NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kata-kata itu bagaikan vonis mati bagi Devano. Ia melihat tubuh Sheila yang pucat dilarikan ke ruang operasi oleh Arkan dan tim medis. Lantai koridor yang tadinya bersih kini ternoda oleh tetesan darah Sheila, sebuah jejak kepedihan yang ia ciptakan sendiri.

​"Pergi, Devano! Pergi!" usir Bunda Rini sekali lagi sambil terisak di pelukan Risma.

​Devano mundur selangkah, lalu dua langkah. Ia tidak bisa membela diri. Ia tidak punya hak untuk tetap di sana. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia berbalik dan keluar dari rumah sakit.

Suasana di depan ruang operasi begitu mencekam. Lampu merah di atas pintu menyala, menandakan perjuangan hidup dan mati sedang berlangsung di dalam sana.

Hiks! Hiks!

Bunda Rini terduduk lemas di bangku tunggu, bahunya terguncang hebat karena tangis yang tak kunjung usai.

​"Tenang Bunda, semuanya pasti akan baik-baik saja," ucap Risma sambil merangkul pundak Bunda Rini. Suaranya bergetar, namun ia mencoba tegar demi menguatkan wanita tua itu. Risma menatap pintu operasi dengan pandangan prihatin. ia tahu betapa berat beban yang dipikul Sheila selama ini, dan sekarang, di saat ia baru saja melahirkan, cobaan ini datang bertubi-tubi.

Suasana di dalam ruang operasi sangat kontras. Dingin, steril, dan hanya diisi oleh bunyi mesin electrocardiogram (ECG) yang berbunyi monoton.

​Pip... pip... pip... piit—

Arkan bekerja dengan sangat cekatan. Keringat dingin mengucur di pelipisnya meski suhu ruangan sangat rendah. Matanya fokus pada monitor yang menunjukkan detak jantung Sheila yang melemah.

​"Tekanan darah turun! Tambah dua kantong darah lagi, cepat!" perintah Arkan dengan suara tegas namun terkendali.

Tangan Arkan bergerak dengan presisi yang luar biasa. Di balik masker bedahnya, rahangnya mengatup rapat. Ia menatap monitor, lalu

​Arkan menatap wajah pucat Sheila yang tertutup masker oksigen. Di dalam hatinya, ia membisikkan doa dan kata-kata penyemangat. "Bertahanlah Sheila! Kamu wanita yang kuat, aku akan selalu ada di samping kamu. Jangan menyerah sekarang, anakmu membutuhkanmu," batin Arkan sambil terus berupaya menghentikan pendarahan hebat pada luka operasi Sheila.

​Bagi Arkan, Sheila bukan sekadar pasien. Melihat ketangguhan Sheila menghadapi cobaan selama masa kehamilan tanpa pendamping, telah menumbuhkan rasa hormat dan empati yang sangat dalam di hatinya.

Menit demi menit berlalu seperti berjam-jam. Arkan berjuang melawan waktu untuk menghentikan pendarahan hebat di rahim Sheila. Hingga akhirnya, suara mesin ECG kembali stabil.

​"Syukurlah..." Arkan mengembuskan napas panjang. "Semuanya berjalan dengan baik. Biarkan dia istirahat, lalu pindahkan ke ruang perawatan intensif jika kondisinya terus membaik."

" Baik Dok," Kata Suster yang menemani Arkan.

Arkan melangkah keluar dari ruang operasi. Ceklek Bunyi pintu yang terbuka membuat Bunda Rini dan Risma langsung berdiri dengan wajah penuh kecemasan.

​"Bagaimana keadaan Sheila, Dok?" Tanya Bunda Rini, suaranya hampir hilang karena terlalu banyak menangis.

​Arkan melepas maskernya, menampakkan wajah lelah namun memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Syukurlah, Sheila sudah melewati masa kritisnya. Kita sudah berhasil menghentikan pendarahannya. Sekarang, dia hanya perlu istirahat total."

​"Alhamdulillah..." Bunda Rini jatuh terduduk di kursi, menangis sejadi-jadinya—kali ini karena lega. Risma memeluknya erat, air mata syukurnya pun mengalir.

​Namun, Arkan tidak sepenuhnya santai. Ia melirik kursi tunggu yang kosong, tempat Devano tadi berdiri. Ada rasa iba sekaligus tanggung jawab besar di pundaknya.

​"Bunda, Risma," panggil Arkan pelan. "Fisik Sheila mungkin sudah membaik, tapi batinnya sangat rapuh. Saat dia bangun nanti, hal pertama yang akan dia cari adalah bayinya. Kita harus bersiap untuk itu."

​Risma mengangguk lemah. "Lalu... bagaimana dengan Devano, Dok?"

​Arkan terdiam sejenak. "Untuk saat ini, jarak adalah obat terbaik bagi Sheila. Biarkan dia tenang tanpa bayang-bayang pria yang memicu traumanya."

