harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26.Aku memang budak nafsumu!
Hazard melirik Anggi yang masih tidur dengan napas yang pelan.
"Dia, istriku."
Pria itu menutup mulutnya seraya melototkan mata, senyumnya begitu lebar."Istri? waow, saya kira dia hanyalah pelacur yang kamu sewa untuk menuntaskan fantasi mu yang brutal itu Hazard,"Pria itu menepuk pelan bahu Hazard,seperti tak kenal kata takut.
"Jaga bicaramu Davin! kamu sedang berada di wilayah saya," tekan Hazard.
Pria yang bernama Davin itu memajukan wajahnya."Wilayahmu, atau wilayah Papamu,"bisik Davin lalu tersenyum jahat dan pergi meninggalkan Hazard, sambil menepuk pelan bahu Hazard dengan tangan satunya masuk ke kantong celananya dan melenggang pergi meninggalkan Hazard yang mengepalkan tangannya kuat.
Hazard melirik tajam punggung Davin."Seandainya dia tidak di tangan kalian, sudah saya pastikan kalian akan mendekam di bawah tanah seumur hidup dengan siksaan yang pedih," Batin Hazard, Ia menarik napas pelan dan mulai duduk di dekat Anggi.
Ia tentu tak percaya dengan ucapan Davin."PELAYAN!"
Entah pelayan mana yang di teriaki Hazard, tapi mereka semua yang di sibuk mengelap meja, menata bunga, bahkan membersihkan Tiang-tiang dan langit-langit rumah, yang mengepel lantai, kompak berdiri di ambang pintu sambil menunduk.
"Siapa yang menggantikan pakaian istri saya,"ucapnya dingin tapi mampu membuat Mereka gemeteran kecil.
Tak ada yang menjawab, membuat Hazard menatap mereka yang menunduk semakin dalam. " Saya tanya, siapa yang membantu istri saya berganti pakaian?"para pelayan saling pandang, karena mereka tak pernah berani masuk ke kamar ini tanpa di minta.
Tangan Hazard mengepal, alisnya naik satu dengan mata yang melotot tajam, bibirnya tertahan, saat terbuka ingin mengeluarkan sumpah serapah.
"Mama yang bantu Anggi, Hazard," Helena masuk dengan gaun lain dan terlihat lebih cerah.
"Sepertinya dia datang bulan,"tutur Helena, Hazard langsung melihat ke arah istrinya.
Tak menanggapi ucapan Mamanya, dan lagi tatapannya pada Anggi penuh rasa bersalah yang dalam.
"Hazard,"Helena menepuk pelan bahu Hazard, lalu berbisik pada sang putra,"dia sepertinya meminum sesuatu, yang membuat ia keguguran Hazard," Helena menunjukkan pil kecil di tangannya.
"Apa maksud mama?" Hazard tahu betul ia tak memberitahu siapapun tentang kehamilan sang istri, dan lagi ia juga mengancam Hana yang di bilang sangat terpercaya juga dalam menjaga rahasia.
Helena tersenyum manis dan meneggakan badannya ia duduk di kursi depan Anggi, menatap putranya yang duduk di tepi kasur.
"Mama tahu kenapa kamu sering nempel terus sama Anggi, kalau bukan karena itu, lalu karena apa?dan mama juga tidak sengaja menemukan pil ini di taman yang di urus istrimu dan dayangnya."
Hazard mengambil pil itu, pil yang sangat ia kenal, hatinya rasanya mulai memanas, jika benar Anggi menelan pil ini,tapi ia tak boleh percaya begitu saja, karena Anggi belum menjelaskan apapun.
Helena berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan putranya yang berfikir keras akan kebenaran di balik pil itu.
*******
"Om," sapa Davin memeluk erat Tuan Azam yang menyambutnya dengan hangat.
"Keponakan om, gimana kabar Bunda kamu?"
"Bunda baik om, lagi sibuk sama dunia fashion yang om modalin,"ujar Davin melepaskan pelukan omnya.
Tuan Azam mengelus pelan rambut Davin selayaknya seorang anak.
"Tuan," tegur Haki.
"Ini saya perlu beberapa tanda tangan Tuan soal pekerjaan," kata Haki yang akhirnya terlepas dari Sudara sejak tadi.
"Wajah kamu kenapa Haki? seperti di kejar hantu?"tanya Tuan Azam, melihat Haki yang terus menoleh ke belakang.
"Tuan, saya mohon cepat tanda tangan,"ujar Haki.
Tuan Azam tanpa membacanya, menandatangi berkas-berkas yang di bawa oleh Haki, sekali-kali melirik Haki yang terlihat panik.
"Terima kasih Tuan, kalau begitu saya permisi," Haki berlari sekencang mungkin.
Dan Sudara baru datang dengan atasan Gaun yang melorot, memperlihatkan belahan dadanya.
"Tuan,"ucap Sudara menunduk dan memperbaiki bajunya melorot, sambil mata terus celingukan mencari Haki.
"Kamu mencari Haki?"
Sudara langsung menggeleng cepat dan pamit undur diri.
Davin hanya tertawa melihat dua lansia yang akan bau tanah itu."Mereka tidak berubah, terakhir kali,aku memergoki mereka sedang berciuman di taman,"kekeh Davin.
Tuan Azam yang mendengarnya membulatkan mata."Benarkah, di rumah mana?"
"Di rumah Om," jawab David seadanya.
******
Sekitar jam 12 malam, Anggi bangun dari pingsannya, menatap Hazard yang sama sekali tak pernah berpindah posisi dan terus menatap Anggi.
"Tuan," kata Anggi pelan.
"Katakan, apa kamu meminum ini?"tanya Hazard pelan tapi mengintimidasi.
Anggi mengerutkan kening, berusaha mengingat, sampai ia ingat seseorang memberikan ia obat itu." iya, aku–"
Anggi terkejut saat Hazard melempar keras kursi yang di duduki hingga terbelah.Mata Anggi melotot dan berusaha bangun.
"Jangan bangun."
"Aku tidak apa-apa."
"Saya bilang jangan bangun!"Bentak Hazard.
Membuat Jantung Anggi berdetak lebih kencang,matanya membulat karena panik dan takut menjadi satu.
Anggi terus berpikir keras, dimana letak kesalahannya.
"Tuan."
"Diam!"
Hazard menatap keluar jendela, angin pelan pelan menusuk tubuhnya dengan rasa dingin.
matanya memerah nan tajam melihat gelapnya luar sana.
"Tuan, apa aku ada salah?"
"hmmm"
"Jika iya aku minta maaf, tapi aku tak tahu salah ku dimana?"
"Kesalahanmu telah meminum pil tadi."
"pil?memangnya pil apa itu?"
"Pil untuk menggugurkan janin," suara Hazard berat dan tercekat mengingat ia begitu senang ada kehadiran bayi disana, tapi Anggi?
"Menggugurkan janin? tapi aku tidak hamil tuan."
"Aku sudah memeriksamu dan kamu hamil Anggi."
"Sejak kapan?"
Hazard bukannya menjawab ia malah kembali bertanya."Apa kamu tidak menginginkan anak dari saya Anggi?"
"Aku tidak mungkin berharap tuan, karena aku hanyalah budak nafsu tuan."
Hazard mengenggam tangannya kuat-kuat, sampai terlihat urat-urat nya.
Ia masih memunggungi Anggi."Tapi, bukannya saya berjanji hanya akan ada kamu di hidup saya Anggi?"
"Iya, tapi itu hanya janji, tidak mungkin ada pria yang hidup hanya dengan satu wanita."
"Jadi, kamu sengaja menggugurkan janin di perutmu?"tanya Hazard berbalik.
"Aku memang berniat untuk menggugurkan nya bila memang hamil, dan gerakan Tuan juga mendukung keguguran yang aku alami."
Mata mereka bertemu, tatapan Hazard terlihat tak bersahabat."Kenapa kamu tidak mau memiliki anak dari saya Anggi."
"Karena aku hanyalah budak nafsumu Tuan."
"Tapi kamu bukan budak nafsu saya Anggi, kamu istri saya," tekan Hazard pelan tapi menusuk.
"Tapi awalnya Tuan menginginkan tubuhku dengan memberikan status istri agar bisa menjamah ku, lantas apa sebutan yang pantas, kalau bukan budak nafsu tuan."
"Berhenti mengatakan kamu budak nafsu saya Anggi,sudah tugasmu melayani suami."
"Suami yang tidak pernah aku kenal? pernikahan yang tak pernah aku inginkan, dan paksaan malam pertama tanpa persetujuan ku,Tuan hanya memberikan status istri agar bisa memperbudak aku dalam nafsu."
Humm, apa Anggi benar atau salah?
siapa yang salah disini?
Jangan lupa like yah, sama bintang limanya dong, masa baca sejauh ini like aja nggak mau sama kasih bintang, kalian suka tapi nggak mau memperlihatkan rasa suka kalian🫣🫠