"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuaknya Fakta
Sosok pria itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Fajar. Firasatnya sebagai seorang suami, memanglah benar.
Bahkan ia sudah menebak semua itu sejak awal, sejak ospek mahasiswa baru tempo hari.
Ia mampu membaca sejak saat itu, Dhuha memiliki sorot mata yang berbeda pada Raina. Dan benar saja, hari ini Dhuha bahkan berani melamar Raina di depan semua orang.
“Fajar?!” Dhuha sangat terkejut menyadari Fajar yang tiba-tiba muncul dan langsung menarik tangan Raina, dan membawa gadis yang sedang dilamarnnya itu pergi dari hadapannya.
Begitu juga dengan Sindi, ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi. Laki-laki yang selama ini ia jelek-jelekkan di depan Raina, kali ini malah berani memegang tangan sahabatnya itu dan membawanya pergi.
“Kak Fajar! nggak bisa dibiarini ini,” katanya sambil menarik lengan bajunya dan dengan langkah cepat, ia mengejar langkah panjang Fajar yang membawa Raina.
Sementara Raina, ia tidak berani membuka suaranya. Melihat amarah dimata Fajar saja ia sudah merasa takut.
Kemudian Raina menyadari bahwa sahabatnya, Sindi sedang mengikuti mereka dari belakang. Sama dengan Fajar, Sindi kali ini tampak sangat marah.
“Kak Fajar!!” teriak Sindi yang berhasil menghentikan langkah pria bermata elang itu.
Fajar menuruti titah Sindi karena bagaimanapun, Sindi adalah sahabat istrinya.
Segera, Sindi merebut tangan sang sahabat dari genggaman Fajar. Kebencian campur amarah, kini tengah meliputi wajah ceria seorang Sindi.
“Berani beraninya Kak Fajar! yang bukan makhrom kamu Raina. Dia nyetuh kamu loh. Dan herannya, kamu gak nolak pas dia bawa kamu. Tapi aku tahu, pasti karena dia mau apa-apain kamu kan?”
Mendengarkan amarah Sindi, bukannya Raina takut, ia malah tampak menahan gelak tawanya.
“Abang kasih waktu kamu, buat jelasin ke Sindi. Abang tunggu di parkiran ya..” ucap Fajar yang kemudian meninggalkan dua sahabat, yang butuh waktu berdua untuk saling bercerita itu.
Raina hanya menjawabnya dengan anggukan, kemudian memulai penjelasannya pada sang sahabat.
“Aku juga yang salah, aku bahkan belum sempat buat cerita sama kamu,” ucap Raina yang tampak ingin menyampaikan alasan Fajar membawanya pergi dan mengapa Fajar berani memegang tangannya.
“Cerita apa?”
“Aku sebenarnya sama Kak Fajar, udah menikah hari jum’at lalu,” ucap Raina berbisik ditelinga Sindi.
“Apa!!” teriak Sindi yang masih tak percaya dengan yang dikatakan Raina.
“Iya.. itu alasannya aku nggak nolak pas dia tarik aku, dan pegang tanganku, karena sekarang dialah suamiku. Dan aku bersyukur banget, dia datang tepat waktu. Jadi.. aku nggak perlu cari-cari alasan buat minta maaf sama kak Dhuha.”
Dhuha yang berdiri tepat dibelakang dua sahabat itu, langsung lunglai tak percaya. Ia tampak seperti seorang yang kehilangan arah, dan langsung membalikkan badan kemudian berlari sekuat tenaganya.
Gadis yang selalu ia impikan, bisa menemani hari-harinya malah sudah lebih dulu Fajar yang menghalalkannya.
“Argh!!” ujar Dhuha penuh amarah, ia kehilangan kontrol emosinya mengetahui fakta yang sangat mengejutkannya itu.
Mendengar seperti ada suara orang berlari, akhirnya Raina dan Sindi membalikkan badannya. Dan hanya berhasil melihat punggung Dhuha yang tengah berlari menuju sebuah gedung di Kampus itu.
“Dhuha...” ucap Sindi yang hendak mengejar lari Dhuha, namun tercegat karena Raina yang masih memegangi tangannya. Tampakknya Raina ingin mengatakan sesuatu kepada Sindi.
“Aku nggak mungkin bisa nemuin kak Dhuha, dan meminta maaf secara langsung. Jadi.. aku minta, kamu sampaikan permintaan maafku padanya ya Sin,” ucap Raina dengan senyuman yang miris, karena tak enak hati dengan Dhuha.
“Ok.. aku pergi dulu,” ucap Sindi ketus kali ini.
Raina cukup paham, mengapa sahabatnya itu berkata dengan nada sepeti itu padanya. Sindi pasti kecewa.
Bagaimana mungkin aku tidak mengabarinya, padahal aku selalu berbagi apapun itu padanya selama ini. Mungkin jika aku cerita dari awal, kak Dhuha juga tidak akan sekecewa itu - batin Raina yang sangat merasa bersalah pada Sindi dan Dhuha.
