Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah menghabiskan waktu berbicang dengan kedua orang tuanya, Karin akhirnya berpamitan.
"Aku akan sering pulang mulai sekarang, BU."
Ibunya tersenyum haru sambil mengusap menggenggam tangan putrinya. Ibunya berkali-kali memintanya untuk menginap, tetapi Karin menolak dengan halus.
"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Kalo ada apa-apa langsung telpon Ayah dan Ibu."
Karin mengangguk. "Baik, Bu."
setelah memeluk kedua orang tuanya sekali lagi, Karin berjalan menuju mobil yang telah menunggunya.
Arga yang sudah siap, langsung membukakan pitu belakang dengan sopan saat melihat Karin mendekat.
"Silahkan, Nyonya."
"Terima kasih."
Mobil pun perlahan meninggalkan kediaman keluarga Wijaya. Sepanjang perjalanan, Karin terdiam cukup lama. Tatapannya lurus ke depan seolah sedang memikirkan sesuatu. Sementara arga tetap fokus mengemudi.
Beberapa menit kemudian, Karin akhirnya membuka suara.
"Arga."
"Iya, Nyonya."
"Kamu sudah berapa lama bekerja di rumahku?"
"Baru, Nyonya. Sekitar dua minggu."
karin mengangguk pelan.
"Lalu... kenapa kamu memilih bekerja disana?"
Arga berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Saya hanya kebetulan melihat lowongan di internet, Nyonya. setelah lolos seleksi, saya langsung diterima bekerja."
Karin memperhatikan wajah pria itu melalui kaca spion. Ekspresinya begitu tenang, dan sulit ditebak.
"Kalau begitu," Karin berhenti sejenak. "Menurutmu, apakah aku bisa mempercayaimu?"
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam, tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata dengan tenang.
"Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta, Nyonya." Arga melirik karin dari spion, sebelum melanjutkan. "Tapi harus dibuktikan."
Jawaban itu membuat karin menilai bahwa Arga berbeda dari kebanyakan orang. Arga tidak berusaha mengambil hati majikannya dengan janji-janji manis.
Karin mengangguk pelan. "kalau begitu aku akan memberimu kesempatan untuk membuktikannya."
"Apa yang harus saya lakukan, Nyonya?" tanya Arga masih dengan sikap tenangnya.
Karin menatap arga dengan serius. "Mulai hari ini, aku ingin kamu memperhatikan semua yang terjadi di rumah."
Arga mendengarkan tanpa menyela, dari awal karin bertanya sebenarnya ia sudah mengerti arah pembicaraan itu.
"Kalau ada orang asing yang datang, percakapan yang mencurigakan, atau sesuatu yang menurutmu tidak biasa, segera laporkan kepadaku."
"Nyonya, sedang menyuruhku memata-matai keluarga Nyonya?"
"Bisa di bilang begitu."
"Apa ada yang sedang berniat jahat padamu, Nyonya?"
"Nanti kamu akan tahu sendiri bagaimana aku di perlakukan di rumah itu." jawab karin. "Aku hanya tidak mau lengah lagi."
Arga tidak bertanya lebih jauh, ia mulai memahami meskipun majikannya tidak menjelaskan lebih jauh.
"Baik, Nyonya. "
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di dalam kabin kembali hening setelah percakapan mereka berakhir.
Karin menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Tubuhnya terasa begitu lelah. Sejak membuka mata di kehidupan kedua ini, pikirannya terus dipenuhi berbagai kenangan pahit yang menguras emosi.
Tak terasa, kedua matanya perlahan terpejam. Beberapa menit kemudian, Karin benar-benar tertidur.
Dan ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia kembali melihat dirinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, sementara Dimas berdiri di samping Vina sambil menggendong seorang anak laki-laki.
"Mulai hari ini, semua harta ini milik kami."
Suara Dimas kembali menggema di telinganya.
Tak jauh dari sana, Bu Ratna tertawa puas.
"Perempuan bodoh. Dari awal kamu memang hanya batu loncatan."
Lalu...
Suara sirene ambulans terdengar memekakkan telinga. Seseorang berlari menghampirinya.
"Nyonya... kedua orang tua Anda mengalami kecelakaan...."
"Tidak...!"
Karin menggeleng keras di dalam tidurnya.
"Jangan... Ayah... Ibu..."
Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Di kursi depan, Arga yang baru saja memarkirkan mobil di halaman rumah Karin, menangkap suara lirih itu melalui kaca spion.
Ia mengernyit.
"Nyonya?"
Tidak ada jawaban.
Karin justru semakin gelisah. Napasnya memburu, kedua tangannya mencengkeram ujung gaunnya erat.
"Jangan tinggalkan aku..."
Suara itu terdengar begitu menyayat.
Arga mulai khawatir. Ia segera melepas sabuk pengamannya.
"Nyonya Karin."
Ia memanggil dengan nada sedikit lebih keras. Namun Karin tidak merespons. Ia masih terus mengigau.
"Ayah... Ibu... jangan pergi... jangan tinggalkan Karin...."
Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Arga menarik napas pelan. Sebagai sopir, ia tahu ada batas yang tidak boleh ia lewati.
Ia sempat ragu. Akan tetapi, melihat kondisi majikannya yang semakin gelisah, ia tak mungkin hanya berdiam diri.
Dengan terburu-buru, Arga turun dari kursi kemudi. Ia berjalan cepat menuju pintu belakang dan membukanya perlahan.
"Nyonya Karin..."
Ia membungkuk di samping pintu mobil.
Awalnya ia hanya memanggil nama Karin beberapa kali.
"Nyonya... bangun, Nyonya."
Tetapi Karin sama sekali tidak terbangun.
Tubuhnya bahkan mulai gemetar, sementara bibirnya terus mengucapkan kata-kata yang sulit dipahami.
Arga semakin cemas. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengangkat tangan, lalu menyentuh pelan bahu Karin.
"Nyonya Karin... ini hanya mimpi. Tolong bangun."
Sentuhan lembut itu membuat tubuh Karin sedikit tersentak.
Namun kelopak matanya masih terpejam rapat, dan air mata terus mengalir di pipinya.
Arga kembali mengguncang bahunya dengan sangat pelan.
"Nyonya... sadar, Nyonya."
Beberapa detik kemudian, Karin tiba-tiba menarik napas panjang dan membuka matanya dengan wajah penuh kepanikan.
Ia langsung terduduk sambil terengah-engah, seolah baru saja lolos dari sebuah mimpi buruk yang terasa begitu nyata.