"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 Amarah Elsa makin memuncak
Elsa mengamuk di apartemennya setelah kegagalan fitnah sabotase di perjamuan bisnis kemarin. Dia frustrasi karena Nadia tidak menangis, tidak minta cerai, dan posisi Daren justru mulai goyah karena mulai mencurigai ada yang tidak beres.
"Sialan! Benar-benar sialan gadis kampungan itu! Aku tidak akan berhenti untuk membuat kamu hengkang dari keluarga Wijaya. Tunggu saja pembalasanku selanjutnya, Nadia kamu harus membayar perbuatanmu semalam."
Elsa melemparkan tas brandednya dengan kasar ke lantai apartemen, terlihat dari raut wajahnya kalau amarahnya pada Nadia masih sangat membara saat ini.
"Sikap tenangmu itu tak akan berlangsung lama Nadia, Nanti akan tiba waktunya kamu akan menangis darah sambil berjalan keluar dari istana Wijaya yang sangat tidak pantas untuk orang kampungan kayak kamu itu!" ucap Nadia dengan tatapan mata yang tajam seolah mau menerkam tembok apartemennya itu.
Dalam kondisi gelap mata, Elsa menghubungi seorang pria dari kalangan dunia bawah, Dia adalah seorang preman bayaran yang biasa di bayar untuk membunuh atau mencelakai korban nya atas suruhan orang yang sudah memberinya bayaran yang lumayan besar sekali. Melalui telepon rahasia. Elsa membayar orang tersebut untuk menyelinap ke rumah pribadi Daren saat rumah sepi, dengan perintah "Buat sebuah kecelakaan fatal di dalam rumah yang tampak seperti kelalaian sendiri. Aku ingin dia cacat atau lenyap selamanya," perintah mutlak dari Elsa pada preman bayaran itu.
"Siap bos," ucap preman itu setelah mengetahui tugas yang harus dia lakukan.
Malam ini Elsa belum bisa tidur dengan tenang kalau belum memastikan Nadia mendapatkan kecelakaan yang membuat cacat ditubuh Nadia. Elsa berharap malam akan segera berlalu agar preman itu bisa dengan segera menjalankan misinya masuk ke dalam rumah Daren.
...----------------...
Keesokan harinya seperti biasa Nadia sudah bangun pagi-pagi dan bersiap menjalankan rutinitas nya memasak di dapur meskipun sampai detik ini Daren belum mau menyentuh makanan yang tiap pagi dia masak untuk sarapan.
Kali ini Nadia mencoba memasak makanan kesukaan Daren seperti yang sudah di beritahu oleh nenek Lusi, Nadia mendapatkan resep opor daging dari nenek Lusi kemaren dan dia ingin mencobanya supaya Daren mau makan sesuai anjuran dari Nenek Lusi juga.
Nadia mulai mencuci bersih daging sapi segar yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas setelah itu Nadia menyiapkan bumbu-bumbu sesuai resep dari Nenek Lusi, Setelah semua bumbu selesai di blender lanjut mulai memasak dagingnya beserta bumbu opornya yang sudah di haluskan tadi, bau harum dari opor ayam itu mulai menyebar ke seluruh ruangan dapur.
"Daren tidak suka asin, jadi jangan kebanyakan kalau masang garamnya," pesan Nenek Lusi pada Nadia sewaktu memberikan resep makanan itu pada Nadia kemaren.
Nadia langsung mencicipi opor ayam yang sudah matang itu saat teringat pesan Nenek Lusi " Rasanya pas tidak terlalu asin juga tidak terlalu manis," ucap Nadia setelah mencicipi opor ayam buatannya sendiri.
Daren terlihat menuruni anak tangga, dia sudah berpakaian rapi hendak berangkat ke kantor, saat tiba di ruang tengah hidung Daren mencium aroma opor ayam kesukaan dirinya, Tapi karena opor ayam yang masak itu Nadia akhirnya Dia mengabaikannya dan terus melangkah hendak keluar rumah.
Tiba-tiba saja Nadia melintas sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan "Selamat pagi Tuan," ucap Nadia penuh hormat seolah sudah melupakan kejadian semalam saat Daren membentak dan memaki dirinya dengan kata-kata yang tidak pantas.
"Sarapan dan kopinya sudah siap di atas meja, Tuan," ucap Elsa pada Daren sopan.
Daren tidak menggubris ucapan dari Nadia dan dia terus saja berjalan menuju ke arah depan rumah.
"Tuan...Tuan.... tinggal makan dan minum kopinya aja apa susahnya sih," gumam Nadia saat melihat Daren yang kesekian kalinya selalu mengabaikan masakannya.
Tiba-tiba ponsel Nadia berdering dan dengan cepat Nadia menerima panggilan telepon di handphone nya itu.
"Halo Nadia," terdengar suara Nenek Lusi dari seberang sana.
"Iya Nek, Ada apa?" tanya Nadia lembut.
"Daren sudah berangkat ke kantor?" tanya Nenek Lusi.
"Baru saja dia berangkat Nek."
"Dia sarapan apa tidak tadi?" tanya Nenek Lusi yang membuat Nadia bingung harus berkata apa.
"Mmm...Tuan Daren tadi terburu-buru jadi tidak sempat sarapan dan minum kopinya," ucap Nadia berbohong.
"Dasar anak tidak tahu diri, sudah untung ada yang masakin sarapan setiap hari," ucap Nenek Lusi sambil mendengus kesal.
Nenek Lusi kemudian menutup teleponnya dan Nadia pun kembali ke dapur untuk menutupi makanan yang sudah di masaknya tadi.
Seperti biasa Nadia pun melanjutkan untuk bersih-bersih rumah dengan tenang karena di rumah sebesar ini dia sendirian kalau Daren sudah berangkat ke kantor.
Di saat Nadia sedang fokus membersihkan ruang tengah, Tanpa disadari oleh dirinya, Terlihat orang suruhan Elsa berhasil menyelinap masuk melalui pintu belakang yang sengaja di longgarkan.
Orang tersebut melakukan sabotase pada tangga lantai dua, Dengan cekatan orang suruhan Elsa itu mengutak-atik baut yang ada di tangga itu dan kemudian melonggarkan bautnya dengan tujuan nanti kalau Nadia naik ke lantai dua melewati tangga tersebut akan terjatuh dan mengalami benturan kepala yang sangat hebat yang mungkin akan menyebabkan dia gagar otak.
"Beres," ucap orang suruhan Elsa itu sambil tersenyum licik saat melihat baut tangga yang sudah kendor itu dan siap memakan korbannya.
Kemudian dengan mengendap-endap orang suruhan Elsa itu berjalan keluar dari rumah Daren melalui pintu belakang lagi yang sudah di rusak sebelumnya oleh Dia.
Setelah selesai membersihkan seluruh ruangan di lantai satu, Nadia lanjut naik tangga untuk membersihkan ruangan yang ada di lantai dua. Sebelum naik ke lantai dua terselip sedikit perasaan was-was di hati Nadia tapi Nadia tidak menggubrisnya dan Dia tetap melangkah menaiki tangga satu persatu dan saat tiba di salah satu anak tangga yang letaknya sudah ada di ujung atas sendiri tiba-tiba saja tangga itu patah, Nadia kehilangan keseimbangannya dan alhasil tubuh Nadia pun jatuh terpental ke sampai ke lantai bawah tapi berkat ketangkasan dan instingnya yang kuat, Nadia berhasil melindungi kepala dan organ vitalnya.
"Brukkkk," tubuh Nadia membentur lantai bawah dengan keras sekali membuat kepalanya sedikit pusing dan tubuhnya terasa remuk semua akibat benturan yang terlalu keras tadi.
Untungnya tadi Nadia sudah menyangga kepalanya dengan kedua tangannya sehingga tidak sampai membentur lantai. Tapi meskipun begitu Nadia tetap merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya.
Daren pulang siang itu karena ada sesuatu yang tertinggal di dalam kamarnya, Tapi alangkah terkejutnya Daren saat melihat kondisi rumah yang berantakan serta Nadia yang terkulai lemas menahan sakit di lantai, mencoba mengobati lukanya sendiri tanpa air mata.
Untuk pertama kalinya, ada kilat kepanikan dan rasa bersalah di mata Daren saat melihat istrinya terluka di rumahnya sendiri. Saat Daren memeriksa lokasi kejadian yaitu tangga yang menuju ke lantai dua, Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.Dia yang dasarnya seorang pebisnis cerdas langsung menyadari bahwa ini bukan kecelakaan biasa, melainkan ada unsur kesengajaan atau sabotase.
"Kamu terluka?" tanya Daren pada Nadia yang terlihat sedang mengolesi betadine ke lututnya yang terluka.
"Tidak apa-apa Tuan, Saya masih kuat karena orang kampungan seperti saya ini sudah terlatih fisik dan mentalnya untuk menghadapi segala bentuk insiden seperti ini," ucap Nadia santai sambil masih mengolesi obat ke lutut kaki yang satunya.
Daren terdiam, lagi-lagi Dia di buat tertegun dengan ucapan tenang Nadia.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang