NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Sumarni

Tubuh Tono tiba-tiba lemas. Matanya terpejam. Tubuhnya yang kurus jatuh ke tanah, tidak bergerak.

"TONO!" Aisyah berteriak. Ia berlutut di samping Tono, mengguncang bahunya. Tono tidak merespons. Dadanya masih bergerak—masih bernapas—tapi ia tidak sadar.

Aisyah menoleh ke Juru. "Ada apa? Kenapa dia—"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Karena Juru sudah berdiri di hadapannya. Pria bertato itu menunduk, menatap Aisyah dengan mata yang hitam pekat.

Di matanya, tidak ada lagi kewaspadaan seperti sebelumnya. Tidak ada lagi keseriusan seorang dukun yang melakukan ritual. Yang ada hanya sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat darah Aisyah membeku.

"Kau... kau apa—"

Juru tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.

Ia membungkuk, meraih Aisyah, membaringkannya di atas tanah—di atas gambar makhluk bertanduk yang ia gambar dengan darah. Aisyah berusaha melawan, berusaha berteriak, berusaha mendorong.

Tapi tubuhnya tidak bergerak. Seperti ada yang mengikatnya ke tanah. Seperti ada tali-tali tak terlihat yang mengikat pergelangan tangan dan pergelangan kakinya.

Ia hanya bisa berbaring di sana, menatap langit malam dengan bulan purnama di atasnya, sementara air mata mengalir deras di pipinya.

"JANGAN! TOLONG! JANGAN, KI!" teriaknya sekuat tenaga.

Bu Sumarni yang mendengar teriakan putrinya berlari mendekati lingkaran. Tapi ketika ia mencoba masuk, kakinya seperti menabrak dinding tak terlihat. Ada sesuatu yang menahannya di luar lingkaran. Ia bisa melihat, tapi tidak bisa mendekat. Ia bisa mendengar, tapi tidak bisa menolong.

"JURU! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Bu Sumarni.

Juru tidak menoleh. Ia tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada Aisyah yang terbaring di bawahnya. Bibirnya bergerak-gerak, membaca mantra yang berbeda dari sebelumnya—mantra yang lebih cepat, lebih keras, lebih mengancam.

"Aku sudah bilang," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara bunyi genta dan desiran angin.

"Ritual ini butuh energi. Bukan sekadar hubungan biasa. Tapi hubungan antara dukun dan korban. Antara pemanggil dan penguasa. Karena hanya dengan energi dari seorang dukun yang memberikan dirinya sepenuhnya pada kegelapan... barulah pintu bisa terbuka."

Aisyah menutup matanya. Ia tidak ingin melihat. Tidak ingin merasakan. Tapi tubuhnya merasakan semuanya. Setiap sentuhan. Setiap gerakan. Setiap napas Juru yang panas di lehernya.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, berusaha tidak berteriak, berusaha tidak menangis, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.

Tapi ini bukan mimpi.

Dan ketika Juru selesai, ketika ia bangkit dari atas tubuh Aisyah, langit di atas mereka berubah.

Bulan purnama yang tadinya terang benderang tiba-tiba tertutup awan hitam tebal. Awan yang muncul entah dari mana, dalam hitungan detik. Kegelapan menyelimuti hutan, hanya cahaya obor biru kehijauan yang tersisa.

Dan dari tanah, dari pusat lingkaran, dari gambar makhluk bertanduk yang digambar Juru, asap mulai muncul. Bukan asap putih atau abu-abu. Asap merah kehitaman, seperti darah yang menguap, seperti daging yang terbakar.

Asap itu keluar dari retakan-retakan tanah, mengalir ke atas, berkumpul di atas lingkaran, membentuk gumpalan yang semakin besar, semakin padat, semakin gelap.

Aisyah yang masih terbaring di tanah melihat asap itu. Ia merasakan dingin yang luar biasa—dingin yang membuat tulang-tulangnya terasa membeku. Ia ingin lari, tapi tubuhnya masih terikat.

Juru mundur selangkah, dua langkah. Ia menunduk, bersimpuh di tepi lingkaran, kepalanya menunduk dalam-dalam seperti sedang menyembah. Genta di tangannya tidak lagi ia bunyikan. Pisaunya ia letakkan di tanah. Ia hanya bersimpuh di sana, tubuhnya gemetar, menunggu.

Asap merah kehitaman itu semakin padat. Gumpalannya semakin besar. Mulai membentuk sesuatu. Dua titik merah menyala muncul di bagian atas gumpalan itu—mata.

Mata merah yang menyala seperti bara api, besar, menakutkan. Di bawah mata itu, terbentuk celah melengkung—mulut, dengan gigi-gigi runcing yang berkilat di bawah cahaya obor biru.

Dan di atas mata, dua tanduk melengkung menjulur ke atas, hitam, seperti terbuat dari batu lava yang membeku.

