Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 26 - Sander, Berbahagialah..
Pupil mata Fasha membesar tanpa sadar. Punggungnya terangkat dari sofa, tulang punggungnya menegang, sementara tatapannya langsung tertuju pada rahang Sander.
Ujung jarinya yang ramping menekan rahang bawahnya sendiri. Buku-buku jarinya sedikit memutih, seolah ia sedang menahan amarah dengan segenap tenaga.
Fasha berkedip, berpikir keras bagaimana harus menjawab tanpa membuat Sander menyadari bahwa ia sebenarnya tidak sepenuhnya tidak tahu apa-apa.
Bocah kecil itu—yang berani menyebut Sander sebagai “orang tua”—benar-benar keterlaluan.
Akhir-akhir ini, istilah orang tua terasa terlalu berlebihan. Pada usia dua puluh delapan tahun, seseorang sudah dianggap tua, sementara Fania yang berusia dua puluh dua masih disebut muda.
“Fasha, apakah sesulit itu menjawab pertanyaan ini?”
Sander melirik arlojinya. Fasha telah terdiam selama setidaknya delapan puluh lima detik, jauh melampaui batas kesabarannya.
'Hah. Jadi Fasha juga mengira diriku sudah tua?.'
“Sander, kamu tidak tua,” kata Fasha akhirnya. “Kamu sangat tampan. Luar biasa tampan.”
Sander bergumam tanpa komitmen, lalu menjawab dingin, “Begitukah?”
Fasha mengangguk bersemangat. Matanya berbinar seperti bintang yang hampir meledak.
'Sander, sejauh ini kamu adalah pria paling tampan yang pernah aku lihat. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa terpikat hanya dengan penampilan mu?'
Di dunia nyata, ia bahkan rela menabung dan mengumpulkan semua hartanya hanya untuk mendukung Sander yang hanya sebuah tokoh dalam novel. Itu jelas adalah kekonyolan karna pada kenyataannya ia memberi makan sang penulis uang membuat Sander mati dalam ceritanya.
“Tampan dan tua itu dua hal yang berbeda,” lanjut Sander datar. “Seseorang bisa saja tua, tapi tetap tampan.”
Fasha tertegun. Sudut pandang yang benar-benar baru. Ia hampir ingin bertepuk tangan dan mengacungkan jempol—tak mampu membantah sama sekali.
“Fasha, kenapa kamu kabur?”
Wajah Sander langsung menggelap. Fasha, sadar dirinya tak bisa menjawab, refleks mencari alasan untuk pergi.
“Aku… sedang mencuci tangan.”
Ia membersihkan minyak di jarinya dengan hati-hati. Aroma mawar tertinggal di ujung-ujung jarinya. Saat ia menurunkan tangan dan mendongak, tatapannya bertemu dengan mata Sander yang penuh selidik. Pria itu bersandar di kusen pintu.
Setetes air jatuh dari ujung jari Fasha yang halus, seolah menetes tepat ke hati Sander yang bergetar pelan. Ia mengernyit tipis, lalu mengambil sapu tangan sutra abu-abu muda dari saku jasnya dan menyerahkannya.
“Lap.”
“Tapi tanganku bersih, Sander. Tidak kotor.”
Sander terdiam, bingung dengan maksudnya. Beberapa detik kemudian, Fasha tiba-tiba mendekat. Ia berdiri berjinjit dan meletakkan satu tangannya di bawah rahang Sander.
Tatapan mereka bertemu. Suasana lembut meledak di ruang kecil yang tertutup itu.
Jari-jari Sander mengepal di sisi tubuhnya. Ia melangkah mundur, tetapi tangan di bawah rahangnya tak juga dilepaskan. Fasha justru bersandar ke lengannya.
Jantungnya berdebar kencang. Kepala Fasha terasa berputar, diselimuti aroma segar dan dingin milik Sander. Ia bahkan tak tahu siapa di antara mereka yang jantungnya berdetak lebih keras.
“Sander, kamu sama sekali tidak tua,” ucap Fasha lirih. “Mereka hanya iri dan asal bicara. Lagipula, mereka tidak tahu itu kamu. Mereka mengira itu orang lain.”
Keluarga Carter memang ingin membuat masalah besar, tetapi Sander merahasiakan pertunangannya.
Tak seorang pun cukup bodoh untuk mengungkit pernikahan itu—terutama karena Fasha… yah, ia tidak dikenal sebagai orang paling istimewa baginya.
“Hm.”
Kepala Fasha yang lembut mengusap rahang Sander sebelum ia tertawa kecil dalam pelukan itu, matanya menyipit bahagia.
Betapa menyenangkannya jika bisa selalu dekat dengan Sander.
“Fasha, berdiri yang benar.”
Sander menariknya menjauh, memegang bahunya, lalu merapikan pakaian Fasha yang sedikit kusut. Setelah itu, ia mundur selangkah.
“Kak, jangan marah, ya?” Fasha berkata dengan suara manis. “Mereka cuma ingin membuatmu kesal. Kamu masih di usia yang normal.”
Tatapan Sander menyempit. Ia semakin merasa bahwa Fasha tidak sebodoh yang orang-orang katakan. Justru… cukup cerdas.
“Kamu tahu berapa umurku?”
'Tahu dong.. aku tahu semua tentang kamu!'
Fasha ingin mengatakan itu sambil berteriak, namun pada akhirnya ia hanya menggeleng, memainkan ujung jarinya yang masih terasa hangat.
Dengan wajah memerah, ia menjawab, “Yang aku tahu, kamu terlihat sangat tampan.”
“Ayo,” kata Sander akhirnya. “Kita lihat apa ada yang ingin kamu beli.”
Mereka berkeliling dari lantai ke lantai. Pada akhirnya, sepuluh ribu yuan milik Fasha hanya cukup untuk sebuah dasi.
“Halo, boleh saya lihat dasi itu?”
“Tentu.”
Dasi sutra hitam itu terasa ringan, namun berstruktur indah. Kilau halusnya memantulkan cahaya—sangat cocok untuk Sander.
Fasha mengangkat dasi itu ke leher Sander. Aura intelektual dan ketenangan langsung terpancar.
“Bungkus yang ini.”
Mata staf toko membelalak. Jarang ada yang membayar tunai, apalagi mengeluarkan hampir sepuluh ribu yuan sekaligus.
“Baik. Uang kembaliannya dua ratus tujuh puluh delapan yuan.”
Kotak biru muda diserahkan kepada mereka. Begitu keluar dari toko, Fasha langsung memberikan tas itu pada Sander.
“Sander, ini untukmu.”
“Untukku?” Sander terkejut. Ia mengira Fasha hanya sekadar melihat-lihat.
“Harganya hampir sepuluh ribu yuan,” katanya pelan. “Aku mengajakmu keluar untuk beradaptasi, bukan untuk menerima hadiah.”
“Kelihatannya cocok untukmu,” jawab Fasha polos. “Lagi pula itu uangku.”
Ia hanya ingin melihat Sander tersenyum.
Sander jarang menerima hadiah.
Ibunya meninggal karena komplikasi persalinan. Sejak hari itu, ulang tahunnya selalu menjadi hari berkabung—hari yang tak pernah dirayakan siapa pun.
Hingga usia dua puluh delapan tahun, hadiah yang ia terima bisa dihitung dengan jari.
Ujung jari Fasha menyentuh pergelangan tangan Sander, mengusap retakan halus di permukaan jam tangannya.
Ia menatap Sander lembut.
“Sander.., berbahagialah, ya?”
'Dalam alur ini, nasib buruk tidak boleh terjadi padamu, Sanderku..'
tetep semangat thoor/Angry/, jangan lupa istirahat minum vitamin