NovelToon NovelToon
MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta setelah menikah / Romansa pedesaan / Konglomerat berpura-pura miskin / CEO / Nikahmuda
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.

Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.

Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersayap

Adipati keluar dari kamar, menekan tombol lift dengan wajah serius seolah mau rapat penting. Lift turun pelan menuju lobby. Begitu pintu terbuka, ia langsung melangkah cepat keluar.

“Baik, misi pagi hari,” gumamnya sendiri. “Beli pembalut. Mudah. Harusnya.”

Beberapa menit kemudian, Adipati sudah berdiri di dalam Indomaret. Pendingin ruangan menyambut, tapi justru bikin dia makin kaku.

Matanya tertuju ke etalase pembalut.

Ia berhenti. Diam. Melihat. Lalu melangkah ke kanan. Kembali ke kiri. Mondar-mandir seperti orang cari sinyal.

“Ini… ini… ini juga,” gumamnya. “Semua kelihatannya sama.”

Ia mengambil satu bungkus, membaca.

“Night… extra… ultra…”

Dikembalikan lagi.

Ambil yang lain.

“Soft… slim… comfort…”

Ditaruh lagi.

Adipati menghela napas.

“Yang bersayap itu yang mana, sih…”

Ia mencondongkan badan, menatap kemasan satu per satu.

“Sayapnya di mana?” katanya pelan. “Ini nggak ada gambar sayapnya.”

Ia bergumam sendiri, makin serius.

“Bersayap bisa terbang, apa gimana maksudnya…”

Seorang pegawai perempuan mendekat sambil tersenyum ramah.

“Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

Adipati langsung tegak.

“Ah—iya, Mbak.”

Pegawai itu menunggu dengan sopan.

“Anu…” Adipati berdehem. “Saya cari pembalut buat istri saya.”

“Oh, baik Pak,” jawab pegawai itu ramah. “Yang seperti apa?”

Adipati menggaruk tengkuk, jelas kikuk.

“Yang… bersayap. Dan… panjang.”

Pegawai itu mengangguk paham.

“Untuk siang atau malam, Pak?”

Adipati blank.

“Eee…”

Ia mengingat wajah Selina.

“Kayaknya… aman yang panjang.”

Pegawai itu mengambil satu produk.

“Kalau yang ini, Pak. Panjang, bersayap, daya serap tinggi.”

Adipati menatap kemasannya serius.

“Ini… sayapnya ke mana, Mbak?”

Pegawai itu menahan senyum.

“Sayapnya itu yang di samping, Pak. Buat direkatkan.”

“Oh,” Adipati mengangguk pelan. “Jadi bukan sayap beneran.”

“Bukan, Pak,” jawab pegawai itu, kini jelas menahan tawa.

Adipati ikut mengangguk, merasa bodoh sendiri.

“Baiklah. Saya ambil ini.”

Ia lalu menunjuk satu lagi.

“Kalau dua bungkus… berlebihan nggak?”

Pegawai itu tersenyum lebih lebar.

“Biasanya justru aman, Pak.”

“Oke. Saya percaya Mbak,” kata Adipati mantap.

Di kasir, Adipati melirik kantong belanjaannya.

“Semoga yang ini bener,” gumamnya. “Kalau salah, harga diri saya jatuh.”

Kasir menyerahkan struk.

“Terima kasih, Pak.”

Adipati mengangguk sopan.

“Sama-sama.”

Begitu keluar dari Indomaret, ia menghela napas lega.

“Lebih susah dari analisa market,” katanya pelan sambil melangkah pergi.

“Ya ampun… mas, badan kamu bagus banget,” ujar seorang wanita muda sambil menatap Adipati tanpa malu-malu.

“Iya,” sahut gadis lain sambil mengedipkan mata. “Kekar… roti sobek.”

Adipati berhenti melangkah. Alisnya mengernyit.

Kenapa dari tadi banyak yang merhatiin? batinnya heran.

Ia menunduk sedikit, lalu matanya membelalak.

Astaga…

“Ya Allah,” gumamnya pelan. Aku lupa pakai kemeja.

Ia buru-buru menutup dada dengan paper bag belanjaan.

“Maaf ya, Mbak,” katanya cepat sambil setengah lari. “Tolong jangan dilihatin. Ini punya istri saya.”

Dua wanita itu tertawa kecil saat Adipati kabur menjauh.

Adipati langsung masuk ke toko baju pria terdekat.

“Mas,” katanya terengah ke penjaga toko. “Kemeja. Yang polos aja. Cepat.”

“Ukuran apa, Mas?” tanya penjaga toko.

“Yang muat badan saya coba cariin,"jawab Adipati spontan.

Penjaga toko menahan senyum, lalu menyerahkan kemeja.

“Yang ini, Mas.”

Adipati langsung memakainya tanpa banyak cermin.

“Oke. Saya ambil. Bayar sekarang.”

Selesai membayar, ia menghela napas panjang.

“Pelajaran hidup,” gumamnya. “Keluar kamar jangan setengah sadar.”

Ia kembali ke hotel, masuk lift. Saat pintu menutup, Adipati menyandarkan kepala ke dinding.

Pantes dari tadi banyak cewek ngeliatin aku, batinnya.

Ternyata lupa pakai baju.

Lift berhenti. Pintu terbuka. Adipati melangkah cepat menuju kamar.

Tok. Tok.

“Sel,” panggilnya lembut. “Ini pembalutnya.”

Pintu terbuka sedikit. Kepala Selina menyembul, wajahnya masih malu-malu.

“Oh…” Selina tersenyum kecil. “Terima kasih, Mas.”

Adipati mengulurkan kantong belanja.

“Mas beli dua, biar aman.”

Selina menerimanya.

“Makasih ya Mas udah repot-repot beliin pagi-pagi.”

Adipati mengangkat bahu.

“Kamu lebih penting.”

Selina tersenyum, lalu menutup pintu pelan.

Sementara Adipati berdiri sebentar di depan kamar, merasa… anehnya, sangat bangga jadi suami yang belanja pembalut pagi-pagi.

1
Ayu
lanjut kak
Ayu
seru
wagiyah baru
ditunggu kelanjutannya kak
wagiyah baru
seru
Scarlett Rose
lanjut kak🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut heeh
Anonymous
lanjut thor🤭
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
wagiyah baru
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Scarlett Rose
seru
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut
Scarlett Rose
lanjut kak
Anonymous
lanjut thor
Ayu
lanjut kak
Ayu
lanjut kqk
Bambang
lanjt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!