Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gairah di Tepi Cakrawala
Langit London malam itu sekelam suasana di dalam ruang kerja kediaman Lichtenzell. Eleanor berdiri tegak, dagunya terangkat tinggi, menatap pria yang selama dua puluh lima tahun ini ia panggil ayah. Di atas meja jati itu, foto seorang pria bangsawan dari kencan buta kesepuluh baru saja dilemparkan dengan emosi yang meluap.
"Dia lari sambil menangis karena kau menyebut investasi keluarganya sebagai 'sampah emosional', Eleanor! Apa kau sudah gila?!" Geram Tuan Lichtenzell.
Eleanor tersenyum miring, senyum yang mematikan. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Jika dia tidak bisa menangani fakta bahwa perusahaannya akan bangkrut dalam tiga kuartal, dia tidak pantas duduk di depanku, apalagi tidur di sampingku."
"Cukup!" Ayahnya memukul meja. "Kau akan tetap mengikuti aturan keluarga ini, atau kau tidak akan mendapatkan apa-apa!"
"Kalau begitu, ambil semuanya," ucap Eleanor tenang, namun tajam. "Ambil gaun ini, ambil mobil itu, dan ambil margamu. Aku lebih suka menjadi 'bukan siapa-siapa' daripada menjadi boneka pajanganmu."
Malam itu, di bawah tangisan ibunya, Lysee, Eleanor melangkah keluar dari gerbang emas Lichtenzell hanya dengan sebuah tas kecil dan otak jenius lulusan terbaik Oxford. Namun, ia segera menyadari bahwa kekuasaan ayahnya seperti gurita. Setiap perusahaan yang ia lamar menutup pintu rapat-rapat begitu mendengar namanya. Eleanor terjepit, hingga akhirnya ia terdampar di sebuah kafe eksklusif di pesisir Sussex, tempat di mana deburan ombak dan sunset menjadi satu-satunya penghiburan bagi harga dirinya yang terluka.
Enam Bulan Kemudian. Sore itu, Kafe L'Horizon menerima tamu tingkat tinggi. Seluruh area privat lantai dua telah disewa. Eleanor, dengan seragam hitam-putih yang tetap terlihat elegan di tubuhnya, membawa nampan berisi botol Macallan 1926 dan beberapa hidangan ringan.
Di dalam ruangan, suasana terasa mencekam. Di tengah ruangan, duduk seorang pria yang auranya seolah menghisap oksigen di sekitarnya. Edward Zollern. Pria itu duduk bersandar, tangan kanannya memegang gelas kristal, sementara asisten pribadinya, Rey, berdiri tegak seperti bayangan di belakangnya.
Saat Eleanor meletakkan minuman, salah satu kolega bisnis Edward—pria paruh baya yang tampak mabuk oleh kekuasaan—mulai bertingkah. Ia menyentuh pergelangan tangan Eleanor, menariknya mendekat dengan tatapan melecehkan. "Nona, kafe ini terlalu kecil untuk kecantikan sepertimu. Bagaimana jika malam ini kau ikut ke hotelku dan aku akan memberimu tips yang lebih besar dari gajimu setahun?"
Eleanor tidak gemetar. Ia tidak menarik tangannya dengan kasar. Ia justru membungkuk sedikit, menatap pria itu tepat di matanya dengan tatapan dingin yang merendahkan.
"Tuan," suara Eleanor mengalun tenang namun setajam pisau bedah. "Saran saya, simpan uang Anda untuk menyewa pengacara yang lebih baik. Karena berdasarkan laporan keuangan perusahaan Anda yang baru saja bocor pagi ini, Anda akan membutuhkan setiap sen yang Anda miliki sebelum jaksa mengetuk pintu rumah Anda besok pagi. Jadi, tolong lepaskan tangan Anda, atau saya akan memastikan Anda keluar dari sini dengan pergelangan tangan yang patah."
Pria itu terkesiap, wajahnya memucat seketika. Ruangan menjadi hening total.
Edward Zollern, yang sejak tadi hanya memandang ke arah laut, perlahan memutar kepalanya. Matanya yang berwarna abu-abu gelap mengunci sosok Eleanor. Selama 30 tahun hidupnya, Edward telah melihat wanita menangis di kakinya atau wanita yang mencoba merayunya demi harta Zollern. Tapi ini? Seorang pelayan kafe dengan insting predator dan lidah yang mampu melumpuhkan pria berkuasa hanya dalam satu kalimat.
Edward menatap Eleanor dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—sebuah rasa ingin memiliki yang tidak sehat.
"Rey," bisik Edward tanpa melepaskan pandangannya dari Eleanor.
"Ya, Sir?" Rey membungkuk sedikit.
"Cari tahu segalanya tentang gadis itu. Jangan lewatkan satu detik pun dari masa lalunya."
Edward menyesap minumannya, bibirnya membentuk lengkungan tipis yang mengerikan. Ia menyukai sesuatu yang liar. Dan ia tidak sabar untuk melihat bagaimana gadis bermulut tajam ini akan memohon padanya saat dia menyadari bahwa di dunia ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari seorang Zollern.