Tin.. tin..
Akhirnya suara klakson dari motor gede Fajarlah yang menyadarkan Raina, dari lamunan dan perasaan bersalahnya.
“Udah?” tanya Fajar singkat yang di jawab dengan anggukan pelan oleh Raina.
“Naik!!” titah Fajar masih dengan nada dingin pada Raina kali ini.
Gadis yang diperlakukan dingin seperti itu oleh Fajar kemudian bergumam, “Marahnya gitu amat sih Bang? Lagian ana juga gak ngapa-ngapain kan sama kak Dhuha.”
Namun, tanpa sepengetahuan Raina, Fajar ternyata memiliki indra pendengaran yang sangat baik, sehingga sangat mudah baginya mendengar gumamam seseorang tentangnya, apalagi itu Raina.
“Pegangan yang kencang," titah Fajar, lagi-lagi masih dengan mimik wajah yang sama, sedingin es balok.
Mendengar mandat dari sang suami, Raina langsung menurut dan mengeratkan pegangannnya di pinggang Fajar.
Kemudian gadis itu langsung menyandarkan dagunya ke bahu Fajar. Ia berniat meminta maaf kepada sang suami.
“Ana minta maaf ya Bang. Udah buat Abang marah dan---” katanya terpotong.
“Abang nggak pernah marah sama kamu. Abang cuma kesel sama diri Abang sendiri. Abang nggak bisa mengontrol emosi Abang,” kali ini, Fajar yang memegang erat tangan Raina, yang melingkar indah di pinggangnya.
“Kita kemana? Dan ana ada kuliah sebentar lagi Bang,” ucap Raina yang masih ragu, ia takut es yang sudah mencair dihadapannya ini kembali membeku lagi karena ucapannya.
“Cuti lagi, Abang juga ambil cuti hari ini," katanya tanpa menjelaskan apa-apa lagi pada Raina, yang tampak pasrah dengan jawaban yang Fajar berikan.
...*****...
Sementara Raina dan Fajar yang memilih untuk meninggalkan Kampus, dan menghabiskan waktu mereka bersama.
Suasana yang berbeda tampak di sebuah roof top salah satu gedung di Kampus itu.
Dhuha tampak memandang ke arah depan dengan tatapan nanar yang kosong. Tubuhnya lunglai, ia tak mengerti dan merasa takdir sedang ingin mempermainkan hidupnya kali ini.
Ia merasa selalu dikaitkan dengan Fajar, tapi kali ini dan dulu berbeda. Dulu, ia tidak mencintai Citra namun sekarang ia mencintai Raina.
Sindi yang melihat sepupunya seperti itu langsung menghampirinya dan mendekatkan posisi berdirinya. Sindi belum berani berbicara pada Dhuha yang sedang larut dalam kesedihannya.
Kemudian Dhuha yang memulai memecah keheningan, karena menyadari Sindi sudah siap untuk mendengarkan keluh kesahnya.
“Kenapa harus Fajar?! dulu persahabatan gue yang hancur sama Fajar karena sesorang gadis yang nggak gue cintai. Tapi sekarang gue, bener-bener cinta sama Raina, Tapi Fajar.. kenapa?! Kenapa!!”
Dhuha kali ini berteriak histeris dengan deraian air mata di pipinya, ia tampak seperti lelaki yang benar-benar patah, sepatah-patahnya.
“Apa kurangnya gue dibanding Fajar? Gue lebih keren, gue nggak kalah terkenal dari pada dia, dan gue lebih dari Fajar. Tapi kenapa? Ketika gue mencintai seorang wanita, dia malah sudah bersama Fajar!"
Dengan emosinya yang memuncak agaknya Dhuha kehilangan kemampuannya untuk berdiri, ia langsung terduduk dan tampak tak berdaya. Tidak ada lagi pancaran karisma dari sosok hangat seorang Dhuha.
Melihat itu semua, Sindi sebagai seorang sepupu, menghampiri Dhuha dan hendak menyalurkan energi kekuatannya padanya.
“Lo lebih dari segi apapun ketimbang Fajar. Lo harus bangkit Dhuha! Lo gak boleh nyerah dan kalah begitu aja.”
Sindi juga sama seperti Dhuha, emosinya juga memuncak ketika mengetahui Raina sang sahabat menikahi lelaki yang terkenal tidak baik itu.
“Gue nggak rela sahabat gue nikah dengan sosok seperti Fajar,” ucap Sindi sambil mengeraskan rahangnya.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa up lagi😁
Episode kali ini sepertinya akan memulai benang merah cerita cinta ini teman-teman, nantikan kelanjutannya ya😉
Anyway.. terimakasih banyak-banyak buat teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini ya😄😄
Jangan lupa selalu support author dengan cara tekan jempolnya🖒tulis kritik dan sarannya😀kemudian berikan penilaiannya ya✔
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa