Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Caper
"Bagaimana ini? siapa sih yang tega fitnah gue?" lirih Shaqila.
Gadis itu saat ini sangat lemah. Kepalanya mulai pusing efek begadang semalam. Ditambah ini mendapat skandal yang tidak jelas.
"Kenapa kalian gak ceritakan yang sebenarnya saja kalau kalian sudah nikah?" usul Siska.
Gadis itu sudah mengetahui pernikahan kontrak Shaqila dan Reyhan saat diperjalanan tadi. Awalnya gadis itu syok dan tidak percaya namun akhirnya bisa di terima.
"Tidak segampang itu, kita tidak boleh gegabah. Ingat itu adalah rahasia. Jangan sampai ada yang tahu," peringat Reyhan.
"Ya ampun sayang, apa yang terjadi. Kenapa bisa begini sih," ucap Melati yang tiba-tiba datang dan memeluk Shaqila yang terlihat lemas.
"Nak, kamu benar hamil?" tanya Sinta hati-hati.
Shaqila menggeleng lemah, "tidak ma, Shaqila aja saat ini haid."
"Berarti ada yang ingin menjatuhkan kalian. Sebaiknya kalian umumkan saja pernikahan kalian," usuk Wijaya.
Reyhan memijat pangkal hidungnya. "Tidak semudah itu ayah."
"Ya ampun, kak Qila wajahmu kok pucat. Sebaiknya kamu istirahat dulu ya. Atau mau ku antar ke dokter," ucap Tasya.
"Dia siapa?" bisik Siska.
"Sepupu gue," jawab Shaqila.
Gadis itu menggeleng lemah, "nggak usah Sya, gue gak kenapa-napa kok."
"Pak Reyhan pusing ya, aku pijatin ya biar lebih segar. Pak Reyhan kan kakak ipar aku, jadi sudah sewajarnya aku perhatian juga ke kakak ipar sendiri," ucap Tasya yang berusaha menarik badan Reyhan.
Sementara laki-laki itu nurut aja karena tidak dapat berpikir jernih.
"Cih, bibit pelakornya kelihatan banget," cibir Siska dengan suara yang pelan namun, masih di dengar oleh Shaqila.
"Shut, tidak boleh begitu. Dia itu Tasya pacarnya kak Arga. Mana mungkin lah dia suka sama pak Reyhan," bisik Shaqila.
Siska memutarkan bola matanya. "Tapi Qila, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Lihat aja tuh ekspresinya kek ulat bulu," ucap gadis itu seraya melihat Tasya yang memijit Reyhan dengan ekspresi yang tidak wajar.
Namun dua menit kemudian Reyhan menghentakkan tangan gadis itu dan berdiri tegak sehingga membuat Tasya berdecak kesal.
"Sebaiknya kalian pulang saja, saya dan Shaqila mau menenangkan diri dulu. Kami butuh waktu," ucap laki-laki itu.
"Sebaiknya aku disini saja temani kak Qila. Pasti dia butuh teman," ucap Tasya.
"Nggak usah! ini urusan rumah tangga, tidak boleh ikut campur," seseorang Siska.
"Lo siapa sih ikut campur aja?" tanya Tasya dengan kesal.
"Sahabatnya Shaqila yang siap siaga melindunginya jika ada serangan dari musuh. Terlebih musuh dalam selimut," ucap Siska seraya memicingkan matanya ke arah Tasya.
'Enak benar ya hidupnya kak Qila. Punya suami tampan, kaya, dosen lagi. Terus sekarang punya sahabat yang sangat perhatian.'
"Nggak kok, aku cuma takut kak Qila frustasi dan berbuat nekat," ucap Tasya dan meraih lengan Shaqila kemudian mengelus lengan itu.
"Tasya, kamu perhatian sekali sama kakak mu, tante bangga deh punya keponakan seperti kamu. Udah cantik, baik, perhatian, jenius lagi bisa nyelesaikan kuliah sebelum waktunya. Andaikan Shaqila seperti kamu pasti tante senang sekali," ucap Sinta.
Shaqila mendengar itu seketika terbawa emosi. "Maksud mama apaan? Mama nggak senang punya anak seperti Qila? Qila tau kok Qila ini bodo, tapi-"
"Kak, tante Sinta tidak bermaksud menyinggung perasaan kakak. Jangan marahin tante Sinta donk, tante Sinta cuma pengen kak Qila menjadi lebih baik," potong Tasya dengan nada lembut. Tapi sangat menjengkelkan ditelinga Shaqila dan juga Siska.
"Lo nggak usah sok gitu deh. Mending lo pulang aja!" kesal Shaqila..
"SHAQILA, KOK KAMU KASAR SAMA ADIK KAMU. DIA ITU CUMA KHAWATIR SAMA KAMU-"
"Sudahlah, kalian itu cuma nambah beban pikiran Shaqila. Apa nggak cukup selama ini kalian membanding-bandingkan Qila dengan dia. Qila ini Qila, Tasya ya Tasya, dua orang berbeda. Shaqila capek mau istirahat mending kalian keluar aja deh," ucap Shaqila yang memotong ucapan papanya dengan wajah kesal.
Gadis itu menunjuk ke arah Tasya "Dan lo... stop caper deh ke orang tua gue."
Setelah mengucapkan hal itu, Shaqila berlari menuju kamarnya.
"Maaf sebelumnya, sepertinya Shaqila butuh waktu sendiri. Dan saran saya, jangan terlalu menekannya, terlebih membanding-bandingkannya dengan orang lain," ucap Reyhan sopan namun tersirat rasa tidak suka.
"Om, tante, maafin Tasya ya. Kalian berantem dengan kak Qila gara-gara Tasya," ucap Tasya dengan nada sedih.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih