NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

“Dewinta, kapan lahiran?” tanya Garra usai melakukan check up berkala diruangan Jong Hwa.

“Bulan depan. Kenapa? Mau nyumbang dana?” sahut Jong Hwa.

“Dih, gaji suami, istri udah segede itu. Anak yang dikeluarin cuma satu tapi, masih minta dana,” ejek Garra sembari duduk di sofa.

“Siapa tau. Tapi, kemungkinan kamu punya anak bisa, kok,” ucap Jong Hwa sambil menyerahkan segelas teh lemon panas dan duduk di hadapannya.

“Hmm,” ujar Garra usai menyeruput tehnya, “aku udah obrolin ini berkali-kali sama Echa. Dia bilang, gak mau buang-buang duit buat bayi tabung. Cukup Rouwheen yang diurus. Aku juga mikir, banyak waktu yang udah kami buang sia-sia cuma untuk proses tarik-ulur yang akhirnya punya ujung.”

“Jadi, maksudnya cuma mau berdua terus?”

“Iya. Kasian Echa juga kalo harus ngejalanin prosedur operasi. Udah cukup sakitnya, gak perlu nambahin sakit dengan nyayat-nyayat badannya cuma untuk makhluk lain.”

“Tapi, kamu sering bilang, Tuhan baik. Kita gak boleh nolak pemberian Tuhan.”

“Iya, Tuhan baik. Dan aku gak nolak. Cuma untuk usaha yang berujung nyakitin Echa lagi, aku gak mau. Echa juga bilang, dia takut gak adil kalopun bisa punya anak lagi.”

“Haaa…yah, gak apa-apa, sih. Keputusan di tangan kalian. Kalopun ada berubah pikiran, aku siap bantu kapan aja.”

“Eung, *gomawo*(Iya, makasih),” ujar Garra tulus.

“Tapi, ngomong-ngomong soal makasih, abis nikah sama Jeni, Min Gyu jadi jarang ngikutin kamu?” tanya Jong Hwa dengan kening berkerut.

“Kulonggarkan sedikit. Kasian istrinya. Apalagi hamil kembar itu.”

“Eh, iya?” tanya Jong Hwa tak percaya.

“Gak tauuu…baru testpack. Ngasal aja aku,” sahut Garra santai.

“Aish, jinjja,” umpat Jong Hwa kesal, “pantesan aku gak tau.”

“Ya, iya. Kan, belum periksa sama kamu.”

“Mmm…tapi, maaf, aku penasaran, gimana rasanya besarin anak orang?”

Sempat Garra terseyum geli mendengar pertanyaan Jong Hwa yang terdengar tidak nyaman namun, rasa penasaran membuatnya selalu kalah sama diri sendiri.

“Baik-baik aja. Yang aku besarin anak umur lima tahun. Secara finansial mungkin lebih berat. Tapi, secara mental, Rouwheen termasuk anak yang mudah diatur. Dia cukup dewasa nerima keadaan sama kehadiranku. Walaupun, kadang ada rasa cemburu, takut aku ngambil Echa sepenuhnya.”

“Ada rasa gak percaya yang terbangun karena dia ngerasa cuma punya Echa aja sekarang?”

“Yap. Tapi, balik ke pribadi orang baru kaya aku. Baginya, aku orang baru di hidupnya. Karena dia lahir cuma kenal Echa sama Zayn. Tapi, namanya anak kecil, tergantung kita gimana kondisikan perasaannya.”

“Haaa…Min Gyu emang bisa gitu?”

“Kau tanya orangnya. Dia bisa nikahin Jeni, harusnya bisa juga ngelakuin hal yang sama kaya aku. Karena Daryl, tuh, seumuran sama Rouwheen.”

“Tapi, traumanya beda.”

Diam, Garra tampak berpikir.

“Eh, iya. Echa cerai mati, Jeni cerai hidup. Tau, ah. Tanya aja sama Min Gyu nan…”

PRANG!

“KYAAA…”

Sontak mereka beranjak dari perbincangan santai dan langsung berlari menuju ruang utama klinik tempat penerimaan pasien. Terlihat seorang pria bertubuh besar dengan wajah merah padam hampir memukul wajah salah satu perawat baru di klinik mereka.

“Kenapa ini, Pak?” tanya Jong Hwa yang sempat menahan tangan Sang Pria.

“Dia bilang, dia gak bisa selametin nyawa istri saya dan harus ngerujuk ke rumah sakit. Kalo ke rumah sakit lagi, istri saya bisa mati di jalan.”

Tetap diam, Garra melangkah masuk ke unit gawat darurat, meninggalkan Jong Hwa yang tengah dicerca dengan pria tersebut.

“Kenapa?” tanya Garra pada Kharisma yang tengah menangani pasien yang bersangkutan.

“Kena luka tembakan dan harus di operasi langsung,” bisik Kharisma usai menjauh dari ranjang pasien.

Kening Garra berekerut.

“Kita gak bisa?” tanya Garra.

“Dokter Bedah kita cuma dua. Keduanya cuti.”

“Oh, iya,” sahut Garra membenarkan, “terus? Beneran gak bisa?”

“Kena di lambung. Lumayan dalam.”

“Kena lambung? Boleh kuliat gak?”

Hanya anggukan dan Garra pun dibimbing Hardi mendekati pasien yang tampak memucat tidak sadarkan diri.

“Kok kaya luka tembak jarak deket,” bisik Garra.

“Apa, Pak?” tanya Kharisma.

“Oh! Gak. Kalo memang harus rujuk, rujuk aja tapi…”

BRAK!

Terkejut namun, Garra berusaha santai melihat properti kliniknya hampir hancur karena suami pasien yang mengamuk.

“Kamu bisa operasi gak?” bisiknya pada Jong Hwa yang ikut masuk ke UGD.

“Bisa. Tapi, kan, aku dokter kandungan. Gak usah ngadi-ngadi,” omel Jong Hwa.

“Heh! Barangku hancur semua. Kalo kamu berhasil, aku mau ngegas balik.”

“Taruhannya nyawaku,” omel Jong Hwa.

“Gak. Pake nyawaku,” ujar Garra sambil mengedipkan satu matanya penuh arti.

Tidak ada perlawanan dan Jong Hwa pun hanya bisa pasrah usai Garra menepuk cukup kuat pundaknya.

Bahkan manusia yang menganggap makhluk lain lebih kecil karena hartanya pun akan kelihatan bodoh setelah diselamatkan…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!