Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Dibalik Layar
Arka menundukkan wajahnya sedikit. Aluna bisa melihat bayangan dirinya di mata pria itu. Jarak di antara mereka perlahan menghilang, hingga hanya tersisa satu tarikan napas sebelum bibir mereka bertemu.
Namun di detik terakhir, Aluna tiba-tiba memalingkan wajahnya.
Tangannya terangkat, menahan dada pria itu agar tidak semakin mendekat.
Bibir pria itu hanya berhenti di udara kosong.
"Kemarin malam, Anda mencium wanita lain."
Aluna melangkah menjauh dari Arka.
"Lalu sekarang, Bapak pun ingin mencium saya," lanjutnya. "Apakah seorang CEO memang terlihat murah?"
Aluna meraih sandaran kursi, menempatkan kedua tangannya diatas kursi tubuhnya membelakangi Arka.
"Itu karena... Saya hanya bisa merasakan debar, ketika mencium mu."
Sejenak suasana berubah menjadi hening, sampai...
"Tapi kenapa?" nadanya terdengar tinggi.
"Kenapa saya?" Aluna berbalik menghadap Arka. "Saya bukan siapa-siapa, bahkan saya milik orang lain."
"Andai saya juga tahu jawabannya."
Suara Arka kini terdengar pelan, kepalanya sedikit menunduk.
Aluna melangkah mendekati Arka, meraih buku yang ada di tangan pria itu.
"Kalau begitu..." Kalimatnya terpotong.
Aluna menempelkan buku di dadanya.
"Jika Anda sudah tahu jawabannya," kepalanya terangkat, matanya menatap wajah Arka.
"Bapak bisa datang kepada saya, sebagai orang yang berbeda."
Tangannya membuka gagang pintu di sampingnya, namun tangan Arka lebih dulu menahannya.
"Lalu... Apakah di dunia nyata. Monster itu akan mendapatkan hati Belle?"
Kepala Aluna menoleh sesaat, "kita lihat saja nanti." Tubuhnya menghilang dibalik pintu, meninggalkan Arka sendiri.
Ruangan kerja itu terasa hening ketika perempuan itu meninggalkannya dengan harapan kecil yang masih samar.
Arka menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya.
Arka bisa saja tetap tinggal di Jakarta setelah mengantar Valerie.
Semua urusan yang membawanya ke resort sudah selesai. Tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk kembali.
Setidaknya, itulah yang ia coba yakinkan pada dirinya sendiri.
Namun sejak meninggalkan tempat itu, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Ada sesuatu yang terus mengganggunya—sebuah bayangan yang tidak juga pergi meski ia sudah mencoba mengabaikannya.
Wajah Aluna.
Ia sudah mencoba menganggap semuanya selesai.
Menganggap apa pun yang terjadi di resort hanyalah kebetulan yang seharusnya tidak perlu dipikirkan lebih jauh.
Tetapi semakin ia berusaha menyingkirkannya, bayangan itu justru semakin sering muncul.
Aneh.
Ia tidak pernah terbiasa memikirkan seseorang sejauh ini.
Arka menyandarkan punggungnya di kursi mobil, menatap jalanan Jakarta yang ramai di depan kaca. Dalam hidupnya, keputusan biasanya sederhana: perlu atau tidak perlu.
Dan kembali ke resort jelas tidak termasuk dalam hal yang perlu.
Namun entah sejak kapan, logika itu mulai terasa tidak cukup.
Seolah ada sesuatu yang belum selesai ia tinggalkan di sana.
Atau lebih tepatnya… seseorang.
Dia sendiri tidak mampu menjelaskan tentang perasaannya.
Dia sendiri tidak mampu untuk jujur pada dirinya.
Malam itu, ketika ia memutuskan untuk mengambil sesuatu yang paling berharga milik Aluna. Berharap rasa yang selama ini mengusik pikirannya akan runtuh begitu saja—hilang seperti embun yang lenyap saat matahari datang.
Ia ingin percaya bahwa semua itu hanyalah dorongan sesaat. Hanya nafsu yang kebetulan menemukan jalannya.
Bahwa setelah batas itu dilanggar, setelah semuanya selesai, hatinya akan kembali sunyi seperti semula.
Namun kenyataan tidak pernah berjalan sesederhana itu.
Alih-alih menghilang, perasaan itu justru menetap.
Diam-diam tinggal di dalam dirinya, seperti luka yang tidak bisa ia akui, tetapi juga tidak mampu ia abaikan.
Dan malam itu, Arka menyadari satu hal yang tidak ia perhitungkan—
setelah semuanya terjadi, perasaan itu tidak hilang seperti yang ia kira.
***
Siang hari di halaman resort terasa ramai. Beberapa meja panjang dipenuhi bahan makanan dan peralatan masak. Para peserta creative retreat berkumpul dalam kelompok kecil—ada yang memotong sayuran, ada yang menjaga panggangan, sementara yang lain sibuk menata piring dan minuman.
