Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kebenaran yang Menjerat
Lorong rumah sakit jiwa di kawasan Pakem itu terasa semakin dingin menjelang dini hari. Glen masih setia duduk di bangku besi yang keras, menumpukan kedua siku di atas lutut dengan jemari yang saling bertautan erat. Aroma karbol yang menusuk hidung seolah menjadi saksi bisu atas kepalanya yang nyaris pecah. Biaya administrasi rawat inap ayahnya yang baru saja ia bayar di loket depan telah menguras habis sisa uang di rekeningnya, menyisakan selembar kartu ATM yang kini tak lebih dari sekadar benda plastik tak berguna.
Glen meraba saku jaketnya mengeluarkan ponsel untuk melihat dasbor NovelToon miliknya. Bab demi bab Thornless Red Rose masih dibanjiri komentar, namun pikirannya tak lagi bisa fokus merangkai kata. Kenyataan bahwa ia harus terus berakting tegap dan mewah di kampus, sementara di dunia nyata ia terseok-seok membiayai pengobatan ayahnya, perlahan-lahan mulai mengikis kewarasannya sendiri.
Di saat yang sama, kabut tipis juga menyelimuti pelataran rumah besar keluarga Melanie. Di dalam ruang kerja jatinya, Bapak Melanie akhirnya menyandarkan punggung dengan helaan napas yang teramat berat. Keputusan telah diambil. Beliau tidak bisa lagi membiarkan putri tunggalnya menanggung beban kebencian atas dosa yang tidak pernah dilakukan oleh keluarga mereka.
Bapak bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju kamar Melanie. Begitu pintu diketuk dan dibuka, beliau mendapati Melanie sedang duduk di tepi ranjang ber-kanopi, menatap kosong ke arah jendela dengan mata yang masih sembab.
"Melanie..." panggil Bapak lembut, suaranya parau membawa beban rahasia belasan tahun. Beliau berjalan mendekat lalu duduk di kursi rias, menghadap langsung ke arah putrinya.
Melanie mendongak, mencoba mengulas senyum tipis. "Wonten nopo, Pak? Kok dereng sare?" (Ada apa, Pak? Kok belum tidur?)
Bapak terdiam sejenak, mengusap wajahnya yang tampak semakin menua digerus rasa bersalah yang salah alamat. "Nduk, perkoro sing nggawe kowe nangis... perkoro dhendame bocah Sastra sing jenenge Glen kuwi... kabeh kuwi ono sing salah." (Nduk, perkara yang membuatmu menangis... perkara dendam anak Sastra yang namanya Glen itu... semua itu ada yang salah).
Melanie mengernyitkan dahi, posisinya berubah tegak. "Maksudipun pripun, Pak?" (Maksudnya bagaimana, Pak?)
"Dua belas tahun kepungkur..." Bapak memulai dengan suara yang bergetar halus. "Perusahaan bapake Glen pancen bangkrut mergo dhuwite dimaling. Tapi dudu Bapak sing maling, Nduk. Sing nggosongke jenenge Bapak lan nggawe bapake Glen edan kuwi... Hermawan. Ramane Diandra." (Dua belas tahun lalu... Perusahaan bapaknya Glen memang bangkrut karena uangnya dimaling. Tapi bukan Bapak yang maling, Nduk. Yang menghanguskan namanya Bapak dan membuat bapaknya Glen gila itu... Hermawan. Ayahnya Diandra).
Bagai disambar petir di malam yang tenang, Melanie terlonjak dari duduknya. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Pak... ampun guyon. Diandra kuwi konco kenthel kula neng kampus! Keluargane urip rekoso banget sakniki, ibune dodolan gorengan, bapake mburuh tani..." (Pak... jangan bercanda. Diandra itu teman dekat saya di kampus! Keluarganya hidup sengsara banget sekarang, ibunya jualan gorengan, bapaknya buruh tani...)*
"Bapak ora guyon, Melanie," potong Bapak dengan mata yang berkaca-kaca, menegaskan kebenaran yang teramat pahit. "Hermawan dadi buruh tani lan anake dadi montir keliling kuwi mergo kabeh dhuwit dhendam sing dimaling dhisik entek nggo ketipu bisnis liyane. Gusti Allah kuwi mbales tunai, Nduk. Hermawan sing nulis dokumen palsu atas nama perusahaane Bapak, dadi bapake Glen ngiro kabeh iki polahku. Bapak meneng wae ket mbiyen mergo ngerasa mesakake karo Diandra sing ora ngerti opo-opo, lan Bapak ora duwe bukti kuat nggo ngresiki jenengku dhisik." (Bapak tidak bercanda, Melanie. Hermawan jadi buruh tani dan anaknya jadi montir keliling itu karena semua uang dendam yang dimaling dulu habis buat ketipu bisnis lainnya. Gusti Allah itu membalas tunai, Nduk. Hermawan yang menulis dokumen palsu atas nama perusahaannya Bapak, jadi bapaknya Glen mengira semua ini ulahku. Bapak diam saja dari dulu karena merasa kasihan sama Diandra yang tidak tahu apa-apa, dan Bapak tidak punya bukti kuat buat membersihkan namaku dulu).
Melanie mundur selangkah, menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan saat air matanya kembali luruh dengan deras. Labirin kebenaran ini terasa begitu menjerat dan kejam. Di satu sisi, ia merasa terbebas dari beban tuduhan Glen; namun di sisi lain, hatinya hancur berkeping-keping memikirkan bagaimana reaksi Glen jika pria itu tahu bahwa seluruh fondasi kebencian dan naskah novel Thornless Red Rose yang ia bangun setengah mati selama dua belas tahun ini ternyata salah sasaran.
"Glen..." bisik Melanie di antara tangisnya yang pecah, menyadari bahwa benang takdir di antara mereka kini tidak hanya terkoyak, melainkan telah menjelma menjadi simpul mati yang siap menghancurkan siapa saja yang mencoba membongkarnya.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...