Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raka
Seharian penuh Kayla menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar saja. Padahal hari ini ia sudah punya rencana untuk mengunjungi cafe baru di pusat kota dan membeli takoyaki kesayangannya untuk makan malam nanti, namun semuanya buyar saat melihat cowok menyebalkan itu kini sudah tinggal di satu deretan kos yang sama dengannya!
Kayla mendengus kesal untuk yang kesekian kalinya, lalu menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kamar kos yang biasanya terasa damai sebagai tempat persembunyian, hari ini rasanya seperti zona bahaya.
Otaknya masih berputar keras memikirkan bagaimana bisa Raka, sang mantan, tiba-tiba pindah ke kosan ini tanpa sepengetahuannya.
Ah, elah! Kenapa gue harus mengorbankan perut gue demi menghindari si mantan sih? Gue kan laper! batin Kayla merutuki nasibnya saat mendengar perutnya mulai berbunyi keroncongan.
Dengan tekad bulat mengalahkan ketakutannya, Kayla akhirnya bangkit. Ia menyambar sebuah kardigan rajut cokelat untuk menutupi kaos santainya, meraih dompet, dan menyelipkan ponsel ke saku celana.
Setelah memastikan penampilannya tidak terlalu berantakan, ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan hati-hati, mirip pencuri yang takut ketahuan pemilik rumah.
Kayla melongokkan kepalanya ke luar koridor, menatap ke arah tangga lantai atas tempat kamar-kamar cowok berada. Sepi. Aman.
Gadis itu mengembuskan napas lega dan mulai melangkah cepat setengah jinjit menuju halaman depan.
Namun, baru saja kakinya menapak di dekat gerbang, sebuah suara motor menderu masuk ke halaman kosan.
Itu Juna, lengkap dengan seragam SMA abu-abunya yang dilapisi jaket denim, baru saja pulang sekolah menjelang malam begini.
Cowok itu mematikan mesin motornya, melepas helm, dan langsung menatap heran ke arah Kayla yang posisinya seperti orang yang sedang mengendap-endap di balik tiang.
"Wah, Kanjeng Ratu baru keluar dari pertapaan?" ejek Juna, turun dari motor sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Seharian di kamar mulu, gue kira lo udah pingsan gara-gara kelaparan."
"Diem lo, Bocil! Suara lo bisa pelan dikit nggak sih?!" bisik Kayla panik, langsung menghampiri Juna dan melotot galak.
Juna mengernyitkan dahi, bingung melihat tingkah Kayla yang super mencurigakan.
"Kenapa sih? Kayak dikejar penagih utang aja lo. Gue baru balik sekolah nih, laper. Mau nyari makan ke depan gang."
"Gue juga mau nyari makan, mau beli takoyaki di kedai langganan gue yang di alun-alun sana.
"Tapi..." Kayla menggantung kalimatnya, matanya kembali melirik waspada ke arah tangga lantai atas.
"Tapi apa? Lo takut diculik wewe gombel malam-malam?" tanya Juna asal, mulai berjalan menuju koridor.
"Bukan, Juna! Lo tahu nggak, penghuni baru yang tadi pagi pindahan ke lantai atas itu siapa?" Kayla menahan lengan jaket Juna, memaksa cowok itu berhenti.
"Kaga tahu. Kan tadi pagi lo langsung kabur masuk kamar pas gue mau nanya," jawab Juna santai.
"Itu Raka, Juna! Mantan gue yang kemarin di kampus!" bisik Kayla dengan ekspresi penuh tekanan.
"Dia ngekos di sini! Di lantai atas! Tapi dia belum tahu kalau gue kos di sini juga, dan gue nggak mau dia sampai tahu!"
Mendengar nama Raka disebut, gerakan Juna mendadak terhenti. Cowok SMA itu mengerjapkan matanya sebentar, lalu menatap ke arah tangga lantai atas dengan pandangan yang sulit diartikan. Sifat tengilnya mendadak surut, digantikan oleh kerutan di dahi yang menandakan ia tidak terlalu suka dengan informasi barusan.
"Si Pajero itu?" tanya Juna memastikan, nadanya berubah agak datar.
"Iya! Makanya gue seharian ngumpet di kamar. Sekarang gue laper banget pengen takoyaki, tapi gue takut papasan sama dia di depan," keluh Kayla, memasang wajah melas yang dibuat-buat agar Juna kasihan.
Melihat wajah panik Kayla, sudut bibir Juna perlahan terangkat lagi, memunculkan senyum miring andalannya.
"Oh, jadi lo lagi jadi buronan mantan?" goda Juna, kembali memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Kebetulan banget, gue juga lagi males makan makanan sekitar sini. Daripada lo mati kelaparan di kamar terus arwah lo gentayangan jagain kosan putri..."
Juna menepuk jok belakang motor sport-nya dengan gaya sok keren. "Sini, naik. Gue anterin berburu takoyaki ke area kulineran luar gang. Kita sekalian go-public di depan gerbang, biar kalau mantan lo itu lagi ngintip dari balkon atas, dia langsung tahu kalau lo udah punya pawang baru yang jauh lebih ganteng."
Kayla mendengus mendengar tingkat kepedean Juna yang setinggi langit, tapi tawaran itu terlalu menggiurkan untuk ditolak oleh perutnya yang sudah sekarat.
"Inget ya, lo yang bayar, kan ada di kontrak!" ancam Kayla sambil menerima helm pink yang dilemparkan Juna.
"Iya, Cerewet. Buruan naik sebelum si mantan lo itu turun nyari angin!"
Tanpa buang waktu lagi, Kayla langsung naik ke boncengan Juna. Tak lama kemudian mereka segera berlalu dari sana.
Namun, deru kencang knalpot motor sport milik Juna ternyata memecah keheningan malam di area kos-kosan tersebut.
Suara bising itu spontan memancing perhatian seseorang dari lantai atas. Di depan kamar paling ujung, pintu kayu perlahan terbuka. Raka melangkah keluar menuju pagar pembatas balkon dengan maksud mencari angin segar setelah seharian lelah merapikan tumpukan barang pindahannya.
Namun, deru kencang knalpot motor sport milik Juna ternyata memecah keheningan malam di area kos-kosan tersebut.
Suara bising itu spontan memancing perhatian seseorang dari lantai atas. Di depan kamar paling ujung, pintu kayu perlahan terbuka. Raka melangkah keluar menuju pagar pembatas balkon dengan maksud mencari angin segar setelah seharian lelah merapikan tumpukan barang pindahannya.
Dan yang membuat napas Raka mendadak tertahan adalah sosok gadis yang duduk di boncengan belakang. Rambut panjangnya yang familier berkibar tertiup angin, berpadu dengan kardigan rajut cokelat yang sangat ia kenali sebagai milik mantan kekasihnya.
"Kayla...?" bisik Raka lirih, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Oh, jadi benar. Ternyata dia tinggal disini,"
"Dan cowok itu? Dia juga tinggal disini?!"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan