"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pola di Balik Pesta Pora
Gedung Pusat Kepolisian malam itu berkilauan layaknya istana. Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke barisan mobil mewah dan jajaran pejabat berseragam lengkap. Musik orkestra mengalun megah, seolah sengaja diledakkan untuk menutupi bau busuk konspirasi yang tersembunyi di balik dinding betonnya.
Di depan cermin toilet sebuah gedung di seberang jalan, Reyhan menatap pantulannya. Ia berjuang dengan dasi kupu-kupunya yang terasa asing.
"Sialan... benda ini lebih mencekik daripada benang hantu kemarin," desis Reyhan. Ia menarik dasinya dengan tangan yang terbungkus sarung tangan kulit hitam tipis—kamuflase untuk luka bakar yang masih berdenyut di baliknya.
Rendy, yang sedang memeriksa perangkat transmisi di dalam tas ranselnya, menoleh tanpa ekspresi. "Jangan ditarik terus, Rey. Lo tamu undangan, bukan pelayan kafe. Pastiin sarung tangan itu nggak lepas, atau semua orang bakal tahu lo habis 'bermain api' di gudang kemarin."
"Gue tahu," jawab Reyhan pendek. Ia menoleh saat Kiara keluar dari balik sekat ruangan.
Reyhan tertegun. Kiara mengenakan gaun panjang biru tua yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya. Namun, sorot mata gadis itu tidak menunjukkan ketenangan.
"Rey..." suara Kiara bergetar. "Benang hitam di pergelangan tanganku... mereka berdenyut kencang sejak kita mendekati gedung itu."
Reyhan mendekat, merapikan helai rambut Kiara dengan ujung jari sarung tangannya. "Artinya kita sudah sampai di jantung masalahnya. Tetap di dekatku, Kiara. Jangan lepas dari pandanganku."
"Waktunya masuk," potong Rendy sambil membagikan ID Card palsu. "Reyhan, lo Inspektur luar kota. Kiara asisten lo. Gue masuk lewat pintu belakang sebagai tim dokumentasi. Ingat, satu kesalahan kecil, kita nggak bakal keluar dari sana hidup-hidup."
Reyhan menyelipkan sebilah pisau keramik ke balik jasnya—senjata yang takkan terdeteksi sensor logam. "Mari kita lihat, apa Ayah senang melihat putranya datang tanpa kado, tapi malah membawa kehancuran."
Begitu melangkah ke lobi gedung yang megah, Kiara mendadak berhenti. Napasnya tercekat. Matanya yang indigo melihat kengerian yang tersembunyi di balik tawa para tamu.
Di antara denting gelas sampanye, Kiara melihat ribuan benang merah menjuntai dari langit-langit, terikat erat di leher setiap orang yang hadir. Semua pejabat, jenderal, dan pengusaha itu bergerak seperti boneka marionette yang tak sadar sedang dikendalikan dari lantai atas.
"Rey..." bisik Kiara ketakutan. "Seluruh gedung ini... sudah jadi jaring laba-laba raksasa."
"Bagus," Reyhan mengambil gelas dari pelayan dengan gaya tenang, meski rahangnya mengeras. "Artinya, kita tinggal mencari ujung talinya, lalu kita putus semuanya sekaligus."
Di tengah pesta, Adiwangsa turun dari panggung kehormatan. Ia bersalaman dan tertawa berwibawa, hingga langkahnya terhenti di depan pria jangkung dengan tuxedo hitam sempurna.
"Reyhan," suara Adiwangsa tenang, namun dinginnya sanggup membekukan udara. "Ternyata kamu datang tanpa perlu dijemput paksa. Jas yang bagus. Sangat cocok untuk... acara perpisahan."
Reyhan menyesap minumannya, lalu menaruh gelasnya di nampan pelayan dengan gerakan santai namun penuh ancaman. Ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya sejengkal.
"Wah, Ayah, terima kasih pujiannya," Reyhan menyeringai, matanya berkilat tajam. "Aku sengaja pilih warna hitam. Biar nggak repot ganti baju kalau nanti malam ada yang harus dikubur. Sayang sekali menunya kebanyakan manis-manis, padahal aku berharap ada sajian 'lidah' favoritmu itu."
Wajah Adiwangsa mengeras. Ia mencengkeram bahu Reyhan dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Lidah yang terlalu banyak bicara biasanya berakhir di tempat yang gelap, Rey. Kamu seharusnya tahu itu."
Tiba-tiba, suara Kiara terdengar melengking di earpiece Reyhan. "Rey! Keluar sekarang! Dia tidak sedang bicara! Dia sedang menarik energinya!"
Di saat yang sama, Rendy yang berada di ruang kontrol mengirim sinyal final. "Hitungan mundur selesai. Sekarang!"
Blar!
Seluruh layar raksasa di aula pesta yang tadinya menampilkan prestasi kepolisian, berubah gelap. Detik berikutnya, gambar berganti menjadi rekaman mengerikan: ruangan formalin penuh mayat pengantin yang dijahit. Suara teriakan para korban yang lidahnya dicabut menggema di pengeras suara, menelan habis musik orkestra.
Para tamu terkesiap. Gelas-gelas jatuh berkeping. Adiwangsa terdiam kaku saat wajahnya sendiri muncul di layar besar dalam format 4K, sedang menjahit mulut seorang wanita yang masih bernapas.
"Ups," bisik Reyhan tepat di telinga ayahnya sambil menepis cengkeraman tangan Adiwangsa. "Sepertinya hobi rahasiamu baru saja jadi tontonan seluruh dunia, Ayah."
Namun, di luar dugaan, Adiwangsa tidak lari. Ia justru tertawa terbahak-bahak—suara tawa yang begitu mengerikan hingga lampu kristal di langit-langit mulai retak.
"Kamu pikir ini akan menghentikanku, Reyhan?" Adiwangsa menjentikkan jarinya.
Sret!
Seketika, benang-benang merah yang melilit leher para tamu ditarik kencang ke atas. Ratusan pejabat dan tamu undangan terangkat serentak, tergantung di udara dengan mata mendelik, seperti boneka kayu yang dipajang di tiang gantungan.
"Selamat datang di jahitan terakhirku," desis Adiwangsa di tengah kericuhan maut itu.