Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23_AZKA BERANTEM KARENA NAYLA
Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya.
Nayla merasakannya sejak turun dari mobil Azka di depan gerbang sekolah. Langkah Azka tidak seperti hari-hari lain. Lebih cepat. Lebih tegas. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, seolah sedang menahan sesuatu.
“Nayla,” panggil Azka tiba-tiba saat mereka baru beberapa langkah masuk ke area sekolah.
Nayla menoleh. “Kenapa?”
Azka mendekat sedikit, suaranya diturunkan. “Mulai sekarang, jaga jarak sama cowok lain.”
Nayla terdiam.
“Termasuk Arvin,” lanjut Azka.
Nada itu bukan marah. Tapi jelas, melarang.
Nayla menghela napas pelan. “Azka, kamu nggak bisa ngatur semua hal di hidup aku.”
Azka menatapnya. “Jangan lupa. Aku suamimu.”
Nayla tersenyum kecil, tapi tidak ada bahagia di sana. “Suami rahasia. Yang di sekolah bahkan pura-pura nggak kenal.”
Azka terdiam sesaat.
“Itu bukan alasan buat kamu ngerasa punya hak penuh atas aku,” lanjut Nayla, suaranya tetap tenang tapi tegas. “Aku masih manusia. Aku masih punya ruang sendiri.”
Azka mengepalkan tangan. “Aku cuma nggak mau kamu—”
“Apa?” potong Nayla. “Kenapa kamu baru peduli sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung.
Azka tidak menjawab. Bel masuk berbunyi, memecah ketegangan. Nayla melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Azka berdiri di tempatnya.
Devan, Raka, dan Dion yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan saling pandang.
“Ini makin serius,” gumam Raka.
***
Jam istirahat tiba.
Lapangan sekolah ramai. Beberapa siswa bermain basket, sebagian duduk di pinggir sambil bercanda. Nayla berjalan bersama Dani dan Sena, membawa minuman dari kantin.
“Hari ini Azka kenapa sih?” bisik Sena. “Auranya beda.”
Nayla mengangkat bahu. “Biarin.”
Mereka duduk di bangku dekat lapangan. Nayla membuka botol minum, baru menyesap sedikit—
BUGH!
Sesuatu menghantam kepalanya dari samping.
Nayla refleks menunduk, botolnya jatuh. Kepalanya berdenyut, pandangannya sedikit berkunang.
“Astaga, Nay!” seru Dani panik.
Bola basket menggelinding di tanah, berhenti tidak jauh dari kaki mereka.
“Eh, maaf!” teriak seorang siswa cowok dari lapangan. Nada suaranya terdengar setengah asal. “Nggak sengaja!”
Nayla memegang kepalanya. “Aku nggak apa-apa,” katanya, meski jelas wajahnya pucat.
Azka melihat semuanya.
Ia baru saja keluar dari kelas bersama Devan ketika bola itu menghantam Nayla. Langkahnya terhenti. Dunia seakan mengecil pada satu titik, Nayla yang meringis kesakitan.
“Apa yang lo lakuin?!” suara Azka menggema.
Semua mata tertuju padanya.
Azka berjalan cepat ke arah siswa cowok itu. “Lo lempar bola ke arah mana, hah?”
“Itu nggak sengaja,” jawab cowok itu, sedikit defensif. “Santai aja.”
Azka tertawa pendek, dingin. “Santai?”
Ia mendorong bahu cowok itu keras.
“Azka!” seru Devan.
Cowok itu balas mendorong. “Lo kenapa sih, sok jago!”
Dan semuanya terjadi begitu cepat.
Tinju Azka melayang.
BUGH!
Cowok itu terhuyung, balas memukul.
BUGH!
Keributan pecah. Siswa-siswa berteriak. Dani menutup mulutnya, Sena memeluk Nayla yang masih terduduk.
“Berhenti! Woy, berhenti!” teriak guru olahraga yang berlari ke arah mereka.
Azka masih berusaha maju, matanya merah oleh amarah. Devan dan Raka menahannya dari belakang.
“Azka! Cukup!” bentak Devan.
Guru-guru datang, memisahkan mereka. Cowok itu dibawa ke sisi lain lapangan. Azka masih terengah, napasnya berat.
Ia menoleh ke arah Nayla.
Nayla menatapnya dengan ekspresi campur aduk, kaget, cemas, dan bingung.
Untuk pertama kalinya, semua orang melihat Azka Mahendra kehilangan kendali, demi seorang gadis yang seharusnya tidak ada hubungannya dengannya di sekolah.
***
Pulang sekolah, suasana di mobil sunyi.
Nayla duduk memandangi jalan. Kepalanya sudah diobati UKS, hanya memar ringan. Tapi pikirannya jauh lebih berat.
“Kamu nggak seharusnya berantem,” kata Nayla akhirnya.
Azka menggenggam setir. “Dia nyakitin kamu.”
“Dan kamu nyakitin diri kamu sendiri,” balas Nayla pelan. “Kalau sampai kamu dikeluarin—”
“Aku nggak peduli.”
“Aku peduli,” potong Nayla.
Azka menoleh cepat, tapi Nayla sudah kembali menatap ke depan.
“Aku mau ke rumah Ibu dan Ayah,” ucap Nayla setelah beberapa saat. “Aku belum pernah ke sana sejak menikah.”
Azka mengangguk. “Aku anter.”
“Sebentar,” tambah Nayla. “Aku mau beli sesuatu dulu.”
Mobil berbelok ke arah toko kecil. Nayla turun, membeli beberapa kantong berisi buah dan kue sederhana. Azka memperhatikannya dari dalam mobil.
Cara Nayla memilih. Cara ia tersenyum kecil pada penjaga toko.
Hatinya terasa sesak.
Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Nayla, jalanan terasa lebih sempit. Nayla memeluk kantong belanja di pangkuannya.
“Aku nggak minta kamu jadi posesif,” kata Nayla pelan. “Aku cuma pengen dihargai.”
Azka terdiam lama.
“Aku nggak tahu caranya,” jawabnya akhirnya. Jujur.
Nayla menoleh, menatapnya lama. “Belajar.”
Mobil terus melaju. Di kejauhan, rumah sederhana itu mulai terlihat.
***
Mobil Azka berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat krem pucat. Halamannya kecil, tapi bersih. Ada pot-pot tanaman di sisi teras, sebagian berbunga, sebagian lagi hanya daun hijau yang terawat rapi.
Nayla menatap rumah itu cukup lama sebelum turun. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tapi karena rindu.
Azka ikut turun, menutup pintu mobil dengan tenang. Ia berdiri di samping Nayla, tubuhnya tegap, wajahnya tetap datar seperti biasa. Aura itu...yang sering membuat orang lain segan, ikut berdiri bersama mereka di depan pagar kecil rumah itu.
Nayla membuka pagar pelan.
“Ibu…” panggilnya saat melangkah ke teras.
Pintu terbuka.
Seorang wanita paruh baya muncul dengan celemek masih terikat di pinggang. Wajahnya berubah seketika saat melihat Nayla berdiri di sana.
“Nayla?” suaranya bergetar. “Ya Allah… Nay?”
Nayla tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Ibu.”
Wanita itu melangkah cepat, memeluk Nayla erat tanpa peduli kantong belanja yang hampir jatuh. Tangannya menepuk-nepuk punggung putrinya, seolah memastikan Nayla benar-benar nyata.
“Kamu ke mana aja, Nak?” bisiknya. “Ibu kirain—”
Kalimat itu terhenti saat pandangannya bergeser. Ke sosok tinggi yang berdiri beberapa langkah di belakang Nayla.
Azka.
Senyum di wajah Ibu Nayla memudar perlahan. Tangannya melepas pelukan, tubuhnya sedikit menegang. Ia menelan ludah, refleks merapikan kerah bajunya sendiri.
Azka Mahendra.
Nama itu bukan asing. Terlalu terkenal. Terlalu berkuasa. Terlalu jauh dari dunia mereka yang sederhana.
“Azka,” ucap Nayla pelan, “ini Ibu.”
Azka mengangguk sopan. “Selamat sore, Bu.”
Nada suaranya datar. Tidak dingin. Tapi cukup membuat udara terasa berubah.
Ibu Nayla mengangguk cepat. “I—iya. Sore.”
Ayah Nayla muncul dari dalam rumah, wajahnya juga menunjukkan keterkejutan yang sama. Tatapannya sempat tertuju pada Nayla, penuh rindu, lalu beralih pada Azka dengan ragu yang jelas.
“Silakan masuk,” kata Ayah Nayla akhirnya.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana. Sofa lama yang dibungkus kain bermotif bunga terasa kontras dengan jas Azka yang rapi. Nayla duduk di antara mereka, meletakkan kantong belanja di meja.
“Ibu masak seadanya,” ujar Ibu Nayla gugup. “Nggak tahu kalau kalian datang.”
“Tidak apa-apa,” jawab Azka singkat.
Hening menyelinap.
Tidak ada yang berani memulai obrolan. Bahkan Ayah Nayla yang biasanya ramah kini lebih banyak diam. Aura Azka terlalu kuat. Terlalu asing.
Nayla menggenggam jemarinya sendiri di pangkuan. Ia menyadari jarak itu. Jarak yang tercipta bukan karena kata-kata, tapi karena nama besar dan kuasa yang melekat pada pria di sampingnya.
“Aku kangen,” ucap Nayla tiba-tiba.
Ibu Nayla menoleh cepat. “Ibu juga, Nak.”
Nada itu tulus, penuh emosi. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Azka, seolah memastikan setiap kata yang keluar tidak salah.
Azka menyadari itu.
Ia melirik Nayla sekilas, lalu berdiri.
“Saya ke luar sebentar,” katanya. “Biar Nayla bisa ngobrol.”
Ibu dan Ayah Nayla terkejut. “Eh...nggak apa-apa kok—”
Azka menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”
Ia melangkah ke teras, meninggalkan pintu terbuka.
Begitu Azka keluar, napas di dalam ruangan terasa lebih lega.
Ibu Nayla langsung memegang tangan Nayla. “Nak… kamu baik-baik aja?”
Nayla mengangguk. “Baik, Bu.”
Ayah Nayla menatapnya lekat. “Dia… gimana ke kamu?”
Nayla terdiam sejenak. “Kami masih belajar.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Di luar, Azka berdiri menatap halaman kecil itu. Ia mendengar samar percakapan mereka, tapi tidak mencampuri. Tangannya masuk ke saku, rahangnya mengeras.