NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Catur di Pinggir Jalan Takdir

Arjuna melangkah mantap memasuki perbatasan Jawa Timur. Udara terasa lebih "berisi" dan mistis. Di sebuah pertigaan jalan raya yang sangat ramai dengan truk-truk besar, Arjuna melihat seorang kakek tua berpakaian compang-camping, rambutnya gimbal, dan duduk bersila tepat di pinggir aspal yang debunya minta ampun.

.

Anehnya, kakek itu sedang menghadap sebuah papan catur tua yang diletakkan di atas kotak kardus. "Skak mat! Skak mat!" teriak kakek itu sambil tertawa sendirian, padahal tidak ada lawannya.

.

Arjuna berhenti. Ia melihat aura kakek itu bukan sembarang aura. Cahayanya berwarna hijau tua, tanda kalau kakek ini adalah seorang Wali Majdub (Wali yang akalnya "diambil" oleh Allah karena terlalu cinta).

.

"Mbah... badhe dolanan catur kaliyan sinten? (Mbah... mau main catur sama siapa?)" tanya Arjuna sambil jongkok di depan kakek itu.

.

Si kakek mendongak, matanya yang juling sebelah menatap Arjuna tajam. "Lho! Kuli teko! Kuli sing nggowo emas neng njero dadane! (Lho! Kuli datang! Kuli yang bawa emas di dalam dadanya!)"

.

Arjuna tersenyum kecut. "Kulo mboten nggadhahi emas, Mbah. (Saya tidak punya emas, Mbah.)"

.

"Halah! Rasah mbujuk! Ayo, lungguh kene. Lawan aku main catur. Nek kowe menang, kowe oleh lewat. Nek kalah, kowe kudu dadi asistenku ngemis sedino! (Halah! Jangan bohong! Ayo, duduk sini. Lawan aku main catur. Kalau kamu menang, kamu boleh lewat. Kalau kalah, kamu harus jadi asistenku mengemis sehari!)" tantang si kakek Majdub.

.

Arjuna tertawa kecil, ia merasa tertantang. "Nggih mpun, Mbah. Monggo. (Ya sudah, Mbah. Silakan.)"

.

Permainan catur pun dimulai. Tapi ini bukan catur biasa. Setiap kali kakek itu menjalankan satu pion, Arjuna merasa kepalanya pusing seperti dihantam ombak besar. Ternyata, setiap langkah catur itu adalah simbol dari Masalah Hidup yang harus diselesaikan Arjuna di masa depan.

.

"Iki pion rakyat cilik! (Ini pion rakyat kecil!)" ucap si kakek sambil menggerakkan bidak putih.

.

"Iki benteng kesombongan Romomu! (Ini benteng kesombongan Ayahmu!)" teriaknya lagi sambil memakan kuda Arjuna.

.

Arjuna mulai berkeringat dingin. Ia sadar, ini adalah latihan batin. Ia harus tetap tenang meskipun batinnya diguncang. Arjuna memejamkan mata sejenak, mengingat kitab gaib di dadanya. Ia lalu menggerakkan bidak Raja-nya dengan sangat lembut.

.

"Niki... nggo wong-wong sing sabar nunggu Al-Hikam, Mbah. (Ini... buat orang-orang yang sabar menunggu Al-Hikam, Mbah.)"

.

TAK!

.

Tiba-tiba, papan catur itu mengeluarkan cahaya keemasan. Si kakek Majdub tertegun, lalu tertawa terpingkal-pingkal sampai terguling di tanah. "HA... HA... HA! Jebule kowe pinter nukang ati! (HA... HA... HA! Ternyata kamu pintar menukang hati!)"

.

Si kakek bangkit, lalu memberikan sebuah Batu Akik berwarna merah darah yang diletakkan di atas papan catur tadi. "Gowoen iki. Iki nggo 'Pager' (Pagar) pondokmu besok. Nek ono wong niat jahat mlebu Al-Hikam, wonge bakal muter-muter neng kono selawase ora iso metu! (Bawalah ini. Ini buat 'Pagar' pondokmu besok. Kalau ada orang niat jahat masuk Al-Hikam, orangnya bakal berputar-putar di sana selamanya tidak bisa keluar!)"

.

Arjuna menerima batu itu dengan takzim. "Matur suwun, Mbah. (Terima kasih, Mbah.)"

.

"Wis, ndang lungo! Jombang wis nunggu kowe! (Sudah, cepat pergi! Jombang sudah menunggumu!)" usir si kakek sambil kembali asyik bicara sendiri dengan papan caturnya.

.

Arjuna melangkah pergi. Begitu ia menoleh ke belakang setelah berjalan sepuluh meter, kakek itu dan papan caturnya sudah hilang tak berbekas. Hanya ada bekas kotak kardus kosong yang tertiup angin.

.

Arjuna mengusap batu akik di tangannya. "Jebule Jawa Timur niku sangar nggih... (Ternyata Jawa Timur itu sangar ya...)"

.

Sementara itu, di Jombang, tepatnya di sebuah pondok pesantren besar, seorang Kyai Sepuh yang sangat disegani tiba-tiba memanggil santri-santrinya. "Cah... cepet resik-resik gerbang ngarep. Tamu agung, 'Sang Kuli Cahaya', sedilit meneh tekan kene! (Anak-anak... cepat bersihkan gerbang depan. Tamu agung, 'Sang Kuli Cahaya', sebentar lagi sampai sini!)"

Arjuna melangkah pelan memasuki gerbang Kabupaten Jombang. Meskipun asalnya dari Sidoarjo yang terhitung dekat, Arjuna memilih berjalan kaki untuk menjalankan laku tirakat dan ziarah. Kakinya yang pecah-pecah karena panasnya aspal kini terasa dingin saat menginjak tanah pesantren yang penuh keberkahan.

​.

​"Duh Gusti... pundi nggih dalemipun Mbah Kyai Ahmad Mustofa? (Duh Gusti... yang mana ya rumahnya Mbah Kyai Ahmad Mustofa?)" gumam Arjuna sambil melihat ke arah gerbang utama pesantren yang dijaga ketat oleh para santri.

​.

​Arjuna yang hanya memakai kaos kuli yang sudah dekil, sarung kusam, dan tas ransel butut terlihat sangat mencolok di antara para santri yang memakai baju koko putih bersih. Baru saja mau melangkah masuk ke area pesantren, dua orang santri penjaga berbadan tegap langsung menghadang jalan Arjuna dengan wajah tidak suka.

​.

​"Mandheg, Mas! Badhe nopo mriki? (Berhenti, Mas! Mau apa ke sini?)" tanya salah satu santri dengan nada curiga.

​.

​Arjuna tersenyum sopan sambil menundukkan kepala sedikit. "Ngapunten Mas, kulo badhe sowan dumateng Mbah Kyai Ahmad Mustofa. (Mohon maaf Mas, saya hendak sowan kepada Mbah Kyai Ahmad Mustofa.)"

​.

​Si santri malah tertawa meremehkan, ia mengira Arjuna adalah gelandangan yang sedang mencari makan gratis. "Sowan Mbah Kyai? Penampilanmu koyo wong ngemis ngene kok wani arep sowan. Ojo-ojo kowe arep nyolong sandal santri, yo? (Sowan Mbah Kyai? Penampilanmu seperti pengemis begini kok berani mau sowan. Jangan-jangan kamu mau mencuri sandal santri, ya?)"

​.

​Arjuna menghela napas panjang, ia tetap sabar meskipun dituduh sebagai pencuri. "Mboten Mas, kulo niki musafir saking Sidoarjo, nembe nglampahi laku tirakat ziarah dumugi mriki. (Tidak Mas, saya ini musafir dari Sidoarjo, sedang menjalankan laku tirakat ziarah sampai ke sini.)"

​.

​"Halah! Sidoarjo niku cedhak, masa mlaku nganti kucel ngene! Ndang lungo seko kene! (Halah! Sidoarjo itu dekat, masa jalan kaki sampai kusam begini! Cepat pergi dari sini!)" bentak santri itu sambil mendorong bahu Arjuna dengan kasar sampai Arjuna hampir terjerembab.

​.

​Tepat saat tangan santri itu menyentuh bahu Arjuna, tiba-tiba... DERRR!

​.

​Seluruh komplek pesantren itu bergetar hebat seolah-olah bumi Jombang ikut marah karena tamu rahasia ini disakiti. Suara bedug di masjid besar mendadak berbunyi sendiri tiga kali dengan sangat keras tanpa ada yang memukulnya. DUG... DUG... DUG!

​.

​Para santri yang sedang belajar di kelas langsung lari berhamburan keluar karena panik. Dari arah rumah utama yang disebut Ndalem, muncul seorang kakek sepuh dengan jubah putih dan sorban hijau yang sangat berwibawa. Beliau adalah Mbah Kyai Ahmad Mustofa, pengasuh pondok yang sangat dihormati.

​.

​"Sinten ingkang wantun nglarani tamuku?! (Siapa yang berani menyakiti tamuku?!)" teriak Mbah Kyai Ahmad Mustofa dengan suara yang menggetarkan batin semua orang di sana.

​.

​Kedua santri tadi langsung pucat pasi dan gemetaran. Mereka melihat Mbah Kyai Ahmad Mustofa berjalan tergesa-gesa tanpa alas kaki menuju gerbang, lalu tiba-tiba beliau bersujud di depan kaki Arjuna yang kaget setengah mati.

​.

​"Gus Juna... ngapunten sanget. Cah-cah niki mboten mangertos sinten panjenengan sejatosipun. (Gus Juna... mohon maaf sekali. Anak-anak ini tidak mengerti siapa Anda yang sebenarnya,)" ucap Mbah Kyai Ahmad Mustofa sambil mencium tangan Arjuna yang kasar dan penuh bekas semen tersebut.

​.

​Ribuan santri yang melihat kejadian itu langsung terdiam dan tidak percaya. Kyai besar yang biasanya didatangi menteri itu malah sujud di depan pemuda dekil dari Sidoarjo yang tadinya dikira maling sandal.

​.

​Arjuna buru-buru membangunkan Mbah Kyai Ahmad Mustofa dengan rasa tidak enak hati. "Mpun Mbah Kyai, kulo niki namung kuli saking Sidoarjo. Mboten pantes panjenengan nindakake niki dumateng kulo. (Sudah Mbah Kyai, saya ini hanya kuli dari Sidoarjo. Tidak pantas Anda melakukan ini kepada saya.)"

​.

​Mbah Kyai Ahmad Mustofa menangis haru sambil memegang pundak Arjuna dengan erat. "Senajan panjenengan saking Sidoarjo, nanging cahyanipun panjenengan sampun dumugi langit Jombang, Gus. Monggo, pinarak wonten ndalem kulo. (Meskipun Anda dari Sidoarjo, tapi cahaya Anda sudah sampai ke langit Jombang, Gus. Mari, silakan masuk ke rumah saya.)"

​.

​Arjuna pun diajak masuk ke ruang tamu utama. Di sana, Mbah Kyai Ahmad Mustofa mengeluarkan sebuah kotak kayu jati kuno yang terkunci rapat. Di dalamnya, ada sebuah Tongkat Kayu Secang yang warnanya merah tua dan mengeluarkan aroma sangat wangi.

​.

​"Niki titipan saking leluhur panjenengan, Mbah Wali Mastur, kangge nuntun umat benjang wonten Pondok Al-Hikam. (Ini adalah titipan dari leluhur Anda, Mbah Wali Mastur, untuk menuntun umat besok di Pondok Al-Hikam,)" ucap Mbah Kyai Ahmad Mustofa dengan penuh rasa hormat.

Arjuna duduk bersila dengan posisi andhap asor di atas lantai kayu yang bersih. Ia menolak duduk di kursi karena rasa hormatnya yang begitu besar kepada Mbah Kyai Ahmad Mustofa. Kepalanya terus menunduk, matanya menatap lantai sebagai bentuk takzim kepada sang ulama.

​.

​"Assalamu’alaikum, ngapunten Mbah Kyai. Kulo niki namung tiyang dusun saking Sidoarjo ingkang nembe sinau mlaku. Mboten pantes kulo nampi pakurmatan ingkang ageng niki," ucap Arjuna dengan nada yang sangat rendah dan berwibawa.

(Assalamu’alaikum, mohon maaf Mbah Kyai. Saya ini hanya orang desa dari Sidoarjo yang baru belajar berjalan. Tidak pantas saya menerima penghormatan yang besar ini.)

​.

​Mbah Kyai Ahmad Mustofa tersenyum teduh, merasa sangat sejuk melihat adab pemuda di depannya. "Wa’alaikumussalam, Gus Juna. Mboten menopo, panjenengan niku tamu rahasianipun Gusti Allah. Kulo ingkang matur nuwun sampun kersa rawuh teng mriki."

(Wa’alaikumussalam, Gus Juna. Tidak apa-apa, Anda itu tamu rahasianya Allah. Saya yang berterima kasih sudah mau datang ke sini.)

​.

​Tiba-tiba, suasana di dalam ruangan berubah mencekam. Suhu udara mendadak panas membara. Di langit-langit ruangan, muncul pusaran asap hitam pekat yang mengeluarkan kilatan api merah. Suara geraman gaib terdengar sangat memekakkan telinga, seolah-olah hendak meruntuhkan atap pondok pesantren.

​.

​"Astaghfirullahaladzim! Niki wonten serangan saking jarak tebih, Gus! Wonten tiyang ingkang mboten seneng jenengan pikantuk pusaka niki!" seru Mbah Kyai Ahmad Mustofa sambil memegang tasbihnya kuat-kuat.

(Astaghfirullahaladzim! Ini ada serangan dari jarak jauh, Gus! Ada orang yang tidak suka Anda mendapatkan pusaka ini!)

​.

​Arjuna tetap tenang. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dengan gerakan yang sangat santun, ia memohon izin terlebih dahulu kepada Mbah Kyai sambil meraih segelas air putih yang disediakan untuknya.

​.

​"Nyuwun pangapunten Mbah Kyai, kulo nyuwun ijin badhe ngresiki regetan niki supados mboten ngganggu panjenengan," ucap Arjuna lembut.

