"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rani keluar, Luca masuk
"Ini motornya, sekarang motornya tidak akan mogok lagi, semua onderdil sudah di ganti yang baru" ucap Dimas saat Roman sudah datang untuk mengambil motornya.
Roman bahkan datang bersama Rani pagi itu membuat semua orang senang dan berkenalan dengan gadis kecil yang terlihat malu malu saat di hampiri Kenanga, Dirga, Kania dan para teman teman Dimas. Dimas bahkan menghadiahkan sebuah balpoin untuk Rani supaya Rani semakin semangat sekolah.
"Terima kasih Dimas, berapa biaya perbaikannya?" tanya Roman
"Biayanya cukup mahal karena onderdil ini jarang dan sedikit sulit di dapatkan, tapi aku tidak akan memungut biaya dari kamu, cukup kamu jaga Rani dengan baik, ini adalah hadiah untuk Rani yang berani untuk keluar rumah" jawab Dimas
"Tidak, aku tidak bisa mengambil motor ini tanpa biaya, katakan saja berapa" protes Roman merasa tidak enak, bahkan sekarang dia sudah tidak bicara dengan formal lagi pada Dimas, karena Dimas memintanya untuk memanggil nama saja.
"Lima ratus ribu, sini" jawab Dimas
"Aku tidak percaya, itu terlalu murah untuk mengganti semua onderdil yang rusak" ucap Roman
"Kalau begitu berikan saja motor ini padaku, harga perbaikannya lebih mahal dari harga motor ini" ucap Dimas
"Tidak, ini motorku"
"Kalau begitu berikan lima ratus ribu milikku"
"Astagfirullah.." keluh Roman mengambil dompetnya dan segera membayar lima ratus ribu pada Dimas.
"Percuma berdebat dengan Mbah Dimas, dia itu tidak mau kalah, mirip emak emak" bisik Sahara yang sama sekali tidak pelan.
"Tidak bercermin, kamu lebih keras kepala lagi" sinis Dimas berjongkok dan kembali bekerja bersama yang lain karena hari itu bengkel cukup ramai, bahkan Sahara sudah mulai minta di belikan es buah pada Dimas karena dia mengatakan sudah menarik banyak pelanggan untuk Dimas.
Dirga membiarkan Rani berkenalan terlebih dahulu dengan orang orang di bengkel Dimas, dia juga sudah memberikan anting yang akan di katakan Roman sebagai alat bantu dengar milik Rani.
Rani juga belum bicara banyak, dia hanya menunduk atau mengangguk sesekali jika ada yang bertanya padanya, tapi matanya terus mencari keberadaan Argadana dan Anggadana karena sejak Rani datang ke sana, Argadana dan Anggadana sama sekali tidak muncul.
"Kamu mencari Argadana dan Anggadana ya?" tanya Kania
"Tante tahu?" tanya Rani terkejut
"Tahu, mereka anak angkat Tante dan Om Dimas, ada di tubuh kami, coba kamu panggil karena mungkin mereka sedang tertidur" jawab Kania
"Di dalam tubuh?" tanya Rani kebingungan
"Argadana dan Anggadana itu pelindung perjodohan darah, mereka hanya bisa di lihat oleh jodoh yang di ikat oleh darah, dan orang orang yang mereka pilih saja yang di inginkan untuk melihat mereka" jawab Kania
"Lani bisa lihat tidak? meleka bilang meleka akan cali cala untuk menolong Lani dan ayah kelual dali lumah itu" tanya Rani
"Coba saja panggil" jawab Kania
"Panggil mereka, karena ini waktunya mereka mendampingi Dimas ke kota, Dimas mau beli onderdil ke Jakarta" ucap Sahara
Roman mendengarkan percakapan Rani dan Kania dengan seksama, dia baru tahu kalau ternyata dua anak Sahara itu tidak bisa di lihat manusia yang tidak mereka inginkan, jadi mungkin Luca juga tidak bisa melihatnya sama seperti Roman yang hanya melihat Luca dalam bentuk bayangan saja. Tapi Rani bisa melihat wujud Luca dengan sempurna, bahkan Rani tahu kalau Luca juga mengincarnya.
