NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Ketika Kota Berganti Hamparan Hijau

Keesokan paginya, cahaya matahari belum sepenuhnya masuk ke dalam kamar. Udara masih dingin, dan suasana rumah terasa sangat tenang, hanya sesekali terdengar suara alam dari luar jendela.

Jifan sudah lebih dulu bangun. Matanya terbuka dengan semangat yang berbeda dari biasanya. Ia menoleh ke samping, melihat Diara masih tertidur pulas, wajahnya tenang dan tanpa beban.

Ia tersenyum kecil.

“Bangun…” gumam Jifan pelan sambil menepuk pelan bahu Diara.

Diara hanya bergerak sedikit, lalu kembali diam.

Jifan mendekat sedikit. “Diara… subuh.”

Beberapa detik kemudian Diara mengerang pelan, lalu membuka mata setengah sadar. “Mas… masih ngantuk…”

Jifan tersenyum. “Bangun dulu. Kita sholat subuh berjamaah.”

Diara menghela napas panjang, lalu perlahan duduk. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih menunjukkan sisa kantuk yang berat.

“Jam berapa ini…” gumamnya pelan.

“Masih awal. Tapi bangun sekarang lebih enak,” jawab Jifan.

Diara mengangguk kecil, lalu bangkit dengan malas.

Setelah keduanya bersiap, mereka melaksanakan sholat subuh bersama dalam suasana yang tenang dan khusyuk. Tidak banyak kata setelahnya, hanya ketenangan yang terasa lebih dalam dari biasanya.

Selesai sholat, Jifan duduk di sisi ranjang sambil menatap Diara yang masih mengatur napasnya.

“Diara,” panggilnya pelan.

“Hm?” Diara menoleh.

Jifan menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Tadi malam kamu janji sesuatu.”

Diara mengerutkan alis. “Janji apa?”

Jifan mendekat sedikit, suaranya rendah tapi tetap lembut. “Katanya mau memberikan jatahku.”

Diara terdiam sejenak, lalu langsung paham maksudnya. Ia memalingkan wajah sedikit, menahan rasa malu yang muncul tiba-tiba.

“Mas Jifan ini…” gumamnya pelan.

Jifan tertawa kecil. “Ayo sayang.” katanya tidak sabaran.

Diara menarik napas panjang, lalu menatapnya lagi. Kali ini lebih lembut.

“Iya ayo mas,” jawabnya pelan.

Jifan terdiam sebentar, lalu mengangguk bersemangat.

“ ayo kita bikin cucu buat ummi dan bunda” jawabnya sangat bersemangat.

Ia lalu meraih tangan Diara pelan.

Diara tidak menjawab, tapi tidak menolak genggaman itu.

Beberapa saat kemudian, suasana kamar menjadi panas ada dua orang yang sedang dimabuk cinta pagi itu.

Pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya, meski cahaya matahari masih samar masuk dari celah tirai.

Diara terbaring di atas kasur, tubuhnya benar-benar terasa lemas. Matanya setengah terbuka, dan ia hanya mampu menarik napas pelan sambil memejamkan kembali matanya sesekali.

Di sampingnya, Jifan duduk santai, menatapnya dengan ekspresi tenang. Ada sedikit senyum di wajahnya, seolah menyimpan kepuasan tersendiri atas kedekatan mereka semalam.

“Terima kasih sayang,” ucap Jifan pelan.

Diara membuka mata sedikit, lalu hanya mengangguk kecil tanpa banyak tenaga.

“Hm…” jawabnya pelan, hampir tidak terdengar.

Ia bahkan tidak sanggup banyak bergerak, hanya memiringkan kepala sedikit di bantal, benar-benar kelelahan.

Jifan tertawa kecil melihatnya. “Capek banget?”

Diara kembali mengangguk, kali ini lebih jelas.

“Istirahat aja,” kata Jifan lembut.

Beberapa detik kemudian, suasana kamar yang tenang itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara dering ponsel.

