Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Kebangkitan di Ambang Maut
Taring membusuk itu terpaku utuh di udara. Setetes liur kental menggantung mati, menolak jatuh menimpa jaket pelindung Wan Chen yang terburai.
Suara geraman buas yang sedetik lalu memekakkan telinga kini mereda total. Udara mendadak kehilangan fungsinya sebagai penghantar suara. Rentetan desibel mematikan itu berubah jadi dengung rendah. Bunyinya mirip pita kaset rusak yang tersangkut paksa di dalam pemutar tua.
Waktu kehilangan otoritasnya di sudut jalan hancur ini.
[Sistem: Suplai Tak Terbatas. Inisiasi selesai.]
Pemberitahuan itu tidak turun perlahan dari langit. Suara itu menggema presisi tepat di balik tulang tengkorak Wan Chen. Kosong melompong tanpa emosi. Tidak ada sapaan hangat, apalagi nada peduli standar. Cuma konfirmasi mekanis yang dingin mendesak.
Kelopak mata pria itu berkedip. Sangat pelan, seolah cairan pelumas di korneanya telah mengering dan membeku. Paru-parunya secara sepihak menolak bekerja menyedot debu aspal di sekitarnya.
Menyusup paksa merobek pandangan terbatasnya, selembar panel cahaya biru pucat meletup. Layar holografis itu mengaburkan wajah mengerikan anjing mutasi yang moncongnya masih terbuka lebar mengincar pangkal leher.
Wan Chen sama sekali tidak meronta panik. Ia hanya menatap pasif rentetan karakter asing yang mulai berkedip di layar retina matanya.
Antarmuka sistem itu luar biasa kaku dan minimalis. Tidak ada bingkai estetik berlebihan atau simbol dewa pelindung yang megah. Murni untaian teks monokrom melayang mengangkangi hukum gravitasi.
Otaknya dipaksa membaca aliran data medis yang turun sederas air bah kotor.
[Status Inang: Kritis.]
[Pendarahan Arteri: Berlangsung progresif.]
[Kelelahan Ekstrem: Tenggat kematian diproyeksikan dalam 42 detik.]
[Menopang kehidupan Inang...]
'Empat puluh dua detik,' batin Wan Chen. Sudut bibirnya yang pecah-pecah berkedut membentuk lengkungan miring sebentar. 'Program ini kelewat optimis menilai sisa umurku.'
Menggeser kasar panel notifikasi sekarat itu dari pandangan utama, sebuah kotak baru mendesak maju. Dua baris kata bercahaya tebal memonopoli sisa area penglihatannya.
[Duplikasi. Penyimpanan Dimensional.]
Sensasi sengatan listrik berdosis tinggi mendadak menghantam pangkal otaknya tanpa permisi. Ratusan baris informasi diunggah paksa menembus jaringan saraf korteksnya.
Rasa mual seketika bergolak, bercampur baur dengan bau karat darah meremas isi perutnya sekaligus. Pusing pening yang merambat naik mengalahkan rasa kebas dari ususnya yang berhamburan di balik pakaian taktis.
Menganga kecil, ia menumpahkan segumpal darah hitam kental dari pangkal kerongkongannya. Cairan itu melayang. Tertahan kaku dan mengambang beberapa sentimeter di atas pelat dadanya yang penyok.
Dunia di luar sistem kotak biru ini benar-benar sedang diputus sementara.
Pemahaman tentang dua fungsi absolut itu langsung mengakar permanen. Wan Chen mencernanya dalam sekejap tanpa perlu membalik halaman buku panduan tebal. Fungsi pertama bisa menggandakan materi fisik yang disentuh. Fungsi kedua menyimpan benda hidup atau mati ke dalam saku ruang hampa tanpa batas.
Cara kerja, batasan toleransi, dan mekanisme operasinya tercetak lugas layaknya memori masa kecil.
Bagi warga sipil biasa, merasakan sistem ajaib turun tangan di detik terakhir napas pasti dianggap anugerah langit. Waktunya memuji dewi nasib atau menangis tersedu-sedu meratapi keagungan takdir.
Namun Wan Chen dipahat dari cetakan yang berbeda.
Logika merampas alih kendali sistem saraf pusat secara total. Otaknya yang ditempa puluhan tahun oleh kebrutalan dan pengkhianatan jalanan mulai membedah situasi seolah sedang duduk di bangku kasir. Ia mengabaikan decak takjub yang hanya membuang waktu.
Ia langsung mencoret rasa syukur. Terima kasih pada entitas gaib tidak bisa ditukar dengan sebotol cairan disinfektan.
'Berapa tetes darahku yang tersisa? Cuma hitungan satu fungsi yang bisa mencekik leher anjing gila ini sekarang,' hitungnya teliti di dalam hati. Pertimbangan ini murni soal efisiensi untung rugi nyawa.
Perhatiannya menukik pada panel Duplikasi. Deretan syarat pemicu utamanya terpampang lugas, tanpa perlu dibaca dua kali. Aktivasi butuh bahan bakar berupa cadangan energi inang. Sistem juga mewajibkan ada subjek material yang utuh untuk disalin massal.
'Ditolak,' rutuk Wan Chen cepat, membuang opsi itu ke tempat sampah di kepalanya.
Menahan kesadaran saja ia harus meminjam oksigen. Memaksakan sisa denyut jantung untuk menggandakan kerikil aspal di dekat kakinya sama saja meneken surat bunuh diri. Lagipula, memakai energi itu untuk menduplikasi anjing rongsokan kelaparan yang menindih wajahnya hanya akan mendatangkan dua tukang jagal. Keputusan dungu.
Fokus matanya terkalibrasi penuh pada opsi sebelahnya. Penyimpanan Dimensional. Gudang ruang hampa kasat mata yang mengeksploitasi anomali fisika massa.
Membongkar arsip penggunaan di memori barunya, ia mendapati syarat fitur ini terlampau mentah. Sistem hanya mewajibkan titik kontak. Selama kesadarannya memfokuskan perintah, benda apa pun yang menyentuh kulitnya akan diisap ke dimensi lain tanpa perlu mengukur volume maupun bobotnya. Ruang itu tunduk mutlak pada komando inangnya.
Gagasan sinting pelan-pelan merangkai pondasi kerangka di otaknya yang dehidrasi. Saku dimensi ini bukan sekadar karung rongsok bervolume besar buat membuang limbah. Fitur penarik ini bisa beralih fungsi menjadi proyektor peluru jika manipulasi objek yang disentuh dimainkan tepat sasaran.
Menarik benda masuk. Mengeluarkan benda tepat di titik krisis.
Bola mata Wan Chen bergulir memutar ke sudut kanan bawah pandangannya. Otot-otot pangkal lehernya ditahan kuat agar posisinya tak goyah sedikitpun.
Objek itu terbaring sepuluh sentimeter dari pergelangan tangannya yang mulai membiru. Sebilah pisau tempur usang dengan baja berkarat yang telah separuh patah. Rongsokan tajam itu dibuang mantan komandan regunya beberapa jam lalu karena dianggap hanya menambah beban sebelum mereka melenggang kabur.
'Benda mati selalu lebih patuh diajak kerja sama,' desis pria itu datar di ruang pikirannya. Penilaian yang sarat akan pengalaman dibuang berulang kali.
Menguras sisa tenaga terakhir, saraf motoriknya dipaksa merespons satu instruksi. Ujung telunjuk dan jari tengahnya merangkak milimeter demi milimeter di atas aspal sedingin es. Beberapa detik kemudian, ujung jarinya menyentuh gagang kasar pisau di sampingnya.
Jari-jarinya mengait benda itu erat.
Mendadak, bunyi kesunyian meledak di sekitarnya.
Hampa suara buatan sistem itu lenyap ditarik mundur. Udara bergerak menampar wajahnya. Hawa busuk perpaduan nanah infeksi dan liur mendidih hewan mutan itu langsung menyerbu rongga hidung Wan Chen dengan beringas. Aturan waktu kembali memberlakukan dominasinya dengan brutal.
Geraman melengking mirip mesin pemotong logam rusak kembali menyayat telinga. Anjing radiasi itu meluncur meneruskan sambaran yang tertunda. Mulut berbusanya menukik ke arteri leher mangsanya dengan kekuatan yang cukup untuk merobek daging dan tulang sekaligus.
Jarak lintasan kematian yang tersisa hanya seukuran buku jari.
Pria yang dihimpit takdir itu tidak bereaksi berlebihan. Tidak ada percobaan berguling mengelak yang sia-sia. Ia tidak repot-repot memejamkan mata membuang pandang dari mautnya. Garis wajah Wan Chen setenang bongkahan beton mati di sekitarnya.
Telapak tangan kanannya mengunci cengkeraman penuh pada gagang patah itu. Sisa kulit sintetis membungkus pinggiran logam tajam yang bergerigi.
Ia mendongak tajam, menatap lurus menembus bola mata katarak makhluk di atas hidungnya.
'Gudang terbuka,' titahnya tanpa suara, memberikan komando murni ke sistem yang bersarang di ubun-ubunnya.
Fungsi Penyimpanan Dimensional merespons serentak.
Ruang hampa di sekitar dada Wan Chen bergetar hebat. Udara seolah patah. Pendar cahaya biru melengkungkan dimensi di sekelilingnya, memelintir segala yang berada sejengkal dari kulitnya. Ruang itu berputar kacau tepat saat gigi monster menerobos radius hisapnya.