Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20: Sudden Chaos
Setelah meninggalkan kediaman Countess Elvia, Amorette tidak langsung memerintahkan kusir untuk kembali ke istana. Ia memberi isyarat agar kereta kuda itu berjalan pelan, lalu memutuskan untuk turun di gerbang utama kota, membiarkan kendaraan itu mengikutinya dari jarak aman.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna putih keemasan yang menutupi sebagian tubuhnya, dengan tudung yang meneduhkan wajah, dan di tangannya tergenggam payung kecil berukir indah. Hari ini, ia ingin berjalan sendiri, menyatu dengan hiruk-pikuk Kota Eldervale, ibu kota Kerajaan Elowen.
Eldervale adalah jantung kerajaan, sebuah kota besar yang dibangun dengan arsitektur megah namun tetap mempesona. Jalan-jalan utamanya lebar dan beraspal halus, membelah kota menjadi beberapa distrik utama. Di sepanjang jalan, deretan bangunan berlantai dua hingga tiga berdiri rapi, dengan dinding-dinding berwarna krem, abu-abu, dan merah bata yang dihiasi ukiran kayu berwarna gelap. Jendela-jendelanya besar, banyak yang dipasangi kaca bening atau kaca patri berwarna-warni yang memantulkan sinar matahari siang. Di sepanjang trotoar, deretan pohon-pohon besar dengan daun rimbun memberikan keteduhan, sementara di antaranya berjejer kios-kios dagangan dan kedai-kedai kecil yang memajang barang dagangan mereka ke luar, memanggil perhatian setiap orang yang lewat.
Suasana kota ini sangat hidup. Udara dipenuhi campuran berbagai aroma: wangi roti yang baru dipanggang, rempah-rempah eksotis yang dibawa pedagang dari wilayah selatan, bunga-bunga yang ditanam di kotak-kotak kayu di pinggir jalan, hingga bau besi panas dari bengkel pandai besi yang berdering nyaring di kejauhan.
Suara hiruk-pikuk terdengar di mana-mana: teriakan pedagang yang mempromosikan barangnya, tawa anak-anak yang berlari mengejar satu sama lain, derap langkah kuda, bunyi roda kereta di atas batu, serta percakapan warga yang beragam bahasanya.
Di sini, terlihat rakyat dari segala lapisan: bangsawan yang lewat dengan kereta mewah, pedagang kaya dengan pakaian berwarna cerah, hingga rakyat biasa yang sibuk bekerja dan membawa beban dagangan mereka.
Eldervale bukan hanya pusat pemerintahan, tapi juga napas ekonomi negara, tempat di mana kekayaan dan kehidupan mengalir deras seperti sungai besar yang tak pernah berhenti.
Amorette berjalan perlahan di tengah lautan manusia itu, matanya meneliti setiap sudut dengan rasa kagum sekaligus rasa sayang yang mendalam. Kota ini begitu indah, begitu ramai, begitu penuh harapan. Rasanya ngeri jika terbayangkan betapa hancurnya pemandangan ini jika perang benar-benar terjadi. Asap pembakaran, gedung-gedung yang runtuh, jalanan yang penuh darah, dan tawa riang ini berubah menjadi tangis kepedihan... Pikiran itu membuat dadanya sesak. Niatnya untuk mencegah perang, untuk mengubah alur cerita tragis yang dulu ia baca, dan melindungi rakyat ini semakin menguat menjadi tekad yang tak tergoyahkan. Ia harus memastikan Eldervale tetap hidup, tetap ramai, dan tetap aman seperti ini selamanya.
Sambil tenggelam dalam pikirannya, Amorette terus berjalan. Namun, tiba-tiba, saat ia berbelok di tikungan sempit yang agak tertutup, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengan langkah tergesa.
"Ah, maafkan saya," ucap orang itu pelan, suaranya rendah dan berat.
Amorette mundur selangkah, membetulkan posisi payungnya dan menatap orang yang baru saja ia tabrak. Pria itu tinggi besar, mengenakan jubah hitam panjang yang tampak menyerap cahaya di sekelilingnya. Rambutnya berwarna perak murni yang berkilau, kontras dengan pakaian gelapnya, dan saat ia menundukkan kepala untuk meminta maaf, Amorette sempat menangkap sekilas pandang matanya—berwarna merah menyala, tajam namun dingin seperti permata berdarah.
Belum sempat Amorette membuka mulutnya untuk membalas ucapan maaf itu, pria itu sudah melangkah pergi dengan cepat, lenyap di balik kerumunan orang di tikungan lain seolah ditelan bumi.
Amorette berdiri diam sejenak, mengerutkan keningnya. Warna rambut perak... mata merah... jubah hitam... Ciri-ciri fisik itu terasa sangat tidak asing, bergema di sudut ingatannya yang paling dalam, seolah ia pernah membaca atau mendeskripsikan sosok seperti itu berkali-kali. Namun, ingatan itu samar, tertutup kabut. Mungkin hanya seorang pendeta dari sekte khusus, atau penyihir pengembara yang jarang terlihat.
Amorette menggelengkan kepalanya, memutuskan untuk menghiraukannya dan menganggapnya sekadar pertemuan kebetulan yang aneh. Ia kembali melanjutkan perjalanannya, menjauh sedikit dari posisi kereta kudanya yang kini tertinggal agak jauh, dan benar-benar membaur di tengah keramaian pasar utama.
Langkah kakinya terhenti di dekat alun-alun pasar, tempat di mana barisan pedagang makanan berjejer rapi. Aroma lezat menyebar ke mana-mana: ada penjual daging panggang yang berasap, penjual sup kental yang mengepulkan uap panas, hingga penjual kue manis dan buah-buahan segar.
Amorette tersenyum kecil, rasa penasaran dan keinginannya untuk mengenal rakyatnya lebih dekat mengalahkan segala kehati-hatian. Ia menghabiskan cukup banyak waktu di sana, berhenti di satu kios ke kios lain, membeli sedikit makanan dan minuman, sekadar untuk mencicipi dan berbasa-basi dengan para pedagang yang ramah.
Namun, ketenangan itu pecah seketika.
DARRR!!!
Sebuah ledakan dahsyat terdengar tidak jauh dari sana, di sebelah timur pasar, cukup dekat hingga tanah terasa bergetar di bawah kakinya. Asap hitam mengepul tinggi di langit, diikuti oleh suara teriakan kaget dan ketakutan.
Kerumunan orang yang tadinya tenang dan riang seketika berubah menjadi lautan kepanikan. Orang-orang berlarian ke sana ke mari tanpa arah, berdesak-desakan, saling mendorong hanya untuk mencari jalan keluar atau tempat aman. Suara teriakan, tangisan anak-anak, dan jeritan histeris memenuhi udara, menciptakan suasana kacau balau yang menyesakkan. Karena desakan itu, tudung jubah Amorette terlepas dan jatuh ke belakang, memperlihatkan wajah cantik dan ciri khas keluarga kerajaan secara terang-terangan. Namun, dalam kepanikan massal itu, tak ada satu pun yang peduli. Semua orang terlalu sibuk menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
"Apa yang terjadi?! Tenanglah! Tidak ada bahaya di sini!" seru Amorette lantang, berusaha menahan dan bertanya pada orang-orang yang berlari lewat di hadapannya. Namun, suaranya tenggelam dalam kegaduhan. Tidak ada yang menjawabnya, mata mereka penuh ketakutan kosong, berlari tanpa tujuan.
Kebingungan mulai menjalar di hati Amorette. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini serangan musuh? Atau kecelakaan? Ia tidak tahu, dan ketidaktahuan itu membuatnya semakin gelisah. Ia sadar, berdiri diam di tengah lautan orang yang panik sangat berbahaya, ia bisa terinjak atau terseret arus. Dengan cepat, ia berbalik arah, berlari membelah kerumunan yang bergerak menjauh dari sumber bahaya, menuju ke tempat ia meninggalkan kereta kudanya.
Dua orang pengawal pribadinya sudah menunggunya di sana, wajah mereka tegang dan penuh kekhawatiran. Begitu melihat Amorette datang, salah satu pengawal segera membuka pintu kereta.
"Apa yang terjadi?" tanya Amorette, berusaha terdengar tenang dan berwibawa, meski nyatanya jantungnya berdegup sangat kencang, hampir melompat keluar dari dadanya karena rasa cemas.
"Ada serangan mendadak, Tuan Putri! Belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi ada laporan ledakan dan api di dekat gudang penyimpanan barang dan katedral! Ayo, segera masuk ke dalam kereta, kami harus membawa Anda keluar dari sini secepat mungkin ke tempat aman!" jawab pengawal itu dengan nada terburu-buru.
