NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengganggu pikiran

Pie tak begitu fokus bekerja setelah mendapat telepon dari Kim. Ia seperti seorang pemain, hatinya terlalu murahan. Di mana-mana menaruh perasaan, pada Tama ia masih memiliki rasa, pada Kim hatinya berdebar tak karuan, pada Reami si brengsek bisa-bisanya ia sempat menyukai laki-laki itu. Pie tak mengerti dengan hatinya yang mudah jatuh pada orang lain.

"Pie, bisa kau cuci ini dulu?" rekan kerjanya mencolek lengan Pie yang sedang menunggu kue-kue di dalam kukusan.

"Uh? Ya, ya. Aku akan mencucinya." Pie segera melakukannya, ia mencuci wajahnya terlebih dulu agar lebih fokus dalam bekerja, hari ini pesanan sudah dikerjakan hampir separuh, jam makan siang akan segera datang.

"Hoi! Kalian sudah makan?" Jemmy datang dari pesan antar menenteng beberapa kantung plastik di tangannya.

Pie dan Rum yang berada di dapur melongok ke arah luar untuk melihat Jemmy yang berwajah ceria.

"Apa yang kau bawa Jem?"

"Rum, Pie aku membeli kopi, aku baru saja mendapatkan tip dari pelanggan." Jemmy membagikan masing-masing cup kopi pada Pie dan Rum.

"Kau selalu begini, selanjutnya kau bisa menyimpan uang tip untuk kau menabung." Rum menasehati Jemmy yang terlalu royal pada mereka.

"Terima kasih, Jem." Pie segera menyimpan kopi miliknya ke lemari pendingin yang ada di dapur.

"Ah, manis sekali di dengar ucapan Pie ini." Jemmy terkekeh kecil melirik Rum.

"Sebentar lagi jam makan siang, sebaiknya jangan dilanjut kuenya."

"Aku bisa mengawasinya sambil makan, Jem." Rum sedang menyiapkan bahan-bahan kue selanjutnya, sedang Pie kembali mengurus cucian alat-alat memasak.

"Ya, ya. Terserah kau saja, Rum. Aku akan kembali mengantar pesanan selanjutnya. Jadi kalian makan saja terlebih dahulu." Jemmy memeriksa catatan pembeli hari ini dan mengecek pizza yang akan di antar.

"Ah, sabunnya tinggal sedikit lagi."

"Apa, Pie? Ada sabun cadangan di laci bawah." Rum menunjuk lemari kabinet.

"Oh, oke."

"Rum, sepertinya ada beberapa bahan yang habis, aku akan keluar membeli bahan. Kau ada titipan?"

"Tidak ada."

"Ok, aku pergi, Pie."

"Ya, hati-hati di jalan."

"Okee."

Sesekali Pie memeriksa kue yang sedang dimasak, kini ia seorang diri di dapur yang lumayan luas dengan beberapa kukusan yang sedang menyala.

"Kemana yang lain?" itu suara Bos Mel

"Jemmy mengantar pesanan, Rum sedang membeli bahan."

Bos Mel manggut-manggut. Ia memeriksa keadaan dapur yang sedang berperang. Ia beranjak menuju meja kasir dan memeriksa pembukuan.

"Pie, istirahat dulu. Biar mereka nanti menyusul. Kukusan biar aku yang awasi." Bos Mel sedikit berteriak pada Pie yang berada di dapur.

"Baik, bos."

Pie segera beristirahat dan mengambil jatah makan siang yang diberikan oleh Bos Mel.

Dirinya masih terpikirkan oleh Kim yang tadi pagi menelepon, mengapa ia begitu senang dengan kehadiran Kim? Apakah ia masih memiliki perasaan pada mantannya itu?

"Pie? Kau kenapa? Kenapa makan siangmu hanya kau aduk-aduk?" Bos Mel mengernyit melihat kelakuan Pie yang hari ini tampak beda.

Pie menggeleng cepat.

"Tidak ada, hanya sedikit memikirkan sesuatu. Aku akan cepat makan siang, Bos."

"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin jika kau memiliki masalah berat atau sedang sakit tapi memaksa bekerja."

"Tidak, Bos. Maaf. Aku takkan mengulanginya lagi."

Bos Mel hanya menghela napas, Pie tak menangkap maksudnya, jadi benar perkiraannya bahwa Pie sedang ada masalah.

"Halo, Bos. Baru datang?"

