Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Datang Tiba-Tiba
Pagi di Gang Mawar terlihat sama seperti biasanya. Matahari mulai naik perlahan, menyinari rumah-rumah kecil yang berdiri rapat di sepanjang jalan sempit itu.
Namun bagi Rania, pagi itu terasa sedikit berbeda.
Ia berdiri di dapur sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Matanya sesekali melirik Rafa yang sedang duduk di meja makan sambil memainkan robot kesayangannya.
Sudah beberapa hari terakhir hidupnya terasa jauh lebih ramai.
Bukan hanya karena Arga yang selalu muncul dengan senyum cerianya.
Tapi juga karena Damar… pria yang selalu datang dengan cara yang tenang, tapi entah kenapa selalu membuat jantungnya berdebar.
“Bunda.”
Rania menoleh.
“Iya, Rafa?”
“Arga sama Om Damar datang lagi hari ini nggak?”
Rania hampir tersedak teh yang baru saja diminumnya.
“Kamu ini… kenapa selalu menanyakan mereka?”
Rafa hanya tersenyum polos.
“Karena mereka baik.”
Rania menghela napas pelan.
“Rafa, mereka punya pekerjaan. Mereka tidak mungkin datang setiap hari.”
Namun di dalam hatinya, Rania sendiri tidak terlalu yakin dengan kata-katanya.
Karena beberapa hari terakhir… mereka memang hampir selalu muncul.
Setelah Rafa siap berangkat sekolah, Rania menggandeng tangannya keluar rumah.
Namun baru saja mereka berjalan beberapa langkah keluar gang, Rania melihat sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan rumahnya.
Wajah wanita itu terlihat dingin dan penuh penilaian.
Rania langsung mengenali wanita itu.
“Bu… Santi?”
Wanita itu adalah ibu dari almarhum suaminya.
Rafa langsung berlari kecil.
“Nenek!”
Namun tidak seperti biasanya, Bu Santi tidak langsung memeluk Rafa.
Tatapannya justru tertuju pada Rania dengan ekspresi tidak ramah.
“Kamu masih tinggal di sini?” katanya dingin.
Rania menelan ludah.
“Iya, Bu.”
Bu Santi menatap rumah kecil itu dengan sinis.
“Kamu hidup cukup nyaman ya.”
Rania tidak menjawab.
Sudah lama sejak terakhir kali ia bertemu ibu mertuanya.
Dan pertemuan terakhir mereka… tidak berakhir baik.
Beberapa tahun lalu, setelah suaminya meninggal, Bu Santi pernah menyalahkan Rania.
Ia mengatakan bahwa Rania tidak menjaga suaminya dengan baik.
Bahkan sempat meminta Rania meninggalkan rumah yang mereka tinggali.
Namun Rania menolak.
Karena rumah itu adalah satu-satunya tempat yang ia miliki untuk membesarkan Rafa.
Sekarang wanita itu berdiri lagi di depan rumahnya.
“Kenapa ibu datang?” tanya Rania pelan.
Bu Santi menyilangkan tangan.
“Aku datang untuk melihat cucuku.”
Rafa tersenyum senang.
“Nenek mau main sama Rafa?”
Namun Bu Santi tetap menatap Rania.
“Aku juga ingin tahu… apakah kamu masih hidup dengan benar.”
Rania merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya.
Pada saat yang sama, dari ujung gang, Arga sedang berjalan menuju rumah Rania.
Seperti biasa, ia membawa sesuatu di tangannya—sebungkus makanan ringan untuk Rafa.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika ia melihat Rania berdiri bersama seorang wanita asing.
Arga mengerutkan alis.
“Siapa itu?”
Ia berjalan sedikit lebih dekat.
Di sisi lain gang, mobil hitam Damar juga baru saja berhenti.
Damar turun dari mobilnya dan langsung melihat ke arah rumah Rania.
Ia juga melihat wanita yang berdiri di depan rumah itu.
Ekspresi wajah Damar langsung berubah serius.
Kembali ke depan rumah Rania.
Bu Santi tiba-tiba berkata dengan suara tajam.
“Kamu ini benar-benar memalukan.”
Rania terkejut.
“Bu…?”
Bu Santi menunjuk ke arah rumah.
“Aku dengar dari orang-orang di sini… kamu sering didatangi pria.”
Rania membeku.
Tetangga di sekitar mulai melirik.
Beberapa ibu-ibu bahkan berhenti menyapu halaman mereka.
Rania merasa wajahnya memanas.
“Itu tidak seperti yang ibu pikirkan.”
Namun Bu Santi tertawa sinis.
“Janda muda memang cepat sekali mencari pengganti.”
Kalimat itu membuat Rafa bingung.
“Bunda?”
Rania tidak tahu harus berkata apa.
Namun tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
“Bu, sebaiknya hati-hati dengan kata-kata.”
Rania menoleh.
Arga berdiri di sana.
Tatapannya tajam, jauh berbeda dari biasanya yang ceria.
Bu Santi menatapnya dengan heran.
“Siapa kamu?”
Arga berjalan mendekat.
“Saya tetangga Mbak Rania.”
Bu Santi tertawa kecil.
“Oh… salah satu pria itu ya?”
Arga mengepalkan tangannya.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, suara lain muncul.
“Dan saya juga salah satu pria itu.”
Semua orang menoleh.
Damar berdiri tidak jauh dari sana.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang, tapi aura di sekelilingnya terasa dingin.
Bu Santi menatapnya dari atas sampai bawah.
“Kalian berdua… benar-benar tidak tahu malu.”
Damar berhenti di samping Rania.
Tatapannya lurus ke arah Bu Santi.
“Mbak Rania adalah wanita yang bekerja keras membesarkan anaknya.”
Suara Damar tenang tapi tegas.
“Tidak ada yang memalukan dari itu.”
Arga menambahkan dengan nada kesal.
“Justru yang memalukan adalah orang yang datang hanya untuk menghakimi.”
Tetangga di sekitar mulai berbisik.
Bu Santi terlihat semakin marah.
“Kalian berdua… berani sekali membela wanita ini.”
Arga langsung berkata tanpa ragu.
“Tentu saja.”
Damar menambahkan pelan.
“Karena dia pantas dibela.”
Rania benar-benar tidak menyangka.
Dua pria ini… berdiri di sampingnya sekarang.
Melindunginya.
Bu Santi akhirnya menatap Rafa.
“Rafa, ikut nenek pulang.”
Rafa langsung memeluk kaki Rania.
“Aku mau sama Bunda.”
Bu Santi terlihat kesal.
Namun akhirnya ia mendengus marah.
“Kita lihat saja nanti.”
Ia berbalik dan pergi meninggalkan gang.
Suasana kembali sunyi.
Beberapa tetangga juga perlahan kembali ke rumah mereka.
Rania masih berdiri di tempatnya.
Tangannya sedikit gemetar.
Arga langsung berkata lembut.
“Mbak Rania… tidak apa-apa?”
Rania menunduk sedikit.
“Terima kasih…”
Damar berdiri di sampingnya dengan tenang.
“Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.”
Rania menatap mereka berdua.
Untuk pertama kalinya sejak lama…
Ia merasa ada orang yang benar-benar berada di sisinya.
Namun di saat yang sama…
Ia juga sadar bahwa hidupnya akan semakin rumit.
Karena dua pria yang berdiri di depannya sekarang… jelas tidak berniat menyerah.
Dan di dalam hatinya, sesuatu mulai berubah perlahan.
Pertarungan cinta ini… baru saja memasuki babak yang lebih serius.