Amorette berhenti di ambang pintu kereta. Ia menatap sekelilingnya, melihat pemandangan yang menyayat hati: orang tua yang terjatuh dan tidak mampu bangkit, ibu yang menggendong anaknya berlarian menangis, pedagang yang meninggalkan barang dagangannya demi keselamatan diri. Ia ingat tekadnya tadi, ingat alasannya berada di sini. Ia tidak bisa hanya lari dan menyelamatkan diri sendiri sementara rakyatnya menderita dan ketakutan.
Ia menarik napas panjang, menguatkan hatinya, lalu menutup kembali pintu kereta yang baru saja terbuka itu.
"Tidak," ucap Amorette tegas. "Kalian berdua boleh pergi dan menyelamatkan diri jika ingin. Tapi aku tidak akan pergi dulu. Aku akan membantu mengevakuasi mereka."
Kedua pengawal itu saling pandang, ragu dan bingung. Itu tugas mereka melindungi nyawa Putri, bukan membantu warga. Namun, melihat sorot mata tuannya yang berapi-api dan penuh ketegasan, mereka sadar argumen tidak akan berguna. Dengan satu anggukan singkat, keduanya meletakkan tangan pada gagang pedang mereka dan memilih untuk tetap berada di sisi Amorette.
"Baiklah, Tuan Putri. Kami ada di perintah Anda," jawab salah satu dari mereka.
Segera, Amorette bergerak kembali ke tengah kerumunan, kali ini diikuti oleh kedua pengawal yang berbadan tegap itu yang berfungsi sebagai pagar pembatas agar Amorette tidak terdesak. Amorette berteriak sekuat tenaga, suaranya jernih dan lantang menembus kegaduhan.
"Tenanglah! Jangan berlarian sembarangan! Ikuti aku! Kita menuju gerbang selatan, tempatnya luas dan aman, jauh dari api dan bahaya! Jangan berdesakan! Bantu yang lemah! Ibu-ibu dan anak-anak di depan, yang tua dan sakit ikut di tengah!"
Dengan kehadiran Amorette yang mulai dikenali sebagian warga, serta bantuan kedua pengawal yang sigap menuntun jalan, kepanikan mulai sedikit mereda dan memiliki arah. Amorette terlihat sibuk ke sana ke mari. Ia membantu mengangkat seorang kakek tua yang terjatuh di pinggir jalan, menuntunnya berjalan dengan sabar. Ia menggendong seorang bayi yang terpisah dari ibunya, lalu berkeliling mencarikan ibunya di antara kerumunan. Ia juga mengerahkan sisa tenaga sihir yang baru saja ia pelajari dari buku untuk menciptakan penghalang api sederhana, mencegah kobaran api yang mulai menjalar dari lokasi ledakan merambat ke bangunan-bangunan warga. Tangannya kotor, wajahnya penuh debu, dan napasnya tersengal, tapi ia tidak berhenti. Di matanya, nyawa setiap orang di sini sama berharganya dengan nyawanya sendiri.
Saat ia sedang mengatur barisan evakuasi di alun-alun yang lebih tinggi, pandangannya secara tidak sengaja terangkat menatap ke arah utara, ke arah puncak menara tinggi Katedral Eldervale yang menjulang gagah di tengah kota.
Di sana, di atas tembok pembatas menara yang curam itu, berdiri sosok yang tampak kecil dari kejauhan namun siluetnya sangat jelas. Sosok itu berdiri tegak, tenang, tak tergoyahkan, seolah seluruh kekacauan dan kepanikan di bawah sana hanyalah tontonan biasa baginya.
Jubah hitam yang berkibar ditiup angin. Rambut perak yang berkilau di bawah sinar matahari. Dan dua titik cahaya merah menyala yang terang benderang, menembus jarak, menatap tepat ke arah Amorette.
Pria yang baru saja ia tabrak beberapa saat yang lalu.
Darah Amorette serasa berhenti mengalir. Tubuhnya membeku. Pria itu ada di sana. Dia melihat semuanya. Dan ada sesuatu dalam tatapan mata merah itu—sesuatu yang jahat, dingin, dan penuh rencana gelap.
Pria itu perlahan mengangkat satu tangannya ke udara, seolah memberi salam atau isyarat, sebelum akhirnya menghilang dari balik bayangan menara, meninggalkan Amorette yang berdiri terpaku dengan pertanyaan besar yang menghantui benaknya.
Siapa dia? Dan... apa hubungannya dengan semua kekacauan ini?