NovelToon NovelToon
Perfect Life System

Perfect Life System

Status: tamat
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:478.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: BlueFlame

Christian Edward, seorang yatim piatu yang baru saja menginjak usia 18 tahun, dia harus keluar dari panti asuhan tempat ia di besarkan dengan bekal Rp 10 juta. Dia bukan anak biasa; di balik sikapnya yang pendiam, tersimpan kejeniusan, kemandirian, dan hati yang tulus. Saat harapannya mulai tampak menipis, sebuah sistem misterius bernama 'Hidup Sempurna' terbangun, dan menawarkannya kekuatan untuk melipatgandakan setiap uang yang dibelanjakan.

‎Namun, Edward tidak terbuai oleh kekayaan instan. Baginya, sistem adalah alat, bukan tujuan. Dengan integritas yang tinggi dan kecerdasan di atas rata-rata, dia menggunakan kemampuan barunya secara strategis untuk membangun fondasi hidup yang kokoh, bukan hanya pamer kekayaan. Di tengah kehidupan barunya di SMA elit, dia harus menavigasi persahabatan dan persaingan.sambil tetap setia pada prinsipnya bahwa kehidupan sempurna bukanlah tentang seberapa banyak yang kamu miliki, tetapi tentang siapa kamu di balik semua itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.23. Langkah ketiga

 

Keesokan paginya, Edward terbangun bukan karena alarm, tapi karena dia tidak tidur sama sekali.

[ANALISIS EMOSI: KONFLIK ANTARA EUFORIA KEMENANGAN (Rp 500 Miliar) DAN GANGGUAN DATA SENSORIK (Sentuhan Aurora). HASIL: TIDAK DAPAT DIPROSES. EFEK SAMPING: GANGGUAN POLA TIDUR.]

Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap dinding putih apartemennya. Tangannya secara refleks menyentuh plester di sudut bibirnya.

Tepat saat itu, layar sistem berganti mengkonfirmasi pencapaian semalam.

 

[Misi Kritis 'Mendapatkan Kepercayaan Singa' Selesai!]

[Deskripsi: Anda telah berhasil meyakinkan salah satu investor paling cerdas di dunia. Kredibilitas Anda tidak lagi berdasarkan ide, tapi pada kemampuan eksekusi dan karakter.]

[Hadiah:] [- Dana Investasi: Rp 5.000.000.000 telah ditransfer ke rekening perusahaan Catalyst AI.] [- Skill: [Kredibilitas Karismatik (Level 1)] (Aktif)] [- Saldo Pribadi: Rp 450.980.000] [- Saldo Perusahaan: Rp. 5.500.000.000]

[Catatan Sistem: Dana investasi hanya dapat digunakan untuk pengeluaran yang terkait dengan operasional perusahaan Catalyst AI.]

 

 ***

Ruko di Jalan Merdeka nomor 88 sudah berubah menjadi kantor yang modern dan bersih. Hendra sudah ada di sana, matanya berbinar sambil menggambar diagram server rack yang rumit di papan whiteboard.

"Edward! Dengan uang ini, kita bisa bangun farm server yang punya redundansi tiga kali! Kita bisa pakai NVMe untuk semua storage, cache-nya akan secepat kilat!" seru Hendra, spidolnya bergerak cepat.

"Itu akan datang," kata Edward, lebih tenang. "Tapi perusahaan bukanlah server. Perusahaan adalah orang. Kita butuh tim. Kita butuh tentara."

"Setuju," kata Hendra. "Tapi merekrut orang-orang hebat tidak mudah. Mereka tidak akan mau bergabung dengan startup yang baru lahir, apalagi yang dipimpin oleh anak SMA."

"Mereka akan bergabung jika mereka melihat visi, bukan sekadar gaji," jawab Edward. "Aku sudah punya kandidat pertama."

Edward membuka laptopnya, menunjukkan sebuah profil GitHub. Milik seorang mahasiswa bernama Bima. Profilnya menakjubkan. Di usianya yang baru 20 tahun, dia sudah menjadi kontributor utama di beberapa proyek open-source yang digunakan oleh perusahaan teknologi raksasa. Tapi di kolom "About", dia menulis: "Mencari tantangan yang sebenarnya, bukan tugas-tugas membosankan."

