Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Penasaran
Zivanna terus menatap rumah itu. Dari cerita Rani, dia menyimpulkan jika rumah ini adalah rumah yang sama dengan yang ada di dalam mimpinya. Hanya saja sudah direnovasi makanya terlihat berbeda.
"Non Ziva tidak apa-apa? Apa matanya sakit?" Rani khawatir melihat Zivanna tidak mengedipkan mata.
"Kita masuk lagi saja Mak." Rani mengangguk lalu mengikuti Zivanna yang sudah berjalan lebih dahulu.
"Bagaimana Zi, sudah lebih baik?" sambut Minah ketika Zivanna kembali memasuki rumah.
Zivanna menggeleng. Pipinya terus saja basah oleh air mata yang terus mengalir deras entah apa sebabnya.
"Kalau begitu kita pulang sekarang. Kami pamit dulu Ida, sepertinya kondisi cucuku sedang tidak begitu sehat."
Ida mengangguk lemah. "Iya, terima kasih Bu Minah, Rani dan juga Non Zivanna sudah menjenguk saya."
Setelah bersalaman ketiganya lalu pergi.
"Nek aku duluan, ya. Aku mau menelfon dokterku menanyakan masalah mataku ini. Di sini tidak ada sinyal." Zivanna jalan tergesa-gesa meninggalkan Minah dan Rani.
Sejujurnya dia tidak yakin jika kasus air mata yang terus menetes ini adalah efek dari operasi mata yang belum lama ini dia jalani.
Ini bukan sekedar mata merah perih berair seperti yang dia rasakan dulu setelah menjalani operasi. Ini lebih seperti waktu itu ketika dia menangisi Rio tanpa henti.
Zivanna lebih yakin jika air mata ini ada hubungannya dengan mimpi-mimpi yang akhir-akhir ini sering menghantuinya. Meskipun begitu dia harus menanyakannya pada dokter yang dulu menanganinya.
"Tunggu Zi, memangnya kamu tahu jalannya?" teriak Minah. Zivanna berjalan begitu cepat sehingga di belokan pertama dia langsung tidak terlihat.
Minah yang sudah memasuki usia tujuh puluh tahun kesulitan menyusul langkah Zivanna yang masih muda dan lincah. "Anak itu cepat sekali seperti kancil. Ran, kamu susul dia. Nanti dia tersesat."
"Tapi nanti ibu sendirian?"
"Tidak apa-apa. Aku tahu jalan pulang, sedangkan dia tidak. Cepat sana!" usir Minah.
Rani segera berlari. Dia sampai di rumah dengan nafas ngos-ngosan. Tetapi dia merasa lega karena melihat Zivanna sudah sampai di rumah dengan selamat. Gadis itu berdiri di teras sepertinya sedang menghubungi seseorang.
Rani langsung menuju dapur mengambil air minum. Tenggorokannya terasa kering setelah berlari mengejar Zivanna. Rani kembali ke teras tepat ketika Minah datang dan Zivanna mematikan handphonenya.
"Kamu sudah berkonsultasi dengan doktermu?" tanya Minah.
Zivanna mengangguk. "Dokterku bilang mungkin karena sensitif terhadap sinar matahari karena tidak ada rasa sakit atau tanda-tanda iritasi lainnya. Mungkin itu benar karena tadi aku lupa tidak memakai kacamata pelindung."
"Tapi tidak sakit, kan? Kamu tidak merasakan perubahan apa-apa? Penglihatan mu tidak buram atau kabur, kan?"
"Aku masih bisa melihat kalau itu yang nenek khawatirkan."
"Syukurlah." Minah bernafas lega.
Malam harinya,
Zivanna sedang bermain ke rumah Rani ketika Minah menelepon Wisnu memberitahu jika semalam Zivanna tidur dengan pulas dan sama sekali tidak bermimpi.
Wisnu dan Anita sangat bahagia mendengarnya. Akhir pekan nanti mereka akan datang untuk melihat kondisi putrinya.
Sementara itu di tempat lain, Zivanna sedang berbincang dengan Rani. Berkedok main, sebenarnya Zivanna ingin menanyakan soal Ida lebih jauh. Zivanna sadar air matanya mulai menetes ketika dia melihat Ida. Dan sekarang dia menjadi penasaran dengan sosok Ida.
"Mak, Ida Ida yang tadi kita jenguk itu memangnya tidak punya keluarga lain selain anak tirinya yang sudah meninggal?" Zivanna mulai menginterogasi dengan kedok bergosip.
"Ada, Non. Anak kandungnya sendiri. Anak bawaan dari pernikahannya yang dulu sebelum menikah dengan bapaknya Ayu."
Zivanna mengernyit. "Tolong dijelaskan lagi, Mak. dari awal.
"Jadi ketika Ida menikah, dia sudah punya anak bernama Suci. Sementara suaminya juga punya anak dari pernikahannya terdahulu, namanya Ayu."
"Lalu dimana dia? Kenapa tadi Ida sendirian? Dia sedang sakit seharusnya ada yang menemani."
"Suaminya meninggal jauh sebelum sebelum Ayu meninggal. Sementara Suci bekerja di puskesmas sebagai perawat. Mungkin tadi dia sedang bekerja."
"Lalu Ayu?"
"Ayu ini sama seperti namanya. Wajahnya sangat ayu, cantik tetapi kalau dibandingkan Non Ziva tetap cantikan Non Ziva." Rani terkekeh sendiri. "Ayu meninggalkan sekitar sebulan yang lalu. Tidak tahu sakit apa, yang jelas dia dibawa ke rumah sakit di kota, bukan rumah sakit daerah."
"Akhir-akhir sebelum meninggal Ayu sering sakit-sakitan. Badannya kurus dan seperti banyak pikiran. Orang-orang menduga jika Ayu sering disiksa oleh Ida dan Suci. Orang-orang sudah tahu jika Ida sering menelantarkan Ayu setelah bapaknya meninggal. Jadi mereka berpikir jika meninggalkannya Ayu mungkin ada hubungannya dengan Ibu dan saudara tirinya."
"Ayu ini umumnya berapa, Mak?"
"Mungkin seusia dengan Non Ziva sekitar dua puluh limaan."
"Lalu dia kerjanya apa?" Zivanna benar-benar penasaran dengan gadis bernama Ayu yang baru saja dia dengar. Dia ingin tahu apapun tentang gadis itu.
"Non Ziva yakin mau dengar? Nanti kasihan terus kepikiran tidak bisa tidur."
"Ceritakan saja, Mak. Aku sangat penasaran. Masalah tidak bisa tidur bisa dipikirkan nanti."
"Ayu ini jualan keliling. Dia menjual kue-kue buatannya sendiri. Dari pagi sampai tengah hari dia jalan kaki untuk menjajakan dagangannya."
"Jalan kaki? Memangnya hanya disekitar sini saja dia jualannya?"
"Tidak, Non. Pertama-tama dia ke puskesmas. Nanti dia mangkal di sana sampai puskesmas sepi, baru setelah itu dia berkeliling."
"Puskesmas?!! Bukankah itu jauh? Naik motor saja bisa tiga puluh menit. Kalau jalan kaki bisa satu jam?! Kenapa tidak naik sepeda?!" Zivanna tidak percaya.
Puskesmas terletak di desa Suka Jaya, ibukota kecamatan Suka Makmur bersama kantor-kantor pemerintahan lainnya. Pasar, Bank dan juga toko-toko besar semua ada di ibukota kecamatan. Zivanna tahu karena dia pernah pergi kesana ketika ikut suami Rani mengantar beras hasil panen Minah di pasar.
"Mereka tidak punya kendaraan. Satu-satunya sepeda peninggalan bapaknya sudah dijual untuk biaya sekolah perawat Suci. Bahkan uang hasil dari Ayu berjualan juga sering diminta untuk biaya sekolah Suci."
"Dia jualan kue apa sih, Mak?"
"Ada kue putu ayu, dadar gulung, donat kentang semacam itu lah, Non. Tapi yang paling laris adalah kue putu ayunya. Sering dipesan untuk suguhan saat ada hajatan."
Seketika Zivanna menjadi pucat. Beberapa hari yang lalu dia juga memimpikan kue-kue atau jajanan pasar semacam itu. Dia bahkan sampai meminta ibunya membuatkannya karena berpikir mungkin dia sangat menginginkan kue-kue itu hingga sampai terbawa dalam mimpi.
Tetapi ada satu kue yang tidak bisa Zivanna dapatkan karena dia tidak tahu namanya, dan mamanya juga tidak tahu kue yang Zivanna maksud.
Setelah mendengar cerita Rani, Zivanna tidak lagi menganggap jika mimpi tentang kue itu hanyalah sebuah kebetulan. Terlalu banyak kesamaan yang dia temui di dalam mimpi dan di desa ini. Itu pasti bukan hanya kebetulan semata.
"Sekarang jawab Mamak. Bagaimana Non Ziva tahu rumah Ida? Darimana Non Ziva tahu kalau di belakang rumah Ida ada sumur? Yang terakhir, bagaimana Non Ziva tahu jalan pulang padahal baru sekali datang ke rumah Ida? Tidak mungkin Non Ziva tanya sama si gugel gugel itu karena di sini susah sinyal."