NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menara Riset Kusuma

Suara gemercik air mancur buatan di halaman depan gedung pencakar langit Kusuma Tower terdengar samar di balik dinding kaca kedap suara setebal dua belas sentimeter. Hari telah beranjak malam, dan langit di atas distrik bisnis pusat kota memantulkan rona keunguan pekat yang berpadu dengan ribuan lampu perkotaan.

Di ruang rapat eksekutif lantai empat belas yang dirancang dengan gaya minimalis modern bernuansa kayu ek terang, Hartawan Kusuma berdiri di depan dinding kaca besar. Ia menyesap teh hijau hangat dari cangkir porselen putih, matanya menatap pantulan bayangannya sendiri di kaca sambil menunggu pintu ruangan terbuka.

Tok... tok... tok.

Ketukan pelan berirama teratur memecah keheningan ruangan. Pintu kayu berukir halus itu bergeser terbuka, menampilkan sosok seorang pria paruh baya berjas rapi dengan map kulit hitam di bawah lengannya. Namanya Wijaya, kepala divisi pengembangan teknologi dan riset Kusuma Group yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade.

"Silakan masuk, Wijaya," ujar Hartawan tanpa membalikkan badan. Ia melangkah kembali ke meja rapat bundar di tengah ruangan, lalu duduk di kursi kulit ergonomis. "Bagaimana hasil verifikasi akhir dari tim riset nasional mengenai proposal proyek energi mikro yang dikirimkan oleh siswa dari SMA Bina Bangsa itu?"

Wijaya melangkah mendekat, lalu duduk di kursi seberang Hartawan. Ia membuka map kulit hitamnya, mengeluarkan selembar laporan tebal dengan stempel merah berlabel Sangat Rahasia, dan menyerahkannya ke atas meja.

"Jujur saja, Tuan Hartawan, awalnya saya mengira laporan mengenai kejeniusan anak itu hanyalah bumbu berlebihan dari pihak sekolah," buka Wijaya dengan nada suara yang menyiratkan rasa takjub yang mendalam. Ia mendorong kacamata baca ke pangkal hidungnya. "Tapi setelah tim ahli kami menguji simulasi kode algoritma dan model pemecahan matriks non-linear yang dirancang oleh Rian... kami semua tertegun."

Hartawan mengangkat sebelah alisnya, tersenyum kecil penuh ketertarikan. "Tergantung dalam arti positif atau negatif, Wijaya?"

"Positif mutlak, Tuan," jawab Wijaya cepat, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Algoritma optimasi distribusi energi yang dia tulis menggunakan prinsip matematika tingkat lanjut yang bahkan belum diajarkan di kurikulum sarjana teknik universitas mana pun di negeri ini. Dia tidak sekadar meniru teori yang ada; dia menciptakan kerangka kerja baru yang mampu memangkas kehilangan daya hingga empat puluh persen lebih efisien daripada teknologi komersial yang kita miliki saat ini."

Hartawan meletakkan cangkirnya perlahan di atas piring kecil. Senyuman di wajahnya semakin melebar. "Anak itu memang bukan remaja biasa. Sejak pertama kali aku melihat cara dia memandang masalah di sekolah, aku tahu bahwa batasan usianya hanyalah angka."

"Apakah Anda benar-benar berencana memberikannya akses penuh ke laboratorium pusat riset nasional kita setelah babak grand final bulan depan?" tanya Wijaya dengan nada sedikit berhati-hati, mengingat protokol keamanan perusahaan yang sangat ketat bagi pihak luar.

Hartawan mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Bukan hanya akses penuh, Wijaya. Jika dia berhasil membawa pulang trofi kemenangan dari grand final nasional nanti, aku ingin kau mempersiapkan kontrak kemitraan khusus riset independen langsung di bawah pengawasanku secara pribadi. Kita harus memastikan bakat sebesar itu tidak disia-siakan atau dicaplok oleh korporasi asing."

"Baik, Tuan Hartawan. Saya akan segera menyiapkan seluruh draf dokumen kerja samanya," jawab Wijaya patuh, menutup kembali map di hadapannya.