"Dia jenius, tapi dia punya reputasi sulit diatur," kata Hendra, menganalisis profil Bima. "Pernah menolak tawaran magang dari perusahaan teknologi terkenal karena menganggap pekerjaannya 'terlalu mudah'."

"Ya," kata Edward. "Orang yang mudah diatur biasanya tidak menciptakan hal-hal hebat."

Tepat saat itu, notifikasi sistem muncul.

 

[Misi Tim: Membangun Fondasi]

[Deskripsi: Sebuah bangunan hanya sekuat batu bata pertamanya. Sebuah perusahaan hanya sekuat orang-orang pertamanya. Rekrutlah orang-orang yang tidak hanya memiliki skill, tapi juga memiliki api yang sama denganmu.]

[Tugas: Rekrut setidaknya satu karyawan inti pertama untuk Catalyst AI.]

[Hadiah:]

[- Skill: [Intuisi Rekrutmen (Level 1)] - Kemampuan untuk merasakan potensi, motivasi, dan kecocokan karakter seorang kandidat selama wawancara.]

[- Rp 5.000.000]

[Gagal: Perusahaan akan berjalan dengan fondasi yang lemah.]

 

Edward menghubungi Bima, mengajaknya bertemu di kantor mereka dengan alasan "diskusi teknis". Bima, yang penasaran, setuju.

Bima datang sore itu. Dia adalah pemuda tinggi dengan raut wajah yang cerdas namun sedikit sombong. Dia melihat sekeliling kantor yang masih kosong itu dengan sedikit skeptis. "Jadi ini 'perusahaan' kalian?"

"Ini adalah tempat di mana kita akan memulai revolusi," jawab Edward, suaranya tenang

Hendra langsung memulai dengan serangan teknis. "Di profil GitHub-mu, kau menulis ulang modul caching dari sebuah framework. Bisa jelaskan algoritma yang kau gunakan?"

Bima tersenyum percaya diri. "Tentu. Itu sederhana sekali. Aku hanya mengganti struktur data dari LRU Cache ke Adaptive Replacement Cache dengan sedikit modifikasi untuk mengurangi cache miss..."

Dia menjelaskan dengan sangat detail dan cepat. Hendra mengangguk-angguk, terkesan.

Setelah Bima selesai, Edward yang bicara. "Cara yang sangat efisien."

"Tentu saja," kata Bima, sedikit berbangga.

"Tapi," lanjut Edward, matanya menatap tajam ke Bima. "Aku tidak tertarik dengan 'bagaimana' kau melakukannya. Aku tertarik dengan 'mengapa'."

Bima sedikit terkejut. "Maksudnya?"

"Kau menghabiskan waktu berhari-hari untuk memperbaiki sesuatu yang mungkin tidak ada yang peduli. Apa yang kau dapatkan darinya? Uang? Pengakuan?" tanya Edward, suaranya tidak menuduh, tapi lebih seperti seorang dosen yang membimbing diskusi.

Bima terdiam. Dia tidak pernah memikirkan itu. "Aku... aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa."

"Membuktikan pada siapa?" tanya Edward lagi.

Pertanyaan Edward membuat Bima berpikir. Skill `Intuisi Rekrutmen`-nya memberi Edward gambaran jelas: Bima adalah seorang jenius yang lapar akan tantangan, yang merasa bosan dengan dunia yang terasa terlalu mudah baginya.

Edward berdiri, berjalan ke papan whiteboard yang kosong. Dia mengambil spidol. "Bima, di dunia ini ada jutaan 'Ibu Minah' yang punya warung. Mereka berjuang setiap hari. Mereka punya data, tapi mereka tidak tahu apa artinya. Mereka seperti orang buta yang berjalan di tengah hutan."

Dia mulai menggambar diagram. "Kita sedang membangun sebuah sistem. Sebuah otak yang bisa memberi mereka penglihatan. Kode yang kau tulis, algoritma yang kau rancang, itu bukan sekadar baris perintah. Itu adalah mata bagi mereka. Itu adalah cara agar mereka bisa bersaing dengan supermarket besar."

