Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Bima
Naya berdiri di hadapanku dengan wajah merah. Kepalanya menduduk malu. Aku melirik Celsi. Celsi mengangguk, lalu keluar dari ruangan.
“Kemana, kak?” tanya Naya.
Celsi hanya tersenyum, lalu keluar ruangan dan menutup pintu.
“Aku pengen apa pun yang ada di pikiran kamu, kasih tau aku,” kataku sambil menggengam tangannya Naya. Naya tampak lucu sekali dengan wajah merahnya.
Naya melepaskan tanganku, lalu duduk di kursi. “Kak…,”
“Kak?”
“Mas,” katanya memperbaiki panggilanku.
“Iya?” kataku duduk di sebelahnya.
“Aku tuh bukan siapa-siapa. Bukan artis. Bukan orang kaya juga. Aku juga nggak tau apa kerjaan jadi WO bakalan bertahan lama.”
“Terus?” aku agak sedikit bingung.
“Sementara kamu itu artis, kenalannya orang kaya semua, kamu nggak malu?”
“Hah?” aku semakin heran. “Malu karena?”
“Ya karena masa artis kaya kamu, istrinya aku. Udah lah gen z, kerjaan nggak ada, dari keluarga biasa pula.”
Aku menyandarkan diri di sofa. “Gimana ya? Aku juga nggak ngerti kenapa maunya sama kamu, kenapa bukan sama artis juga, kenapa bukan sama model?”
Naya menunduk sedih.
“Apa jangan-jangan kamu pake pelet kali ya?”
“Enak aja!” Naya memukul lenganku dengan kencang.
“Aduh!” kataku sambil tertawa. “Aku juga nggak tau Nay. Tapi kalau hati udah milih, aku nggak bisa apa-apa.”
Naya menunduk malu.
“Kalau kamu nih, tiba-tiba suka sama cowok lain, kamu bakalan ya udah, diem aja, apa bakalan ngejar? Atau ternyata kamu dilarang sama orang tua kamu, kamu bakalan sedih nggak?” tanyaku.
Naya masih terdiam.
“Ya, kecuali kalau kamu emang merasa hati kamu nggak memilih aku. Aku…,” aku menunduk sejenak. “Aku nggak akan maksa.”
“Tapi aku takut ketemu sama orang tua kamu,” katanya tiba-tiba.
Dia tidak menolak, tapi tidak menjawab iya. Tapi dia malah bilang takut ketemu sama orang tua aku, berarti dia mau, tapi takut? tanyaku dalam hati. Kenapa ya perempuan itu susah amat ngomong langsung. Ngomong aja, jujur apa susahnya?
“Orang tua aku itu orang yang paling pengertian. Mereka dengan sabar menerima aku, besarin aku, padahal aku bukan anak kandung mereka. Mereka pasti setuju sama setiap pilihan aku. Kalau nggak, aku nggak mungkin jadi begini,” kataku sambil menunjuk ke poster-poster film yang ada di ruang kerjanya Celsi itu.
Naya mengangguk pelan, “Maaf.”
“Ya? Maaf kenapa?”
“Maaf, aku jadi kayak anak kecil.”
“Nggak apa-apa. Aku paham, pasti nggak gampang mutusin sesuatu,” kataku berusaha tenang, padahal pengennya sih bilang, iya, kamu kayak anak kecil banget sih!
“Ya udah, jadi kapan aku bisa ketemu sama orang tua kamu?”
Aku tersenyum senang.
--
“Aku jemput ya?” tanyaku ditelepon sambil jalan masuk ke mobil.
“Nggak usah,” jawab Naya ditelepon.
“Masa nggak usah? Nanti ibu aku ngomel, bisa-bisanya nyuruh perempuan dateng ke rumah, tapi nggak dijemput!”
“Tapi kan mobil kamu susah masuk ke rumah aku,” kata Naya menjelaskan.
“Oke, aku nggak jemput pake mobil.”
“Pake apa?”
“Pokoknya aku jemput kamu!” kataku lalu memutuskan sambungan telepon. Lalu aku bicara ke Pak Mardi, “Pak, kita nggak jadi ke rumah Naya, kita ke rumah aja.”
“Siap, Dan.”
--
Mata Naya melotot kaget. Matahari senja menyinari mata coklatnya. “Gimana cara aku naiknya?” tanyanya berbisik.
Aku duduk di atas motor gede sambil memberikan helm padanya, “Ya naik aja.”
Naya mengambil helm, sambil melihat ke rok panjangnya.
“Bisa, kok!” kataku sambil tersenyum ke arah papa dan mamanya Naya yang juga bengong dengan mulut terbuka melihatku datang menjemput dengan menggunakan motor gede.
Naya akhirnya memakai helm, lalu naik keboncengan motor.
“Pergi dulu, Om, tante,” kataku menundukkan kepala dan pamit pada papa dan mamanya Naya yang masih bengong.
Aku jalankan motor gede yang sudah lama tersimpan di garasi. Akhirnya aku bisa menggunakannya dan sesuai impianku, naik moge ini dengan perempuan yang aku cintai.
Tidak peduli semua orang di perumahan itu menatap aku membonceng Naya di senja hari Jakarta. Aku benar-benar jadi tokoh utama dalam kisahku sendiri. Senyumku merekah lebar.
“Kenapa moge, sih?” tanya Naya di jalan.
“Katanya jangan jemput pake Alphard, susah masuk ke rumahnya,”
“Ya tapi nggak moge juga lah!”
“Aku nggak punya motor kecil. Adanya ini.”
“Ngapain sih beli motor gede, aku nggak suka berisik!”
“Aku juga nggak suka. Tapi dulu ada artis yang udah nggak terkenal, nawarin mogenya. Aku kasian, jadi aku beli.”
Naya terdiam.
“Ya udah, nanti aku beli mobil kecil. Khusus buat sama kamu.”
“Eh, nggak usah! Masa cuma gara-gara aku, kamu beli mobil lagi?”
Nay, nggak cuma mobil, gara-gara kamu apa aja aku bakal beliin, batinku sambil tersenyum senang.
--
Ibuku, Mas Jarga, dan Sekar bersalaman dengan Naya. Aku bisa melihat jelas, binar di mata ibuku. Dia langsung mengajak Naya ngobrol dan bertanya banyak hal.
“Bu, Naya baru dateng kok diinterogasi!” kata Mas Jarga duduk di sebelahku. Sementara Sekar, adik sepupuku duduk di sebelah Naya.
“Maaf, ibu soalnya kepo!” jawab ibu.
“Kayak tau aja artinya, kepo!” kata Sekar sambil melirik ke Naya.
“Ngobrolnya sambil makan yuk?” kataku sambil bangkit, “Laper!”
Kami kemudian duduk di meja makan. Ibu duduk di ujung, sementara Sekar dan Mas Jarga duduk di hadapan Naya dan aku.
Hari itu, ibu masak khusus untuk kedatangan Naya. Hari sebelumnya, ibu repot sekali menelepon aku yang sedang reading dengan aktris lain sebagai ganti Dian Sastro untuk filmnya Bang Jaga. Ibu menanyakan Naya sukanya makan apa? Ada alergi apa? Suka manis atau asin?
Semua itu tidak ada yang bisa kujawab. Akhirnya malamnya, aku harus menelepon Naya dan menanyakan itu semua, dan berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan lainnya, seperti suka film apa, suka ke gunung atau laut, sampai akhirnya kami sadar kalau sebentar lagi sudah subuh.
Sambil makan, Mas Jarga menceritakan soal bagaimana aku akhirnya dirawat oleh ibu dan ayahku sejak kecil. Naya sedikit terharu. Aku memberikan saputanganku padanya, tapi dia mengeluarkan saputangan yang sama, milikku yang dulu pernah aku berikan padanya.
Ternyata masih disimpannya, kataku dalam hati.
Malam itu, berlangsung sangat hangat. Aku merasa nyaman Naya bisa berada di antara keluargaku. Aku yakin betul, Naya bisa cocok dengan anaknya Mas Jarga. Sayang malam itu, mereka tidak ada yang bisa datang, karena hari sekolah.
Tidak ada yang menyangka, waktu sudah jam 10 malam.
“Kamu anter dia pake mobil aku aja!” kata Sekar memberikan kunci mobilnya padaku. “Masa naik motor malem-malem, pake moge, norak lu!”
“Makasih ya!” kataku sambil nyengir. Meski Sekar berumur lebih muda lima tahun dariku, aku menganggapnya seperti kakakku.
“Abis Bima nikah, nanti kamu ya, Sekar!” kata ibuku pada Sekar, ketika mereka mengantarkan aku dan Naya keluar dari rumah.
“Kan, gue lagi yang kena!” Sekar memutar bola matanya, kesal.
Naya lalu pamit ke ibu, Mas Jarga dan Sekar. Aku mengajaknya ke mobilnya Sekar. Sekar mengikuti Naya, berbicara sedikit, lalu mengantarkan Naya masuk ke mobil.
“Sekar ngomong apa?” tanyaku pada Naya yang masuk ke mobil sambil tersenyum.
“Ada deh,” katanya tersenyum.
“Oh gitu!” ada sedikit ego yang tersentil. “Mulai main rahasia-rahasiaan nih?” kataku sambil menjalankan mobil sedan Sekar yang kecil keluar dari rumah ibu.
Naya berpaling menatapku lalu tersenyum, “Ngambek?”
“Nggak!”
“Kak Sekar bilang, pantes Bima milih kamu, kamu satu frekuensi sama kita-kita!” jawab Naya menjelaskan sambil menatap ke depan.
Aku tersenyum lalu meliriknya, “Berarti, udah resmi nih?”
“Apa?”
“Jawaban kamu, iya kan?”
“Kok masih nanya. Kan aku udah jawab!” Naya memukul lenganku lagi dengan gemas.