Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
Sisa kehangatan dari bisikan Adrian di ruang makan malam itu tampaknya masih membekas hingga keesokan paginya.
Di kamar nomor dua, Gisella terbangun dengan perasaan campur aduk.
Kata-kata Adrian tentang "manipulasi menawan" yang mulai bekerja terlalu baik terus terngiang-ngiang di kepalanya, menantang seluruh rasionalitas yang dia bawa dari dunia asalnya.
Namun, hidup di dalam sebuah novel fiksi tidak memberikan Gisella banyak waktu untuk melamun.
Hari ini adalah hari Jumat di minggu kedua, yang berarti waktu dalam kontrak tiga puluh hari mereka terus berjalan menyusut.
Setelah rutinitas pagi di dapur berlalu dengan tenang—kali ini tanpa ada lagi tatapan sinis dari Valerie yang kini lebih memilih memakan sarapan oat buahnya dalam diam yang malu-malu—rumah menjadi sepi.
Adrian sudah berangkat ke laboratorium universitas sejak pukul tujuh pagi, membawa kotak bekal nutrisi keduanya dengan kepatuhan yang luar biasa.
Pukul dua siang, sebuah ketukan lembut terdengar di pintu kamar Gisella.
Bibi Martha berdiri di sana dengan senyum lebar, memegang sebuah kotak karton persegi panjang berbungkus kertas kado beludru berwarna biru safir tua dengan pita perak yang manis.
"Nyonya Muda, ada kiriman paket khusus untuk Anda. Baru saja diantarkan oleh kurir pribadi dari pusat kota,"
ucap Bibi Martha, menyerahkan kotak yang tampak sangat elegan itu kepada Gisella.
Gisella mengernyitkan dahi.
"Paket untukku? Dari siapa?"
Di dunia ini, satu-satunya orang di luar rumah ini yang memiliki hubungan dekat dengan Gisella asli adalah Julian—pria parasit yang sedang dia hindari setengah mati.
Memikirkan nama itu membuat bulu kuduk Gisella berdiri karena waspada.
Jangan-jangan pria itu mencoba mengirimkan sesuatu untuk memerasnya lagi.
"Terima kasih, Bibi. Letakkan saja di atas meja rias,"
jawab Gisella, mencoba menyembunyikan ketegangannya.
Setelah Bibi Martha keluar, Gisella mendekati meja riasnya dengan langkah waspada. Dia mengamati kotak beludru itu.
Tidak ada nama pengirim di bagian luar, hanya ada sebuah kartu kecil berwarna putih gading terselip di bawah ikatan pita perak.
Gisella menarik kartu tersebut dan membukanya.
Kerutan di dahinya seketika lenyap, digantikan oleh binar mata yang terkejut saat membaca tulisan tangan yang sangat dia kenali—tulisan tangan dengan struktur geometris yang rapi dan tegas.
> Untuk Nyonya Arthur,
> Protokol baru kita memerlukan peralatan operasional yang memadai. Gunakan ini untuk rutinitas pukul lima sore nanti. Jangan terlambat.
> — A.A.
>
"Adrian?"
bisik Gisella pada kesunyian kamarnya.
Detak jantungnya yang salah arah mendadak melompat satu detakan kecil. Pria kaku itu mengiriminya hadiah?
Dengan rasa ingin tahu yang membubung tinggi, Gisella perlahan menarik pita perak dan membuka tutup kotak beludru tersebut.
Begitu kotak terbuka, aroma wangi kertas mahal dan tinta premium menguar di udara kamar.
Di dalam kotak itu, dilapisi kain satin putih yang mewah, terletak seonggok buku tebal ber-sampul kulit asli berwarna hitam dengan ukiran emas di pinggirannya.
Itu adalah selembar koleksi partitur musik klasik (Music Sheet Anthology) edisi terbatas dan langka dari karya-karya legendaris Frédéric Chopin, Franz Liszt, dan Claude Debussy.
Tidak hanya itu, di bagian bawah partitur, terdapat sebuah kotak kecil berbahan beludru yang berisi sepasang bros perak berbentuk kunci G dan kunci F yang dihiasi butiran berlian kecil yang berkilau lembut saat terkena cahaya lampu.
Gisella mengambil buku partitur itu, jemarinya mengusap ukiran emas di sampulnya.
Saat dia membuka halaman pertama, matanya menangkap sebuah catatan kaki kecil di pojok bawah:
Edisi Cetakan Pertama, Konservatorium Seni Aethelgard, 1992.
Sebagai seseorang yang menggilai musik klasik di dunia aslinya, Gisella tahu betul nilai dari buku ini.
Ini bukan sekadar buku musik biasa yang bisa dibeli di toko buku pinggir jalan; ini adalah barang kolektor yang hanya bisa didapatkan melalui lelang atau koneksi pribadi di kalangan elit akademis.
Adrian pasti meluangkan waktu di sela-sela risetnya yang padat untuk mengamankan barang ini dari arsip kota atau kolega universitasnya.
"Pria kaku itu... benar-benar keterlaluan dalam hal efisiensi,"
gumam Gisella, sebuah senyuman manis dan tulus terukir di wajahnya tanpa bisa dia tahan.
Bros perak itu dia sematkan di kerah gaun rajut santai berwarna hijau botol yang dia kenakan sore itu, menciptakan perpaduan warna yang sangat anggun.
Pukul empat lewat lima puluh lima menit sore.
Gisella sudah duduk tegak di depan piano hitam besar di ruang tengah.
Buku partitur pemberian Adrian sudah terbuka di atas pembatas piano, menampilkan halaman lagu Clair de Lune karya Claude Debussy—sebuah pilihan lagu yang sengaja dia siapkan untuk menyambut sang profesor hari ini.
Tepat pukul lima sore, kenop pintu utama berputar.
Langkah kaki Adrian yang ritmis terdengar memasuki rumah. Namun hari ini, langkahnya terasa sedikit lebih ringan dari biasanya.
Begitu Adrian melangkah masuk ke ruang tengah, pandangannya langsung terkunci pada sosok Gisella.
Dan hal pertama yang ditangkap oleh mata elang sang profesor adalah kilauan bros perak berbentuk kunci musik di kerah gaun hijau Gisella, serta buku bersampul kulit hitam yang terbuka di atas piano.
Gisella mendongak, menatap Adrian dengan binar mata yang cerah, lalu mulai menekan tuts piano.
Alunan melodi Clair de Lune yang impressionistik, penuh dengan nuansa cahaya bulan yang mengalir lembut dan misterius, mulai memenuhi ruangan.
Jari-jari Gisella bergerak menari di atas tuts dengan kelembutan yang luar biasa, menyalurkan rasa terima kasihnya melalui setiap ketukan nada yang tercipta.
Adrian meletakkan tas dokumennya di atas sofa, lalu berjalan mendekat ke sisi piano, mengambil posisi bersandar yang sama seperti kemarin sore.
Namun kali ini, ekspresi dingin sang suami telah mencair sepenuhnya.
Sepasang matanya menatap Gisella dengan kehangatan yang begitu pekat, menikmati bagaimana hadiah kecilnya tampak begitu sempurna saat bersanding dengan keanggunan wanita di hadapannya.
Lagu berakhir dengan sebuah nada rendah yang mengalun panjang, memudar bersamaan dengan tenggelamnya matahari di balik cakrawala taman mawar.
Gisella menurunkan tangannya, menoleh menatap Adrian yang berdiri sangat dekat di sampingnya.
"Terima kasih untuk hadiah kecilnya, Profesor. Buku partitur ini luar biasa langka, dan bros ini... sangat indah."
Adrian menunduk sedikit, menatap bros perak di kerah gaun Gisella, lalu beralih menatap sepasang mata cokelat jernih istrinya.
"Peralatan operasional yang baik akan menghasilkan output riset yang maksimal, Gisella. Aku hanya memastikan mitrajalan risetku memiliki fasilitas terbaik."
"Mitrajalan riset?"
Gisella terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya melihat bagaimana pria ini masih mencoba menggunakan istilah ilmiah untuk menutupi perhatiannya.
"Kau bisa saja bilang 'terima kasih karena sudah menjagaku', Adrian. Logika bahasamu tidak perlu serumit itu."
Adrian melangkah satu langkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Gisella bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di atas rambutnya.
"Baiklah, jika kau meminta kejujuran linguistik yang sederhana,"
ucap Adrian, suaranya berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh emosi maskulin yang mendalam.
"Terima kasih karena sudah ada di sini, Gisella. Dan terima kasih karena sudah menyematkan hadiahku di dekat hatimu."
Mendengar kalimat yang begitu puitis dan intim keluar dari mulut seorang Adrian Arthur yang kaku, pertahanan diri Gisella kembali goyah.
Detak jantungnya berpacu dalam ritme yang salah arah, namun kali ini, dia tidak lagi merasa ingin melarikan diri dari perasaan manis yang mulai mengalir memenuhi rongga dadanya.
Di bawah pendar lampu senja, hadiah kecil itu tidak hanya melengkapi piano mereka, melainkan telah menjadi jembatan baru yang membuat jarak di antara kedua jiwa itu semakin tak bersisa.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...