Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.4
Alisa sempat terdiam beberapa detik. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap sekilas ke arah pria di sampingnya.
Untuk pertama kalinya sejak duduk di meja akad, tatapan mereka bertemu.
Tatapan Harlan tajam, dingin dan datar.
Membuat Alisa menelan ludahnya karena semakin gugup dan takut.
Perlahan, Alisan pun mulai mengangkat tangan kirinya yang masih gemetar.
Harlan bergegas menggenggam tangan itu sebentar.
Sentuhan tangan itu terasa dingin, namun menimbulkan debaran aneh dihati Alisa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Harlan menyelipkan cincin tersebut ke jari manis Alisa.
Cincin pernikahan yang bernilai ratusan juta itu akhirnya terpasang dengan sempurna di jari manis Alisa.
“Sekarang giliran mempelai wanita yang memasangkan cincin ke mempelai pria sambil cium punggung tangannya, tanda baktimu sebagai seorang istri kepada suaminya.” titah Pak Penghulu lagi.
Seorang petugas lain pun berjalan mendekat, menyerahkan kotak cincin lainnya kepada Alisa. Dengan tangan yang masih gemetar, Alisa membuka kotak itu.
Ia mengambil cincin pria yang ada di dalamnya, lalu perlahan mengarahkan tangannya ke tangan Harlan. Kini, keduanya pun resmi menjadi suami istri.
Setelah itu, Alisa pun membukukan sedikit tubuhnya, lalu menarik sedikit tangan Harlan agar sedikit terangkat ke atas dan…
Cup.
Satu kecupan pun mendarat dengan sempurna di punggung tangan Harlan. Membuat jantung pria itu berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dan… untuk pertama kalinya, Harlan merasakan debaran tak biasa itu. Sebelumnya, ia tidak pernah mengalami hal itu. Bahkan, saat dijodohkan dengan Marisa pun, Harlan tidak merasakan apa-apa.
Berbeda dengan saat ini, dimana jantungnya berdebar saat bibir ranum Alisa menyentuh punggung tangannya dan kehangatan pun mulai menyusup kedalam hati Harlan yang dingin.
“Sekarang, mempelai pria boleh mencium kening mempelai wanita. Sebagai tanda, jika mulai saat ini, kalian sudah resmi menjadi pasangan yang halal.”
Deg.
Seketika, Harlan pun dibuat kaget dan bangun dari lamunannya setelah mendengar suara dari Pak penghulu yang menginstruksikan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Petugas WO itu tersenyum profesional, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sangat canggung dan sang petugas pun memaklumi hal itu, karena kebanyakan dari klien nya mengalami hal yang sama.
“Silahkan, Mas… Mbak… sedikit mendekat lagi. Biar terlihat lebih natural.” ucapnya lembut sambil memberi contoh dengan kedua tangannya.
Harlan menelan ludah pelan. Rahangnya mengeras, jelas terlihat ia menahan sesuatu, entah itu perasaan gugup, atau mungkin rasa tidak nyaman karena harus berinteraksi cukup mesra dengan wanita yang baru saja ia temui.
Sementara Alisa sendiri… masih bertahan dengan menundukkan kepalanya. Gadis itu bahkan belum berani menatap wajah pria di hadapannya. Pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
Perlahan, Harlan mengangkat tangannya. Gerakannya terlihat kaku, namun tetap melakukannya, sesuai dengan instruksi sang petugas WO. Ia mendekatkan tangannya ke pundak Alisa, namun sempat terhenti di udara sepersekian detik.
Sampai akhirnya… Dengan ragu, tangannya pun benar-benar ia daratkan di pundak Alisa.
Dan seketika itu juga tubuh Alisa tiba-tiba menegang, membeku di tempat dan tidak bergerak sedikitpun.
Deg.
Sentuhan itu membuat jantungnya kembali berdetak tak karuan. Membuat Alisa semakin gugup.
“Bisa lebih dekat lagi, Mas… Mbak? Boleh dirapatkan lagi tubuhnya.” arah fotografer dari depan, kameranya sudah siap mengabadikan momen itu.
Alisa menggenggam jemarinya sendiri, mencoba menenangkan diri. Dengan sangat pelan, ia menggeser langkahnya mendekat. Jarak di antara mereka kini nyaris tak ada. Semakin membuat keduanya merasa kaku dan canggung.
Harlan menarik napas panjang. Tangannya yang tadi hanya bertumpu di pundak Alisa, kini sedikit bergerak, ragu, tapi akhirnya mantap, menarik Alisa lebih dekat ke sisinya.
Alisa refleks pun langsung menahan nafas. Matanya masih menunduk. Tak berani menatap ke arah sang suami.
“Bagus… sekarang, Mas Harlan bisa sedikit menunduk… Mbak Alisa, wajahnya agak diangkat sedikit, ya. Tatap ke arah Mas Harlan. Lalu Mas Harlan cium kening Mbak Alisa nya, ya dan tahan sebentar.” titahnya lagi
Instruksi itu justru membuat suasana makin kikuk. Harlan menoleh pelan. Tatapannya jatuh pada wajah Alisa yang perlahan mulai terangkat.
Dengan segala keberanian yang tersisa, perlahan Alisa pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah wajah tampan Harlan.
Dan…
Untuk pertama kalinya sejak akad selesai, pandangan mereka benar-benar bertemu. Saling menatap dan memperhatikan wajah masing-masing.
Seketika, suasana pun terasa hening. Yang terasa hanya suara hembusan nafas keduanya yang saling bersahutan. Tiba-tiba…
Klik!
Suara kamera yang berhasil mengabadikan momen itu pun menyadarkan keduanya dari lamunan masing-masing.
“Bagus! Sekali lagi, tapi kali ini lebih santai, ya. Coba Mas Harlan pegang tangan Mbak Alisa dan tetap saling pandang, ya.” pinta fotografer lagi.
Harlan sempat terdiam. Namun kali ini, ia tidak terlalu lama ragu. Ia menurunkan tangannya dari pundak Alisa, lalu menggenggam tangan gadis itu.
Dingin dan sedikit basah. Itu yang pertama dirasakan oleh Harlan saat menggenggam tangan mungil Alisa.
Alisa tersentak halus. Namun tetap berusaha untuk bersikap tenang dan membiarkan Harlan melakukan arahan dari sang fotografer.
“Ya, bagus… tahan. Sekarang Mbak Alisa nya, senyum sedikit, ya, Mbak.” suara fotografer kembali terdengar.
Senyum? Ah, tidak. Rasanya itu permintaan yang terlalu sulit untuk Alisa kabulkan. Meski begitu Alisa tetap berusaha mencoba nya.
Berbeda dengan Harlan…
Pria itu bahkan tidak tersenyum sama sekali. Wajahnya tetap datar, hanya sorot matanya yang sedikit melembut. Entah itu karena lelah, atau karena mulai pasrah, menerima kenyataan.
Klik!
Klik!
Klik!
Beberapa kali kamera mengabadikan momen yang seharusnya penuh kebahagiaan itu… namun justru terasa hambar.
“Terakhir, ya, Mas… Mbak. Boleh dipeluk Mbak Alisa nya, Mas. Dan Mbak Alisa, coba bersandar di dadanya Mas Harlan.”
Perintah itu kembali membuat tubuh keduanya membeku. Harlan menoleh sedikit, menatap Alisa.
Seolah meminta izin… meski tanpa kata dan Alisa menyadari hal itu. Perlahan… Alisa pun menganggukkan kepalanya. Tanda jika ia mengizinkan Harlan memeluk dirinya.
Harlan pun mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alisa dan Alisa, mulai menyadarkan wajahnya di dada bidang Harlan.
Nyaman. Itulah hal yang pertama dirasakan oleh Alisa begitu ia menyandarkan wajahnya di dada Harlan.
Klik!
“Perfect!” ucap sang fotografer dengan suara yang terdengar puas karena Harlan dan Alisa bisa bekerja sama dengan baik. Sehingga memperlancar pekerjaannya.