Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru beladona
Amran dikenal luas sebagai penyokong revolusi, namun citra dermawan itu hanyalah topeng bagi mereka yang mengenal sisi bengisnya. Di balik bayang-bayang, ia adalah pemangsa yang mengumpulkan pundi-pundi uang melalui darah. Kekuasaan yang ia bangun di atas fondasi kotor telah melahirkan sebuah imperium hitam, sindikat pembunuh bayaran, pengedar narkotika, perdagangan organ, hingga penyedia jasa wanita penghibur. Hasrat serakah Amran tak pernah mengenal kata cukup.
Namun, nurani iblis itu sempat ternoda oleh butir kebaikan saat ia memilih merawat seorang gadis yatim piatu. Siapa sangka, gadis kecil yang dahulu ia pungut kini telah bertransformasi menjadi tangan kanan paling mematikan. Myra tumbuh di lingkungan kasar yang tak pernah mengenalkan moral, baginya, hanya si kuat yang berhak berkuasa.
Ambisi itu kini telah mengakar kuat dalam nadi Myra.
"Apa kalian semua mengerti?!" suaranya menggelegar, memecah keheningan markas bawah tanah.
"Mengerti!" sahut mereka serentak.
Kepribadian ganda Myra bukanlah rahasia lagi. Di satu saat, ia bisa terlihat seperti raja hutan yang haus darah saat memimpin, namun di saat lain, ia hanyalah gadis ceroboh yang seolah tak berbahaya.
"Di mana Dimas dan Roi?" Myra mengernyit, menyadari ada lubang dalam barisannya. Ingatannya tajam, ia tahu persis siapa yang menghilang dari posisinya.
"Pihak kepolisian mengeluarkan selebaran DPO. Bos besar memindahkan tugas mereka untuk sementara," sahut salah satu anak buahnya.
"Selebaran DPO? Apa ini ada hubungannya dengan pria itu?" Myra membatin, bayangan wajah polisi asing yang menemuinya kembali mengusik benak.
"Jangan khawatir, Ayah pasti membereskan ini," bisik Sukma, mencoba menenangkan.
Myra mendengus, lalu menghela napas panjang. "Sayang sekali. Padahal aku ingin menjadikan mereka pemimpin untuk permainan hari ini. Tapi lupakan---aku akan menunjuk yang lain."
Ia menatap barisan dengan tajam. "Rosi dan Jerry, kalian jadi pemimpin. Sisanya, segera berpasangan dan tentukan nasib lewat suit! Yang menang ikut kelompok Rosi, yang kalah masuk tim Jerry."
"Permainan apa yang kamu siapkan kali ini?" tanya Sukma, matanya menyiratkan rasa penasaran sekaligus waspada.
Myra menyeringai tipis. "Kita akan bermain Polisi dan Pencuri."
Beberapa anggota tim berbisik takjub, meski wajah mereka tetap kaku. "Bagaimana aturannya? Apa tim polisi harus menembak para pencuri?"
"Hampir benar. Kedua tim akan saling berburu," jelas Myra dingin. "Tim pencuri mendapat satu poin setiap berhasil menyarangkan peluru pada polisi. Namun, tim polisi mendapat dua poin jika mereka mampu melukai para pencuri."
"Tunggu! Kenapa poinnya berbeda? Bukankah itu tidak adil bagi pencuri?" protes Rosi sembari mengerutkan alis.
Myra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar hambar dan tajam. "Aku hanya mencontoh kehidupan nyata, Rosi. Di dunia ini, pencuri begitu mudah lolos dari jeratan hukum, sementara polisi harus mati-matian mengejar mereka. Aku mengapresiasi kesulitan itu melalui poin."
Ia menjeda kalimatnya, senyum liciknya semakin lebar. "Dan soal keberuntungan... hanya mereka yang kuat yang sanggup mencuri keberuntungan."
Myra sejenak terdiam. Ia ingat betapa ironisnya kalimat itu, tempo hari ia justru terjebak dalam kesepakatan bodoh hanya untuk membebaskan diri. Kejadian itu adalah noda hitam pada statusnya sebagai kriminal.
"Ingat, kalian bermain dalam kelompok, tapi pemenangnya adalah perorangan," celetuk Myra sembari melangkah menuju sudut ruangan.
Seluruh mata mengikuti gerakannya. Myra berdiri di depan lemari kaca besar, menatap jajaran senjata yang berkilau di bawah lampu redup. Jemarinya meraba knop pintu, membukanya dengan suara derit pelan, lalu mengambil satu jenis amunisi.
"Kamu sedang memilih senjata?" tanya Sukma dari kejauhan.
"Bagaimana kalau kita bermain menggunakan ini?" Myra mengangkat sebuah peluru unik dengan ujung lancip menyerupai jarum kecil.
"Belladona..." gumam Sukma. Wajahnya memucat. "Kamu yakin? Itu peluru maut, Myra."
Anak buah yang lain terpaku. Belladona bukanlah alat latihan biasa. Peluru ini sanggup mengirim pria dewasa ke ruang ICU hanya dengan lima kali tembakan. Racunnya menyerang sistem saraf dengan cara yang brutal.
Amran telah melatih kelompoknya untuk menjadi kebal. Sebelum bermain, mereka diwajibkan meminum ramuan penawar langka yang sangat pahit. Penawar itu tidak menghilangkan efek racun sepenuhnya, namun mencegah kematian seketika.
"Setelah meminum penawar, peluru ini hanya akan melumpuhkan saraf kalian dan memaksa kalian berhenti bermain," ungkap Myra sembari memutar-mutar peluru itu bak kelereng.
Keheningan mencekam menyergap. Tak ada yang berani berkomentar.
"Wajah kalian tegang sekali," ejek Myra dengan senyum remeh.
"Kamu... tidak ikut bermain, kan?" tanya Sukma penuh harap. Ia tahu betapa mengerikannya Myra jika sudah dalam mode serius.
"Aku benci Belladona. Tapi jika kalian memaksa, aku akan ikut! Kita tambahkan aturan baru, mereka yang tertembak boleh masuk lagi setelah pulih. Jadi, kalian punya kesempatan untuk tertembak berkali-kali." Myra tertawa riang, mirip anak kecil yang sedang merencanakan kenakalan. "Yang pertama kali keluar dari permainan harus mentraktir makan siang. Adil, bukan?"
Semua mengangguk serentak. Tak ada pilihan lain selain menuruti kegilaan sang pemimpin.
"Sekarang pilih, bermain di sini selama tiga puluh menit, atau di hutan selama dua jam?"
"Dua jam? Myra, tugas kami masih banyak. Kamu ingin kami lumpuh setelah ini?" Rosi memprotes, suaranya bergetar.
"Baiklah, satu jam," Myra mengalah. "Lagipula di hutan kalian bisa bersembunyi atau memakan buah liar. Oh, aku hampir lupa memberitahu sensasinya. Saat Belladona menembus kulit, kalian akan merasa lemas seketika. Napas terengah-engah, jantung berdegup seperti akan meledak."
Myra melirik mereka satu per satu. "Efeknya hilang dalam sepuluh menit. Bagi yang sudah terbiasa, mungkin hanya satu sampai tiga menit."
"Berarti... jika tidak minum penawar, kita pasti mati?" bisik Sukma ngeri.
"Tidak juga," sahut Myra lirih.
"Tapi itu racun mematikan! Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
Myra menatap lurus ke depan, tatapannya kosong seolah menembus waktu. "Karena aku pernah mengalaminya sendiri... tanpa penawar."