Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Diracuni.
Di kamar Angkasa.
02:30am.
Di tengah keheningan malam, tidak ada suara apapun yang terdengar. Pekatnya langit malam hanya dihiasi bintang tanpa cahaya rembulan. Keheningan pun hanya dipecahkan oleh suara hembusan napas Angkasa yang kini duduk di tepi ranjang. Punggungnya tegak membelakangi pintu yang tidak dikunci -bukan karena ia tidak waspada, tapi karena ia tahu tidak ada yang cukup gila mengetuk pintu kamarnya saat ia berada di dalam-. Dan semua bawahannya tahu, ketika ia sudah berada di kamar, itu pertanda ia tidak bisa diganggu apapun alasannya.
Pandangan Angkasa lurus ke jendela balkon, tatapannya menerawang. pikirannya ditarik paksa kembali ke beberapa jam lalu. Ia tertawa tanpa humor, mengangkat satu tanganya, dan menatapnya lama. Ada rasa tak percaya terselip dalam tatapannya.
Tangan yang biasa ia gunakan untuk menghilangkan nyawa seseorang, beberapa jam lalu ia gunakan untuk mengobati luka di wajah wanita. Anehnya, ia tidak membenci hal itu. Ia lebih tidak menyangka, wanita yang ia selamatkan beberapa minggu lalu karena tenggelam di danau, justru tinggal bersamanya sekarang, dan menjadi wanita pertama yang berani menatap matanya langsung tanpa rasa takut.
Angkasa tersenyum samar, tangannya beralih menyentuh lehernya yang bertato -sebuah janji tak terucap- kemudian turun, merasakan kalung di balik pakaiannya yang selalu ia kenakan.
Tok ...tok ...
Angkasa menurunkan tangan, menoleh menatap pintu. Alisnya bertaut. Siapa yang berani mengetuk kamarnya di jam setengah tiga dini hari?
Dia bangkit, langkahnya berat tapi tidak bersuara. Dibukanya pintu, dan ia menemukan wajah Lea dibaliknya.
"Ada apa? Kau belum tidur?" tanya Angkasa, nadanya rendah. Bukan pertanyaan, tapi sebuah teguran.
Lea tidak menjawab, tangannya mendorong dada Angkasa ke dalam. Tidak terlalu kuat, tetapi cukup untuk membuat Angkasa mundur dua langkah. Dan begitu ia berada di dalam, ia segera menutup pintu
Lea menengadahkan wajah. Netranya mengamati wajah Angkasa. Memindai pupil, warna bibir, dan ... napas.
"Siapa yang kau temui hari ini?" tanya Lea dengan nada datar, tetapi gagal menutupi ketegangan di ujung kalimat yang ia ucapkan.
"Apa sekarang kau menjadi anjing pelacak?" Angkasa tertawa tanpa humor, matanya menyipit, sedetik kemudian tawa itu lenyap. "Keluar." perintahnya.
Lea tidak bersuara, ia juga tidak keluar. Ia justru melangkah maju sampai jarak mereka hanya tinggal selangkah. Nyaris menempel. Aroma itu kembali masuk ke indra penciumannya.
Bawang putih.
Aroma yang sudah ia cium saat Angkasa mengobati lukanya terselip di antara aroma tembakau dan parfum Angkasa. Samar. Tapi hidung ahli racun tidak pernah salah.
Arsenik.
"Apakah dia menawarkan minuman padamu?" tanya Lea lagi. Nada suaranya berubah total. Bukan lagi nada bawahan ke bos, melainkan nada ahli racun ke seseorang yang sudah terkontaminasi.
Dahi Angkasa berkerut, seketika teringat pertemuannya dengan Luwis hari ini. Ia melangkah mundur seiring langkah Lea yang terus maju sampai belakang kaki Angkasa menyentuh pinggir ranjang, memojokkan dirinya. "Ya," jawabnya pendek. "Tapi itu bukan urusanmu."
"Bukan urusanku?" ulang Lea sambil tertawa. Satu tangannya bergerak naik, menyentuh rahang Angkasa. Ibu jarinya menekan pelan di bawah telinga untuk merasakan nadi. "Nadimu 110, Angkasa. Normalmu 70."
Angkasa menyentak kasar tangan Lea, emosinya terpancing. "Jangan menyentuhku."
"Berapa banyak yang kau minum?" Lea tidak mundur, tangannya menarik kerah kemeja Angkasa, netranya menatap lekat manik mata Angkasa. Aroma bawang itu masih menempel sampai sekarang dan mengganggu indra penciumannya. "Seteguk? Dua teguk?"
"Lee," suara Angkasa berubah menjadi geraman rendah, ia sudah berada di ujung kesabaran. "Aku bilang keluar. Sekarang."
"Enam jam," tukas Lea. "Sudah enam jam sejak kau minum itu. Arsine masih di napasmu. Dosisnya kecil. Itu artinya dia tidak mau kau mati malam ini."