Ruang pemulihan itu sangat tenang, hanya ada suara detak jarum jam dan dengungan halus mesin medis.

Bunda Rini terduduk lemas di samping tempat tidur, tangannya tak henti mengelus dahi Sheila yang masih terpejam. Di sudut lain, Risma berdiri mematung, menatap sahabatnya dengan tatapan yang hancur.

​"Aku berharap setelah kamu bangun nanti, kamu siap dan lebih kuat dari sebelumnya, Sheil," batin Risma, matanya memanas. "Kehilangan seorang anak yang baru saja kamu lahirkan tanpa sempat mendekapnya... itu ujian terberat bagi siapa pun. Dan aku nggak tahu apa kamu sanggup melaluinya."

​Risma mengepalkan tangannya. Ia membayangkan bagaimana reaksi Sheila saat bangun nanti.

Kelopak mata Sheila terbuka perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menghalau kabut putih yang mengaburkan pandangannya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hampa yang luar biasa di perutnya—perasaan yang berbeda dari sekadar luka operasi.

​"Bun...da..." bisik Sheila parau.

​"Iya sayang, Bunda di sini. Ada Risma juga," Bunda Rini mencium tangan putrinya berkali-kali.

​Pandangan Sheila mulai fokus. Ia melihat wajah sembab Bunda dan mata merah Risma.

Insting seorang ibu langsung berteriak di dalam dadanya.

​"Bayiku... mana?" tanya Sheila. Suaranya gemetar, dipenuhi ketakutan. "Bun, anakku... di mana? Dia sudah boleh aku gendong, kan?"

​Bunda Rini terdiam. Ia membeku, mulutnya terkunci oleh sesak yang luar biasa. Ia hanya mampu menunduk, bahunya mulai berguncang hebat karena isak tangis yang tertahan.

​Sheila beralih menatap Risma, mencari jawaban yang lebih pasti. "Ris? Kenapa kalian diam? Di mana anakku? Arkan bilang dia pejuang kecil... dia di NICU, kan?"

​Risma melangkah mendekat, ia menggenggam tangan Sheila yang satunya. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. "Sheila... maafin kami..."

​Dunia Sheila seakan runtuh dalam detik itu juga. "Enggak... jangan bilang maaf. Aku mau lihat anakku! Lepasin semua kabel ini! Aku mau ke NICU!"

​"Sheila, tenang! Luka kamu bisa robek lagi!" Risma mencoba menahan tubuh Sheila yang mulai meronta histeris.

​"DI MANA ANAKKU, RIS?! DI MANA!" teriak Sheila. Suaranya melengking pilu, memenuhi seluruh koridor rumah sakit.

​Di luar pintu, Arkan yang baru saja hendak masuk, terhenti dengan tangan di gagang pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kepalanya bersandar pada pintu kayu itu. Sebagai dokter, ia sudah sering melihat kematian, namun kehilangan yang satu ini terasa jauh lebih personal dan menyakitkan.

Sheila meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki, tidak memedulikan rasa sakit yang menghujam perutnya atau selang infus yang tertarik paksa hingga melukai kulitnya. Pikirannya hanya terpaku pada satu hal: kosongnya inkubator itu.

​"Kalian bohong! Anakku masih ada! Dia kuat, Arkan bilang dia kuat!" raung Sheila. Matanya yang sembab menatap liar ke sekeliling ruangan, seolah berharap bayi mungilnya tiba-tiba muncul di sana. "Vano... di mana Vano? Dia yang ambil, kan? Pasti dia bawa anakku ke Papanya?"

​Bunda Rini hanya bisa memeluk kaki putrinya, menangis tersedu-sedu di atas lantai. "Maafin Bunda, Sayang... Bunda nggak becus jaga cucu Bunda sendiri..."

" Aku tidak ingin mendengar maaf kalian, aku hanya ingin melihat anakku,"

Hiks! Hiks!

Arkan mencoba menghampiri Sheila, dengan langkah berat dan pelan Tiba-Tiba Sheila langsung Berhambur memeluk Arkan.

" Dokter Arkan! Di mana anakku? Tanya Sheila dengan wajah yang sembab.

Pelukan Sheila terasa begitu rapuh, seolah wanita itu sedang menggantungkan seluruh sisa hidupnya pada jawaban Arkan. Arkan mematung sejenak, tangannya yang terbalut jas putih bergetar saat menyentuh pundak Sheila yang terguncang hebat. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Arkan; ia ingin memberikan harapan, namun realitas di depan matanya terlalu pahit untuk diucapkan.

​"Dokter Arkan! Tolong... bilang sama aku kalau mereka cuma bercanda. Anakku masih ada di NICU, kan? Dia cuma lagi tidur, kan?" Sheila mendongak, menatap Arkan dengan mata yang banjir air mata, mencari secercah kebohongan manis di wajah dokter itu.

