NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : PUNCAK JEBAKAN DI BALIK DINDING SIDANG

...BAB 16...

...PUNCAK JEBAKAN DI BALIK DINDING SIDANG...

Langit Surabaya pagi itu mendung kelabu pekat. Ruang sidang besar kantor hukum tempat Alina bekerja sudah penuh sesak. Hadir pimpinan tinggi, rekan kerja, perwakilan klien, tak ketinggalan Bu Kirana dan Farhan yang duduk di barisan depan dengan hati berdebar kencang. Sedang Pak Aditya tidak ikut karena tiba-tiba mendadak dadanya sakit dan ditemani Dimas di rumahnya. Karena hari itu yang seharusnya hari pernikahan Alina putrinya, namun ada panggilan mendadak tiba-tiba di kantor hukum.

Di barisan paling belakang berdiri tegak Arka, berpakaian rapi berwarna krem, wajahnya tampak polos dan penuh kekhawatiran tulus. Tak seorang pun tahu, dialah yang merangkai seluruh benang jebakan ini. Di dadanya yang tampak tenang, tengah bergemuruh pertempuran hebat antara niat yang disusun berbulan‑bulan, rasa bersalah yang mendalam, serta cinta yang terlambat dan menyakitkan, yang hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya.

Ingatannya melintas sejenak pada suara berat ayahnya, Haris, bertahun silam.

“Dekati Alina, gunakan kepercayaannya. Hancurkan nama baik dan usaha ayahnya sampai ke akar‑akarnya. Itulah balasan atas penghinaan yang dia lakukan terhadap keluarga kita.”

Dulu dia jalankan semua itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bahwa dialah yang mengendarai motor siang itu, yang bermaksud menabrak Pak Aditya, namun malah menyambar Bu Kirana hingga wanita itu terluka parah dan sempat kehilangan kesadaran berhari‑hari. Setelah Raka dibebaskan lewat kesepakatan antar Ayahnya Raka dan Ayahnya Alina di bawah pengawasan ketat, dia justru menyusun rencana yang jauh lebih besar. Dia mengubah penampilan dan seluruh identitas dirinya. Selama lima tahun penuh dia mengawasi, menyadap, dan mengintai dari kejauhan. Mendengar setiap tangis, setiap doa, setiap perjuangan Alina bangkit dari puing‑puing yang justru dia sendiri yang menghancurkannya. Di sanalah dendam warisan ayahnya perlahan mati total, berganti rasa bersalah yang menyiksa batin, lalu berubah menjadi cinta yang mengakar sampai ke tulang. Cinta yang terlambat lima tahun, yang membuatnya hingga kini tak sanggup melepaskan, meski caranya sudah sangat sesat.

Maafkan aku, Alina… maafkan aku… batinnya berbisik berulang kali, sementara jari‑jarinya mengepal erat di balik punggung hingga buku‑buku jarinya memutih. Aku tidak punya jalan lain. Kalau hari ini aku biarkan engkau tetap berdiri tegak, engkau akan terus berjalan ke pelukan Farhan. Kau akan bahagia, dan namaku akan lenyap selamanya dari ingatanmu. Lebih baik dunia yang membencimu hari ini, supaya kelak saat semua orang memunggungkan badan, akulah satu‑satunya yang masih berdiri di sisimu. Akulah satu‑satunya yang mengenal siapa dirimu yang sebenarnya.

Ketua sidang membuka acara dengan suara tegas dan berat. Awalnya berjalan sebagaimana mestinya, hingga seorang petugas administrasi maju ke depan dan bersuara lantang.

“Yang terhormat Ketua Sidang dan para hadirin sekalian. Kami menemukan data aneh yang terkunci rapat dalam sistem. Setelah dibuka dengan prosedur resmi, seluruh jejak dan isinya mengarah hanya kepada satu nama: Alina.”

Sejak saat itu segala sesuatu meledak sekaligus, persis seperti skenario yang sudah disusun Arka berbulan‑bulan lamanya, setiap langkah sudah dia hitung hingga ke detiknya. Satu per satu bukti ditayangkan di layar besar.

“Ini catatan arsip keuangan, angka‑angkanya berubah secara mencurigakan, seolah ada pengalihan dana klien ke rekening yang tidak jelas asal usulnya,” jelas petugas itu.

“Ini berkas perkara penting yang isinya dimanipulasi, dengan tanda tangan yang sangat mirip milik Saudari Alina,” timpal petugas lain.

“Ini catatan akses sistem. Dialah satu‑satunya pengguna yang membuka berkas‑berkas terlarang pada jam‑jam yang tidak wajar, berlangsung berbulan‑bulan berturut‑turut.”

Kemudian dipanggil lah saksi demi saksi yang sudah Raka bayar lunas dan diajari bersaksi hingga ke hentakan napasnya.

“Saya sering melihat Saudari Alina bertemu orang asing di tempat sepi, hingga larut malam,” kata tukang parkir dengan nada meyakinkan.

“Saya pernah diperintahnya untuk menghapus jejak dokumen tertentu, dengan alasan hal itu sudah tidak diperlukan lagi,” ungkap mantan staf administrasi sambil mengangkat tangan bersumpah.

“Sejak muda dia sudah pandai bersandiwara. Kesalehan dan kerendahan hati yang tampak selama ini, sesungguhnya hanyalah topeng belaka,” tambah seorang yang mengaku kenalan lama.

Mereka berbicara beriringan, saling menguatkan, hingga membentuk gambaran utuh yang meyakinkan akal dan pandangan setiap orang yang hadir. Bahwa Alina bukanlah wanita saleh, pekerja keras, dan berhati mulia seperti yang dikenal selama ini. Bahwa dialah otak di balik segala penyimpangan, yang memanfaatkan jabatan, kepercayaan pimpinan, kasih sayang Bu Kirana selaku ibu tirinya, bahkan ketulusan hati Farhan, semata‑mata demi keuntungan pribadi.

Desah kaget dan bisikan‑bisikan makin keras memenuhi ruangan. Pandangan hormat berubah menjadi kecewa, jijik, dan marah. Sapaan ramah berganti gelengan kepala penuh penghakiman.

Alina berdiri sendirian di tempat yang disediakan, wajahnya seputih kapas, seluruh tubuhnya gemetar hebat tak berdaya. Ia menggeleng pelan.

“Tidak benar… Itu sama sekali tidak benar…” suaranya parau dan nyaris tak terdengar. “Saya tidak pernah mengubah data, tidak pernah menyuruh siapa pun menghapus berkas, tidak pernah bertemu orang‑orang seperti yang mereka katakan. Semua ini direkayasa… saya tidak tahu apa‑apa…”

Namun setiap bantahan yang keluar dari mulutnya seolah tertelan mentah‑mentah oleh tumpukan bukti yang disusun begitu sempurna. Air matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipi.

Melihat butiran air mata itu, jantung Arka seolah disayat pisau panas berulang kali. Hanya dia satu‑satunya orang di ruangan itu yang tahu seratus persen semuanya palsu. Hanya dia yang tahu setiap angka diubahnya sendiri lewat akses belakang sistem yang dia bobol diam‑diam. Hanya dia yang tahu setiap saksi berbicara berdasarkan naskah yang dia tulis, dengan imbalan uang yang dia berikan. Selama lima tahun mengawasi dari bayang‑bayang, Arka hafal setiap detak jantung wanita itu, hafal mana saat dia bicara jujur dan mana saat dia menahan sakit. Dan hari ini, dengan tangannya sendiri, dia menginjak‑injak hal‑hal paling suci yang dijaga Alina belasan tahun lamanya: nama baik Ayahnya, kesucian agama, serta kehormatan yang dia pertahankan mati‑matian demi membuktikan diri layak disayang Bu Kirana walau hanya sebagai anak tiri.

Dia ingin sekali berteriak, Berhenti! Itu semua bohong! Akulah yang melakukannya! Dia ingin berlari ke depan, memeluk tubuh yang sedang gemetar hebat itu, menghapus air matanya, meminta maaf seribu kali atas dendam ayahnya, atas kecelakaan yang salah sasaran, atas lima tahun dia bersembunyi, atas segala luka yang dia buat. Namun kakinya terpaku kaku di tempat. Kuku‑kuku jari mengepal begitu kuat hingga menancap ke telapak tangan dan mengeluarkan darah samar. Di balik tatapan yang tenang, batinnya berteriak kesakitan.

Lihatlah mereka, Alina. Betapa mudahnya mereka berbalik membenci hanya karena selembar kertas dan ucapan orang asing. Ibu tirimu sendiri kini memandangmu dengan ragu dan air mata. Calon suamimu berdiri kaku tak tahu harus berbuat apa. Semua yang dulu memujimu, hari ini sama‑sama menginjak nama baikmu. Tapi aku… aku tidak. Aku tahu kebenarannya. Aku tahu hatimu. Akulah yang menghancurkan namamu hari ini, namun akulah satu‑satunya yang tidak akan pernah membencimu. Akulah satu‑satunya yang akan tetap tinggal saat semuanya sudah pergi.