Aroma makanan yang dimasak bercampur dengan angin laut yang berhembus pelan dari arah pantai. Tawa dan obrolan ringan terdengar di antara mereka, membuat suasana makan siang bersama itu terasa hangat dan santai di bawah terik matahari siang.
Aluna duduk bersama timnya, mereka menyantap makanan sambil sesekali bercanda gurau.
"Yah.. sialan. Kirain daging, ternyata lengkuas."
Revan mengomel sambil memegangi lengkuas yang baru saja ia ambil dari mulutnya.
Aluna tertawa geli, "makanya jangan serakah. Ngambil secukupnya."
Mereka tertawa bersama.
Brrrtt... Brrttt....
Dering ponsel Aluna terus bergetar sedari tadi.
"Ponselnya dilihat dulu kali. Berisik."
Ujar Revan setengah bercanda.
Aluna meraih ponsel yang diletakkan di samping piringnya.
Mata perempuan itu terlalu fokus pada layar untuk beberapa saat. Sampai...
Matanya berkaca-kaca, ia berusaha membendungnya agar tidak merusak suasana.
Aluna meraih kembali sendok itu, menyuapinya, mengunyah secara perlahan.
Namun pada akhirnya ia tidak mampu lagi menahannya, air mata itu jatuh membasahi pipinya.
Helena yang menyadarinya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Kak... Kamu kenapa?"
Sontak Revan menoleh pada Aluna.
"Aluna?"
Aluna menyeka air matanya, mengambil tisu dan merapikan wajahnya.
"Gapapa. Barusan suami memberi kabar... Kucing ku mati."
Aluna berusaha tersenyum kembali.
"Ya ampun... Kamu bikin panik."
Revan menghela nafasnya.
"Aku turut berduka cita, kak."
Helena mengelus pundak rekannya itu.
Dari kejauhan, Arka memperhatikan Aluna.
Air mata yang mengalir di pipi Aluna, entah kenapa membuat dadanya terasa sakit.
Alih-alih ingin tahu apa yang terjadi, namun ia memilih untuk menahannya.
"Aku duluan ke Villa, ya."
Aluna bergegas pamit pada timnya.
Langkahnya tergesa.
Pintu kamar itu dibuka dan ditutup dengan kasar.
Ia menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, Ia membenamkan wajahnya ke kasur, seolah ingin menyembunyikan tangisnya dari dunia. Suara isaknya tertahan, hanya getaran kecil di bahunya yang menunjukkan betapa keras ia berusaha menahan semuanya.
Ponsel yang beberapa menit tadi ia tatap dengan lama, masih berada di tangannya.
Di layar itu, sebuah foto terbuka.
Seorang pria terbaring di atas ranjang, tubuhnya setengah tertutup selimut.
Di sampingnya, seorang perempuan terbaring dengan tubuh tertutup selimut hingga dada. Wajahnya tidak terlihat, hanya rambut yang menutupi sisi wajahnya.
Namun di kulit di sisi dadanya, sebuah tato bunga tampak jelas—detail kecil yang justru membuat foto itu terasa semakin nyata.
Aluna mengenali pria itu dengan sangat baik.
Suaminya.
Jari-jarinya gemetar pelan saat menatap foto itu lagi, seolah berharap ia salah melihat.
Namun tidak ada yang berubah.
Wajah itu tetap sama, situasi itu tetap nyata.
Dadanya terasa sesak.
Ia menutup matanya sejenak, lalu menjatuhkan ponsel itu ke samping kasur.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, teredam di bantal tempat ia membenamkan wajahnya.
***
Malam berganti begitu cepat.
Arka berdiri di balkon, sebatang rokok terselip di antara jarinya. Ia mengisapnya perlahan, lalu menghembuskan asap ke udara malam.
Namun wajahnya tidak terlihat santai. Rahangnya mengeras, tatapannya kosong menembus kegelapan di depan resort.
Bara kecil di ujung rokok itu menyala setiap kali ia menarik napas, lalu meredup kembali.
Ia bahkan tidak benar-benar merasakan rasanya.
Rokok itu hampir habis tanpa ia sadari. Pikirannya masih berputar pada hal yang sama—sebuah bayangan yang tidak juga pergi dari kepalanya.
Dan semakin ia mencoba menenangkannya, bayangan itu justru semakin jelas.
Ia terus saja teringat pada kejadian tadi siang.
"Helena."
Arka menyentuh pundak perempuan yang sedang menatap fokus pada layar laptopnya.
Helena menoleh pelan, "Pak Arka?" ucapnya sedikit kaget.
"Dari tadi saya belum melihat Aluna."
"Oh.. sepertinya kak Aluna masih berada di kamarnya."
Ia merapikan kaca matanya.
"Apa ada masalah?"
"Emmm... Katanya sih dia dapat kabar, kucingnya mati." Lanjutnya, "padahal setahu saya, dia tidak punya kucing."
Sejak saat itu.
Arka mulai gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga akhirnya, hal yang sedari tadi ia pertimbangkan....
***
Tanpa sadar, Aluna tertidur setelah menangis.
Sampai suara ketukan itu, membangunkan nya.
Tok.. tok..
Suara yang berasal dari balik jendela.
Aluna merapikan wajahnya yang berantakan, menyeka air mata yang masih tersisa disana.
Ia bangun dari ranjangnya, berjalan pelan kearah jendela.
Kedua tangannya ragu membuka gagang jendela itu, sampai...
"Pak Arka?"
Aluna menatap tak percaya.
Arka berdiri di balik jendela, matanya menatap lama wajah perempuan yang terlihat berantakan itu.
Mata sembab, wajah yang memerah, rambut kusut karena basah oleh air mata.
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu," suaranya terdengar rendah.
"Tapi aku ingin memberikan ini padamu."
Tangannya menyodorkan sebuah paperbag.
Dan tanpa berkata-kata lagi, Arka pergi begitu saja meninggalkan Aluna yang masih berdiri tegap dengan luka yang ia sembunyikan.
Aluna meraih paperbag coklat itu, membawanya ke atas ranjang.
Tangannya mulai merogoh isi paperbag.
Susu coklat.
Beberapa snack kentang.
Coklat batangan.
Sebuah kotak kecil berwarna pink.
Aluna menusuk susu itu dengan sedotan, meminumnya dengan pelan.
Tangannya membolak-balik kotak pink itu, ia mulai penasaran dengan isinya.
Susu kotak yang tersisa setengah itu ia letakkan di atas kasur, kemudian tangannya membuka kotak berwarna pink itu.
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit.
Ia mengangkat kalung itu sampai ke wajahnya, matanya memperhatikan detail kalung yang terlihat berkilau.
"Apa dia ingin merayu ku dengan kalung ini?"
Gumamnya. "CEO gila itu.. ada saja gebrakannya." Lanjutnya.
Perempuan itu mengomel sendiri, setelah menghabiskan susu kotak dan beberapa snack dari bosnya.
Menangis seharian membuatnya lapar.
***
Siang hari saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan jadwal acara selanjutnya.
Aluna berjalan menghampiri pria yang sedang berbincang pada seseorang.
"Pak Arka."
Panggilnya.
Arka menoleh.
Aluna memberi isyarat agar pria itu mendekat. Arka sedikit menundukkan pundaknya, mensejajarkan wajahnya dengan Aluna.
“Bisa tolong temui saya sebentar di tepi pantai?” bisik Aluna pelan.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan melangkah pergi dari keramaian aula resort.
Arka tetap berdiri di tempatnya beberapa detik.
Ia baru pertama kalinya melihat Aluna meminta sesuatu darinya dengan cara seperti itu—singkat, tetapi terdengar begitu serius.
Dari kejauhan, ia melihat sosok perempuan itu berjalan menyusuri sisi resort menuju arah pantai.
Angin siang mengibaskan rambut panjangnya, sementara suara ombak terdengar samar dari kejauhan.
Arka akhirnya menghela napas pelan, lalu melangkah mengikuti arah yang sama.
Arka akhirnya tiba di tepi pantai.
Dari kejauhan, ia melihat Aluna sudah berdiri di sana.
Perempuan itu menghadap laut, rambut panjangnya bergerak pelan tertiup angin siang.
Ia tidak menoleh, seolah sudah tahu Arka akan datang.
“Aluna.”
Suara Arka memecah keheningan.
Aluna menoleh, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur.
Di telapak tangannya, tergeletak kalung pemberian Arka.
Arka menatap benda itu cukup lama.
Sekilas ia mengira Aluna ingin mengembalikannya.
Namun Aluna justru memberi isyarat agar Arka mengambilnya.
Dengan ragu, Arka meraih kalung itu.
Tiba-tiba Aluna berbalik, mengangkat rambut panjangnya hingga tengkuk lehernya terlihat.
Arka terdiam, belum mengerti.
Aluna menoleh sedikit.
“Kenapa diam saja?”
Barulah Arka memahami maksudnya.
Dengan hati-hati ia memasangkan kalung itu di leher Aluna.
Perempuan itu berbalik menghadapnya. Tangannya menyentuh liontin yang kini tergantung di lehernya.
“Apakah terlihat cocok?” tanyanya pelan.
Senyum tipis muncul di wajah Arka.
“Kalung yang indah… akhirnya menemukan pemiliknya.”
Aluna terdiam sejenak, jemarinya masih meraba kalung itu.
“Terima kasih.”
Setelah itu ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Arka sendirian di tepi pantai.
Arka menatap punggung Aluna yang menjauh.
Ia tidak tahu apa arti keputusan perempuan itu—tetapi sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda.
***