Kulit makhluk itu—ketika asap mulai memadat dan membentuk tubuh—berwarna merah. Merah gelap, seperti daging mentah, seperti darah yang mengering. Tubuhnya besar, kekar, dengan otot-otot yang menonjol tidak proporsional.

Sayap terbentang di belakang punggungnya—sayap seperti kelelawar, tapi lebih besar, lebih gelap, dengan tulang-tulang yang terlihat di balik kulit tipis.

Makhluk itu berdiri di tengah lingkaran, menjulang tinggi. Tingginya mungkin tiga meter, kepalanya hampir menyentuh dahan-dahan pohon di atas.

Matanya yang merah menyala menatap ke bawah, menatap Aisyah yang masih terbaring di tanah di bawahnya. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya yang mengerikan ke wajah Aisyah.

Aisyah merasakan napas makhluk itu. Panas. Panas seperti api. Panas yang membuat kulitnya terasa terbakar. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Ia hanya bisa membeku di sana, air mata mengalir deras, sementara makhluk itu menatapnya dengan mata merah yang menyala-nyala.

Juru mengangkat kepalanya. Suaranya keluar gemetar, penuh ketakutan dan penghormatan.

"Tuanku," bisiknya. "Aku telah memanggil-Mu. Aku telah memberikan persembahan yang Kau minta. Sekarang... bantu kami. Lawan penguasa yang bersekutu dengan musuh kami. Lawan dia sebelum dia terlalu kuat."

Makhluk itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Aisyah. Matanya yang merah bergerak dari wajah Aisyah ke perutnya yang mulai membesar. Ia mengulurkan tangannya—tangan besar dengan jari-jari panjang dan kuku runcing—dan menyentuh perut Aisyah.

Aisyah merasakan sesuatu yang aneh. Tidak sakit. Tapi ada getaran. Getaran yang merambat dari perutnya ke seluruh tubuh. Janin di dalam rahimnya bergerak—bukan gerakan biasa, tapi gerakan yang panik, seperti sedang ketakutan.

Makhluk itu tersenyum. Senyum yang memperlihatkan deretan gigi runcing yang mengerikan.

"Anak ini," suaranya keluar dari mulutnya yang gelap, dalam, berat, seperti suara yang keluar dari perut bumi.

"Anak ini akan menjadi milikku. Sebagai imbalan atas bantuanku."

Juru mengangguk cepat. "Apa pun, Tuanku."

Aisyah mendengar percakapan itu. Ia ingin berteriak, ingin menolak, ingin berlari. Tapi tubuhnya masih tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa berbaring di tanah, menatap makhluk merah bertanduk di depannya, sementara janin di dalam rahimnya terus bergerak panik, seperti tahu bahwa ada bahaya yang mengancam.

Bu Sumarni di luar lingkaran jatuh berlutut. Tangisnya pecah. "Tuhan... Tuhan... apa yang sudah aku lakukan... apa yang sudah aku lakukan..."

Makhluk itu menoleh ke arah Bu Sumarni. Matanya yang merah menyala menatap wanita tua itu sejenak. Lalu ia tertawa.

Tertawa keras, panjang, menggema di seluruh hutan, membuat pepohonan bergoyang, membuat tanah bergetar, membuat burung-burung malam terbang berhamburan ketakutan.

"Manusia," katanya. "Kalian selalu berpikir bisa mengendalikan kegelapan. Tapi kegelapan tidak pernah bisa dikendalikan. Kegelapan hanya bisa diikuti. Dan kalian... kalian sudah memilih untuk mengikuti."

Ia mengangkat kepalanya, menatap langit yang gelap tertutup awan.

"Sekarang... mari kita mulai."

Ia mengangkat kedua tangannya ke langit. Asap merah kehitaman mulai keluar dari tubuhnya, membubung ke atas, menembus awan, menyebar ke segala arah. Angin kencang bertiup, membawa aroma darah dan dupa dan sesuatu yang busuk.

Dan di kejauhan, ratusan kilometer dari sana, di sebuah rumah kecil di pinggir desa di Jawa Barat, Rafiq yang sedang duduk bersila di ruang tamu tiba-tiba membuka matanya. Tiga huruf di dahinya menyala terang.

Ia merasakan sesuatu. Getaran. Getaran yang tidak biasa. Getaran yang datang dari timur. Dari Kalimantan.

Ia tersenyum.

"Jadi kau memanggil temanmu, Ki?" bisiknya. "Baik. Aku akan menunggu. Tapi ingat... aku tidak sendirian."

Di sekelilingnya, bayangan-bayangan hitam bergerak. Mata-mata merah menyala di setiap sudut ruangan. .

1
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
Rani Saraswaty
sholat iku yang menghubungkan kamu dan tuhan mu, sholat itu yg menjagamu. selama kamu sholat kamu dalam lindunganNya. caraku tidak bisa jalan apabila kamu masih sholat, kamu hrs memilih Alloh atau balas dendam
Rani Saraswaty
sholat itu gerbang nak
Rani Saraswaty
kamu harus meninggalkan sholat 5 waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!