NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Begitu Bethany melenggang pergi dengan terburu-buru, Amara segera melangkah menuju meja resepsionis untuk menyelesaikan urusannya. Namun, langkah tegap Tobias mengekor di belakangnya, menciptakan bayangan yang menyesakkan.

​"Aku bisa bayar sendiri," cetus Tobias dingin sambil merogoh saku celananya.

​Amara menoleh sekilas, lalu mencibir pendek. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Larsen. Aku hanya membayar tagihan Bethany, bukan punyamu." Tanpa menunggu balasan, ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dari tasnya dan menyerahkannya kepada petugas.

​Mata Tobias menyipit tajam. Ia mengenali kilauan black card itu—kartu misterius yang sama dengan yang Amara gunakan di klub tempo hari. Siapa yang memberikan kartu itu padanya? Rasa penasaran mendorong Tobias untuk condong ke depan, berusaha membaca inisial yang terukir di atas permukaannya. Namun, jemari resepsionis bergerak lebih cepat, menyambar kartu itu dan menutupinya sebelum Tobias sempat memastikan identitas pemilik aslinya.

​Tobias tidak mendebat lagi. Alih-alih membalas cibiran Amara, ia merogoh saku jasnya dan menarik sebuah kartu undangan mewah yang tampak sangat eksklusif. Dengan gerakan tenang, ia mengulurkan kartu itu di depan Amara.

​"Karena kau begitu bersikeras membayar tagihan ini," ujar Tobias dengan nada yang sulit ditebak, "anggap saja ini imbalannya. Ambillah."

​Amara tidak langsung menerima kartu itu. Ia hanya diam, menatap tajam benda di tangan Tobias dengan sorot mata penuh selidik. "Apa ini?"

​"Undangan pesta ulang tahun Madam Sinclair," jawab Tobias tenang. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tampak meremehkan. "Anggap saja ini bantuan kecil untuk wanita sepertimu."

​"Pertama, apa kau tuli?" Amara mendelik tajam. "Sudah kubilang, aku hanya membayar untuk Bethany. Dan kedua, aku tidak butuh kartu ini."

​Tobias sempat tertegun, namun kemudian ia terkekeh geli. "Kau benar-benar tidak butuh, atau hanya sedang berpura-pura angkuh? Aku mengenalmu, Amara. Kita sudah menikah selama enam tahun. Aku tahu persis seberapa minim pengalamanmu dalam dunia bisnis. Kau tidak akan tahu cara mengambil hati Madam Sinclair sendirian."

​Tobias kembali menyodorkan kartu itu, kali ini lebih dekat ke wajah Amara. "Terima saja. Meski kita sudah bercerai, aku masih berbaik hati ingin membantumu agar kau tidak mempermalukan dirimu sendiri."

​Amara merasa darahnya mendidih. Ucapan Tobias barusan adalah penghinaan telak bagi harga dirinya. Tanpa ragu, ia menyambar gelas berisi air dari nampan pelayan yang kebetulan lewat dan menyiramkan isinya tepat ke wajah tampan Tobias.

​Byur!

​Pelayan malang itu membeku, sementara Tobias hanya diam membisu dengan air yang menetes dari ujung rambutnya.

​"Sadar diri, Tobias. Kau pikir kau masih mengenalku?" Amara mencibir pedas. "Dengar baik-baik: aku bukan lagi wanita bodoh yang mau mengekor di belakangmu dan memohon perhatianmu. Zaman itu sudah mati!"

​Sambil menyambar kartunya dari tangan resepsionis, Amara menatap Tobias untuk terakhir kalinya dengan penuh kebencian. "Bantuanmu kutolak mentah-mentah. Pergi saja dan berikan itu pada simpananmu." Sambil mengacungkan jari tengah dengan berani, Amara melangkah pergi dengan kepala tegak.

​Di sepanjang jalan pulang, amarah masih membakar dada Amara. Namun, dering ponsel mendadak memecah keheningannya. Nama Bethany berkedip di layar.

​"Halo, Bethany? Ada yang bisa kubantu?"

​Hening sejenak, hingga akhirnya suara isakan pecah di seberang sana. "...tolong, bantu aku," rintih Bethany, suaranya terdengar hancur dan penuh ketakutan.

​Amara tersentak. "Bethany, kau di mana?"

​Tak lama kemudian, Amara tiba di sebuah rumah megah yang tampak sunyi. Seorang pelayan tua membukakan pintu dengan wajah cemas dan segera menuntunnya ke ruang tamu. Di sana, jantung Amara seakan berhenti berdetak.

​Bethany terduduk lemas di lantai. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi luka memar keunguan, mulai dari pelipis hingga sudut bibirnya.

​"Ya Tuhan," bisik Amara syok. Ia langsung berjongkok di samping Bethany. "Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?"

​Bethany hanya menggeleng lemah, air matanya mengalir deras membasahi luka di pipinya. "Suamiku... Jeremiah... dia yang melakukannya."

​"Bajingan!" Amara mengeram marah. Ia segera mengeluarkan ponselnya. "Kita harus melapor ke polisi sekarang juga!"

​"Jangan!" Bethany memburu pergelangan tangan Amara dengan panik. "Jangan lapor polisi, aku mohon!"

​"Kenapa? Dia sudah menyakitimu sampai seperti ini!"

​Bethany terisak, suaranya nyaris hilang. "Dia punya foto-fotoku... foto tanpa busana. Dia mengambilnya diam-diam dan mengancam akan menyebarkannya ke seluruh internet jika aku berani meminta cerai atau melapor. Aku tidak mau mempermalukan ibuku, Amara. Ibuku akan hancur jika melihat itu."

​Amara terdiam, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang luar biasa kini bergejolak di dalam dadanya. Ia tahu betul rasanya terjebak dalam pernikahan yang menyiksa, tapi ini jauh lebih menjijikkan dari apa yang ia bayangkan.

​"Apa ini pertama kalinya dia memukulmu?" tanya Amara dengan suara bergetar karena geram.

​Bethany menggeleng pelan. "Tidak."

​Amara menarik napas panjang, berusaha meredam emosinya agar bisa berpikir jernih. Ia kembali menatap mata Bethany yang penuh luka. "Kau benar-benar ingin cerai, kan?"

​Bethany mengangguk mantap, meski ketakutan masih membayangi wajahnya.

​"Kalau begitu, aku akan memastikan perceraian itu terjadi," tegas Amara.

​"Apa kau melakukan ini hanya demi mendapatkan kesepakatan dengan ibuku?" tanya Bethany pelan.

​Amara menggeleng, lalu menggenggam tangan Bethany dengan erat. "Lupakan soal proyek itu. Bajingan itu harus membusuk di penjara karena telah menyentuhmu. Aku sendiri yang akan membereskannya untukmu. Aku pastikan dia kehilangan segalanya tepat setelah kau menceraikannya. Pegang ucapanku."

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!