Ring… ring…

Jifan meraih ponselnya dari meja kecil di samping kasur. Ia melirik layar.

“Bunda…” gumamnya pelan.

Ia segera mengangkat telepon itu.

“Assalamualaikum, Bun.”

Suara dari seberang terdengar cukup jelas, meski tidak bisa didengar langsung oleh Diara.

Jifan mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk kecil.

“Diara juga ada, Bun,” katanya kemudian sambil melirik ke arah istrinya yang masih setengah terbaring.

Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

“Iya, Bun… ke rumah paman? Oke.”

Ia terdiam sebentar mendengarkan instruksi selanjutnya.

“Sepupu mau menikah?” ulang Jifan memastikan.

Diara yang mendengar kata “menikah” sedikit membuka matanya, meski masih malas bergerak.

Jifan mengangguk. “Iya, kami datang.”

Setelah percakapan singkat itu selesai, ia menutup telepon dan meletakkan ponselnya kembali.

Ia menoleh ke Diara.

“Bunda minta kita ke rumah paman. Sepupu mau menikah.”

Diara menghela napas pelan, masih dalam posisi yang sama.

“Harus sekarang?” tanyanya pelan.

“Bukan sekarang. Tapi kita siap-siap nanti,” jawab Jifan.

Diara hanya mengangguk kecil lagi.

“Hm…”

Jifan tersenyum kecil melihatnya. “Masih capek?”

Diara tidak menjawab, hanya menutup mata lagi sebagai jawaban diam.

Jifan berdiri perlahan. “Kalau gitu istirahat dulu. Nanti kita siap-siap bareng.”

Diara tidak merespons, tapi dari napasnya yang mulai stabil, terlihat ia kembali tertidur pelan.

Dan pagi itu berlanjut dalam keheningan yang nyaman—antara kelelahan, tanggung jawab keluarga, dan kehidupan rumah tangga yang perlahan mulai mereka jalani bersama.

🪻🪻🪻🪻

Pagi sudah bergeser menuju siang ketika Diara akhirnya membuka mata sepenuhnya. Cahaya matahari yang lebih terang masuk dari celah tirai, membuatnya sedikit menyipitkan mata.

Ia duduk perlahan di kasur, menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tersisa dari rasa lelah semalam.

Dari luar kamar, terdengar suara aktivitas ringan. Jifan tampak sudah lebih segar, sedang memeriksa sesuatu di ponselnya sambil sesekali melirik ke arah kamar.

Ketika Diara keluar dengan langkah pelan, Jifan langsung menoleh.

“Bangun akhirnya,” ucapnya santai.

Diara hanya mengangguk kecil. “Jam berapa ini…”

“Sekitar jam sepuluh,” jawab Jifan.

Diara menghela napas pelan. “Keterusan tidur…”

Jifan tersenyum kecil, lalu berdiri dari duduknya. “Nggak masalah. Memang kamu butuh istirahat.”

Diara berjalan ke dapur kecil, mengambil air minum tanpa banyak bicara.

Beberapa menit kemudian, Jifan mendekat dengan sikap lebih serius.

“Kita siap-siap ya,” katanya.

Diara menoleh. “Siap-siap ke mana?”

“Ke Bandung. Rumah paman,” jawab Jifan.

Diara mengangguk pelan, baru mengingat percakapan telepon tadi pagi yang masih samar di ingatannya.

“Acara sepupu kamu itu ya?” tanyanya.

“Iya,” jawab Jifan. “Kita berangkat hari ini. Menginap dua malam.”

Diara berhenti minum sejenak. “Dua malam?”

Jifan mengangguk. “Iya. Jadi siapin baju ganti. Jangan lupa bawa kebutuhan kamu.”

Diara menatapnya sebentar. “Lama juga…”

“Sekalian istirahat dari kerja,” kata Jifan santai.

Diara mengernyit sedikit. “Kamu izin kerja?”