"Algadana, Anggadana" panggil Rani tapi tidak ada yang muncul.
"Ko tidak ada?" tanya Rani heran
"Mereka mungkin sedang pergi, mas?" tanya Kania
"Tidak, tadi subuh masih berkeliaran di rumah, bahkan mengganggu Lindu yang mau berangkat kerja" jawab Dimas
"Apa Algadana dan Anggadana tidak mau beltemu Lani ya" ucap Rani murung
"Mereka pergi ke rumah Radini, mereka sudah mulai melihat perkembangan pagar gaib di sana sudah mulai berkurang" ucap Badaruddin
"Katanya Arga dan Angga ke rumah Radini" ucap Sigit
"Kenapa ke sana, di sana berbahaya" ucap Roman
"Katanya mereka merasakan ada sesuatu yang aneh pagi ini, kutu mereka menghilang meskipun pagar gaib itu sudah mulai menipis" jawab Badaruddin
"Menghilang? tadi masih ada di boneka Lani" ucap Rani
"Kamar kita nak, kamar itu kita tinggalkan dan kedua ari ari kakak kamu ayah simpan di kantung celana kamu, pasti ada yang masuk ke kamar dan mengambil kutu itu atau mungkin boneka kamu" ucap Roman
"Lalu bagaimana?" tanya Dirga
"Kutu itu mungkin sudah mati, aku akan memanggil Argadana dan Anggadana supaya kembali" ucap Dimas memejamkan matanya karena khawatir pada kedua anak angkatnya itu.
Sigit mulai merasa kalau Radiah, Radini dan Luca sengaja mengijinkan Rani keluar dengan satu tujuan, itu adalah agar mereka bisa masuk ke kamar Roman untuk mengambil ari ari kakak Rani yang masih belum mereka ketahui, dan mereka hanya tahu kalau Rani punya sesuatu yang bisa membuat Luca merasa terganggu.
"Kak Dimas, Sigit merasa kalau mereka sengaja mengijinkan juragan Roman membawa Rani, mereka ingin masuk ke kamar Rani" ungkap Sigit
"Tapi yang mereka cari tidak ada di sana, kami membawanya" ucap Roman
"Kalian memang membawanya, tapi kamar itu sekarang tidak aman untuk kalian karena pasti Luca menaruh sesuatu di sana untuk membuat kalian celaka" ucap Dimas yakin
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Roman
"Apa ada kamar lain yang belum pernah di masuki Luca?" tanya Dirga
"Tidak ada, hanya kamar kakak" jawab Roman
"Mungkin anak anak Sahara sedang menjaga kamar itu" ucap Sahara dan Roman merasa kalau itu tidak mungkin.
•••••••••••••
Di rumah Radini.
"Sial! Kamar ini tetap tidak bisa kita masuki Radini" kesal Radiah
"Iya Bu, padahal kak Roman sudah keluar bersama Rani" jawab Radini
"Minta Hatta yang melakukan itu, dia tidak punya jiwa jahat" ucap Luca yang meskipun bisa masuk ke dalam kamar Roman, tapi dia hanya bisa melenyapkan kutu gaib yang menempel di boneka Rani.
Luca bahkan merasa kalau Rani lah yang membuat pagar gaibnya semakin berkurang ketebalannya selama beberapa hari ini.
"Anak kecil itu, kenapa paduka merasa kalau dia itu ancaman?" tanya Radini
"Itu karena dia adalah anak perempuan Radini, anak perempuan pertama dari keturunan yang bukan seharusnya jadi pengantin gaibku! Apa ada kakak kakak kamu yang lain yang punya anak perempuan? anak mereka semua laki laki" jawab Luca
"Luca benar Radini, akan perempuan hanya boleh lahir dari rahim sang pengantin Iblis, bukan dari rahim saudaranya, dan kalaupun lahir, dia harus di lenyapkan tapi Rani, Rani begitu kuat" ungkap Radiah
"Jadi ibu juga merasakannya Bu? Dia ancaman untuk kita?" tanya Radini dan Radiah mengangguk.
Sahara ayo neng bales it si rudin