Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Ordo Long
Langkah kaki mereka terasa berat di atas tanah dataran tengah yang mulai melandai.
Di belakang mereka, hutan hujan abadi Federasi LIN telah menghilang dalam kabut hijau yang menjauh, digantikan oleh hamparan padang rumput yang sangat subur dengan sungai-sungai jernih yang membelah daratan.
Kondisi mereka masih memprihatinkan. Mo Ran berjalan tertatih dengan bantuan tongkat kayu, sementara Si Hitam berjalan dengan tiga kaki; kaki depannya dibalut kain sobekan jubah Yan Bingchen yang kini ternoda darah kering.
Yan Bingchen sendiri memikul Gada Penghancur Kerak Bumi yang terbungkus kain kasar di punggungnya.
Meski tubuhnya penuh luka memar, aura Inti Sejati-nya tetap tegak, memancarkan wibawa yang membuat hewan liar pun menyingkir.
Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer, mereka menemukan sebuah kedai teh sederhana di persimpangan jalan besar yang ramai oleh pedagang dan musafir.
Kedai itu terbuat dari batu bata merah yang kokoh, dikelilingi oleh ladang gandum emas yang tampak tumbuh dua kali lebih cepat daripada gandum biasa.
Yan Bingchen duduk di pojok ruangan yang remang-remang, mencoba menarik perhatian seminim mungkin, sementara Mo Ran segera memesan air dan roti keras.
Seorang kakek pemilik kedai, yang memiliki tangan kapalan tanda seorang pekerja keras namun memiliki sorot mata yang tajam—khas orang-orang yang hidup di wilayah dengan energi spiritual tinggi—mendekati mereka sambil membawa teko tanah liat.
"Kalian datang dari arah Hutan Terlarang?" tanya kakek itu, matanya melirik singkat ke arah mata dualitas Yan Bingchen yang ia sembunyikan di bawah tudung barunya. "Jarang ada musafir yang selamat keluar dari sana dengan luka sebanyak itu, apalagi membawa ... benda berat di punggungmu, Nak."
Yan Bingchen mengangguk singkat, suaranya tetap sopan namun dingin. "Kami hanya pengembara yang tersesat. Kami mencari jalan menuju ibu kota Ordo LONG. Bisakah Anda memberi tahu kami sedikit tentang tempat ini?"
Kakek itu tertawa kecil, menuangkan teh yang aromanya sangat wangi, seolah-olah daun tehnya sendiri mengandung Qi.
Kakek itu duduk di hadapan mereka, mulai bercerita dengan nada bangga yang khas bagi warga lokal Ordo LONG.
"Kalian sekarang berada di dataran paling subur di dunia. Di Ordo LONG, kalian tidak perlu menjadi pendekar hebat untuk melihat keajaiban. Cukup tancapkan benih apa saja, dan tanah ini akan memberinya nyawa. Ini adalah 'jantung' dari energi spiritual benua Tiandi."
"Jangan mencari Raja atau Gubernur di sini. Di wilayah kami, hukum ditentukan oleh Dewan Naga—kumpulan pendekar tingkat tinggi yang kekuatannya mungkin bisa membelah awan hanya dengan jentikan jari. Mereka tidak peduli pada politik kotor; mereka hanya peduli pada keseimbangan energi dan kemajuan kultivasi."
Kakek itu merendahkan suaranya, matanya berbinar misterius. "Kalian tahu kenapa namanya Long (Naga)? Legenda mengatakan bahwa benua Tiandi ini tidak terbentuk dari debu bintang, melainkan dari jasad seekor Naga Purba yang jatuh dari langit pada awal zaman. Kepalanya menjadi pegunungan di utara, sisiknya menjadi daratan, dan jantungnya ... jantungnya terkubur tepat di bawah Ibu Kota Istana Naga. Itulah sebabnya energi di sini begitu padat. Kalian bernapas di atas detak jantung naga."
Mo Ran menelan rotinya dengan susah payah. "Jantung naga? Pantas saja udaranya terasa 'berat' dan membuatku sesak napas. Kupikir itu karena aku dipukuli Jenderal Zhu, ternyata karena kita duduk di atas organ dalam raksasa."
Si Hitam mendengus pelan, telinganya tegak. Sebagai serigala arwah, ia bisa merasakan denyut energi itu lebih jelas daripada Mo Ran.
Ia merasa kekuatannya pulih lebih cepat di sini, namun ia juga merasa terintimidasi oleh kehadiran kuno yang terasa di bawah tanah.
Yan Bingchen terdiam, mencerna informasi tersebut. Jika Ordo LONG adalah jantung energi spiritual dan dipimpin oleh pendekar tingkat tinggi, maka ia tidak bisa lagi bertindak sembarangan.
Di tempat ini, Ranah ke-4 (Inti Sejati) miliknya mungkin hanya dianggap sebagai murid tingkat menengah.
"Terima kasih atas informasinya, Kek," ujar Yan Bingchen sambil meletakkan beberapa keping perak terakhir yang ia miliki di atas meja. "Apakah ada tempat di ibu kota untuk memperbaiki senjata atau mencari informasi tentang ... mutasi genetik?"
Kakek itu menatap Yan Bingchen dalam-dalam, seolah bisa melihat beban di balik matanya. "Pergilah ke Menara Pustaka Naga. Jika jantung naga tidak punya jawabannya, maka tidak ada tempat lain di dunia ini yang memilikinya. Tapi hati-hati, Nak ... di tempat yang penuh cahaya seperti Ordo LONG, bayangan yang dihasilkan juga jauh lebih gelap."
Mereka bangkit dari kedai teh itu. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menyinari dataran tengah dengan warna emas yang menyerupai sisik naga.
Yan Bingchen menyesuaikan beban gada ungunya. Ia tahu, perjalanannya ke Istana Naga bukan hanya untuk mencari perlindungan, tapi untuk tetap bertahan.
"Ayo, Mo Ran. Si Hitam," bisik Yan Bingchen. "Kita menuju pusat dunia."
Mo Ran mencoba berdiri tegak meski kakinya masih sakit. "Yah, setidaknya kalau kita mati di sini, kita mati di tempat paling subur. Mungkin aku akan tumbuh menjadi pohon roti yang enak di kehidupan selanjutnya."
Si Hitam menyundul tangan Mo Ran, memberi isyarat agar pemuda itu berhenti mengeluh dan mulai berjalan.