“Sudah,” jawab Jifan tanpa ragu.

Diara menghela napas. “Aku juga belum masuk hari ini.”

Jifan tersenyum kecil. “CEO juga manusia. Kadang perlu off.”

Diara mendengus pelan, tapi tidak membantah.

Ia kemudian berjalan pelan ke kamar, mulai membuka lemari.

“Berarti bawa baju banyak ya?” tanyanya dari dalam kamar.

“Secukupnya saja. Dua malam, bukan pindahan,” jawab Jifan sambil duduk di tepi ranjang.

Diara muncul lagi sambil membawa beberapa pakaian lipat. “Kamu selalu santai kalau urusan packing.”

“Karena aku tahu kamu yang lebih detail,” balas Jifan sambil tersenyum kecil.

Diara menatapnya sekilas. “Alasan.”

Jifan tertawa pelan. “Fakta.”

Suasana pagi itu terasa lebih ringan. Tidak terburu-buru, tidak tegang—hanya persiapan sederhana untuk perjalanan yang akan membawa mereka keluar dari rutinitas, meski hanya sementara.

Diara kembali melipat pakaian dengan lebih rapi, sementara Jifan mengecek jadwal perjalanan dan kendaraan yang akan mereka gunakan.

“Bandung ya…” gumam Diara pelan.

“Iya,” jawab Jifan. “Anggap saja ini liburan kecil.”

Diara tidak menjawab, tapi gerakan tangannya sedikit melambat, seolah mulai menerima ide itu.

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan itu bukan hanya soal menghadiri acara keluarga—tapi juga jeda kecil dari kehidupan yang selalu bergerak terlalu cepat.

Mobil melaju pelan meninggalkan hiruk-pikuk kota. Jalanan mulai berubah menjadi lebih lengang, dengan pemandangan hijau di beberapa sisi yang menandakan mereka sudah menjauh dari pusat aktivitas.

Diara duduk di kursi penumpang, menyandarkan kepala ke kaca jendela. Matanya sesekali memandang keluar, sesekali terpejam singkat. Rasa kantuk yang tersisa masih belum sepenuhnya hilang.

Jifan yang mengemudi sesekali melirik ke samping.

“Masih ngantuk?” tanyanya.

Diara mengangguk kecil. “Masih.”

“Tidur aja kalau mau,” ucap Jifan.

Diara menggeleng pelan. “Nanti kebablasan.”

Jifan tersenyum tipis. “Kalau kebablasan, aku bangunin.”

Diara menoleh sekilas. “Jangan sok jadi alarm.”

Jifan tertawa kecil. “Aku lebih akurat daripada alarm.”

Diara mendengus pelan, lalu kembali melihat ke luar jendela. “Percaya diri banget.”

Beberapa menit mereka terdiam. Hanya suara mesin mobil dan jalanan yang menemani.

Lalu Jifan kembali membuka percakapan.

“Diara.”

“Hm?” jawabnya tanpa menoleh.

Beberapa saat kemudian, Jifan mengganti nada menjadi lebih ringan.

“Nanti di rumah paman, kamu harus siap ya.”

“Siap apa?” tanya Diara.

“Ditanya-tanya keluarga,” jawab Jifan.

Diara langsung mengerutkan alis. “Ditanya apa?”

“Biasanya sih… kapan punya anak, kapan nambah cucu, kenapa kurusan, kenapa sibuk terus,” ucap Jifan sambil menahan tawa.

Diara langsung menoleh tajam. “Itu semua kamu yang jawab.”

Jifan tertawa kecil. “Aku kabur.”

“Enak aja,” balas Diara cepat.

Suasana di dalam mobil menjadi lebih hidup. Diara yang awalnya tenang mulai terlihat lebih terjaga, sementara Jifan tampak menikmati setiap reaksinya.

Beberapa kilometer kemudian, Jifan kembali menggoda dengan suara lebih pelan.

