NovelToon NovelToon
Friendzone Tapi Menikah

Friendzone Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: B-Blue

Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.

Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.

Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

"Gue tidak bisa mengatakannya, Yos."

Mendengar jawaban Avellyne membuat Ryos frustrasi. Dia benar-benar tidak bisa percaya kenapa Avellyne bisa berubah seperti ini.

Menjadi seorang pecandu.

"Avel, kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang membuat kamu berubah?" Ryos terlihat sedih sebab kekasih hatinya itu sudah terjerumus.

"Gue enggak berubah sama sekali, Yos. Loe yang kenapa. Kenapa loe enggak mau percaya ucapan gue."

"Gue enggak bisa mengatakannya karena enggak tahu apa-apa. Gue enggak tahu kenapa hasil cek itu bisa positif padahal gue enggak pernah konsumsi obat haram seperti tuduhan loe. Percaya sama gue, Yos!"

Avellyne terlihat putus asa, sorot matanya menunjukkan kepasrahan andai sampai akhir Ryos tidak mau memercayainya.

"Gue berani bersumpah, Yos. Gue bukan pecandu."

"Dokter bilang ada dua kemungkinan, kamu mendapatkan obat tersebut dari resep dokter atau kamu mendapatkannya secara ilegal. Coba kamu ingat-ingat Vel, belakangan obat apa saja yang kamu konsumsi."

"Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu, aku selalu percaya sama kamu, aku tidak pernah meragukan kamu, Sayang." Ryos mencoba untuk mendekati Avellyne dan kali ini tidak ada penolakan bahkan ketika dia memeluk wanitanya.

"Hasil laboratorium tidak mungkin berbohong dan kamu juga tidak mungkin membohongi aku," ucap Ryos melanjutkan.

"Belakangan gue cuma minum vitamin dan obat tidur."

Mendengar jawaban tersebut, Ryos melepaskan pelukannya dan menatap Avellyne begitu dalam.

"Obat tidur? Kamu mendapatkannya dari dokter?" tanya Ryos.

Avellyne menggeleng lemah. "Dari teman, tapi dia mendapatkannya dari dokter. Dia bilang punya teman dokter yang bisa memberikan obat tidur itu."

"Di mana obatnya sekarang? Kita harus cek apakah obat tidur itu aman untuk kamu konsumsi. Kalau memang hanya sebatas obat tidur seharusnya tidak berbahaya."

Avellyne berjalan ke arah meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Kebetulan sekali dia membawa obat tersebut lalu menyerahkannya kepada Ryos.

"Kamu mau ikut aku ke rumah sakit?" tanya Ryos.

"Gue ikut. Gue penasaran kenapa obat tidur tiba-tiba bisa jadi morfin."

"Ayo!" Ryos menggenggam tangan wanitanya, dia percaya pasti ada alasan di balik semua ini.

...

"Emang kamu tidak bisa tidur sampai harus minum obat tidur?" Ryos bertanya di saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sebelum melajukan mobilnya, Ryos menghubungi dokter dan berkata membawa obat yang diduga mengandung morfin. Mereka akan memastikan apakah obat tersebut memiliki kandungan sama yang ada pada sample darah Avellyne.

"Hmm, sudah dua bulan ini gue kesulitan tidur. Mungkin karena kecapekan, ditambah lagi memikirkan pernikahan kita."

"Apa pernikahan kita terlalu membebani kamu, Vel?"

"Bukan membebani, Yos. Hanya saja... gue enggak percaya diri. Gue takut menyakiti perasaan loe."

Ryos tersenyum sekilas seraya melihat Avellyne untuk beberapa detik sebelum dia kembali fokus menyetir.

Tangannya bergerak menggenggam tangan wanitanya.

Ryos masih merasa khawatir begitu pun dengan Avellyne.

"Seperti yang aku bilang sebelumnya. Aku selalu percaya sama kamu dan aku enggak pernah ragu sedikit pun ke kamu, Sayang." Ryos berkata demikian hanya untuk menenangkan dirinya.

Meski memercayai Avellyne seutuhnya, Ryos tetap ingin memastikan dari mana calon istrinya itu mendapatkan obat tidur tersebut.

"Yos!" Panggilan Avellyne dibalas gumaman oleh Ryos, pria itu pun sempat melirik sekilas.

"Kalau seandainya gue memang pecandu bagaimana? Apa loe bakal ninggalin gue?"

"Enggak, Sayang. Aku enggak bakal ninggalin kamu begitu aja. Aku akan membawa kamu ke jalan yang benar. Kamu bukan wanita seperti itu, Sayang. Kamu bukan pecandu. Percayalah, aku akan selalu ada di sisi kamu." Tangan Ryos semakin erat menggenggam tangan Avellyne.

Pria itu dapat mendengar helaan napas berat dari wanitanya.

"Loe harus percaya sama gue, Yos." Lagi-lagi Avellyne mengatakan hal yang sama.

Sikapnya menunjukkan seolah dia memang tidak tahu menahu soal obat yang dikonsumsinya. Dia hanya tahu kalau obat yang dibelinya dari seorang teman hanya obat tidur biasa.

...

