NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Penghulu membuka acara dengan suara tenang.

“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, pada hari ini kita berkumpul untuk melangsungkan akad nikah antara Saudara Harsa Pratama dengan Saudari Arsyi Irawan…”

Setelah menyampaikan khutbah nikah singkat, penghulu menatap kedua keluarga. “Sebelum kita melanjutkan, apakah ada hal yang ingin disampaikan?”

Tidak ada yang berani bersuara lagi. Penghulu kemudian melanjutkan prosesi. “Baiklah, jika semua pihak telah menyatakan kesediaannya, mari kita lanjutkan akad nikah ini.”

Harsa merapikan duduknya. Tangannya sedikit gemetar ketika menerima tangan wali yang akan menikahkan Arsyi. Dengan satu tarikan napas panjang, ijab kabul pun dilangsungkan.

“Saudara Harsa Pratama bin Hendra Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Arsyi binti almarhum Bapak Irawan, dengan mas kawin berupa emas London seberat seratus gram, dibayar tunai.”

Harsa menjawab dengan suara mantap, meski sarat emosi. “Saya terima nikahnya Arsyi binti almarhum Bapak Irawan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Setelah itu, penghulu menatap para saksi. “Sah?”

Namun, sebelum saksi menjawab, penghulu memberikan kesempatan kepada keluarga.

Semua mata tertuju pada Bu Hana. Ia tampak terdiam cukup lama, seolah masih bergulat dengan perasaannya sendiri. Bibirnya bergetar, namun tidak ada kata yang segera keluar.

Keheningan itu terasa sangat panjang dan menegangkan.

Melihat situasi tersebut, Tuan Hendra akhirnya bersuara tegas, “Sah.”

Saksi pertama dan kedua segera menyusul, “Sah.”

Nyonya Ratih menambahkan dengan suara bergetar, “Sah.”

Barulah Bu Hana, dengan air mata yang terus mengalir, mengangguk pelan dan berbisik lirih, “Sah…”

Penghulu tersenyum hangat. “Alhamdulillah, dengan demikian Saudara Harsa dan Saudari Arsyi telah sah menjadi suami istri.”

Ucapan hamdalah terdengar pelan dari beberapa anggota keluarga. Namun, tidak ada tepuk tangan ataupun sorak kebahagiaan seperti pernikahan pada umumnya. Suasana tetap diliputi kesunyian yang penuh makna.

Penghulu kemudian mempersilakan Harsa untuk membaca doa bagi istrinya. “Saudara Harsa, silakan mendoakan istri Anda, sebagaimana sunnah Rasulullah SAW.”

Arsyi perlahan mengangkat wajahnya. Ada secercah harapan di matanya. Ia teringat bagaimana dulu Harsa dengan penuh kelembutan meletakkan tangannya di kepala Nadin, membacakan doa dengan penuh cinta saat menikahinya.

Ia menunggu, menunggu Harsa melakukan hal yang sama. Namun, beberapa detik berlalu tanpa gerakan. Harsa tetap duduk diam, menundukkan kepala tanpa menoleh sedikit pun ke arah Arsyi.

Penghulu kembali berkata dengan lembut, “Silakan, Nak.”

Harsa mengangkat wajahnya, lalu menjawab singkat, “Tidak perlu, Pak.”

Jawaban itu membuat suasana kembali membeku.

Arsyi merasakan sesuatu di dalam dadanya runtuh perlahan. Harapan kecil yang sempat tumbuh seketika menghilang. Ia menunduk kembali, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang mulai memenuhi hatinya.

Tidak ada jabat tangan yang hangat, tidak ada kecupan di kening. Tidak ada doa yang mengiringi awal pernikahan mereka. Hanya jarak yang terasa begitu nyata meskipun mereka telah sah sebagai suami istri.

Bu Hana menatap putrinya dengan perasaan campur aduk, sementara Nyonya Ratih terlihat tidak nyaman dengan situasi tersebut. Tuan Hendra hanya menghela napas panjang, menyadari bahwa perjalanan rumah tangga pasangan ini tidak akan mudah.

Penghulu mencoba mencairkan suasana. “Semoga Allah SWT memberkahi pernikahan ini, menjadikannya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.”

“Amiiin,” jawab beberapa orang dengan suara pelan.

Harsa kemudian berdiri perlahan, diikuti oleh Arsyi. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Namun, tidak ada senyum yang terukir di wajah keduanya.

Arsyi menahan air mata yang hampir jatuh. Dalam hatinya, ia berbisik lirih, “Setidaknya … doakan aku seperti dulu kamu mendoakan Kak Nadin.”

Namun, harapan itu tetap tinggal sebagai harapan. Hari itu, mereka memang telah sah menjadi suami istri.

Malam itu, suasana rumah Bu Hana perlahan kembali lengang setelah prosesi akad nikah selesai. Para kerabat yang sejak siang memenuhi rumah satu per satu mulai berpamitan. Tidak ada pesta atau perayaan meriah, hanya ucapan doa yang disampaikan dengan nada pelan dan penuh harap.

Di ruang tamu, Tuan Hendra dan Nyonya Ratih bersiap untuk kembali ke Jakarta. Nyonya Ratih masih menggendong Melodi yang tertidur pulas, wajah bayi itu tampak begitu damai, seolah tidak menyadari bahwa hidupnya baru saja berubah secara besar.

“Bu Hana, terima kasih atas segala kebaikan dan penerimaan Ibu,” ucap Nyonya Ratih dengan tulus sambil menggenggam tangan Bu Hana.

Bu Hana mengangguk pelan. “Saya hanya berharap ini menjadi jalan terbaik untuk mereka semua,” jawabnya lirih.

Tuan Hendra menambahkan, “Kami mohon doa agar rumah tangga mereka bisa berjalan dengan baik.”

“Aamiin,” sahut Bu Hana, meski sorot matanya masih menyimpan keraguan.

Setelah berpamitan dengan tuan rumah, Nyonya Ratih kemudian mendekati Harsa dan Arsyi yang berdiri berdampingan, meskipun jarak di antara keduanya masih terasa kaku. Dari dalam tasnya, Nyonya Ratih mengeluarkan sebuah kunci dan menyerahkannya kepada Harsa.

“Harsa, ini kunci penginapan yang sudah Ibu pesan untuk kalian,” ujarnya lembut.

Harsa sedikit terkejut. “Penginapan, Bu?”

1
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
Valen Angelina
smua kerjaan Rina ini mah.... liat pak harsa gmn cara atasinya....
axm
jangan jadi orang bodoh harsa,harus harsa jeli gerak gerik rina 🤭
Maryati ramlin
dobel up
Naufal Affiq
kalau kau percaya dengan omongan rina,berarti kau harsa orangbudik
Valen Angelina
pasti arsy yg disalahkan wkwkkw....
Eva Karmita
ini sudah pasti ulahnya si rina sekertaris gatal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!