Angkasa diam. Kata 'dia' membuat rahangnya mengeras. Otaknya segera menarik kesimpulan bahwa Luwis menawarkan minuman padanya hanya untuk mencelakainya. Bodohnya, ia tidak sadar. Dan yang menyadarinya justru wanita yang baru beberapa jam tinggal satu atap dengannya.
"Dia ingin kau lumpuh," lanjut Lea. Ia menurunkan tangannya, masuk ke saku pakaian, mengeluarkan syringe stainless yang ujungnya sudah terpasang jarum. "Jika dibiarkan, dalam tujuh hari, kau tidak bisa berjalan. Dan dalam satu bulan napasmu berhenti."
Netra Angkasa segera terkunci ke syringe stainless yang Lea keluarkan. "Itu apa?"
"Dimercaprol," jawab Lea.
Ia tidak meminta ijin. Tangannya menuntut Angkasa agar duduk, lalu mencekal lengan Angkasa. "Antidot. Satu-satunya yang bisa menarik arsenik dari darahmu sebelum menempel ke saraf."
Angkasa kembali menyentak kasar tangan Lea. "Siapa yang mengatakan aku membutuhkan itu?"
"Tanganmu," tembak Lea cepat. Ia menunjuk tangan Angkasa yang mengepal berulang kali. "Kesemutan sejak satu jam lalu kan? Kau kira itu kelelahan? Itu tanda sarafmu mati, Aksa."
Lea menggeram kesal, mulai habis kesabaran. Ia ingin membantu, ia ingin menolong, tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kata yang tepat kepada pria yang memilki harga diri kelewat tinggi seperti pria di hadapanya. Akan beruntung baginya jika nyawanya tidak dihabisi di detik berikutnya oleh Angkasa.
Angkasa membeku. Ia menatap tangannya sendiri. Benar, tangannya memang kebas. Ia mulai merasakan mati rasa di ujung jemarinya.
Lea tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dalam satu gerakan, ia mencekal lengan Angkasa, kali ini lebih erat. "Aku diam sejak kau mengobati lukaku," bisiknya menurunkan intonasi suaranya. "Aku menurut masuk kamar. Bukan untuk tidur, tapi untuk meracik ini, penawar dan menemuimu sekarang. Bukan karena aku peduli kau hidup atau mati."
Cess.
Jarum menembus kulit Angkasa. Dimercaprol masuk ke darah. Ia tidak mengerang, hanya sedikit mencengkram tepi ranjang saat sensasi panas terbakar menjalar.
"Tapi karena, jika kau mati aku yang rugi. Senjataku hilang, sumber uangku juga hilang." lanjut Lea tanpa beban sembari menarik jarum, menekan kapas.
Hening. Suara mereka yang sebelumnya memiliki nada tinggi yang sama kini senyap, hanya ada suara hembusan napas dua orang yang sama-sama menahan sesuatu.
Tapi tiba-tiba, Angkasa mencengkram rahang Lea kasar. Kembali ke sosok Angkasa yang ditakuti semua orang. Menahan Lea agar tidak menjauh. "Lain kali ..." desisnya. Napas bawangnya kini bercampur dengan napas Lea. "Kalau kau tahu aku diracun ...katakan detik itu juga."
Lea tidak melawan, juga tidak menepis, hanya menatap manik mata Angkasa datar. "Kalau aku mengatakannya detik itu juga, dalangnya akan kabur di detik berikutnya. Kau mau itu yang terjadi?"
Angkasa diam, melepaskan Lea. Ia sadar Lea benar. Tangan yang baru saja disuntik kembali mengepal singkat. Menahan panas antidot.
"Kakiku," gumam Angkasa. "Kapan tahu aku selamat atau tidak?"
"Tiga hari," jawab Lea cepat. Tubuhnya condong mendekat, memeriksa pupil Angkasa. Sesuai prosedur. "Jika tiga hari kau masih bisa berjalan normal, kau menang."
"Dan jika tidak?" Angkasa memalingkan wajah, beralih menatap langit-langit kamar.
"Itu artinya aku yang akan mendorong kursi rodamu," jawab Lea tanpa jeda.
Lea berdiri, memasukkan syringe kosong kembali ke saku, lalu berjalan ke pintu. Tapi kemudian ia berhenti, tangannya sudah diletakkan di gagang pintu, lalu menoleh.
"Tidurlah, Bos. Malam masih cukup panjang, kau perlu istirahat."
Pintu menutup pelan. Meninggalkan Angkasa dalam keheningan.
Angkasa kembali menatap tangannya, menunggu. Apakah kebas itu akan datang lagi atau tidak. Apakah ia akan hidup atau cacat dan menunggu kematian. Kemdian ia menatap pintu dalam waktu lama, mengingat wajah Lea. Kepanikan di wajah wanita itu, dan ...saat wanita itu tersenyum penuh kemenangan yang membuat rahangnya mengeras.
Malam ini harga dirinya dihajar tanpa ampun oleh wanita yang beberapa jam lalu ia rawat lukanya.
. . . .
. . . .
To be continued...