Farrel.
"Tuan Besar," lapor Tiger rendah.
"Seluruh aset properti, depo pasir, dan jalur logistik Ormas Cakar Bumi di wilayah barat dan utara sudah berhasil dialihkan atas nama Grup Garuda Hitam. Bramantyo dan sisa petinggi mereka sudah... diselesaikan tanpa jejak."
Farrel mengangguk datar.
"Bagus. Tiger, perintahkan Gunawan untuk segera menempatkan orang-orang kita di terminal barat besok pagi."
"Jangan kasih celah buat ormas kecil lain buat ambil kesempatan."
"Siap, Tuan Besar!"
Farrel menoleh ke arah Amelia, lalu merangkul bahunya dengan lembut.
"Ayo naik. Lu butuh mandi dan istirahat."
Namun, begitu pintu lift khusus penthouse terbuka di lantai teratas, Farrel menghentikan langkahnya. Matanya berkilat tajam saat mendeteksi sesuatu melalui panel sistem di otaknya.
【 Ting! Peringatan Bahaya! 】
【 Sistem mendeteksi adanya aura asing di dalam ruang tamu utama Penthouse Anda! 】
【 Analisis Energi: Seseorang dengan kemampuan infiltrasi tingkat tinggi tingkat internasional sedang menunggu Anda di dalam! 】
Farrel menyeringai dingin, melepaskan rangkulannya dari Amelia perlahan.
"Mel, berdiri di belakang gua. Tampaknya... ada tamu tak diundang yang punya nyali cukup besar buat menyusup ke sarang gua malam ini."
mau tanya thor apakah dunia yang ditempatin skrng adalah dunia bumi sama kek duni kita? baik artis entah indo, korea, jepang dll? baik perusahaan juga? jika iya mungkin saya akan donate berupa saweria jika ada
karena saya mencari novel yang benar benar hanya dunia modern mirip kek dunia kita 100 persen