Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30.
Perayaan wisuda masih berlanjut di sebuah kafe besar yang disewa oleh angkatan fakultas kedokteran. Suara tawa dan musik pelan memenuhi ruangan, menjadi penutup manis bagi perjuangan bertahun-tahun. Di satu meja di sudut ruangan, Keanu Abigail sedang duduk bersama beberapa teman dekatnya. Gelas minuman di tangannya sudah berkurang separuh, namun pikirannya tidak benar-benar ada di percakapan yang terjadi di sekelilingnya. Matanya sesekali melirik ke arah keramaian, mencari sosok yang sudah lama ia simpan di hati—Alana. Meski tadi ia sudah melihat Alana bersama tunangannya, dan meski ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk ikhlas, rasa berat di dada itu sulit untuk dihilangkan. Itu adalah rasa cemburu, rasa kehilangan, yang ia usahakan sembunyikan di balik wajah tenangnya.
Tiba-tiba, bayangan tubuh tinggi dan tegap menghalangi cahaya di hadapannya. Keanu mengangkat wajah dan bertemu dengan sepasang mata biru yang tajam—mata milik Aslan Lenoir. Suasana di meja itu seketika menjadi hening. Teman-teman Keanu menyadari aura yang berbeda dari pria yang berdiri di sana, dan perlahan mereka pamit undur diri, menyisakan Keanu dan Aslan berhadapan.
Aslan menarik kursi di hadapan Keanu dan duduk dengan santai namun penuh wibawa, seolah ia adalah pemilik tempat itu. Ia menatap langsung ke mata Keanu, tidak berniat bermain kucing-kucingan.
"Aku melihat caramu menatapnya tadi," ucap Aslan langsung, suaranya rendah namun jelas terdengar di antara kebisingan ruangan. "Bukan sekadar tatapan teman. Aku tahu itu, karena aku juga menatapnya dengan cara yang sama. Bahkan mungkin lebih dari itu."
Keanu menahan napas sejenak, jari-jarinya mengerat memegang gelas kaca itu. Rasa cemburu yang tadi ia pendam kini bergejolak kembali, ditambah dengan tantangan yang dilontarkan langsung oleh orang yang kini memegang apa yang sebenarnya juga ia inginkan. Namun, sifatnya yang terlatih sebagai calon dokter membuatnya terbiasa menghadapi tekanan. Ia menarik napas panjang, berusaha tetap tenang, lalu menatap balik Aslan dengan keteguhan yang setara.
"Dan apa yang ingin kau lakukan dengan pengetahuan itu, Tuan Lenoir?" jawab Keanu, suaranya tenang namun ada getaran emosi di dalamnya. "Aku tidak menyangkal bahwa Alana adalah orang yang sangat istimewa. Selama bertahun-tahun kami belajar bersama, dia adalah cahaya di tengah kesulitan. Aku peduli padanya, sangat peduli. Itu bukan sesuatu yang bisa aku matikan hanya dengan satu perintah."
Aslan menyipitkan matanya. Dugaannya benar. Pria di depannya ini tidak hanya sekadar suka, ia mencintai Alana. Namun, alih-alih meledak dalam kemarahan, Aslan justru merasa tertantang. Ia melihat bahwa Keanu adalah pria yang kuat, yang memiliki prinsip dan pandangan yang teguh—sifat yang mirip dengan dirinya sendiri. Keduanya adalah tipe orang yang jika sudah memutuskan sesuatu, akan berpegang teguh padanya. Perbedaannya hanya satu, Alana sudah menjadi miliknya.
"Aku tahu orang istimewa ketika melihatnya," sahut Aslan, nada suaranya tetap terkontrol namun tajam. "Dan aku juga tahu batasan. Kau peduli, itu bagus. Tapi ingatlah satu hal, Keanu. Peduli dan memiliki adalah dua hal yang sangat berbeda. Alana adalah tunanganku, dan dia akan menjadi istiku. Tidak ada ruang bagi orang lain, tidak peduli seberapa besar perasaanmu."
Keanu tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit namun penuh pengertian. "Aku tahu batasanku, Aslan. Aku tidak berniat merebut atau merusak apa pun yang kalian miliki. Aku hanya... berharap aku yang ada di posisimu. Tapi nasib tidak berpihak padaku. Aku hanya ingin dia bahagia. jika dia bahagia denganmu, maka aku akan menerimanya."
