Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Rahasia yang Tersimpan
Dua hari setelah sadar, Arvino masih terbaring tak berdaya di ruang perawatan VIP, kakinya terpasang gips tebal, dan tubuhnya penuh memar. Ia kini sepenuhnya menjadi "pasien" yang dirawat oleh "dokter" yang ia benci.
Aku merawatnya dengan profesionalisme yang kejam. Aku memastikan obatnya diminum, peeban lukanya diganti, dan jadwal tidurnya terjaga. Aku tidak memberinya kehangatan, hanya efisiensi. Mataku tetap dingin, mencerminkan janji perceraian yang masih menggantung.
Arvino, yang kini tak bisa lari atau berteriak, hanya bisa menatapku. Tatapannya dipenuhi oleh rasa malu, bersalah, dan kebingungan.
"Aluna," panggilnya suatu pagi, suaranya lemah.
"Ya, Kak. Ada yang sakit?" tanyaku, tanpa mengalihkan pandangan dari monitor tekanan darah.
"Kenapa... kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"
Aku tahu dia merujuk pada kebenaran medis yang disampaikan Dr. Adrian. Aku menoleh, menatapnya.
"Aku sudah menjawabnya, Kak. Aku tidak perlu membela diagnosisku di depan orang awam. Lagipula, Kakak tidak akan percaya."
Arvino memejamkan mata. "Aku minta maaf."
"Aku sudah mendengar kata itu, Kak. Sudah tidak berarti apa-apa," jawabku, kembali fokus pada infus.
Arvino mengalihkan pandangannya, frustrasi. Ia butuh lebih dari sekadar permohonan maaf. Ia butuh tahu mengapa wanita yang ia tuduh haus akan dirinya, kini bersikap begitu dingin dan siap melepaskannya.
Sore itu, Ardo datang menjenguk.
"Do, aku butuh bantuanmu," kata Arvino, setelah memastikan aku berada di luar, berbicara dengan Papa.
"Apa, Kak? Butuh dibelikan makanan aneh?" tanya Ardo.
"Tolong, ambilkan kotak buku harian lamaku di laci paling bawah di ruang kerjaku. Ada map biru di dalamnya. Jangan buka, langsung berikan padaku. Ini penting untuk dokumen rumah sakit."
Ardo mengangguk, curiga dengan nada Arvino.
Ardo pergi ke rumah dan menuju ruang kerja Arvino. Dia membuka laci, mencari map biru. Dia menemukan map itu, tapi di belakangnya, tersembunyi sebuah kotak kayu kecil yang disembunyikan oleh Arvino. Kotak yang dulu merupakan hadiah ulang tahun dariku.
Ardo membuka kotak itu. Di dalamnya, ada tumpukan buku bersampul kain lusuh dan beberapa surat lama. Itu bukan milik Arvino. Itu milikku—buku harianku saat SMA dan kuliah. Buku yang kusimpan di rumah ini sebelum aku pindah ke Inggris, dan yang lupa kuambil saat aku kembali.
Ardo ingat betapa terpukulnya aku saat Arvino dan Sarah berkencan. Rasa ingin tahu mengalahkan etika. Ardo mengambil buku harian itu dan mulai membacanya.
Dia membaca tentang hari pertamaku di UI, harapanku untuk dekat dengan Arvino. Dia membaca tentang perasaanku yang tulus: 'Aku tidak peduli jika Kak Vino menganggapku adik, asal aku bisa melihat senyumnya setiap hari.'
Ardo membaca entri tanggal 24 Mei 2013, hari pengumuman pernikahan Sarah dan Arvino: 'Hatiku hancur, Nek. Rasanya seperti mati. Tapi aku akan pergi. Aku akan ke Harvard. Aku akan pergi jauh. Aku akan memastikan Kak Vino dan Mbak Sarah bahagia. Jika cintaku tidak bisa membahagiakannya, setidaknya perpisahan ini bisa. Aku tidak akan menjadi penghalang. Aku akan membunuh perasaan ini, demi mereka.'
Ardo terkejut. Dia menutup buku itu. Ternyata, selama ini Aluna tidak pernah menjadi pengkhianat. Aluna adalah korban yang mengorbankan perasaannya sendiri. Dia telah pergi. Dia kembali karena Sarah memaksanya.
Ardo segera membawa buku itu ke rumah sakit. Dia menemukan aku sedang berbicara dengan Dr. Adrian.
"kau harus melihat ini, kak," kata Ardo,
Arvino, yang terbaring, menatap Ardo bingung. "Apa yang kau temukan? Mana map birunya?"
Ardo melemparkan buku harian itu ke ranjang Arvino. "Lupakan map biru sialan itu. Baca ini. Baca, dan kau akan tahu betapa bodoh dan kejamnya kau selama ini!"
Arvino mengambil buku harian itu dengan tangan gemetar. Dia melihat sampul kain lusuh yang ia ingat dari masa remajaku.
Dia mulai membaca, mencari tahu apa yang begitu penting.
Dia membaca tentang cintaku yang polos, pengorbananku, dan keputusan untuk pergi. Dia membaca semua penderitaanku di saat dia bahagia dengan Sarah.
Saat Arvino selesai membaca, air mata mengalir di pelipisnya, membasahi bantal rumah sakit. Kali ini, air mata itu adalah luapan rasa malu yang menghancurkan. Dia bukan hanya salah menuduh. Dia menuduh wanita yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk menjauh darinya, hanya untuk memastikan kebahagiaannya.
Aku masuk ke kamar, membawa bubur untuknya. Aku melihat buku harian itu di tangannya yang gemetar.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya meletakkan nampan itu di meja samping.
Arvino mengangkat matanya. Wajahnya dipenuhi rasa sakit yang mendalam, pandangannya tidak lagi penuh dendam, melainkan penuh permohonan maaf.
"Aluna..." Suaranya pecah. "Aku... aku minta maaf. Aku tidak tahu... Aku buta..."
"Aku tahu, Kak," jawabku datar.
"Aku merusak hidupmu. Aku menuduhmu sebagai pembunuh, padahal kau adalah yang paling tulus mencintai kami. Aku adalah monster."
"Benar. Kakak memang monster," kataku, tanpa emosi. "Tapi itu tidak penting lagi, Kak. Yang penting, Kakak harus sembuh. Lili menunggu. Setelah Kakak sembuh, kita akan berpisah, dan Kakak bisa hidup tanpa harus merasa bersalah padaku."
Aku berbalik untuk pergi.
"Jangan! Aluna, kumohon!" Arvino mencoba meraih tanganku, tetapi tubuhnya terlalu lemah. "Aku tidak bisa melepaskanmu. Tidak setelah aku tahu ini. Beri aku kesempatan. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!"
Aku berhenti di ambang pintu, menatapnya dari bahu. "Aku sudah memberi Kakak kesempatan setahun. Dan Kakak menghancurkannya. Aku tidak punya energi lagi, Kak. Aku butuh kebebasan."
Aku keluar, meninggalkan Arvino yang menangis sendirian di ranjang rumah sakit, terperangkap oleh buku harian yang kini menjadi bukti bisu dari kejahatannya sendiri. Fondasi kebencian Arvino telah runtuh. Kini yang tersisa adalah kehancuran dan penyesalan.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️