Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujung Sungai
Tio terus berjalan menyusuri sungai sepanjang hari. Rasa sakit di kaki kanannya menjadi teman setia—nyut-nyutan yang ritmis, kadang mereda, kadang kembali menusuk. Tapi ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksakan diri untuk terbiasa.
Sore mulai turun. Matahari bergerak ke barat, cahayanya berubah keemasan. Tio mempercepat langkah—sebisanya dengan satu kaki—karena ia tidak ingin kegeceran lagi. Mencari tempat berteduh dalam gelap adalah mimpi buruk yang tidak ingin ia ulangi.
Lima menit kemudian, ia sampai di ujung sungai.
Dan dunianya berhenti.
Di depannya, sungai itu tidak lagi mengalir tenang. Air tiba-tiba menghilang, jatuh bebas ke dalam jurang. Tio merangkak mendekati tepi, melihat ke bawah, dan napasnya tercekat.
Air terjun.
Setinggi sekitar 80 meter, mungkin lebih. Air jatuh membentuk tirai putih yang memukau, menghantam kolam di bawah dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Di kedua sisi air terjun, tebing-tebing terjal menjulang—hampir tegak lurus, licin, dengan sedikit celah untuk pegangan.
Tidak mungkin turun. Tidak mungkin merayap di tebing-tebing itu. Tidak dengan kaki cedera. Bahkan pendaki profesional pun akan berpikir seribu kali untuk turun di sini.
Tio duduk di tepi, memandangi air terjun itu lama. Pikirannya kosong. Semua harapan yang ia bangun—bahwa sungai akan membawanya ke lembah, ke desa, ke manusia—runtuh dalam sekejap. Sungai ini tidak menuju ke lembah. Sungai ini menuju ke jurang. Dan di seberang jurang itu, masih ada gunung, masih ada hutan, masih ada entah apa.
Jalan buntu.
Untuk beberapa saat, Tio hanya duduk di sana. Rasa putus asa yang dalam merayapi hatinya. Ia sudah berjuang begitu keras. Berhari-hari berjalan dengan kaki cedera. Bertahan dari teror malam. Makan telur semut dan jamur liar. Dan sekarang... sekarang ia berhadapan dengan tembok yang tidak bisa ia lewati.
Air matanya jatuh lagi. Ia tidak menyekanya.
---
Tapi alam tidak memberi waktu untuk bersedih.
Tio mendongak, dan jantungnya hampir berhenti. Langit di barat berubah warna—bukan oranye keemasan seperti beberapa menit lalu, tapi abu-abu gelap. Mendung. Tebal. Bergerak cepat ke arahnya.
Angin tiba-tiba bertiup kencang. Dingin. Membawa aroma hujan yang khas.
Hujan badai. Sebentar lagi.
Tio panik. Ia melihat sekeliling, mencari tempat berteduh. Di dekat air terjun, ada dinding tebing yang menjorok, membentuk semacam atap alami. Tidak ideal—terlalu dekat dengan air terjun, terlalu basah—tapi mungkin bisa melindungi dari hujan langsung.
Ia bergegas menuju ke sana, melupakan rasa sakit di kaki, melupakan keputusasaan. Naluri bertahan hidup kembali mengambil alih.
---
Tempat itu adalah ceruk dangkal di balik tirai air terjun. Dinding batunya basah, lumut di mana-mana, dan udara penuh dengan uap air. Tapi setidaknya, hujan tidak akan langsung mengguyurnya.
Tio merangkak masuk, sebisa mungkin menjauh dari tirai air. Ia meletakkan ransel di tempat yang agak kering, lalu duduk bersandar, mengatur napas.
Di luar, hujan mulai turun.
Bukan hujan biasa. Hujan badai. Deras, lebat, dengan butiran air sebesar kelereng. Angin menderu kencang, membawa air masuk ke dalam ceruk meskipun terlindung. Tio merapat ke dinding, memeluk ransel, menggigil.
Gelap. Hujan. Dingin. Dan ia di sini, sendirian, di balik air terjun di tengah hutan.
---
Sekitar setengah jam berlalu. Hujan belum reda—bahkan semakin deras. Tio sadar ia harus melakukan sesuatu. Suhu tubuhnya turun drastis. Jika terus menggigil seperti ini, hipotermia bisa mengancam.
Api. Ia butuh api.
Dengan tangan gemetar, Tio merogoh ranselnya. Korek api gas masih ada. Tapi kayu bakar? Di tempat basah seperti ini, mencari ranting kering hampir mustahil.
Ia mengamati sekeliling. Di sudut ceruk, agak jauh dari tirai air, ada tumpukan ranting-ranting kering—mungkin sisa sarang binatang atau terbawa angin. Tidak banyak, tapi cukup untuk api kecil.
Tio merangkak mengambilnya. Ranting-ranting itu memang kering, terselamatkan karena posisinya yang terlindung. Ia mengumpulkan sebanyak mungkin, lalu kembali ke tempat duduknya.