"Dia bahagia denganku, dan aku akan memastikan itu selamanya," jawab Aslan tegas. Ia berdiri, menatap Keanu sekilas terakhir. "Nikmati perayaanmu. Tapi jangan berharap lebih. Karena apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku sampai kapan pun."
Aslan berbalik pergi, meninggalkan Keanu yang masih duduk dengan pikiran yang berantakan. Meski percakapan itu berjalan tenang, keduanya tahu bahwa itu adalah pertarungan diam-diam antara dua pria yang sama-sama kuat dalam memegang prinsip dan perasaan mereka. Namun, Aslan sudah mendapatkan jawabannya: ia harus lebih waspada, dan ia harus memastikan seluruh dunia—termasuk Keanu Abigail—tahu siapa pemilik hati Alana yang sesungguhnya.
Setelah meninggalkan meja itu, Aslan berjalan menyusuri keramaian mencari Alana. Ia bertanya pada beberapa teman Alana yang ia temui, dan akhirnya mendapat informasi bahwa gadis itu pergi ke kamar mandi wanita yang terletak di lorong belakang.
Aslan berjalan menuju lokasi tersebut. Lorong itu lebih sepi dan tenang dibandingkan ruang utama. Ia berdiri tegak tepat di depan pintu kamar mandi, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, posturnya menjulang dan mengesankan. Beberapa wanita yang keluar dari kamar mandi meliriknya dengan rasa ingin tahu, namun mereka segera berjalan cepat pergi karena aura serius yang dipancarkan pria itu. Aslan tidak peduli. Di pikirannya hanya ada satu tujuan. saat Alana keluar, dia harus tahu, dan siapa pun yang melihat harus tahu, bahwa gadis itu miliknya satu-satunya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Alana keluar dengan wajah yang sudah diperbaiki riasannya, namun ia terkejut saat melihat Aslan berdiri di sana seperti penjaga yang tak tergoyahkan.
"Aslan? Apa yang kau lakukan berdiri di sini?" tanya Alana pelan, matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang memperhatikan terlalu lama. "Kau membuat orang melihat-lihat, tahu."
"Biarkan mereka melihat," jawab Aslan sama persis seperti jawabannya saat perpisahan dulu. Ia tidak memberi kesempatan bagi Alana untuk berjalan menjauh. Dengan langkah cepat, Aslan melangkah maju, menyandarkan satu tangannya di dinding di samping kepala Alana, menciptakan ruang pribadi di tengah lorong itu—sebuah gerbang yang menandakan kepemilikan.
Wajahnya mendekat, membuat Alana mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Alana bisa merasakan hangatnya napas pria itu.
"Aku baru saja berbicara dengan Keanu," ucap Aslan perlahan, suaranya rendah dan dalam, langsung menembus telinga Alana. "Dan aku semakin sadar bahwa ada banyak orang di dunia ini yang mungkin menyadari betapa berharganya dirimu. Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan dia atau siapa pun yang datang setelahnya, berpikir bahwa ada celah untuk masuk."
Alana menatap mata Aslan, ia bisa melihat keteguhan dan juga sisa-sisa kecemasan di sana. "Aslan..."
"Biarkan aku bicara," potong Aslan lembut namun tegas. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Alana dan memutarnya agar gadis itu hanya menatap dirinya. "Kau milikku, Alana. Di sini, di sana, di mana pun. Di depan teman-temanmu, di depan keluargamu, dan di depan siapa pun yang mencoba mengklaim bagian darimu. Aku ingin semua orang tahu. Aku ingin dia tahu."
Tanpa menunggu jawaban, Aslan menundukkan wajahnya. Ia tidak hanya mencium Alana dengan lembut, melainkan sebuah ciuman yang tegas dan penuh penegasan. Tangan besarnya bergerak memeluk pinggang Alana erat, menarik tubuh gadis itu menyatu dengan tubuhnya, seolah ingin menyatukan keberadaan mereka agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan. Ciuman itu adalah pernyataan, adalah tanda, adalah peringatan bagi siapa saja yang mungkin melihat atau mendengar.
Ketika Aslan akhirnya melepaskannya, Alana terengah-engah, wajahnya memerah padam, dan tatapan matanya kabur karena rasa malu dan cintanya. Aslan menempelkan dahinya pada dahi Alana, matanya menatap tajam namun penuh kasih.
"Ingat itu, Sayang," bisiknya. "Selalu ingat bahwa kau milikku. Dan aku tidak akan pernah berbagi."