Justru di saat itulah aktingnya makin sempurna. Saat keramaian makin memuncak dan orang‑orang saling menghakimi, Arka melangkah maju selangkah dengan wajah paling hancur, paling kecewa, dan paling terluka di antara seluruh hadirin.

“Saya… saya sama sekali tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi,” ucapnya dengan suara bergetar penuh kepalsuan, namun terdengar sangat tulus di telinga siapa saja yang mendengar. “Selama ini saya sangat menghormati Saudari Alina. Saya sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga saya sendiri, hingga rela menyisihkan waktu dan tenaga membantu apa saja yang saya mampu. Sungguh hati ini sangat hancur dan kecewa, mengetahui segala kebaikan yang saya lihat selama ini ternyata hanyalah sandiwara belaka.”

Sepanjang ruangan terdengar desah simpati yang bergema. Di mata publik, Arka lah yang kini tampak sebagai korban paling malang, yang kebaikannya dimanfaatkan habis‑habisan oleh orang yang dia percaya sepenuh hati. Padahal setiap pujian yang ditujukan kepadanya terasa seperti cambuk berapi yang menghantam dadanya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri sampai ke ubun‑ubun. Namun dia sadar, itulah harga yang harus dibayar. Dia sudah memilih jalannya: menghancurkan seluruh dunia tempat Alina berdiri tegak hari ini, supaya kelak hanya dia satu‑satunya tempat wanita itu bisa bersandar.

Ketua sidang akhirnya memukul palu kayu sebanyak tiga kali dengan suara yang menggelegar.

“Berdasarkan bukti‑bukti dan keterangan yang disampaikan dalam sidang hari ini, kami memutuskan untuk sementara menetapkan Saudari Alina sebagai tersangka utama. Izin praktik hukum Saudari dicabut dan ditangguhkan sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. Seluruh berkas perkara selanjutnya akan kami serahkan kepada pihak kepolisian untuk proses penyidikan lebih lanjut.”

Suara gemuruh makin memecah keheningan. Orang‑orang berjalan keluar sambil terus membicarakannya dengan nada‑nada tajam. Alina masih berdiri kaku di tempatnya, seolah lantai di bawah kakinya baru saja runtuh dan menyeretnya masuk ke dasar bumi. Farhan segera bergegas mendekat memegang kedua bahunya erat‑erat.

“Bertahanlah, Lin. Aku di sini. Aku percaya kamu. Kita akan buktikan semuanya,” ucap Farhan berusaha menenangkan walau suaranya sendiri gemetar.

Bu Kirana berjalan mendekat perlahan, namun langkah kakinya tampak ragu‑ragu, masih dibayangi keraguan yang sudah ditanamkan Arka pelan‑pelan jauh sebelumnya.

“Alina… Nak… katakan yang sebenarnya pada Ibu…” suaranya lirih dan pecah.

Arka tertinggal di belakang, berjalan perlahan mendekati jendela kaca besar memandang ke luar. Hujan akhirnya turun sangat deras membasahi seluruh kota. Dari kejauhan dia masih bisa melihat Alina yang dibantu berjalan keluar oleh Farhan, bahunya terkulai lemas, kepala tertunduk dalam. Air matanya sendiri akhirnya jatuh juga, diam‑diam, tersembunyi di balik keramaian orang yang lalu lalang. Dia mengelus pelan benda hitam kecil usang yang selalu disimpan di saku dalam baju, tepat di atas jantungnya. Alat sadap saksi bisu lima tahun cintanya dalam diam.

Sudah selesai tahap paling berat, Alina… batinnya bergumam lirih.

Dunia sudah menjauh darimu. Nama baikmu hari ini diinjak‑injak serendah‑rendahnya. Segala rencana ayahku dulu untuk menghancurkan keluarga Aditya, hari ini tercapai sempurna di tanganku. Namun percayalah satu hal saja. Di balik segala kejahatan dan kebohongan yang aku ucapkan hari ini, satu‑satunya hal yang paling nyata, paling tulus, dan tidak akan pernah aku bohongi seumur hidupku… hanyalah rasa cintaku padamu. Dan mulai detik ini juga, akulah satu‑satunya orang yang akan berjuang mati‑matian mengumpulkan kembali kepingan‑kepingan dirimu, yang aku sendiri yang baru saja menghancurkannya.

Bersambung…

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🙏

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!