“Kalau mereka tanya kenapa kita kelihatan jauh, aku jawab apa ya?”

Diara menoleh cepat. “Jangan mulai aneh-aneh.”

“Aku serius,” kata Jifan.

Diara menghela napas. “Jawab saja kita capek.”

“Capek apa?” tanya Jifan pura-pura polos.

Diara langsung menatapnya tajam. “Capek kamu.”

Jifan tertawa lebih lepas kali ini.

“Berarti aku sumber kebahagiaan ya,” katanya santai.

Diara mendengus. “Sumber gangguan.”

Namun meski kata-katanya ketus, Diara tidak benar-benar marah. Ia justru kembali bersandar di kursi, kali ini dengan sedikit senyum tipis yang tidak ia sadari sendiri.

Dan perjalanan ke Bandung itu pun berlanjut, diisi oleh percakapan ringan, candaan kecil, dan suasana yang perlahan terasa lebih dekat dari sekadar dua orang yang sedang bepergian bersama.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mobil akhirnya perlahan melambat dan berhenti di depan sebuah rumah besar dua lantai.

Udara di sekitar terasa jauh lebih sejuk dibandingkan kota. Aroma tanah dan pepohonan langsung menyapa begitu pintu mobil dibuka. Di depan mereka terbentang halaman luas dengan jalan setapak sederhana yang rapi.

Rumah itu berdiri kokoh dengan desain yang sederhana namun hangat, khas rumah pedesaan yang terawat. Di kanan dan kiri, hamparan sawah terbentang hijau, bergerak pelan mengikuti angin. Di sisi lain rumah, terlihat kebun kecil yang ditanami sayur-sayuran dan bunga warna-warni.

Diara turun dari mobil perlahan. Ia berdiri sejenak, lalu memutar pandangan ke segala arah.

Matanya sedikit membesar.

“Mas…” gumamnya pelan.

Jifan yang baru saja mematikan mesin mobil menoleh. “Hm?”

Diara tidak langsung menjawab. Ia masih menatap pemandangan di sekitarnya, seolah memastikan apa yang ia lihat benar-benar nyata.

“Ini… bagus banget,” ucapnya akhirnya.

Jifan tersenyum kecil, lalu ikut turun dari mobil. “Kamu baru lihat sekarang?”

Diara mengangguk pelan. “Aku kira rumahnya biasa aja.”

“Ini rumah paman,” jawab Jifan santai.

Diara melangkah sedikit ke depan, mendekati area halaman. Angin lembut membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan.

“Ada sawah…” katanya lagi, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Jifan berdiri di sampingnya. “Iya. Dari kecil aku sering ke sini.”

Diara menoleh sedikit. “Pantes kamu santai banget hidupnya.”

Jifan tertawa kecil. “Santai itu pilihan.”

Diara tidak membalas, ia kembali memandang kebun di samping rumah.

“Yang itu apa?” tanyanya sambil menunjuk.

“Sayur. Ada cabai, bayam, sama beberapa bunga,” jawab Jifan.

Diara mengangguk pelan. “Rapi banget…”

Beberapa detik ia hanya berdiri diam, menikmati suasana yang jarang ia temui.

“Di kota nggak ada yang kayak gini,” gumamnya pelan.

Jifan meliriknya. “Makanya kamu harus sering keluar kota.”

Diara menoleh. “Bukan kamu yang jarang ngajak.”

Jifan tersenyum tipis. “Sekarang kan sudah diajak.”

Diara tidak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.

Dari arah rumah, terdengar suara pintu terbuka dan beberapa orang mulai menyambut kedatangan mereka.

Namun Diara masih berdiri sebentar, sebelum akhirnya melangkah pelan mengikuti Jifan.

Langkahnya ringan, tapi pandangannya masih sesekali menoleh ke sawah dan kebun di sekitar rumah itu—seolah ia baru saja menemukan dunia yang berbeda dari kesehariannya.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!