Rum datang membawa bahan yang ia beli, menghampiri Bos Mel yang duduk di balik meja kasir.

"Tidak juga. Kau beli apa, Rum?"

"Aku beli telur, mentega dan baking powder. Juga beberapa plastik packing yang stocknya tinggal sedikit." Rum menata barang belanjaan ke rak-rak penyimpanan. Bos Mel hanya mengangguk.

"Kau makan siang lah, itu Pie sedang istirahat. Apa kau bertemu Jemmy?"

"Tidak. Dia ke rute gunung." Rum mengambil piring dan berlalu ke area belakang menemui Pie yang sedang makan.

"Pie, kau memikirkan apa?"

"lelaki."

Rum setengah menganga mendengar jawaban singkat dari Pie.

"Ada apa ini? Sejak kapan kau jatuh cinta?" Rum antusias sembari menyuapkan nasi.

"Bukan jatuh cinta, Rum. Tapi masa lalu yang kembali menyapa."

"Astaga. Apa dia mengganggumu?"

Pie berpikir sejenak. Rum mengambil timun di piring Pie, gadis itu hanya membiarkan rekannya melakukan hal itu sebab sudah terbiasa. Pie tidak terlalu suka timun.

"Ya. Dia menghilang lalu datang mengajak bertemu."

"Lalu?"

"Aku senang tapi juga ragu. Dulu dia mencampakkanku."

"Oh my.. Kau perlu saran?"

"Kau ada saran? Aku sangat membutuhkannya."

"Jika aku jadi kau, aku akan membalasnya."

"Walaupun kau masih memiliki rasa?"

Rum berhenti mengunyah dan menatap Pie yang juga menatapnya. Lalu ia menyeringai kecil.

"Itu sepertinya akan jadi bahan pertimbangan."

Pie menghela napas.

"Saranmu semakin membuatku bingung."

Rum hanya terkekeh pelan.

Pie beranjak dari duduk.

"Kau mau ke mana?"

"Mengambil kopi."

"Astaga! Aku lupa. Tolong ambilkan milikku juga."

Pie hanya mengangguk berlalu.

Pukul 7 malam, Pie baru selesai membereskan semua alat-alat memasak.

"Astaga, lelahnya." Rum merenggangkan ototnya setelah menyimpan alat-alat ke penyimpanan.

"Padahal kau hanya sesekali membantu Pie, tapi mengeluhmu seperti kuli batu di gunung." Jemmy menyedot kopinya sembari bersandar di dinding. Penampilannya sudah kusut dan kusam akibat terpapar matahari.

"Ishh, iri saja kerjamu."

"Apa? Iri? Never ever! Meskipun aku lelah ke sana ke mari, tapi gajiku lebih besar dari kalian."

"Besar karena itu pakai motor pribadi. Jika Bos Mel menyediakan motor untuk pengantar, gajimu sama saja dengan kami."

Jemmy diam sejenak berpikir. Ada benarnya juga apa yang diucapkan oleh Rum.

"Aku sudah selesai, kalian tidak pulang?" Pie masuk ke ruang tengah dengan wajah lelah.

"Kau tidak duduk dulu?" Jemmy menepuk lantai dingin di sisinya.

"Tidak. Aku sudah lelah, ingin cepat beristirahat di rumah."

"Baiklah, aku nanti saja." Rum menyela. Jemmy ikut mengangguk.

"Kalau begitu aku duluan." Pie mengambil tas dan helm miliknya dan keluar dari toko.

"Hati-hati, Pie." Pie sudah sangat lelah rasanya tak sanggup untuk menyahut, ia hanya melambaikan tangan dan memberi klakson sebelum keluar dari area toko.

"Jemmy! Kau jangan tidur di toko!" Rum melempar gelas plastik kopi miliknya yang sudah habis.

"Astaga, Rum! Aku mengantuk. Kau pulang saja tak usah menggangguku."

"Ayo kuantar kau pulang!"

"Kenapa kau sangat cerewet, huh?"

"Bagaimana tidak? Kau tidak pulang, maka ponselku yang terus berdering dengan panggilan ibumu!"

Jemmy meringis menatap Rum yang berwajah galak.

Mereka membereskan barang-barang mereka lalu mengunci toko. Akhirnya, Jemmy diantar oleh Rum pulang. Sepeda motor miliknya ia tinggal di pelataran toko setelah ia berikan berbagai kunci dan rantai sebagai pengaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!