(Mohon maaf Mbah Kyai, saya mohon izin hendak membersihkan kotoran ini supaya tidak mengganggu Anda.)

​.

​Arjuna memegang gelas itu dengan kedua tangannya dengan sangat hormat. Ia memejamkan mata, teringat ijazah sholawat rahasia yang pernah diberikan ayahnya, Romo Wijaya, saat ia masih kecil di Sidoarjo. Bibirnya bergerak lirih membacakan sholawat tersebut:

​.

​"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, sholatan tunjina biha min jami'il ahwali wal afat..."

​.

​Seketika, air di dalam gelas itu mengeluarkan cahaya putih yang sangat bening. Arjuna kemudian menyiramkan air tersebut ke arah pusaran api hitam di atas dengan satu gerakan yang mantap namun tetap tenang.

​.

​"Kanthi ijinipun Gusti, mbalio marang kang nggadhahi niat awon," bisik Arjuna tegas.

(Dengan izin Tuhan, kembalilah kepada yang mempunyai niat buruk.)

​.

​Byarr! Begitu air itu mengenai pusaran api, cahaya putih langsung menyelimuti seluruh ruangan. Bola api itu padam seketika dan meledak menjadi debu halus yang langsung tersapu angin keluar jendela. Suasana kembali dingin dan harum cendana.

​.

​Mbah Kyai Ahmad Mustofa tertegun melihat karomah sholawat yang dibacakan Arjuna. "Alhamdulillah... matur nuwun, Gus Juna. Sholawatipun luar biasa, saged nyirep geni fitnah meniko."

(Alhamdulillah... terima kasih, Gus Juna. Sholawatnya luar biasa, bisa memadamkan api fitnah ini.)

​.

​Arjuna kembali merapatkan kedua tangannya di depan dada dan menunduk lagi, merasa malu karena sudah bertindak di hadapan sang Kyai. "Ngapunten Mbah Kyai, sedoyo meniko namung pitulungan saking Gusti Allah berkahipun sholawat. Kulo mboten nggadhahi kekiyatan punopo-punopo."

(Mohon maaf Mbah Kyai, semua itu hanya pertolongan dari Allah berkat sholawat. Saya tidak mempunyai kekuatan apa-apa.)

​.

​Setelah suasana benar-benar tenang, Arjuna memohon pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Ia mencium punggung tangan Mbah Kyai Ahmad Mustofa dengan sangat lama dan takzim, layaknya seorang santri kepada gurunya.

​.

​"Arjuna merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, lalu menunduk sangat dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai kayu kediaman Mbah Kyai. Suaranya bergetar penuh takzim, menunjukkan adab seorang murid yang haus akan ilmu akhirat.

​.

​"Mbah Kyai, kulo nyuwun tambahipun donga pangestu saking panjenengan. Kulo mboten wantun wangsul dhumateng Sidoarjo utawi Jakarta menawi batin kulo taksih kothop. Kulo badhe nindakake rihlah ziarah dhumateng makamipun para wali wonten saindhenging Nusantara, pados hakikat lan makrifat ingkang sejati," ucap Arjuna dengan nada yang sangat sopan.

(Mbah Kyai, saya mohon tambahan doa restu dari Anda. Saya tidak berani pulang ke Sidoarjo atau Jakarta jika batin saya masih kosong. Saya hendak menjalankan perjalanan ziarah ke makam para wali di seluruh Nusantara, mencari hakikat dan makrifat yang sejati.)

​.

​Mbah Kyai Ahmad Mustofa tertegun melihat kemantapan hati pemuda di depannya. Beliau mengelus pundak Arjuna yang tertutup kaos kuli dekil itu dengan penuh kasih sayang, seolah sedang menyentuh permata yang sangat berharga.

​.

​"Budhaloo, Le. Gusti Allah tansah njogo saben jangka langkahmu. Ilmu tarekat lan hakikat iku ora ono neng dhuwur mejo, tapi ono neng saben sujudmu neng pasareane para wali. Mugi-mugi kowe dadi wasilah pepadhang kanggo umat," jawab Mbah Kyai dengan suara yang berat karena haru.

(Berangkatlah, Nak. Allah selalu menjaga setiap jengkal langkahmu. Ilmu tarekat dan hakikat itu tidak ada di atas meja, tapi ada di setiap sujudmu di makam para wali. Semoga kamu menjadi jalan cahaya bagi umat.)

​.

​Arjuna mencium punggung tangan Mbah Kyai dengan sangat lama. Begitu ia melangkah keluar dari gerbang pesantren, sosoknya perlahan menghilang tertutup kabut tipis, memulai perjalanan gaib menuju makam-makam keramat di tanah Jawa dan seluruh Nusantara.

​.

​.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!