Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏
Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.
Happy Reading Dear 🤗🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Malam itu, bulan sabit menggantung pucat di atas langit pesantren, seolah ikut mengintip kegelisahan yang merayap di dada Zavier.
Di dalam kamarnya yang remang, hanya diterangi lampu meja kecil, Zavier menggenggam ponsel rahasianya dengan tangan bergetar. Ia baru saja kembali dari masjid, namun suara ayahnya dan nasihat Gus Azlan tentang taubat masih terngiang-ngiang, menghantam nuraninya hingga hancur berkeping-keping.
Dengan napas yang tertahan, ia menekan nomor Zaheera. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara serak yang sangat ia kenali terdengar di ujung sana.
"Zavi..." bisik Zaheera. Suaranya terdengar seperti baru saja menangis.
"Zee... aku tidak bisa lagi seperti ini," suara Zavier pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya.
"Aku lelah berpura-pura menjadi Gus yang sempurna di depan Abi, sementara di belakangnya aku mengkhianati setiap jengkal dan pura-pura suci. Kita harus mengakhiri ini, Zee."
Hening sejenak di seberang sana. Zaheera seolah menahan napas. "Mengakhiri... hubungan kita?"
"Mengakhiri hubungan yang kotor ini, Sayang," potong Zavier cepat. "Aku ingin kita ganti dengan sesuatu yang diridhoi. Aku ingin kita menjadi halal. Kita mulai dari awal, Zee. Benar-benar dari Awal. Tanpa sentuhan haram, tanpa rahasia yang mencekik."
Zaheera terisak pelan. "Zavi... aku baru saja bertanya pada Fatimah tentang hukum zina. Aku tahu tentang seratus cambukan itu. Aku rela, Zavi. Aku rela dicambuk dua ratus kali sendirian asal Engkau di maafkan Zavier, ya Allah... aku tidak ingin kamu hancur."
Zavier memejamkan mata, dadanya sesak luar biasa. "Tidak, Zee. Jika ada yang harus dicambuk, itu adalah aku. Aku yang memulainya."
Zavier terlempar kembali ke masa dua tahun lalu. Saat ia masih berusia 17 tahun, pemuda penuh rasa ingin tahu yang terjerat salah pergaulan di Kota A. Dialah yang mengejar Zaheera, dialah yang pertama kali memulai segalanya. Ia ingat betapa gemetarnya tangannya saat pertama kali memberanikan diri mencium Zaheera, lalu menyentuh dada kekasihnya dengan perasaan yang perlahan terkikis oleh nafsu.
Hari demi hari, batasan itu ia tabrak sendiri hingga berakhir di ranjang penthouse mewahnya. Di sana, di tengah kepungan gedung pencakar langit, mereka pernah merasa dunia hanya milik berdua, memadu kasih tanpa memedulikan halal dan haram.
"Aku yang merusak mu, Zee. Aku yang menyeret mu ke dalam kegelapan ini," rintih Zavier.
"Zee... semangat ya. Aku tahu ini berat bagimu. Untuk sementara, aku mungkin hanya bisa melihatmu dari jauh, menjaga jarak di depan orang-orang. Tapi hatiku sesak, Zee. Aku ingin bertanya satu hal... apa kamu sungguh tidak ingin menikah dalam waktu dekat? Kumohon, pikirkan ini baik-baik."
"Tidak untuk waktu dekat ini, Zavi," bantah Zaheera. "aku belum pantas. Aku bahkan tidak bisa mengaji, tidak tahu cara shalat yang benar. Bagaimana mungkin aku bersanding dengan seorang sepertimu? Aku akan mempermalukan keluargamu. Bisakah berikan aku waktu satu tahun? Satu tahun saja untuk aku belajar agama, untuk bertaubat, untuk menghapus noda-noda ini agar aku tidak memalukan saat bersamamu."
Zavier tersenyum di tengah tangisnya. Rasa haru membuncah. Kekasihnya kini bicara tentang belajar agama.
"Satu tahun itu terlalu lama, Zee. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, dan itu menyiksaku. Apa kamu sungguh tidak ingin menikah dalam waktu dekat? Kumohon pikirkan sekali lagi."
"Aku tidak percaya diri, Zavi," suara Zaheera melemah. "Bagaimana mungkin putri seorang Pak Narendra yang baru hijrah ini bisa menjadi istri-mu?"
"Ada aku, Zee. Aku suamimu kelak, aku yang akan mengajarimu. Aku akan membimbingmu dari alif, ba... kita belajar bersama," Zavier meyakinkan dengan suara lembut yang menenangkan.
"Benarkah? Kamu tidak akan malu punya istri sepertiku?"
"Demi Allah, tidak akan pernah," jawab Zavier mantap. "Bila perlu... malam ini juga aku akan bicara pada Abi. Aku akan bawa Abi dan Umi ke rumahmu. Mau ya, Zee? Aku tidak kuat jika harus menahan perasaan dan dosa ini lebih lama lagi. Aku ingin menjagamu dalam ikatan yang sah."
Zaheera terdiam cukup lama.
Di seberang sana, ia sedang menghapus air matanya, menatap jilbab marun yang tersampir di kursi. Ia teringat tangisan ayahnya tadi pagi. Ia teringat bagaimana ayahnya ingin ia dimuliakan oleh seorang pria.
"Bawa Abi dan Ummi ke rumah malam ini, Zavi," ucap Zaheera akhirnya, suaranya kini terdengar lebih kuat. "Aku akan menunggu. Kita tobat bersama. Kita mulai dari awal, sebagai Manusia yang baru."
"Terima kasih, Sayang... Terima kasih," ucap Zavier berkali-kali.
Zavier menutup telepon dengan perasaan lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bangkit, merapikan baju kokonya, dan menghapus sisa air mata. Ia berjalan menuju ruang tengah ndalem, tempat di mana Kyai Luqman dan Umi Hannah biasanya sedang bersantai setelah pengajian malam.
Ia tahu, pengakuan ini mungkin akan meruntuhkan hati ayahnya sejenak. Ia tahu, ia mungkin akan menghadapi kemarahan Gus Azlan yang luar biasa. Namun, ia lebih takut jika harus kehilangan Zaheera atau kehilangan ridho Tuhannya selamanya.
"Abi, Umi... ada sesuatu yang ingin Zavier sampaikan," ucap Zavier saat memasuki ruangan.
Kyai Luqman mendongak, menatap putra ketiganya dengan tatapan bijak. Beliau menyadari ada sesuatu yang berbeda di wajah Zavier malam ini—sebuah kejujuran yang akhirnya berani menampakkan diri.
"Duduklah, Zavier. Katakan apa yang yang ingin disampaikan hatimu," ujar Kyai Luqman tenang.
Malam itu, di bawah cahaya lampu ndalem yang hangat, Zavier siap membongkar rahasia terbesarnya demi sebuah masa depan yang halal bersama Zaheera. Ia siap mempertanggung jawabkan setiap sentuhan yang pernah ia lakukan dengan sebuah janji setia di depan penghulu.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