Avellyne dan Ryos sudah sampai di rumah sakit. Obat yang mereka serahkan ke dokter sedang dalam proses pengujian dan mencocokkan kandungannya apakah sama yang ada di dalam darah Avellyne.

Selama menunggu hasilnya keluar, Ryos dan Avellyne saling berbincang di ruang tunggu.

Wanita itu menceritakan awal mula bisa mendapatkan obat tidur tersebut.

Kira-kira dua bulan yang lalu, Avellyne secara tidak sengaja bertemu dengan teman kuliahnya.

"Kamu kelihatan capek banget, ya, Vel? Wajah kamu sembab banget." Fani berujar di saat mereka sudah berbincang segala hal selama sepuluh menit yang lalu dan ternyata Fani memerhatikan wajah lelah Avellyne.

"Gue enggak bisa tidur belakangan ini. Bawaannya gelisah mulu, jadi enggak bisa tidur nyenyak," jawab Avellyne.

"Sudah coba minum obat tidur?" tanya Fani.

"Sudah. Tapi kayaknya enggak ampuh. Aku beli obat biasa di apotek."

"Kalau kamu mau, aku bisa minta resepkan sama teman aku yang dokter. Biasanya obat tidur dari resep dokter khasiatnya lebih ampuh dari obat yang kamu beli di apotek."

"Emang bisa tanpa konsultasi?" tanya Avellyne.

"Bisa kalau aku yang minta. Soalnya kami akrab banget. Kalau kamu memang mau, besok kita ketemuan di sini lagi. Tapi harganya sedikit lebih mahal."

"Boleh deh. Gue coba dulu. Rasanya ganggu banget karena gue enggak bisa tidur nyenyak."

Tanpa pikir panjang Avellyne bersedia membeli obat dari temannya itu.

Sesuai kesepakatan, keesokan harinya mereka bertemu lagi. Avellyne diberikan lima butir obat tidur.

Lalu pada bulan berikutnya Avellyne membeli obat yang sama dari temannya.

Wanita itu mulai merasa sedikit nyaman setiap kali mengkonsumsi obat tersebut. Terbilang sudah empat kali dia mendapatkan obat tidur itu dalam waktu jangka dua bulan.

"Mas Ryos, Mbak Avellyne!"

Pemilik nama langsung berdiri begitu mendengar nama mereka dipanggil. Ternyata Dokter Denis yang memanggil.

Di tangan dokter itu terlihat memegang selembar kertas yang menunjukkan hasil cek obat pemberian Ryos.

"Bagaimana, Dokter?" tanya Ryos sementara itu Avellyne menunggu jawaban dengan perasaan cemas.

"Hasil komponen pada obat ini cocok dengan kandungan yang kami temukan pada sample darah Mbak Avel. Kalau boleh saya tahu dari mana Mbak Avel mendapatkan obat itu?"

"Obat yang Mbak dapatkan tidak bisa digunakan sebagai obat tidur dan sudah berapa lama Mbak Avel mengkonsumsinya?"

Avellyne tidak langsung menjawab, dia terlihat kebingungan sekarang.

"Sayang!" Ryos menyadarkan wanitanya dan berusaha untuk menenangkan.

"Yang saya tahu itu obat tidur biasa. Saya membelinya dari seorang teman. Dia bilang mendapatkan obat itu dari temannya yang seorang dokter."

"Dok, apa obat itu berbahaya? Apa saya benar-benar mengkonsumsi narkotika? Sudah dua bulan ini saya mengkonsumsinya. Memang tidak rutin, tapi saya meminumnya dengan dosis dua pil sekaligus."

"Dari teman kamu yang mana, Vel?" tanya Ryos.

Perasaannya kini bukan hanya sekedar khawatir, tetapi sudah bercampur marah karena dia merasa Avellyne sudah ditipu.

"Dari teman kuliah dulu. Fani, lo kenal dia, Yos."

"Hmm, aku mengenalnya. Begini saja, kamu hubungi dia dan bilang kalau kamu membutuhkan obat itu lagi. Kita harus pastikan, apa dia sama seperti kamu yang tidak tahu sama sekali dengan obat itu, atau dia memang sengaja menipu kamu."

"Maaf menyela!" Dokter Denis berujar, "Kalian harus memastikan dengan benar dari mana obat itu berasal dan jangan lupa libatkan pihak kepolisian karena obat itu telah disalahgunakan," ucap Dokter Denis melanjutkan.

Avellyne dan Ryos mengerti dengan arahan dari dokter. Setelahnya mereka berdua berpamitan.

Teman yang dipercaya oleh Avellyne ternyata berusaha menjerumuskan. Hal tersebut semakin membuat rasa kepercayaan Avellyne kepada orang lain semakin menipis.

Ini bukan pertama kali dia dikhianati dan rasa sakit itu kembali menjalar di dalam dirinya.

1
edu2820
Kepincut sama tokohnya. 😉
B-Blue: terimakasih sudah mampir 😊
total 1 replies
✿ O T A K U ✿ᴳᴵᴿᴸ࿐
Ceritanya bikin saya ketagihan, gak sabar mau baca kelanjutannya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!