Sementara di belahan kota yang lain, jauh dari kemewahan lampu-lampu pencakar langit distrik bisnis, suasana di kamar sederhana Rian di rumah susun tampak sangat tenang dan kontras.

Rian duduk bersila di atas lantai kayu dengan punggung tegak lurus sempurna. Di sekeliling tubuhnya, pendar cahaya keemasan yang terang berputar membentuk lingkaran medan energi spiritual yang padat. Setiap helaan napasnya menyatu dengan detak ritme alam semesta, menciptakan getaran halus yang membuat udara di dalam kamar berdesing pelan.

[ Pemberitahuan Sistem: Stabilitas energi inti kultivator mencapai 118%. ] [ Pendeteksian medan spasial mikro memperlihatkan kesiapan penuh untuk transisi tingkat keenam: Penguasaan Pemahaman Hukum Frekuensi Jiwa. ]

Deretan teks transparan berwarna keemasan melintas sekilas di retinanya sebelum perlahan memudar ke dalam kedalaman kesadaran batinnya.

Rian perlahan membuka kedua matanya. Kilatan cahaya keemasan yang tajam menyala terang sesaat di manik matanya, memantulkan bayangan ruangan yang gelap sebelum meredup kembali menjadi warna hitam legam yang menyimpan kedalaman tanpa batas. Ia menghembuskan napas panjang, merasakan aliran energi Qi yang kini mengalir deras di setiap celah sel tubuhnya, memberikan ketajaman panca indra yang mampu mendengar detak jantung manusia dari jarak puluhan meter di luar gedung rumah susun.

"Tingkat keenam..." bisik Rian pelan pada kesunyian malam, suaranya terdengar begitu tenang dan berwibawa. "Semakin tinggi tingkat kultivasi yang dicapai, semakin jelas pula terlihat bahwa dunia manusia hanyalah sebuah titik kecil di dalam bentangan galaksi yang tak bertepi."

Ia meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak, lalu berdiri dari posisi meditasinya. Rian melangkah mendekati meja belajar, tempat laptop murahnya menyala redup menampilkan barisan kode pemrograman proyek sains yang akan ia presentasikan di grand final nasional bulan depan.

Tok... tok... tok.

Suara ketukan pelan terdengar di daun pintu kamar kayu rumah susun tersebut, disusul oleh suara lembut Bi Inah dari balik pintu. "Rian? Apa kamu masih belum tidur? Bibi membawakan segelas susu hangat dan sedikit kue singkong rebus di nampan."

Rian berbalik, melangkah mendekati pintu dan membukanya perlahan. Di hadapannya, Bi Inah berdiri mengenakan selendang rajut cokelat untuk menahan udara malam yang mulai dingin, membawa sebuah nampan kecil dengan senyuman hangat di wajah keriputnya.

"Terima kasih, Bi," ucap Rian dengan nada suara yang jauh lebih lembut dibandingkan saat ia berbicara di sekolah atau berhadapan dengan orang lain. Ia mengambil nampan tersebut dari tangan Bibi Inah. "Bibi seharusnya tidak perlu repot-repot mengantar makanan selarut ini."

Bibi Inah menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tulus sambil menatap wajah remaja yang sudah ia anggap seperti cucu kandungnya sendiri. "Bibi tidak repot sama sekali, Rian. Bibi hanya khawatir kamu jatuh sakit karena terlalu sering begadang di depan komputer itu. Setiap hari kamu selalu sibuk dengan buku-buku tebal, urusan sekolah, dan riset-riset rumit. Apakah kepalamu tidak pusing memikirkan semua itu?"

Rian tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak sama sekali, Bi. Apa yang Bibi sebut sebagai beban pikiran, bagiku justru cara untuk melatih ketenangan batin."

Bibi Inah tertawa kecil mendengar jawaban filosofis itu. "Duh, anak ini... jawabanmu selalu saja membuat Bibi bingung sendiri. Ya sudah, cepat habiskan susu hangatnya dan jangan tidur terlalu malam. Besok pagi kamu harus sekolah seperti biasa."

"Baik, Bi. Selamat malam," balas Rian patuh.

Setelah Bibi Inah pamit kembali ke kamarnya di ujung lorong rumah susun, Rian kembali masuk ke dalam kamar, meletakkan nampan susu di atas meja, lalu meneguknya perlahan. Bagi Rian, kehangatan sederhana dari Bibi Inah adalah jangkar emosional yang menjaga keseimbangan kemanusiaannya di tengah transformasi spiritual yang luar biasa cepat sebagai seorang kultivator purba.

Keesokan paginya, suasana di koridor SMA Bina Bangsa kembali diwarnai oleh aktivitas harian para siswa yang sibuk mempersiapkan diri menghadapi pekan ujian tengah semester dan seleksi olimpiade regional yang akan segera dimulai dalam beberapa hari ke depan.

Maya berjalan cepat menyusuri koridor lantai dua sambil membawa setumpuk map laporan kelompok sains. Rambutnya bergelombang ringan diterpa angin dari jendela koridor yang terbuka. Begitu melihat sosok Rian keluar dari ruang perpustakaan, Maya langsung mempercepat langkahnya dan menghampiri pemuda itu.

"Rian! Syukurlah aku berhasil menemukanmu sebelum bel masuk berbunyi," sapa Maya sedikit terengah-engah, berdiri di hadapan Rian.

Rian berhenti melangkah, menatap Maya dengan tenang. "Ada hal penting yang ingin kau sampaikan, Maya?"

Maya mengangguk antusias, menyerahkan selembar jadwal pengumuman resmi dari papan informasi utama sekolah. "Pengumuman resmi untuk babak penyisihan olimpiade sains regional kelompok kita sudah ditempel di papan pengumuman aula utama! Kau tahu? Tim sekolah kita dijadwalkan bertanding sebagai delegasi utama, dan ketua panitia pusat mencatat bahwa proyek kita mendapat sorotan khusus dari para profesor universitas."

Rian melirik lembar pengumuman itu sekilas, lalu mengangguk kecil. "Itu hal yang wajar, Maya. Tim kita telah merumuskan sistem analitis yang jauh lebih efisien dibandingkan standar kurikulum standar."

Maya mendengus pelan, setengah kagum setengah sebal dengan respons datar Rian yang tidak pernah menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. "Kau ini... terkadang aku penasaran, apakah ada hal di dunia ini yang benar-benar bisa membuatmu merasa gugup atau terkejut, Rian?"

Rian tersenyum tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya. "Gugup dan rasa terkejut adalah manifestasi dari ketidaksiapan mental menghadapi kemungkinan di masa depan, Maya. Jika kita memahami hukum dasar dari setiap proses yang sedang berjalan, tidak ada alasan untuk merasa terkejut."

"Baiklah, filosof muda... aku menyerah berdebat denganmu," kata Maya menyerah sambil tertawa kecil. "Omong-omong, setelah pulang sekolah nanti, apakah kau bisa menemaniku sebentar di perpustakaan untuk merapikan referensi bab terakhir laporan kelompok kita?"

"Bisa," jawab Rian singkat dan jelas. "Aku akan menunggumu di meja sudut perpustakaan utama setelah jam pelajaran terakhir selesai."

"Terima kasih banyak, Rian!" ucap Maya riang, lalu berbalik melangkah cepat menuju ruang kelas 11-B karena bel tanda masuk kelas baru saja berdering nyaring menggema ke seluruh penjuru koridor sekolah.

Rian memandang punggung Maya sejenak sebelum membalikkan badan dan melangkah tenang mengikuti irama langkah kaki para siswa lain yang memasuki ruang kelas.

Di dalam tubuhnya, inti energi Qi berputar sangat stabil, menyatu dengan kesadaran penuh bahwa setiap detik waktu yang berjalan di dunia fana ini adalah bagian dari perjalanan panjang menuju pemahaman kosmik yang abadi. Pintu kelas terbuka lebar, menyambut langkah sang arsitek muda kembali ke dalam panggung peradaban modern yang siap ia taklukkan dengan ketenangan mutlak.

1
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!