Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Kena tipu
Setengah jam berlalu, Riana membiarkan Bram menggunakan pangkuannya sebagai bantalan kepalanya hingga kakinya mati rasa.
“Pak!” panggil Riana tanpa menyentuh sedikit pun, dia mencoba menggerakkan kakinya yang kebas.
Mmm, huah..., dia bangun tanpa diminta, “Istirahatnya sudah cukup, terimakasih Nona sekertaris,” dia tersenyum jahil.
“Apa maksudnya ini, kau menipuku? Kau tidak tidur sama sekali? Dan kau masih Bram, Wah,” Riana mendengus kasar.
“Pangkuanmu sangat nyaman, mana bisa aku tidur begitu saja,” kekehnya.
Riana memejamkan matanya sekilas, menekan rasa kesal dihatinya, jika tidak dia akan berakhir memukul wajah slengean itu, “baiklah waktu bermain-main kita sudah cukup, kita harus segera kembali jangan sampai kita sampai terlalu malam,” putus Riana tak ingin memperpanjang masalah.
Dia bangkit, namun karena kakinya belum normal kembali tumbuhnya menjadi limbung dan hampir terjatuh, dengan sigap Bram menahan pinggang Riana dengan satu tangan.
“Bapak nyentuh saya dimana?” geramnya, padahal meskipun tangan Bram tak menahannya Riana tidak akan sampai tumbang ke tanah, paling dia akan duduk kembali di kursi yang barusan dia duduki.
“Hehe, sorry gak sengaja,” Ucapnya salah tingkah, sambil melepas tangannya dari pinggang Riana.
Mereka sampai di Jakarta hampir Magrib, karena tubuhnya lelah Riana langsung tumbang begitu saja.
Bram berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada, “dia pasti sangat kelelahan, tidurlah sayang, lain kali kita pasti akan bertemu lagi dan saat itu kau pasti akan jadi pacarku,” dia menutup pintu kemudian pergi.
***
Suara alarm dari ponselnya membuat Riana terbangun, “hais, aku bahkan tertidur tanpa mengganti baju, semalam aku benar-benar kelelahan,” dia menggeliat pelan.
Riana keluar kamar setelah berdandan rapi, tampak Zayn sudah duduk di meja makan sudah dengan stelan jasnya, itu berarti sang pemilik tubuh sudah kembali, dia mendongak saat melihat Riana muncul.
“Maaf, saya membuat kamu kesulitan lagi. Entah mengapa saya sangat sulit mengendalikan diri akhir-akhir ini,” ujarnya.
Riana diam tak menyahut. Dia duduk bergabung untuk sarapan tanpa diminta.
“Kamu pasti lelah dan menganggap saya orang gila.”
‘Tepat sekali, aku memang menganggapmu gila,’ jawab Riana dalam hati, namun yang muncul hanya senyum lemah di bibirnya.
“Saya ingin memulai pengobatan, tolong carikan saya psikiater secara rahasia saya tidak ingin siapa pun tahu mengenai penyakit saya,” titahnya.
“Ya itu memang sudah seharusnya Pak, Bapak tidak mungkin hidup selamanya seperti ini, apa lagi setelah Bapak menikah nanti dengan Nona Aruna, semuanya tidak akan lagi jadi rahasia,” akhirnya Riana buka suara.
“Hem, aku serahkan soal mencari psikiater padamu,” Ujarnya seakan tak ingin membahas masalah pernikahannya.
Setelah menemukan psikiater yang cukup bagus, Riana langsung membuatkan janji temu untuk Zayn hari itu juga. Sekitar pukul tiga sore mereka pergi kesana.
Zayn menyuruh Riana menunggu diluar, dia ingin bertemu Dokternya secara pribadi. Riana faham itu, banyak hal yang telah dia alami menyangkut traumanya yang pasti harus dia kupas tuntas bersama Psikiater.
Saat tengah menunggu Riana merasakan ponselnya bergetar, “Pimpinan, kenapa dia nelpon aku?” dahinya berkerut saat melihat siapa yang meneleponnya.
“Halo.”
“Ini Riana sekertarisnya Zayn?”
“Iya Pak, saya Riana,” sahut Riana sopan.
“Saya mencoba menghubungi Zayn tapi telponnya tidak aktif, saya ada perlu dengan dia.”
“Oh Pak Zayn sedang ada pertemuan Pak, nanti jika beliau sudah keluar saya akan sampaikan kalau Bapak menelpon tadi,” sahut Riana.
“Tidak usah, malam ini kalian datanglah kemari, ada hal yang harus saya bicarakan, termasuk pada anda, Nona Riana.”
“Emh baiklah Pak.”
“Baiklah, saya tunggu.”
“Pimpinan ingin bicara denganku, tapi kenapa? Apa Aruna mengadu soal kejadian waktu itu pada Ayahnya? Ah, sial,” Riana menggigit ujung jarinya pelan.
“Ada apa, kenapa kamu ngomong sendiri?” tegur Zayn yang ternyata sudah selesai menjalani konseling pertamanya.
“Tadi Pak Adam telpon, katanya dia ingin bertemu Bapak dan saya juga, dia menyuruh kita datang ke rumahnya malam ini,” jelas Riana.
“Papah. Kenapa dia ingin bertemu kamu?” tanya Zayn heran.
“Saya juga gak tahu Pak,” Riana menggeleng pelan.
“Apa mungkin karena Nona Aruna?”
“Mungkin saja.”
“Haish, lalu kita harus bagaimana Pak?” Riana mulai cemas.
“Tenanglah, ada aku disini.”
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