Edward menatap Bima, bukan sebagai seorang atasan, tapi sebagai seorang rekan. "Aku tidak menawari mu pekerjaan. Aku menawari mu sebuah misi. Untuk menggunakan kejeniusan mu untuk sesuatu yang nyata. Untuk sesuatu yang berarti. Ini jauh lebih sulit dari memperbaiki modul caching. Apa kau tertantang?"

Mata Bima berbinar. Dia melihat diagram di papan itu, lalu ke Edward, lalu ke Hendra. Dia tidak melihat startup kecil. Dia melihat sebuah misi. Sebuah tantangan yang selama ini dia cari.

"Aku ikut," kata Bima, suaranya penuh tekad.

[Misi 'Membangun Fondasi' Selesai!]

[Rp 5.000.000 telah ditransfer ke rekening Anda.]

 ***

Beberapa hari berikutnya, kantor itu semakin hidup. Edward, Hendra, dan Bima. Tiga otak dengan tiga spesialisasi berbeda. Mereka bekerja siang dan malam, merancang arsitektur sistem, menulis kode prototipe, dan berdebat sengat tentang algoritma.

Di tengah kesibukan itu, sistem terus memberinya misi-misi kecil yang membuatnya tetap terhubung dengan dunia nyata.

Suatu sore, dia mengunjungi Panti Asuhan Kasih Ibu, membawa puluhan kotak buku pelajaran baru. Saat transaksi selesai, notifikasi muncul.

[Misi Sosial Selesai! Menghabiskan 10 juta -> Penggandaan x2.5 -> 25 juta].

Misi Keterampilan: "Pelajari dasar-dasar hukum kontrak bisnis." -> Edward menghabiskan dua hari membaca buku hukum -> Hadiah: Skill [Pemahaman Hukum Dasar (Level 1)].

Misi Persiapan: "Pasang sistem keamanan siber tingkat lanjut untuk jaringan kantor." -> Edward membeli software dan firewall seharga Rp 20 juta -> Penggandaan x2.2 -> Rp 44 juta.

[Saldo saat ini: Rp. 524.980.000]

Setiap misi yang diselesaikan, setiap pengeluaran yang dilakukan, semakin memperkuat fondasi Edward. Bukan hanya finansial, tapi juga skill, pengetahuan, dan jaringan.

...***...

Pintu apartemen itu terbuka perlahan.

Pak Jaya berdiri di ambang pintu, sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk. Edward memang membuat janji untuk bertemu dan melunasi pembayaran, Pandangannya menyapu ruangan dengan ekspresi yang sulit disembunyikan.

Dinding yang dulu mengelupas kini bersih dan rapi. Lantai kusam telah diganti, pencahayaan terasa hangat, dan udara di dalam ruangan jauh lebih segar. Apartemen kecil itu tidak berubah ukurannya—namun suasananya sama sekali berbeda.

“Ini… apartemen yang sama?” gumam Pak Jaya tanpa sadar.

Edward berdiri di dekat jendela, menoleh sambil tersenyum tipis. “Masih yang sama, Pak. Hanya sedikit dirapikan.”

Pak Jaya tertawa kecil, tapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan. “Kalau ini namanya ‘sedikit’, saya jadi penasaran bagaimana kalau kamu serius.”

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang kini tampak layak huni. Pak Jaya membuka map cokelat yang dibawanya, sementara Edward mengeluarkan ponselnya.

“Seperti yang kita sepakati,” kata Edward tenang. “Hari ini saya melunasi semuanya.”

Beberapa sentuhan di layar. Hening sejenak.

Lalu bunyi notifikasi terdengar.

Pak Jaya menunduk menatap ponselnya. Angka yang muncul membuatnya menghela napas panjang, seolah beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terangkat.

“Masuk… semuanya,” katanya pelan. “Kamu benar-benar menepati janji.”

Edward mengangguk singkat. “Janji tetap janji.”

Pak Jaya mengeluarkan berkas-berkas dari dalam map. Kontrak dibuka kembali, dibaca ulang dengan saksama, lalu tanda tangan dibubuhkan satu per satu. Tinta mengering, menutup kesepakatan yang kini resmi sepenuhnya.