​Arkan menarik napas panjang, suaranya tercekat di tenggorokan. "Sheila... dengarkan saya," bisiknya lirih, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil meski hatinya hancur. "Terjadi sesuatu di ruang NICU tadi malam. Seseorang... seseorang telah mengambil bayi kamu."

Sheila terdiam. Tangannya yang mencengkeram jas Arkan perlahan melemas. Tatapannya kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raganya. "Diambil? Siapa yang berani mengambil bayiku? Siapa, Dok? Sheila terdiam sejenak... Vano... ini pasti kerjaan Vano dan Papanya!" teriak Sheila tiba-tiba dengan nada histeris yang lebih mengerikan dari sebelumnya. "Dia bilang dia mencintaiku, tapi dia mencuri bayiku! Dia bajingan! Aku mau cari dia! Lepasin!"

​Sheila kembali meronta, mencoba mencabut paksa kabel monitor jantung yang menempel di dadanya. Arkan terpaksa menahan kedua tangan Sheila dengan kuat namun lembut.

​"Sheila, tenang! Kamu bisa pendarahan lagi! Devano... Devano sedang mengejar mereka. Dia pergi untuk menjemput bayimu!" Arkan mencoba memberikan informasi yang ia dapat dari perkelahian di lorong tadi.

​"Bohong! Dia dalangnya! Dia yang buat taruhan itu, dan sekarang dia selesaikan taruhannya dengan memberikan anakku pada keluarga Narendra!" Sheila tertawa histeris di tengah tangisnya, sebuah tawa keputusasaan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding.

" Sheila! Percaya padaku bahwa Devano tidak mengetahui apa pun, mungkin ada seseorang yang sedang mengincar anak kamu," Ujar Arkan mencoba menenangkan Sheila.

​"Terlibat atau tidak, semua kehancuran hidupku berawal darinya," isak Sheila, matanya tertuju pada telapak tangannya sendiri yang terasa kosong dan dingin. "Dan kini aku kehilangan satu-satunya alasan yang membuatku bertahan sejauh ini... bahkan sebelum tangan ini sempat menyentuhnya."

Kehampaan yang dirasakan Sheila seolah memenuhi setiap sudut ruangan. Arkan masih memegangi bahu Sheila, berusaha menjadi sandaran bagi tubuh yang kian rapuh itu. Namun, kata-kata Sheila benar—bahwa cinta atau ketidaktahuan Devano tidak mengubah fakta bahwa kehadirannyalah yang membawa badai ini.

Tangisnya kembali pecah, lebih dalam dan lebih menyakitkan. Bunda Rini hanya bisa membenamkan wajahnya di pundak Risma, tidak sanggup melihat penderitaan putrinya yang begitu besar.

Ruangan itu seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Bunda Rini yang tertahan dan bunyi teratur dari monitor jantung yang kembali terpasang. Sheila tidak lagi meronta. Tubuhnya terasa seringan kapas saat Arkan mengangkatnya kembali ke atas brankar. Namun, di balik ketenangan itu, ada kehancuran yang jauh lebih berbahaya.

​Sheila berbaring kaku. Tatapannya terpaku pada langit-langit ruangan yang putih bersih, namun matanya hanya memancarkan kekosongan yang amat dalam. Ia seolah-olah telah menarik dirinya jauh ke dalam palung kesedihan, tempat di mana rasa sakit tidak bisa lagi menjangkaunya.

​"Sheila, kita pasti akan menemukannya," bisik Arkan lembut sambil merapikan selimutnya. Ia memeriksa denyut nadi Sheila, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Kamu harus tetap baik-baik saja. Kita akan temukan bayi itu, saya berjanji."

​Sheila tidak menjawab. Bibirnya yang pucat tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak lagi menangis, dan itulah yang membuat Risma, Arkan serta Bunda Rini ketakutan.

" Sheil! Kamu harus kuat masih ada aku dan Bunda di sini, kita akan mencari anak kamu." Lirih Risma.

" Iya sayang, kamu harus tetap baik-baik saja dan cepat pulih, kita akan mencarinya bersama-sama." Ucap Bunda Rini di tengah isak tangisnya.

Tatapan Sheila tetap terpaku pada langit-langit, hampa dan tak berjiwa. Kata-kata penyemangat dari Risma dan Bunda Rini seolah memantul pada dinding es yang kini membungkus hatinya. Baginya, dunia telah berhenti berputar sejak ia menyadari inkubator itu kosong.

​"Percuma," bisik Sheila sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. "Semua sudah berakhir sejak aku mengizinkan dia mendekat."

​Arkan yang sedang mengatur tetesan infus berhenti sejenak, ia menatap Sheila dengan rasa iba yang mendalam. Ia tahu, secara medis Sheila sedang berada dalam fase syok traumatik yang berat.

1
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
Ani Suryani
Vano orang baik
Chimpanzini Banananini
semakin tegang konfliknya. devano sekarang ga dianggap sama bunda rini, bahkan ayahnya sendiri /Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!