Dengan susah payah, ia menyalakan api. Ranting terkecil ia susun seperti teepee, lalu korek api ia dekatkan. Ceklek. Percikan pertama padam. Ceklek. Percikan kedua padam. Tangan terlalu gemetar, kayu terlalu basah? Tidak, kayunya kering. namun karena tangannya yang gemetar.
Ceklek. Kali ini percikan mengenai ranting kecil. Api merambat perlahan. Tio meniup pelan, membesarkan api. Ranting demi ranting ia tambahkan. Akhirnya, api kecil menyala di depannya.
Sedikit hangat memberikan rasa lega. Tio mendekatkan tangan ke api, merasakan hangatnya merambat. Ia masih menggigil, tapi setidaknya tidak separah tadi.
---
Di luar, hujan semakin deras. Suara air terjun dan hujan bercampur menjadi satu, menciptakan gemuruh yang memekakkan telinga. Kadang-kadang, kilat menyambar di kejauhan, menerangi langit yang gelap.
Di sela-sela derasnya hujan, Tio melihat mereka.
Bayangan-bayangan.
Mereka berdiri di luar ceruk, di balik tirai air. Samar-samar, tapi jelas. Hitam, diam, menghadap ke arahnya. Tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya menonton, seperti biasa.
Tapi kali ini, jumlahnya lebih banyak. Puluhan, mungkin ratusan. Berdiri di tebing-tebing di sekitar air terjun, di balik pepohonan yang tersisa, di mana-mana. Mata-mata merah menyala di tengah gelap, berkelip-kelip seperti kunang-kunang neraka.
Tio memandangi mereka, kali ini ia tidak merasa takut. Merinding sih iya, taoi ia sudah terlalu lelah untuk takut. Ia hanya duduk di sana, menghangatkan diri di depan api, sesekali menatap balik bayangan-bayangan itu.
Lihat saja, pikirnya. Lihat saja kalau kalian mau. Gue masih hidup. Gue masih di sini.
---
Sekitar satu jam berlalu. Hujan belum reda. Tapi ancaman baru muncul.
Sungai di bawah mulai meluap. Tio bisa melihatnya dari ketinggian ceruk—permukaan air naik perlahan, semakin mendekati tempatnya. Jika terus hujan seperti ini, air bisa masuk ke ceruk. Dan jika air masuk, api akan padam. Dan ia akan basah total. Dan mungkin, tersapu arus.
Tio panik lagi. Ia mengamati ketinggian air, mencoba memperkirakan seberapa cepat naiknya. Sulit dalam gelap, tapi ia bisa mendengar suara air yang semakin dekat.
Harus pindah. Tapi ke mana?
Di luar ceruk, hujan badai. Di luar, bayangan-bayangan menunggu. Tapi di dalam, air mulai merayap naik.
Tio mengambil keputusan cepat. Ia mengumpulkan ranting-ranting sisa, memadamkan api dengan tanah basah—sayang, tapi tidak ada pilihan. Lalu ia merangkak ke bagian tertinggi ceruk, memanjat batu-batu yang agak menjorok, mencari tempat yang lebih aman.
Di sana, di sudut paling atas, ia menemukan celah kecil. Cukup untuk satu orang meringkuk. Tio masuk ke dalam, memeluk ransel, dan menunggu.
Dari celah itu, ia bisa melihat air yang perlahan naik. Lima belas menit kemudian, air mencapai tempat api tadi berdiri. Dua puluh menit kemudian, setengah ceruk terendam. Tapi air berhenti di situ—tidak naik lebih tinggi. Mungkin sudah puncak luapannya.
Tio menghela napas lega.
---
Malam kelima berlangsung panjang. Hujan terus turun, kadang deras, kadang reda sebentar, lalu deras lagi. Tio duduk meringkuk di celah sempit itu, menggigil kedinginan tanpa api. Sesekali ia melihat bayangan-bayangan di luar, masih setia menonton. Tapi ia terlalu lelah untuk peduli.
Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke ibunya, ke rumah, ke kehidupan yang dulu. Ia membayangkan dirinya sedang duduk di ruang tamu, minum kopi, menonton TV. Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah ia syukuri.
Kalau bisa keluar dari sini, janjinya dalam hati, aku akan hidup berbeda. Aku akan lebih bersyukur. Aku akan lebih dekat dengan keluarga. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidup lagi.
Tapi janji itu terasa hampa di tengah badai ini. Keluar dari sini? Mungkin mustahil. Ujung sungai adalah air terjun. Kembali ke atas berarti mendaki dengan kaki cedera. Dan malam-malam bersama bayangan akan terus menghantuinya.
Mungkin ini akhirnya, pikirnya. Mungkin aku memang harus mati di sini.
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, masih ada secercah harapan. Kecil, redup, tapi masih ada. Harapan bahwa besok pagi, setelah hujan reda, ia akan menemukan jalan. Harapan bahwa semua ini akan berakhir.
Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Di luar, hujan terus turun. Air terjun gemuruh. Dan bayangan-bayangan masih setia menunggu.
Malam kelima. Malam terberat sejauh ini.
Tapi Tio masih hidup. Masih bertahan.
Dan selama masih hidup, masih ada harapan.