Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Senyum Langka Sang Tuan Es
Gengsi Dewa itu setinggi langit, tapi hari ini, gengsi itu harus bertekuk lutut di depan tangisan Diego. Bocah lima tahun itu terus merengek memanggil "Ibu Gisel", membuat pertahanan Dewa hancur.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Dewa mengetik pesan singkat.
Dewa: Gisel, Diego menangis terus. Dia tidak mau diam kalau tidak bertemu kamu. Bisa luangkan waktu sebentar?
Di seberang sana, Gisel sebenarnya malas menanggapi pria kaku itu. Namun, membayangkan mata bulat Diego yang sembab karena menangis, hatinya luluh juga.
Oke. Demi Diego. Ketemu di kafe biasa jam 4.
Melihat balasan itu, sebuah pemandangan langka terjadi di ruang tengah. Bibir Dewa yang biasanya lurus dan dingin, tiba-tiba melengkung membentuk senyum lebar. Sangat lebar.
"Ayo, Jagoan! Kita ketemu Ibu Gisel. Ayo!" seru Dewa sambil mengangkat Diego ke gendongannya.
Bi Ijah yang sedang mengelap meja sampai melongo. Lap pelnya hampir jatuh. “Ya Allah, Tuan Dewa kesambet apa? Senyumnya sampai ke telinga begitu,” batinnya heran.
Di Cafetaria...
Dewa dan Diego tiba dua menit lebih awal. Dewa terus memperbaiki kerah kemejanya, entah kenapa dia merasa gugup. Tak lama, sosok gadis muda dengan gaya santai masuk ke kafe.
"Ibuuu! Ibu Gisel!" teriak Diego girang, melompat dari kursinya.
"Oh, anakku sayang! Sini sayang!" Gisel langsung berjongkok, memeluk Diego erat dan menciumi pipi gembulnya.
Dewa yang memperhatikan dari kursi hanya bisa terpaku. Melihat Gisel dan Diego, hatinya terasa hangat—perasaan yang sudah lama terkubur sejak Arumi tiada. Senyum bahagia kembali terukir di wajah tampannya.
"Maaf telat, tadi macet parah," ucap Gisel sambil mendudukkan Diego di sampingnya, tanpa menatap Dewa.
"Gak apa-apa," sahut Dewa lembut. "Bagaimana kabarmu, Gisel?"
Gisel mengerutkan kening. Nada bicara Dewa terdengar... berbeda? "Baik," jawabnya singkat dan cuek. Ia lebih sibuk merapikan rambut Diego daripada meladeni Dewa. "Alya sama Raka gimana? Mereka baik-baik saja di rumah?"
Dewa menatap Gisel lekat, lalu menjawab dengan suara rendah yang manis, "Kalau kau ingin tahu kabar mereka secara langsung, pulanglah. Bukankah rumah itu rumahmu juga?"
Deg.
Gisel hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia refleks menoleh dan mendapati Dewa sedang menatapnya sambil tersenyum tipis—sangat manis hingga lesung pipinya mengintip sedikit.
“Heh? Ada apa dengan si Batu Es ini?” batin Gisel merinding. “Kenapa dia bisa berkata manis sambil senyum begitu? Bikin merinding aja! Apa dia salah minum obat atau kerasukan jin kafe?”
Gisel berdeham, mencoba menetralkan kegugupannya. "Eh... itu... makan dulu gih, Diego mau pesan apa?" Gisel mencoba mengalihkan pembicaraan, meski jantungnya mulai berpacu karena serangan mendadak dari pria dingin di depannya.
Jam di dinding kafe menunjukkan angka lima sore. Cahaya oranye mulai masuk melalui celah jendela, membiaskan bayangan di wajah Diego yang pulas. Gisel melirik jam tangannya dengan gelisah.
"Sudah jam lima, aku harus pulang," ucap Gisel pelan.
Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan bocah itu, Gisel menyodorkan Diego yang tertidur lelap di pelukannya ke arah Dewa. Dewa segera menyambut tubuh kecil anaknya, merasakan kehangatan yang ditinggalkan Gisel di pakaian Diego.
"Aku menumpang di rumah Maya sekarang, jadi harus tahu diri. Enggak enak kalau pulang terlalu malam," lanjut Gisel sambil merapikan tasnya.
Dewa tertegun. Gerakannya terhenti saat hendak membetulkan posisi duduk Diego. "Gisel... kenapa tidak pulang ke rumahmu saja? Ke rumah kita?" tanya Dewa dengan nada yang terdengar tulus, tanpa ada intimidasi seperti biasanya.
Gisel terdiam sejenak. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya—kebiasaannya saat sedang berpikir keras atau merasa tidak nyaman. Sifat ceplas-ceplos yang biasanya meledak-ledak mendadak padam digantikan oleh rona serius.
Gisel mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata tajam Dewa yang kini tampak melunak.
"Mas Dewa... boleh enggak aku di rumah Maya dulu sampai aku benar-benar bisa tenang?" tanya Gisel lirih. "Nanti kalau perasaanku sudah membaik, aku pasti pulang. Aku janji."
Dewa menatap Gisel lekat-lekat. Ada rasa tidak rela yang mencuat di dadanya, sebuah keinginan egois untuk menarik gadis itu masuk ke mobilnya dan membawanya pulang paksa ke rumah mewah mereka. Namun, melihat sorot mata Gisel yang memohon, Dewa sadar bahwa memaksa hanya akan membuat si gadis ceria ini semakin menjauh.
Dewa menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau itu maumu."
Hanya anggukan singkat, namun bagi Gisel itu adalah kemenangan besar atas ego sang Tuan Es. Gisel tersenyum tipis, merasa lega karena untuk pertama kalinya, Dewa menghargai keputusannya.
"Terima kasih, Mas," ucap Gisel sebelum berbalik pergi, meninggalkan Dewa yang masih mematung menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.
Apakah kamu ingin adegan berikutnya memperlihatkan Dewa yang kesepian di rumah besar itu tanpa Gisel, atau beralih ke Raka (anak pertama) yang ternyata diam-diam mengawasi mereka dari kejauhan dengan tatapan tidak suka?
Jam di dinding kafe menunjukkan angka lima sore. Cahaya oranye mulai masuk melalui celah jendela, membiaskan bayangan di wajah Diego yang pulas. Gisel melirik jam tangannya dengan gelisah.
"Sudah jam lima, aku harus pulang," ucap Gisel pelan.
Dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan bocah itu, Gisel menyodorkan Diego yang tertidur lelap di pelukannya ke arah Dewa. Dewa segera menyambut tubuh kecil anaknya, merasakan kehangatan yang ditinggalkan Gisel di pakaian Diego.
"Aku menumpang di rumah Maya sekarang, jadi harus tahu diri. Enggak enak kalau pulang terlalu malam," lanjut Gisel sambil merapikan tasnya.
Dewa tertegun. Gerakannya terhenti saat hendak membetulkan posisi duduk Diego. "Gisel... kenapa tidak pulang ke rumahmu saja? Ke rumah kita?" tanya Dewa dengan nada yang terdengar tulus, tanpa ada intimidasi seperti biasanya.
Gisel terdiam sejenak. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya—kebiasaannya saat sedang berpikir keras atau merasa tidak nyaman. Sifat ceplas-ceplos yang biasanya meledak-ledak mendadak padam digantikan oleh rona serius.
Gisel mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata tajam Dewa yang kini tampak melunak.
"Mas Dewa... boleh enggak aku di rumah Maya dulu sampai aku benar-benar bisa tenang?" tanya Gisel lirih. "Nanti kalau perasaanku sudah membaik, aku pasti pulang. Aku janji."
Dewa menatap Gisel lekat-lekat. Ada rasa tidak rela yang mencuat di dadanya, sebuah keinginan egois untuk menarik gadis itu masuk ke mobilnya dan membawanya pulang paksa ke rumah mewah mereka. Namun, melihat sorot mata Gisel yang memohon, Dewa sadar bahwa memaksa hanya akan membuat si gadis ceria ini semakin menjauh.
Dewa menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau itu maumu."
Hanya anggukan singkat, namun bagi Gisel itu adalah kemenangan besar atas ego sang Tuan Es. Gisel tersenyum tipis, merasa lega karena untuk pertama kalinya, Dewa menghargai keputusannya.
"Terima kasih, Mas," ucap Gisel sebelum berbalik pergi, meninggalkan Dewa yang masih mematung menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.