Setelah itu, Pak Jaya berdiri dan menyerahkan satu set kunci kepada Edward—meski kunci itu sebenarnya sudah berada di tangan pemuda tersebut sejak lama.

“Apartemen ini sepenuhnya milikmu. Pembalikan nama akan saya selesaikan hari ini juga.”

Edward menerima kunci itu dengan tenang. “Terima kasih, Pak.”

Pak Jaya menatap sekeliling sekali lagi sebelum melangkah pergi. Wajahnya menyiratkan kelegaan—dan sedikit rasa tak percaya.

Rp 470 juta -> Penggandaan x2.2 -> Rp 1.034.000.000 .

[Saldo saat ini: Rp. 1.088.980.000]

...***...

Suatu malam, setelah Bima dan Hendra pulang, Edward tetap di kantor. Dia menatap papan whiteboard yang sudah penuh dengan diagram dan kode. Dia merasakan kepuasan yang luar biasa. Ini akan menjadi Fondasi nya.

Ponselnya bergetar. Dan Sebuah pesan dari Aurora.

'Ayahku sangat terkesan dengan laporan kemajuanmu. Katanya kamu sudah mulai merekrut orang?.'

Edward mengetik balas. 'Ya, Tapi baru satu orang. Tapi dia orang yang tepat.'

'Jangan lupa istirahat. Kau bukan mesin.'

Edward tersenyum membaca pesan itu.

[ANALISIS EKSTERNAL: PESAN TEKS DARI SUBJEK AURORA. EFEK: PENINGKATAN PRODUKTIVITAS YANG TIDAK DAPAT DIJELASKAN SECARA LOGIS. VARIABEL INI MEMBUTUHKAN PENELITIAN LEBIH LANJUT. SYSTEM LOADING ⌛]

Dia menatap layar ponselnya, lalu ke luka di sudut bibirnya yang sudah mulai membaik. Entah kenapa, pesan singkat dari Aurora terasa lebih memberi energi daripada lima gelas kopi.

Dia menjawab, 'Aku akan mencoba.'

Lalu dia menambahkan satu kalimat lagi.

'Terima kasih.'

1
Yuni
mahal harga apartemen Edward dari modal yang dikeluarkan sistem 🤭
Yuni
mengapa Edward tidak membeli motor supaya uangnya cepat berkembang
Dita Permana
yg dimaksud kabinet disini apa ya?
Dita Permana
pipa paralon di pake buat senjata, masa ada preman senjatanya Pipah paralon thor
Fel N: Udah nggak ingat 😭🙏, nanti sebentar aku cek lagi...🗿
total 1 replies
ega wanty
ini kudu nyebut apa istighfar 🥹
ega wanty
thor....jelasin ini gimana ngitung nyaaa..🤭🤣🤣🤣
ega wanty
perusahaan nya aja baru jalan..t..abungannya udah bikin pusing yg ngitungin nol nya🤣🤣🤣🤣
ega wanty
kak otor ngopi dulu yuk😁☕ ada typo ini.....
ega wanty
hadiah pas beli laptop blm muncul kak otor
ega wanty
lah sekelas sama Bara? berarti udah kelas 12 dong
Muhammad Ridwan: kan dibilang di catatan autor diatas, klo dia itu pindahan, bukan siswa baru
total 1 replies
ega wanty
Ed, kita sama kalo soal ini😑😮‍💨
ega wanty
izin mampir thor🙏
Reyzz
harusnya saldo pribadi ga sii Thorr??
sakura
...
dhani satria
kek di truck truck jaman sekarang...., celeng mencret celeng mencret
dhani satria
apa ini ya bose elanor
dhani satria
bapakane ndiyan
dhani satria
ehm....,ndada XXX-nya?
dhani satria: ya xx aja ...,kan diterusin jd tambah mantap
total 2 replies
dhani satria
beuhhhh nte nda capek ngetik angka 0 -nya bang?ahahahaha
Fel N: Cape bang🗿
total 1 replies
dhani satria
ngiler atas bawah yak....
Fel N: bang?😳🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!